Saturday, December 06, 2008

"SANG" BADAI PHK SUDAH REGISTRASI BERTAMU DIANTARA KITA

EMPATHY & TIPS MENGATASI KRISIS EKONOMI-PHK
MENCEGAH KEPANIKAN VS PENDAPAT YANG RASIONAL
Membaca komentar para pejabat tentang kondisi perekonomian kita hari-hari ini rasanya, kok, sebel sekali. Betapa tidak, komentar yang muncul seolah-olah Indonesia ini bukan bagian dari dunia yang tanpa batas. Seolah-olah kita begitu terisolasi dari ekonomi dunia yang gonjang-ganjing dan karenanya kita akan tetap kuat perkasa. Kemarin seorang pejabat Bappenas bilang: “melambatnya ekonomi Amerika tidak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir tahun ini.” La? Kalau ada waktu, Pak Pejabat, tolong mampir ke Bursa Efek Jakarta. Mohon tengok papan nilai saham yang dipenuhi warna merah. Mampir juga, Pak, ke Bank Indonesia yang gedungnya gagah itu. Bapak bisa minta informasi tentang nilai rupiah yang menguat –maksudnya menguatirkan. Oh ya, kolega Bapak di Departemen Tenaga Kerja pasti juga sudah punya data tentang PHK mulai menderas. Nah, setelah berkeliling, saya jamin Pak Pejabat akan berubah pikiran. Kecuali, ya…, kalau Bapak memang sudah dihipnotis Rommy Rafael sampai hilang kewarasan.
Ada pula pernyataan tidak masuk akal dari seorang pejabat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, ”target pariwisata tahun ini, yakni mendatangkan 7 juta turis, tidak akan terpengaruh.” Padahal, sejauh ini baru 4 juta turis datang dan tinggal dua bulan lagi tahun 2008 berakhir. Entahlah jika Pak Pejabat bisa bermain sulap.Komentar sang pejabat belum khatam. Dia melanjutkan, “target tahun depan, ada 8 juta turis datang.”
Aduh…., Bapak Pejabat yang terhormat, turis yang Bapak angan-angankan itu sedang pada sakit perut, bahkan tak sedikit yang mau bunuh diri, kelimpungan dihantam krisis. Bagaimana bisa 8 juta orang datang ke negeri ini di tengah krisis global, apalagi tidak terdengar ada gebrakan membenahi infrastruktur, menggenjot pelayanan, dll. Mau melancong gimana, wong belanja ritel di Amerika saja turun dalam tingkat terburuk sejak 1980-an. Saya paham, para pejabat memang susah diharapkan jujur seratus persen. Meredam informasi mungkin memang jurus yang dibutuhkan agar masyarakat tidak panik dan membuat segalanya makin kacau. Tapi, come on, minimal buatlah pernyataan yang rasional. Komentar yang hiperbolik seperti “pertumbuhan ekonomi kita tidak terpengaruh” hanya akan membuat ketidakpercayaan semakin kuat. Ketidakpercayaan, dalam dunia ekonomi, seperti virus ganas. Dia menular cepat ke segala penjuru. Bahkan, seorang Alan Greenspan, mantan Direktur The Fed, yang kata-katanya dianggap mantra oleh para pelaku ekonomi, telah mengaku khilaf. Greenspan menyatakan, dia terlalu percaya bahwa pasar finansial bisa melakukan koreksi diri tanpa campur tangan regulasi berlebih. Ternyata, koreksi diri itu tidak ada. Pasar finansial tenggelam dalam siklus rakus, rakus, dan rakus. Akibatnya, krisis datang Amerika. Greenspan juga dikritik lantaran menjaga suku bunga di Amerika terlalu rendah dalam waktu lama. Ini membuat pasar properti berkembang tidak terkendali dan meledak dalam bentuk subprime –kata lain dari kredit kelas kambing–mortgage. ”Yes, I have found a flaw. I don’t know how significant or permanent it is. But I’ve been very distressed by it,” kata Tuan Greenspan di hadapan Kongres Amerika, akhir Oktober lalu. Saya berharap, ada pemimpin kita yang cukup berani dan kesatria berkata, “Maaf, kami keliru membaca tren ekonomi dan telah meremehkan potensi krisis.” Pengakuan semacam ini tentulah akan dihargai tinggi. Apalagi bila si pemimpin kemudian membeberkan antisipasi yang cukup serius dan terukur. Tidak sekadar mengumbar kata-kata manis tapi kosong. Seberapa kuat kita, atau seberapa rapuh kita, mesti dijabarkan dengan jelas. Lebih baik lagi bila rakyat juga dibekali tips-tips untuk survive di masa sulit, satu sampai dua tahun mendatang. Sialnya, membahas kondisi perekonomian dari A-Z tidaklah gampang di hari-hari ini. Topik ini amat mudah dijadikan bahan bakar memanaskan situasi politik. Sebagian besar pejabat sibuk mengamankan jalur politik menuju kekuasaan di pemilu mendatang. Para wakil rakyat di Senayan malah menghabiskan energi untuk membahas dan akhirnya mengesahkan UU Pornografi. Tinggalah rakyat celingukan, mencari kapal penyelamat masing-masing. ( Krisis, Seberapa Kuat Kita?http://blog.tempointeraktif.com/?p=280 )
TSUNAMI PHK
Tahun ini tampaknya menghadirkan tantangan yang luar biasa bagi kita. Baru saja dikejutkan dengan kenyataan bahwa Bumi dan seluruh penghuninya terancam oleh Pemanasan Global, kini hadir masalah global lainnya yaitu Krisis Ekonomi Global. Krisis Ekonomi ini menghasilkan "TSUNAMI" PHK besar-besaran dimana-mana. Sektor industri adalah yang paling nyata terkena dampaknya. Banyak industri atau perusahaan yang tak sanggup lagi mempertahankan tingkat produksinya karena alasan yang bermacam-macam. Misalnya kekurangan pasokan bahan baku, minim order dan harga yang tak mampu bersaing karena biaya produksi semakin tinggi, ketergantungan pada faktor luar baik untuk produksi maupun pemasaran. Apa yang disebut di atas, kesemuanya telah berakibat pada berkurangnya pendapatan perusahaan. Maka untuk mencegah dampak yang lebih buruk bagi perusahaan, mau tidak mau harus dilakukan rasionalisasi. Agar perusahaan tidak terkena dampak yang lebih jauh, tentu harus ada jalan keluarnya. Para pengelola perusahaan dipaksa untuk berpikir keras untuk menyelamatkan perusahaannya. Biasanya, setiap kali ada terpaan badai krisis keuangan perusahaan, pihak manajemen akan mengambil langkah praktis ; yaitu rasionalisasi perusahaan. Salah satu bentuk rasionalisasi adalah dengan melakukan pengurangan pengeluaran perusahaan termasuk dengan cara mengurangi jumlah tenaga kerja (PHK). Dalam sepekan terakhir ini, bahwa banyak perusahaan telah melakukan PHK. Seperti kita lihat, saat ini saja sejumlah perusahaan telah melakukan PHK dan merumahkan karyawannya. Sebut saja perusahaan pengelola bubur kertas RAPP di Riau. Bahkan di Medan, 5 perusahaan besar berpotensi akan mem-PHK 1000 pekerjanya. Di Plered Purwakarta, kawasan industri keramik di Jawa Barat, 9 dari 15 perusahaan yang memasarkan produknya ke luar negeri telah menghentikan aktivitasnya. Sementara itu dari pusat pertekstilan di Jawa Barat tersiar kabar bahwa 70 ribu tenaga kerja di sektor ini terancam kehilangan pekerjaan akibat turunnya ekspor ke Amerika, belum lagi puluhan hingga ratusan perusahaan lain yang sedang dan akan mengambil kebijakan PHK di penghujung tahun ini hingga ke tahun depan-termasuk juga industri rumah tangga yang bisa akan gulung tikar.
Dikutip dari situs http://www.inilah.com/ Krisis ekonomi yang melanda negara-negara maju, terutama Amerika dan Uni Eropa, membuat ekspor dari 10 negara di kawasan Asia Tenggara turun tajam. Dampaknya jelas, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan terjadi PHK besar-besaran. Pekan lalu, Organisasi Buruh Internasional (ILO) meramalkan sekitar 20 juta orang akan kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi. Terkait dengan negara-negara di Asia Tenggara, ILO memperkirakan tahun depan akan terjadi peningkatan pengangguran dari 5,7% saat ini menjadi 6,2%. “Ekonomi negara-negara di Asia Tenggara menghadapi perlambatan akibat buruknya ekspor,” demikian keterangan ILO. (http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2008/10/24/57018/menanti-badai-pemecatan/)
PHK BERPOTENSI KEPADA LEDAKAN PENYAKIT SOSIAL
Jika PHK besar-besaran terjadi, jelas hal itu akan mendongkrak angka pengangguran. Tahun lalu, tingkat penganguran absolut diperkirakan sudah mencapai 8,3% dari jumlah angkatan kerja. Di luar itu ada pengangguran terselubung yakni memiliki pekerjaan namun dengan pendapatan di bawah standar. Nah, jika penganggur absolut dan terselubung itu digabung, syahdan, angkanya bisa mencapai 30% dari jumlah angkatan kerja.Kalau perkiraan tadi benar, maka ini alamat gawat. Sebab, ILO pernah menetapkan batas aman tingkat pengangguran pada satu negara tak boleh lebih dari 20% dari total angkatan kerjanya. Nah, kalau angka itu sampai terlewati, maka bukan saja pemulihan ekonomi yang akan tersendat, tapi negara ini juga berpotensi mengalami ledakan sosial.
KAPAN BADAI KRISIS EKONOMI INI AKAN BERLALU?
Bank Indonesia memperkirakan dampak krisis finansial ke sektor keuangan mungkin bisa selesai dalam 6 bulan ke depan. Namun untuk sektor riil, dampaknya mungkin masih akan terasa hingga 2-3 tahun ke depan. Gubernur BI Boediono mengemukakannya dalam seminar "Krisis Ekonomi Global dan Dampaknya Terhadap Perekonomian RI" yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Gedung BI, Jakarta, kemarin. Hadir dalam kesempatan tersebut para ekonom dari berbagai universitas. "Kita saat ini di tengah badai, tapi kita tidak sendiri. Tapi kita dengan negara-negara lain di seluruh dunia saat ini menghadapi badai global," jelas Boediono. Dia menjelaskan, setidaknya ada 2 unsur dalam badai ini. Pertama, unsur keuangan dengan kredit yang mengetat dan juga arus likuiditas yang ketat. Kedua, dampak ke sektor riil.Untuk unsur keuangan, Boediono menjelaskan bahwa pemerintahan di berbagai negara mengambil kebijakan untuk melonggarkan likuiditas di negaranya masing-masing. "Tapi mudah-mudahan kondisi ini dalam 6 bulan bisa normal lagi. Oleh karena itu, gangguan likuiditas ini diharapkan bisa melonggar dengan kebijakan-kebijakan yang diambil," ujarnya. Menurut Boediono, saat ini kecenderungan likuiditas devisa adalah ingin 'pulang kandang' ke negara masing-masing dan hal itu sama sekali tidak bisa dikendalikan oleh BI. Kita harus menunggu sampai selesainya gejolak yang terjadi. Tapi kalau likuiditas rupiah bisa kita ciptakan. Tapi kita berharap mudah-mudahan tidak sampai 6 bulan lebih kondisi ini terjadi.Sementara untuk dampak ke sektor riil, Boediono menilai akan lebih lama. "Ini lebih lama karena diperkirakan 2-3 tahun ke depan perekonomian global akan melonggar. Bahkan ada yang minus, sehingga terjadi resesi. Dan mudah-mudahan kita bisa melewati ini dengan baik," imbuhnya lagi.Pemerintah sendiri menjanjikan untuk memberi insentif kepada dunia usaha dalam situasi krisis finansial saat ini melalui SKB 4 menteri guna menjaga momentum perekonomian supaya tetap stabil, selain untuk mencegah pengusaha mem PHK para pekerja secara sembarangan. http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=15293.0
TIPS MENGATASI KRISIS EKONOMI DAN TSUNAMI PHK
LET’ S SAVE OUR NATION, START FROM YOUR SELF
Wajar jika mendengar hadirnya Badai PHK, banyak orang ketakutan menghadapi masa PHK. Tapi jika kita renungkan, setiap yang bekerja sudah tentu akan menghadapi resiko PHK ataw pensiun. Layaknya satu hal yang pasti adalah jika pernah mengalami hidup pasti akan mengalami mati. Begitu juga jika bekerja pasti akan mengalami masa PHK/Pensiun. Lalu apa muasal rasa takut menghadapi PHK (dirumahkan-kebijakan rasionalisasi-perampingan, dll) atau Pensiun (baik pensiun inisiatif sendiri atau karena batasan usia mengacu ke aturan dinas/perusahaan)?. Muasal menjadi takut umumnya dikarenakan kita tidak mempersiapkan diri jauh-jauh hari sehingga saat PHK/pensiun tiba, kita menjadi linglung, bingung, kehilangan pegangan dan orientasi hidup. Indah rasanya jika masa pensiun/PHK juga dimanfaatkan sebagian orang untuk berkarya dan melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan ketika masa bekerja seperti memanfaatkan masa pensiun sebagai peluang baru untuk memulai usaha ataupun kegiatan yang berarti. Mereka mampu menemukan jalan lain menuju pintu kesuksesan yang baru disaat yang lain terhempas badai PHK. Momen PHK atau pensiun bisa di pakai sebagai " Zona Karya". Program Zona Karya adalah jalan tercepat menuju pintu kesuksesan dan kekayaan tanpa batas.
  • Kehilangan pekerjaan memang merupakan sebuah pukulan. Anda boleh mengasihani diri sendiri, meratapinya untuk sesaat. Tapi jangan biarkan hal itu berlangsung terus-menerus. Keluarkan rasa sakit Anda dan setelah itu segera membuat langkah baru. Saat kabar PHK itu Anda terima, tanyakan pada diri sendiri, apakah ini pekerjaan yang benar-benar Anda inginkan sepanjang hidup? Kebanyakan orang yang di PHK pada akhirnya menyadarai kalau sebenarnya mereka tak benar-benar menginginkan pekerjaan yang mereka jalani. Bayangkan jenis pekerjaan apa yang benar-benar ingin Anda lakukan. Mulai petakan bayangan Anda itu guna memulai langkah baru. Lalu buat rencana baru dengan mengacu pada lima atau tujuh tahun yag akan datang. Karir apa yang ingin Anda jalani? Pastikan Anda memulai langkah baru sesuai karir idaman Anda. Yang terpenting selalu tumbuhkan rasa percaya diri, kembangkan pandangan positif dan bersiap memulai hal baru. Jadi jika anda terkena PHK, mari mulailah mencari inovasi dengan memamfaatkan talenta anda yang tersimpan selama ini menjadi potensi keuangan baru. Anda akan menjadi orang yang paling cerdas mensiasati pensiun/PHK. Satu hal yang patut kita ingat, bahwa kita bisa keluar dari terpaan badai krisis asal kita mau kerja keras dan kerja cerdas.
  • Badai PHK bisa saja lama untuk berlalu, badai itu bisa bertambah dengan hujan, dan guntur. Kalau saja rupiah semakin tak berharga-sekarang sudah mencapai level 9,900- harga-harga membumbung, gelombang PHK membesar, bagaimana? Ingat bahwa keadaan sudah, dan tak mustahil akan bertambah, sulit diramalkan. Sementara persoalan-persoalan yang kita hadapi sudah sangat jelas. Dalam waktu dekat, bangsa ini akan menghadapi pesta besar, pesta demokrasi pemilihan calon legislative seluruh Indonesia, dan pemilihan presiden, yang jelas akan menguras uang negara, baca: rakyat yang sangat banyak. Dalam keadaan begini sesungguhnya hanyalah satu yang kita butuhkan: hadirnya seorang pemimpin sejati. Rakyat banyak bisa berbuat apa? Pemimpin adalah seseorang yang dapat menjadi andalan, pemberi arah yang benar, bagi rakyat yang tengah kebingungan ini. Pemimpin adalah seseorang yang dapat menunjukkan kepada kita untuk melakukan ”sesuatu yang benar” dan bukan sekadar menunjukkan kepada kita untuk melakukan ”sesuatu dengan benar”. Dalam tatanan masyarakat yang egaliter, yang hidup masing-masing individu anggota masyarakatnya relatif setara, pemimpin akan datang dan pergi secara biasa. Ada seleksi yang sistematis, alamiah maupun terstruktur dalam mekanisme rutin yang disepakati bersama. Oleh karena itu, masyarakat tak perlu khawatir, bahwa seorang pemimpin sejati akan datang. Mereka yang berprestasi, pantas, dan berkapasitas, akan lahir sebagai pemimpin-pemimpin baru. Karena itu mari kita pakai momentum Pemilu 2009 ini untuk memilih Legeslatif-Eksekutif yang benar-benar punya talenta dan hati nurani yang baik untuk memperbaiki keadaan. Masyarakat jangan mau larut dalam politik uang atau sekterian yang berpotensi menjerumuskan bangsa ini jatuh lebih dalam.
  • Yang mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito anda. Jangan ambil uang anda dari bank. Jika anda ikut ikutan mencairkan dana anda maka akan terjadi bank rush dan krisis keuangan akan semakin parah.
  • Yang memiliki saham dan turunannya, jangan menjual saham dan derivasinya. Jika anda ikut-ikutan menjual saham dan turunannya, maka harga saham akan semakin ambruk dan krisis yang terjadi akan menjadi semakin parah.
  • Jangan ikut-ikutan memborong dolar. Jika anda ikut-ikutan memborong dolar, maka harga dolar akan semakin tinggi dan rupiah semakin terpuruk. Harga barang impor akan semakin mahal dan inflasi dalam negeri akan semakin menggila.
  • Jangan panik. Jika anda tidak panik, maka krisis akan cepat berlalu. Perekonomian akan cepat pulih. Harga saham akan cepat rebound. Dolar akan cepat menyesuaikan diri pada kurs yang rasional.Cadangan devisa kita cukup kuat. Jika anda panik dan ikut-ikutan menarik deposito, menjual saham dan memborong dolar, maka anda ikut memberikan kontribusi pada semakin dalamnya krisis di Indonesia. Tetapi tentu ini merupakan pilihan bebas. Tidak ada yang dapat melarang anda. Hati nurani yang bicara. Pilihan yang sulit bagi yang berduit tetapi silahkan memilih.
  • Jika Anda masih mencintai bangsa ini maka ada banyak hal yang bisa Anda lakukan, paling tidak MULAILAH DARI DIRI ANDA SENDIRI..!! , Contoh, Gunakanlah PRODUKSI DALAM NEGERI dalam semua aktivitas hidupmu, dengan langkah ini akan menyelamatkan Sektor Riil, usaha-usaha kecil akan berkembang dan akhirnya kita bisa berdiri tegak dan mengatakan “KITA BISA HIDUP DARI NEGERI KITA SENDIRI”.
  • Langkah kecil lain jangan "demen" mengkonsumsi produk makanan luar negeri, jika anda senang makan Durian tidak perlu durian Bangkok Thailand, cukup durian lokal toh tidak kalah rasanya.Jika senang makan Jagung? Tidak perlulah Jagung Thailand, cukup jagung lokal, tidak perlu makan-makan di outlet2 dengan brand luar negeri, toh ayam kampung kita tidak kalah nikmatnya. Hal kecil ini kadang tidak kita sadari tapi ketahuilah EFEK nya sangat luarbiasa, anda bisa bayangkan jika semua anak bangsa ini berfikiran sama, jika anda konversikan dengan modal yang beputar maka Anda akan kaget dan heran akan dampak yang sangat luar biasa. Yakin dan percayalah dengan cara ini. Krisis ini tidak akan terjadi di sini di BUMI INDONESIA.
  • Gunakan angkutan Massal jika itu anda bisa lakukan, itu akan membantu untuk mengurangi konsumsi energi yang luar biasa yang sebetulnya tidak perlu, disamping mengurangi polusi, jangan lupa disamping krisis keuangan yang berpotensi menjadi krisis Ekonomi kita juga dihadapkan dengan krisis Energy..!! Kenyamanan mungkin belum kita pikirkan sekarang, percayalah bahwa aroma sesaknya penumpang di Angkot dan bus-bus itu masih menimbulkan secercah harapan bahwa sektor riil kita masih bergerak.
  • Berbelanjalah di pasar-pasar tradisional, berdayakan warung-warung kaki lima, percaya atau tidak Ekonomi Kerakyatan terbukti mampu menyelamatkan perekonomian kita.
  • Jika Anda seorang pelaku bisnis maka tolong jangan hanya memikirkan untuk meraup keuntungan pribadi semata-mata hanya dengan memikirkan Import barang-barang murah yang hanya akan menghancurkan produk dalam negeri. Jangan lari dari tanggung jawab dengan membawa lari modal ke luar negeri, ingat menjaga, mengusahakan agar Capital Inflow akan lebih bijkasana dan akan sangat membantu Negeri ini, jangan biarkan capital outflow terjadi itu sama dengan menghancurkan perekonomian Rakyat. (http://asmutaqi.staff.uii.ac.id/2008/11/22/let-s-save-our-nation-start-from-your-self/)
  • Masyarakat untuk tidak segan-segan menggunakan fasilitas yang disediakan negara dewasa ini, seperti dari Badan-Badan Usaha Milik Negara, semisal bank-bank nasional.
  • Penghematan secara Pribadai dan di Keluarga. Mulai dan peliharalah budaya hidup Hemat. Jangan berperilaku konsuntif.
  • Penghematan di perusahaan. Di zaman krisis ini mungkin sebagian besar perusahaan sudah kurang mendapatkan order dari pembeli. Nah, pasti para Bos sedang sibuk menyuruh penghematan di semua aspek operasional kerja perusahaan. Sebab, tak ada Bos yang ingin perusahaannya bangkrut oleh menurunnya order. Bos yang cerdas tahu bahwa penghematan adalah cara terbaik untuk menjaminan kontinyuitas dari operasional perusahaan. Pertanyaannya, apakah Anda-Anda semua telah melakukan perintah si Bos? Kalau Anda semua lalai melakukan penghematan, maka jangan berharap Anda tidak kena PHK. Bila order menurun terus dan manajemen tidak mampu melakukan penghematan disemua aspek operasional perusahaan, maka tidaklah mungkin perusahaan mampu membayar gaji karyawannya. Dan, PHK akan menjadi kisah selanjutnya.Saat Bos menyuruh para karyawan melakukan penghematan total, maka seharusnya Bos terlebih dahulu melakukan penghematan total dalam gaya dan pola hidup pribadi yang lebih sederhana. Bos harus hidup hemat sambil memberi contoh kepada para karyawan. Sebab, Bos adalah panutan yang paling berpengaruh kepada sikap karyawan untuk melakukan penghematan di semua aspek operasional perusahaan.Karyawan akan selalu menunggu sikap Bos dalam memahami penurunan order, serta ingin memiliki gambaran yang jelas dan tegas tentang kebijakan dan rencana perusahaan ke depan. Bagi karyawan, Bos tetaplah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi penunjuk arah yang jelas, agar mereka bisa survive dalam krisis ini dan tidak divonis dengan PHK. Bos yang bijak tidak akan ngotot pada gaya hidup mentereng untuk memamerkan kekuasaan dan kewibawaannya. Bos yang cerdas tahu diri, bahwa di zaman krisis memperlihatkan kemewahan sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan hanyalah akan menjadi bahan olok-olokan orang lain.Bos yang bijak pasti mengurangi pengeluaran-pengeluaran pribadi yang tidak perlu, dan sebelum menyuruh karyawan melakukan penghematan, Bos sudah terlebih dahulu menyuruh keluarga di rumah untuk melakukan penghematan total dalam menghadapi krisis yang ada. Bos yang cerdas tidak sekedar berbicara penghematan sambil ke kantor dengan mobil pribadi yang super mewah, tapi ia akan memperlihatkan penghematan itu dari sikap, perilaku, pola dan gaya hidup sehari-harinya.Bos yang bijak tidak akan menjadikan benda-benda mewah sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan, tapi ia akan menggunakan kesederhanaan sebagai contoh dan keteladanan hidup.Menyuruh berhemat melalui keteladanan berarti mau menghilangkan hak privileges, seperti tidak tinggal di hotel super mewah, tidak menggunakan limo dan jet pribadi, bersedia mengurangi atau memotong gaji sendiri, bersedia menjadi pribadi sederhana yang siap melakukan perubahan untuk menjadikan perusahaan lebih kuat dan kokoh. (http://kecerdasanmotivasi.wordpress.com/)
  • Membangun Basis Pelanggan Setia. Untuk dunia usaha, basis pelanggan setia akan membangun fondasi perusahaan yang kuat dengan tingkat keuntungan yang lebih besar, dan mampu bertahan selama masa sulit seperti apa pun. Loyalitas pelanggan adalah puncak keunggulan kompetitif. Perusahaan yang mempromosikan dan menikmati loyalitas pelanggan pasti lebih stabil daripada perusahaan yang selamanya mencari pelanggan baru dalam berbagai segmen pasar yang tidak jelas.Oleh karena itu, strategi perusahaan untuk membangun basis pelanggan setia, adalah kunci untuk terus berhubungan dengan pelanggan lama sambil mengajak pelanggan baru bergabung ke dalam pelayanan sempurna Anda. Perusahaan wajib membangun fondasi pelayanan berkualitas prima di internal perusahaan, agar para pelanggan menjadi lebih loyal. Untuk itu, miliki fondasi pelayanan yang membuat para pelanggan memiliki rasa puas atas layanan Anda, miliki fondasi pelayanan yang membuat para pelanggan mendapatkan semua kebutuhan dan keinginan mereka secara sempurna, dan miliki fondasi pelayanan yang membuat para pelanggan mendapatkan loyalitas pelayanan dari Anda dalam respon pelayanan berkualitas tinggi. (http://www.ninecorporatetrainer.com/)
  • Untuk anda yang bekerja atau mengelola Perusahaan, tentu bijak jika tidak menyerah begitu saja dengan terpaan krisis global. Langkah bijak dan kreatif layak ditonjolkan. Pihak manajemen perusahaan dan karyawan perlu bersatu untuk melawan krisis. Jangan langsung takluk. Beragam upaya harus dikerjakan. Namun, jika beragam langkah itu sudah dilakukan namun tetap sulit untuk bertahan, maka melakukan PHK adalah pilihan terakhir. Perlu diingatkan bahwa melakukan PHK pun harus hati-hati. Pengusaha tidak boleh sewenang-wenang dalam melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau memamfaatkan isu krisis ekonomi global untuk mengambil kebijakan PHK yang iirasional. Perundingan bipartite yang transparan antara manajemen dan pengurus serikat buruh unit perusahaan harus lebih diutamakan. Kondisi yang sulit jangan ditambah runyam hanya karena keegoisan masing-masing pihak. Tidak ada yang lebih baik dari pada kesepakatan dan kebersamaan. Krisis yang dialami bersama, juga harus diatasi dan dihadapi secara bersama. Jika perusahaan melakukan PHK, jangan meninggalkan persoalan lanjutan. Berdasarkan Pasal 151 ayat 3 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, PHK baru sah setelah peradilan hubungan industrial menetapkan. Itu aturannya.Kebijakan manajemen perusahaan untuk mem-PHK karyawannya jangan sampai menabrak aturan dan mekanisme yang ada. Kiranya dengan hati yang bijak dan pikiran cerdas kebijakan pahit ini dilakukan. Hak-hak buruh yang semestinya, haruslah ia dapatkan.Sekali lagi, krisis global memang sudah mengancam kita. Mengancam kehidupan perekonomian kita. Mengancam keberlangsungan sektor industri. Dalam konteks ini, pihak perusahaan menjadi dilematis. Antara mempertahankan keberlangsungan perusahaannya termasuk dengan mempertahankan nasib para karyawannya, atau justru mengurangi faktor resiko dengan melakukan PHK. Krisis keuangan global yang terus melanda bisa menyebabkan Pemutusan. (http://hariansib.com/2008/11/25/phk-jangan-sampai-melanggar-aturan/)
  • Menopang TIPS no. 1-17 adalah perilaku BERDOA dan BEKERJA. Doa adalah bentuk penyerahan diri kita kepada Petunjuk TUHAN.
  • Lakukan hal yang sederhana ini maka Anda akan lihat akibat penyelamatan yang luar biasa. Mari Ikut PEDULI menyelamatkan Bangsa ini.Kita memang sedang mengalami masa sulit, tetapi badai pasti berlalu. Karena itu perlu usaha bersama untuk keluar dari krisis, sehingga pada saat persoalan telah lewat kita akan mendapatkan keadaan yang lebih solid. Jika ini terjadi, maka krisis ekonomi global dan Tsunami PHK di penghujung tahun ini akan mendatangkan makna bagi Bangsa ini. Hadirnya solidaritas sosial. Syalom. (hp)

    Tuesday, November 18, 2008

    BENARKAH PENCEGAHAN VIRUS HIV AIDS DI INDONESIA DAPAT DIKATEGORIKAN GAGAL ?

    GERAKAN BERSAMA MENCEGAH HIV AIDS
    - PERINGATAN HARI AIDS SEDUNIA 1 DESEMBER -
    Happy Pakpahan (Komite HIV AIDS HKI)
    (P. Siantar, 19/12-08). Ditengah gencarnya Program Pencegahan HIV (Human Immunodeficiency Virus) - AIDS [Acquired Immune Deficiency Syndrome] dan munculnya banyak Lembaga bentukan pemerintah, Lembaga keagamaan, LSM dengan lingkup program pencegahan dan pendampingan HIV AIDS, kita sebenarnya layak terkejut bila kita tidak terkejut melihat realitas bahwa ternyata penyebaran HIV AIDS tetap makin marak dimasyarakat. Ini tidak terlepas dari perilaku seks bebas, pemakaian narkoba (drugs) yang erat kaitannya dengan meningkatan pengidap HIV AIDS dimasyarakat.
    Menarik apa yang disampaikan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi yang mengatakan Pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia dinilai gagal. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) meminta pemerintah tegas mengeluarkan aturan 'no condom no sex'. Menurut Nafsiah, cara yang paling efektif untuk menanggulangi HIV/AIDS adalah dengan melakukan pencegahan. Dia mencontohkan upaya pencegahan itu perlu dibarengi dengan perubahan konstruksi sosial di dalam masyarakat menyangkut arti kejantanan. Kejantanan harus diidentikkan dengan kemampuan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, termasuk dari bahaya HIV/AIDS. "Harus ada perubahan, laki-laki jantan itu kayak apa sih? Laki-laki jantan itu yang bisa melindungi dirinya dan orang lain, melindungi kesehatan dirinya dan orang lain," tukasnya. Nafsiah Mboi mengingat hubungan seksual adalah salah satu penyebar utama virus HIV/AIDS, pemerintah perlu membuat kebijakan terkait dengan penggunaan kondom. Pemerintah harus membuat kebijakan wajib pakai kondom bagi pelaku hubungan seksual yang bebas. "Pemerintah harus bisa membuat kebijakan wajib makai kondom atau tidak (seks) sama sekali, no kondom no sex" (Sumber:Antara-http://kompas.co.id/read/xml/2008/10/13/1947422/upaya.cegah.penyebaran.hivaids.gagal).
    Statement Nafsiah Mboi yang mengatakan Pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia dinilai gagal, hendaknya memacu kita. Satu sisi hal ini membuka mata kita bahwa keadaan belum banyak berubah tapi disisi lain masih terlalu dini mengatakan gagal mengacu kepada proses penyadaran dan pencegahan itu masih "on the way". Tapi yang pasti sudah saatnya kita semakin serius untuk mencegah HIV AIDS, karena semua orang termasuk kita sangat berpotensi terindap HIV AIDS. Sehingga Efektif jika gerakan ini menjadi gerakan bersama.
    STATISTIK KASUS HIV/AIDS DI INDONESIA – dilapor s/d Juni 2008.
    Ditjen PPM & PL Depkes RI dari melaporkan bahwa dalam triwulan April s.d. Juni 2008 telah terdapat tambahan 819 kasus AIDS dan 148 pengidap infeksi HIV yang terdiri dari: 212 HIV & 1546 AIDS. Secara kumulatif pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS 1 Januari 1987 s.d. 30 Juni 2008, terdiri dari: 6277 HIV & 12686 AIDS. Total Jumlah HIV dan AIDS di Indonesia : 18.963 dengan kematian: 2479. (dikutip dari http://spiritia.or.id/). Bisa dibayangkan bila angka penderita HIV/AIDS semakin meningkat di negeri ini, maka dapat dipastikan Indonesia akan kehilangan asset yang paling berharga yaitu generasi bangsa yang tangguh dan berkualitas di masa yang akan datang. Apalagi semua orang percaya fenomena HIV/AIDS seperti gunung es, penderita yang berhasil diidentifikasi hanyalah sebagian kecil dari keadaan sebenarnya. Singkat kata perlu upaya yang lebih efektif mencegah HIV AIDS. Dan ini harus lah gerakan bersama lintas anggota masyarakat.
    SEMUA ORANG BISA IKUT DALAM GERAKAN PENCEGAHAN DAN PENDAMPINGAN - PENANGGULANGAN HIV/AIDS
    Melihat 4 mata rantai penyebarluasan HIV AIDS diatas, bisa kita simpulkan bahwa HIV/AIDS adalah masalah kesehatan dan mempunyai implikasi politik, sosial, agama dan hukum. Bahkan bila tidak dilakukan penanganan yang sungguh-sungguh maka dampaknya secara nyata, cepat atau lambat dapat menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia dan pada akhirnya hal ini akan mengancam upaya bangsa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (Siapa yang mau pejabat di daerah-negaranya pecandu narkoba-seks bebas? – mengontrol dirinya saja tidak mampu apalagi memimpin daerah-negara). Karena penyebaran HIV/AIDS sangat kuat dipengaruhi oleh tingkah laku manusia oleh sebab itu segala usaha untuk pencegahannya haruslah mempertimbangkan faktor ini. Upaya ini efektif bila kita memiliki asumsi dasar yang sama bahwa kita melihat diri sebagai bagian dari penyelesaian. Kita bersama Orang dengan HIV/AIDS bukan obyek atau sasaran semata, melainkan mempunyai peran dan tanggung jawab dalam upaya dukungan dan pencegahan AIDS. Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan (lintas usia, profesi dan lintas cara) untuk mencegah dan mendampingi HIV AIDS.
    1. Menghapus Stigma dan Diskriminasi. HIV/AIDS telah ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak tahun 1987. Keberadaannya langsung diiringi munculnya banyak stigma negatif seperti HIV AIDS adalah penyakit kutukan, mereka yang mengidap adalah pelaku zinah dan pemakai narkoba, HIV AIDS penyakit menular sehingga pengidapnya harus di kucilkan dll. Ini semua menimbulkan nuansa ketakutan dan rasa malu, bukan hanya bagi si pengidap tetapi hingga ke seluruh kerabat. Hal ini diperparah dengan penolakan oleh tenaga kesehatan dan penyedia layanan lainnya, peraturan yang diskriminatif, pemberitaan media massa yang sensasional, dan pembocoran status HIV seseorang sehingga menimbulkan rasa malu dan minder, dll. Jadi jelas upaya pencegahan HIV/AIDS di Indonesia terhambat oleh masih adanya stigmatisasi di kalangan masyarakat. Menurut Aburizal Bakrie, hambatan utama yang dihadapi dalam pencegahan HIV/AIDS saat ini adalah munculnya stigmatisasi. Jika berbicara tentang pencegahan HIV/AIDS melalui penggunaan kondom, maka hal ini dianggap berhubungan dengan upaya pemerintah untuk melindungi setiap orang yang berperilaku seksual bebas, bahkan sejumlah kalangan sering mengasosiasikan ini sebagai sosialisasi perilaku seks bebas. ( http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/28/1937477/stigmatisasi.hambat.pencegahan.hivaids.) Upaya menghapus diskriminasi harus diimbangi pada sikap pemberdayaan dan kesempatan bagi orang HIV-positif untuk bisa bekerja dan berpenghidupan yang layak. Untuk itu perlu memberikan keterampilan agar orang HIV-positif bisa memenuhi peran tersebut dengan nyata karena hak setiap orang (termasuk ODHA) untuk memperoleh pekerjaan dan Negara perlu melindungi hak ini. Perlindungan dan Penegakan hak asasi manusia untuk orang HIV-positif perlu ditingkatkan.
    2. Ketersediaan layanan dan tenaga kesehatan yang ”bersahabat” dengan orang HIV-positif. Salah satu mata rantai penularan HIV/AIDS adalah Akibat “Efek Spiral” transfusi darah, ASI, alat-alat kedokteran, hubungan suami isteri yang sudah tertular karena seks bebas. Sehingga tidaklah heran, apabila banyak ditemukan 3000 bayi lahir dengan mengidap HIV positif. Karena itu perlu Ketersediaan layanan dan tenaga kesehatan yang ”bersahabat” dengan orang HIV-positif. Ini bisa dalam bentuk tersedianya dukungan sebelum dan sesudah tes agar orang HIV-positif dapat menerima hasil tes dan menjalani hidup secara positif dan bermartabat. Pemerolehan obat-obatan antiretroviral dan obat-obatan untuk infeksi oportunistik dengan standar yang baik dengan harga terjangkau perlu segera ditingkatkan dan lebih merata. Dan disamping itu perlu pembekalan agar tenaga kesehatan memiliki kesiapan menangani ODHA dan menghindari penyebarluasan keorang lain akibat kesalahan penanganan medias. Misalnya dalam hal transfusi darah juga harus dipastikan darah donor bersih dari infeksi virus HIV. Perlu diatasi kurangnya akses pada pengobatan dilihat sebagai kendala yang sangat membatasi orang HIV-positif untuk memperpanjang masa tanpa gejala atau masa produktifnya sebagai manusia. Disamping itu, hak orang HIV-positif untuk mempunyai keturunan agar dilindungi dan segala upaya dilaksanakan agar bisa dilakukan dengan cara yang paling aman untuk ibu dan bayi.
    Atas dasar ini, maka para ODHA hendaknya diperlakukan sama sebagai manusia. Harus dirangkul, jangan dikucilkan dan masyarakat senormalnya berbaur dengan mereka. Pendapat bahwa rumah sakit-rumah sakit yang kedatangan para pasien ODHA tak boleh lagi memisahkan ruang perawatannya dengan pasien penyakit umum lainnya juga harus disertai penekanan bahwa Tenaga medis dan orang terkait di rumah sakit itu juga harus dibekali dan dilatih pemahaman yang tepat dan penanganan medis yang tepat pula ttg HIV AIDS. Jangan sampai terjadi ironi : ”maunya mencegah penularan HIV/AIDS, tapi malah membuka peluang terjadinya penularan HIV/AIDS secara cepat. Sudah jelas ini penyakit menular, kok malah disuruh berinteraksi dengan mereka. Sudah jelas ini penyakit mematikan, kok malah tidak dikarantina”. Jika ini dilakukan, perlu ada jaminan 100 persen aman bila pasien HIV/AIDS berbaur dengan pasien penyakit lain atau orang sehat.
    3. Mencegah Perilaku Seks Bebas dan Penyalahgunaan Narkoba. Tidak kita pungkiri, bahwa seks bebas dan penyalahgunaan narkoba sangat erat kaitannya dengan penularan HIV/AIDS. Perilaku Seks Bebas Sebagai Transmisi Utama HIV/AIDS (Survey CDC, Des 2002 dan KPAN 2003). Perilaku seks bebas ini menjadi lebih luas karena seiring globalisasi - maka “perjalanan internasional” dan “keterbukaan media” memberi peluang “pe-liberalan” pikiran yang mensahkan seks bebas dan kontak seksual secara fisik. Razia-razia yang dilakukan aparat kepolisian tidaklah cukup menghentikan penyebaran visrus penyakit ini. Kampanye kondomisasi yang dieluh-eluhkan dapat mengatasi pencegahan HIV/AIDS yang ditunjang dengan pendirian ATM kondom ternyata tetap tidak membawa hasil yang signifikan. Kondom bukanlah penyelesaian tuntas, kondom tidak efektif sebagai pencegah penularan virus HIV. Karena menurut salah satu situs, pori-pori kondom besarnya 600 kali lebih besar dibanding besar virus HIV. Selain itu, kondom sensitif terhadap perubahan suhu. Sehingga, penggunaan kondom semakin meningkatkan laju infeksi HIV dan menyuburkan seks bebas. Program kampanye penggunaan kondom yang ditujukan bagi orang yang tidak mampu melakukan perilaku abstinentia atau menghindari hubungan seks (be faithfull) sering dianggap sebagai anjuran perilaku seks bebas. Wacana ini mutlak harus dihilangkan dengan kegiatan sosialisasi yang efektif dan intensif kepada semua pihak, karena persepsi banyak pihak yang menggeneralisasi kampanye anti HIV dan AIDS sejajar dengan kampanye seks bebas seperti ini dilatarbelakangi kurangnya informasi dan cara pikir yang sempit. Memakai alat pengaman, contohnya memakai kondom, karena biasa meminimalkan menularkan virus. ingat kan, virus ini menular melalui cairan tubuh. Selain itu, kita juga bisa turut mendukung program KB (keluarga berencana) dan menghargai kemanusiaan melalui perlindungan.
    Penerapan ide liberalisme oleh banyak individu seperti Seks Bebas ”didampingi” ATM Kondom di negeri ini, semakin menambah daftar panjang perusakan generasi bangsa, a.l mulai kehamilan di luar nikah, aborsi, stress, bunuh diri dan kehancuran keluarga. Dan aktivitas seks bebas tetap akan terjadi di negeri ini, selama negara juga tetap memfasilitasi terjadinya aktivitas seks bebas dengan penyediaan Lokalisasi. Bila diamati, ada kontradiksi dalam kebijakan negara, di satu sisi negara ingin penularan HIV/AIDS tidak terus meningkat tetapi di sisi lain negara malah memberikan izin beroperasinya tempat-tempat yang jelas-jelas menumbuh suburkan aktivitas seks bebas. Hendaknya Pemerintah bertindak dengan tegas, bukannya plin-plan karena ini menyangkut generasi bangsa masa kini dan akan datang. (bnk. Kasus Video porno dan perilaku seks mulai dari Pejabat Negara, anggota DPR, pelajar, dll yang marak 7 tahun belakangan ini). Pencegahan penularan HIV/AIDS tidak bisa tidak harus diselesaikan dengan penyelesaian yang menyeluruh dan komprehensif bukan parsial.
    Disamping itu mata rantai Narkoba dan segala jenisnya sangat berbahaya, karena selain dapat menghilangkan akal manusia juga dapat menularkan HIV/AIDS melaui jarum suntik yang tidak streril. Pemakaian narkoba dan jarum suntik secara bergantian dan diikuti seks ”bebas” akibat “loss control dengan berganti-ganti pasangan termasuk dua perilaku yang rawan penularan HIV/AIDS. Untuk memberantasnya harus dilakukan peningkatan kesadaran individu dan menghabisi mafia narkoba hingga ke akar-akarnya dengan hukum yang bisa membuat efek jera. Setiap orang (lintas usia) harus pintar-pintar memilih pergaulan. Ok Bro – ok sis..!
    4. Memberikan penyadaran secara khusus bagi kaum muda & Mengefektifkan Lembaga Keagamaan - Sekolah dalam Proses Penyadaran. Masa muda identik dengan masa coba-coba, termasuk seks coba-coba. Rasa ingin tahu - hingga ingin merasakan ” yang serba enak” membuat akal sehat dan norma yang diterima dari kecil dirumah dan disekolah bisa sirna. Mereka biasanya tidak perduli dengan akibat dari perbuatan yang mereka lakukan. Karena itu, sudah sepantasnya dan wajib dilakukan oleh para orang tua-dan pihak terkait- mendidiknya secara efektif agar kelak bisa menjadi orang yang berguna. Sangat efektif bila masing-masing organisasi termasuk Organisasi KeAgamaan seperti Gereja (melalui kurikulum Katekisasi, PA, Retreat, dll) tetap dilakukan Program-program penanggulangan AIDS mengutamakan pendekatan ke generasi muda, karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa 38 persen lelaki penyuka lelaki adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Waria juga 30 persennya berusia 15-24 tahun, prosentase yang sama untuk pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif) suntik, atau yang disingkat menjadi penasun". Hal ini bisa juga dilakukan dengan cara mengintegrasikan materi HIV/AIDS pada setiap kegiatan pelatihan atau kegiatan belajar mengajar yang relevan, bahkan dapat pula dilakukan secara khusus melalui media Komunikasi, Informasi dan Edukasi [KIE] yang relevan. Penerapan yang sesuai dalam program IEC juga membutuhkan kapasitas yang membangun pada pekerja kesehatan, pekerja sosial, pekerja lapangan, guru, pelatih trampil dan lain-lain digaris depan. Disamping itu tetap perlu usaha pencegahan ditujukan pada populasi yang beresiko tinggi seperti kaum muda, para pekerja seks dan klien mereka, PLHA dan partnernya, IDUs, dan mereka yang secara umum pekerjaannya beresiko terinfeksi HIV/AIDS dan didasari ukuran pencegahan efektif seperti pengurangan resiko, ketaatan beribadat sebagai tindakan pencegahan universal dan sebagainya.
    5. Bersikap saling setia terhadap pasangan anda.
    Ini sangat efektif, karena kesadaran akan sakralnya ikatan pernikahan akan membuat kita menghindari seks diluar ikatan pernikahan. Kesetiaan adalah wujud konkret tanggung jawab, dan tanggung jawab adalah wujud kita bukan hanya mengasihi diri sendiri tetapi juga orang lain. Jika setia orang memiliki konsep ini, maka dia tidak akan mau membawa ”penyakit” kepada pasangannya sebagai ”oleh-oleh” seks diluar ikatan pernikahan.
    6. Menghilangkan stigma negatif bahwa ODHA pasti para pelaku maksiat. Sejak epidemi HIV/AIDS bermula 20 tahun lalu, pandangan masyarakat banyak yang masih saja ”jadul”. Mereka masih melihat hanya kelompok tertentu di masyarakat yang berpotensi menderita HIV dan AIDS. Gay, pengguna narkoba, dan pekerja seks komersial adalah kelompok yang rentan tertular penyakit ini. Tapi, itu mitos jadul. Nyatanya, setiap orang berpotensi terinfeksi HIV. Baik itu orang tua atau anak muda, laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau kanak-kanak, kaya dan miskin, gelandangan atau profesor – termasuk saya dan anda. Faktanya, HIV dapat menginfeksi siapa saja yang tidak melakukan tindakan pencegahan sepatutnya. Disamping itu banyak masyarakat selalu mengkaitkan pengidap HIV AIDS pasti para pelaku maksiat, pemakai narkoba sehingga kesannya miring dan negatif. Maklum, penyakit yang menggerogoti sistem imun tubuh itu pertama-tama ditemukan pada pelaku homoseksual. Nah, kini penularan HIV/AIDS tak sekadar akibat hubungan intim dengan sejenis, melainkan sudah mendera “orang-orang tak berdosa”. Seperti istri/suami oleh pasangan sahnya atau bayi oleh ibunya.
    Ini membuka mata bahwa salah satu isu kampanye pencegahan HIV/AIDS adalah penghapusan berbagai bentuk diskriminasi perlakuan terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Propaganda ini bertujuan untuk menghilangkan stigma negatif bahwa ODHA pasti para pelaku maksiat. Tak semua ODHA pelaku maksiat, namun, toh mereka terinveksi virus HIV dari orang-orang yang dahulu juga pelaku maksiat. Seperti istri/suami dari pasangan yang mantan pecandu narkoba atau pasangan yang dulu suka gonta-ganti pasangan, dll. Keadaan ini makin berkembang dialami banyak orang karena ”ketabuan dan keterttupan”. Lihat saja berapa banyak orang yang mengaku menderita infeksi HIV saat ditanya pacarnya ketika hendak menikah atau melakukan hubungan seks? Berapa orang yang mau secara jujur menjelaskan sejarah hubungan seksnya ketika tengah melakukan pendekatan? Namun, lebih jauh lagi, siapa yang bisa memastikan seseorang positif HIV dan tahu kondisi kesehatan kekasih lamanya? Dan yg lebih ironis, banyak pelaku seks bebas atau yang pernah berhubungan seks tidak mengetahui bahwa dia terjangkit HIV AIDS karena perasaan ”tidak mungkin kena”.
    Hal diatas ini jelas memacu HIV AIDS. Bila diamati, stigma hingga perilaku diskriminatif tentu tidak terlepas dari keterbatasan informasi dimasyarakat. Upaya mencegah dan menghapus stigma atau diskriminasi ini dapat dilakukan dengan Penyebarluasan informasi yang lengkap dan benar untuk masyarakat supaya dapat menerima keberadaan orang HIV-positif dengan wajar dan tidak menghakimi. Hal ini dapat dilakukan dengan metode pembentukan kelompok dukungan (support group), penyediaan informasi lebih lanjut mengenai topik-topik terkait dengan hidup HIV (melalui brosure atau media lain) hingga melakukan konseling untuk keluarga dan lingkungannya. Kesiapan keluarga dan lingkungan untuk dapat menerima penderita HIV/AIDS penting dilakukan sebab jangan sampai mereka kemudian mengucilkan penderita. Sebab, bagaimana pun penderita HIV/AIDS juga memiliki hak untuk hidup aman dan tenteram. Karena itu mari bersama dalam gerakan pencegahan HIV AIDS dari titik dimana kita beraktifitas keseharian. Tidak saatnya lagi untuk bersifat pasif - atau berpolemik usaha pencegahan HIV AIDS selama ini gagal atau tidak - yang penting mari tetap berusaha secara bersama karena masalah ini semakin dekat dengan kita, baik disadari maupun tanpa disadari. Stop AIDS. Keep the Promise. God Bless Us. (hp)

    Friday, November 07, 2008

    ANAK MENTENG JADI PRESIDEN USA

    MEMETIK MAKNA DARI OBAMA
    (P.Siantar/hp). Belakangan ini hampir di semua media (baik televisi, majalah, koran, internet) membahas tentang terpilihnya Obama sebagai Presiden ke 44 Amerika. Bagi Bangsa ini, figur Obama memiliki nilai istimewa karena Obama memang pernah tinggal di Menteng Dalam dan Matraman Jakarta sekitar tahun 1967. Sosok Obama telah melekat secara emosional di hati bangsa Indonesia—walaupun banyak yang belum mengenalnya.
    Tinta emas yang ditorehkan Obama dalam sejarah AS memang patut diacungi jempol. Berjibaku melawan isu rasial, kampanye hitam hingga serangan politik membabi buta dilewati Obama dengan bijak. Dan hasilnya pun menggembirakan, "Anak Menteng" Obama memenangi Pemilu selayaknya seperti hasil beberapa survei yang dilansir di negeri Paman Sam itu.

    Indonesia tak ketinggalan, TV Nasional terus menghadirkan pakar mengulas mulai dari prediksi pemerintahannya kelak, hubungan dengan Indonesia, ekonomi Global, dll, bahkan perayaannya pun dilakukan beberapa komunitas. Ini menarik, ada "wabah" Obama dari negeri Paman Sam di Indonesia (mudah-mudahan tidak hanya sekedar kelatahan sosial).

    Bak virus, fenomena kemenangan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 menular ke mana-mana, tidak terkecuali Indonesia. Banyak politisi negeri ini kemudian bermimpi menjadi Obama. Akankah Pemilu 2009 terinfeksi wabah Obama? Hasil memuaskan yang diraih Obama ternyata banyak menginspirasi sejumlah pihak, termasuk aktor perpolitikan Indonesia. Politisi di negeri ini pun seakan ikut larut dalam pesta kemenangan Obama. Harapannya, fenomena Obama terjadi di Indonesia. Partai Demokrat di Indonesia, misalnya, menyambut riang kalahnya John McCain dalam pesta demokrasi AS. Ketua DPP PD, Anas Urbaningrum, mengungkapkan keyakinan pihaknya mengikuti jejak partai yang mengusung Obama. "Kemenangan biru (Partai Demokrat) di Amerika 2008, insya Allah akan diikuti oleh kemenangan Partai Demokrat di Indonesia," ucapnya. Tidak hanya partai besutan SBY, Megawati Soekarnoputri pun tidak ingin ketinggalan. Putri sulung tokoh proklamator Bung Karno itu berharap kemenangan si anak Menteng menginspirasi kemenangan Mega pada Pilpres mendatang. "Saya berharap kemenangan Obama akan menginspirasi kemenangan saya di tahun 2009. Semangat Obama ada pada saya, yakni ingin memberikan yang terbaik untuk rakyat Indonesia," ujar Megawati. Politisi muda seperti Yuddi Chrisnandie pun juga turut 'bermimpi' tertular Obama. Ia mengaku makin termotivasi untuk maju dalam perebutan kursi RI-1 pada 2009 mendatang. "Kemenangan telak Obama atas McCain, membawa angin perubahan hingga ke Indonesia. Obama menjadi inspirator bagi para calon pemimpin muda Indonesia," tegas Yuddi. Dirinya yakin Obama versi Indonesia akan muncul dalam waktu dekat. Sebab, menangnya Obama telah menghilangkan pentingnya pengalaman politik yang kerap diusung politisi senior. "Menjadi Presiden 2009 tidak mudah, namun kaum muda tidak boleh menyerah. Saatnya kaum muda menggerakkan dan menggelorakan kampanye untuk mendukung pemimpin muda," cetus Yuddi. Menanggapi fenomena politisi Indonesia ini, pengamat politik Fachry Ali berpendapat hal ini menunjukkan elit merasa dapat memenangkan kompetisi politik secara instan. Pemimpin politik ini tidak melihat usaha yang dilakukan Obama sebelumnya. "Itu retrorika elit yang merasa bisa berkuasa dengan tiba-tiba," ujar Fachry kepada INILAH.COM. (http://www/inilah.com)
    Saya sendiri melihat bahwa mengapa kemenangan Obama ini menjadi sedemikian mewabah menunjukkan bahwa Indonesia masih terkait erat - memiliki harapan dengan Amerika - (bahkan bisa dikatakan cenderung tergantung). Mimpi politisi bahwa Pemilu 2009 mendatang juga mengalami kejutan seperti di AS tentu boleh-boleh saja. Akan tetapi, patut dicatat, Obama meraih kemenangan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ia harus melewati jalan terjal dengan merintis karier politik dari bawah dan makan waktu bertahun-tahun. Usia boleh muda, tetapi pengalaman politik Obama juga tidak perlu diragukan lagi. Potret inilah yang harus juga dilihat oleh politisi Indonesia. Bukan sekadar fenomena menangnya saja.
    Nah, untuk membuat ini mempunyai makna bagi konteks kita, alangkah elok kita mencari makna apa yang bisa dipelajari dari moment terpilihnya Obama. Berikut makna yang bisa saya ambil ;
    1. Kenyataan bahwa Obama seorang kulit hitam, dengan nama tengah Hussein, anak dari seorang berdarah Kenya dengan ibu kulit putih yang dibesarkan oleh kakek-neneknya, bisa jadi orang no 1 di "negara adidaya planet" ini, harus disadari punya makna yang luar biasa. Seorang kulit hitam menjadi presiden amerika ke 44, hal yang tidak terbayangkan hal ini bisa terjadi sebelumnya. It's amazing. Bahwa dia pernah tinggal di Menteng, Indonesia beberapa tahun waktu dia kecil, itu hanyalah nilai tambah saja. Hal ini, memicu imajinasi, menciptakan ribuan inspirasi dan jutaan harapan diseluruh planet. Kita bisa mendengar, bahkan sekarang semua orang tua, memacu anaknya yang ketinggalan dan kekurangan dengan kata-kata: "Lihat Obama, dengan segala latar belakangnya bisa jadi Presiden Amerika, kamu juga bisa!". Berhenti berpikir egois dan selfish, dan mengukur segala sesuatunya hanya dengan apa yang ada di depan mata kita saja. Betul bahwa apa yang ada di depan mata tentu penting, tapi di moment ini, di kesempatan ini, mari lihat gambar yang lebih besar, mari jadi bagian dari sejarah, mari lihat bahwa gelas tersebut tidak kosong setengah tapi sekarang sudah menjadi berisi setengah. Lihat bahwa matahari baru bersinar kembali hari ini, membawa hari baru, perubahan baru, keyakinan baru, harapan baru. Tidak saja untuk orang Amerika, tapi untuk semua orang di planet ini.
    2. Obama yang berlatar belakang keluarga sederhana juga pernah merasa termarjinalisasi, seperti karena warna kulitnya (bnk. isu sewaktu kampanye). Saya melihat dari sisi positif, Obama akan lebih toleran dengan dunia orang yang termarginalisasi. Paling tidak Obama memberikan simbol perubahan yang selama ini tidak mungkin. Kemenangan Obama memberikan angin segar juga bagi kehidupan demokrasi. Ini juga menjadi simbol anti-diskriminasi dari segala lini. Meski, Obama tak mungkin mengubah dengan membalik telapak tangan, itu tak mungkin. Masih butuh waktu adaptasi. Artinya, Obama harus mampu menurunkan tensi arogansi Amerika, meski kemenangan Obama menjadi sinyal turunnya tensi arogansi Amerika. Itu harapan kita. Jadi dalam konteks ini, kita boleh berharap Obama bisa lebih toleran, dapat berdialog, lebih berpihak pada bangsa-atau kelompok yang termarjinalkan (ekonomi, fisik, budaya, dll), juga tidak terjebak pada fanatisme sempit, tapi jangan menggantungkan harapan terlalu besar layaknya dia superman.
    3. Kemenangan Obama memberi pencerahan kaum muda dalam berpolitik. Dengan catatan harus menawarkan program perubahan. Kesatuan hati untuk perubahan yang lebih baik akan memadamkan rasa primordial Ras, ini terbukti dimana masyarakat AS secara kolektif mendemonstrasikan kehendaknya dalam moment terpilihnya Obama. Dan ini pasti menginspirasikan anak muda di Indonesia" bahwa dalam segala hal, dan lini kehidupan, dalam menawarkan perubahan jangan dilihat dari umurnya saja, muda, tetapi kerja kerasnya untuk membawa perubahan. Ingat bro, apa yang dilakukan Obama, bukanlah suatu keberuntungan. Perencanaan dan langkah yang terukur serta nyata menjadi penting dalam berkiprah politik. Dan semua ini tidak dengan cara cepat atau instan. Ini yang harus ditularkan atau diinspirasikan.
    4. Pasca Pilpres USA 2009, Fenomena Obama setidaknya ikut meruntuhkan pandangan di Indonesia bahwa presiden RI harus berasal dari suku Jawa saja. Orang non-Jawa pun bisa. Karena itu, para politikus harus berkaca terhadap kemenangan Obama. Bukan hanya dari segi SARA, usia, tetapi program-program yang disodorkan pada saat kampanye. Obama sebagai penantang melawan incumbent, John McCain/Partai Republic membuktikannya. Program-programnya yang berkualitas, figur pekerja keras yang dimiliki, membuahkan bahwa ia mendapat kepercayaan rakyat Amerika. Demikian juga dalam Pemilihan Bupati, Walikota, Gubernur, Kepala Desa dan Jabatan lain, memilih dengan latar belakang primordial atau kesamaan suku-agana-sekampung harus disingkirkan, karena kesamaan atas semua itu, atau latar belakang calon berasal dari kamu mayoritas, tidak menjamin adanya perubahan yang lebih baik. Mari memilih dan mencalonkan diri dari segi kualitas, berkualitas dari segi karakter diri, berkualitas dari segi program hingga kemudian tahap pembuktian melalui kinerja.
    5. Hal lain yang bisa ambil makna adalah bagaimana Obama dan team-nya memakai tehnologi informasi (Internet a.l Face Book, Blog dan e-News) untuk mensosialisasikan ide dan membina jejaring merekrut simpatik. Ini amat berguna diera IT sekarang ini, dimana banyak orang yang kesehariannya memakai tehnologi seperti internet dari pada bersosialisasi. Efektif menyapa konsituen dengan tehnologi yang keseharian bersama mereka. Nah, menjelang Pemilu 2009, saya melihat banyaknya Caleg berbondong-bondong membuat Web Site atau Blog untuk mensosialisasikan dirinya. Ini sah dan baik adanya. Asalkan memuat ide-pemikiran yang bersangkutan sehingga tidak hanya bersifat latah dan ikut-ikutan "gaul" belaka.
    Mungkin rekan2 bisa melihat hal positif lainnya dengan terpilihnya Husein si anak Menteng menjadi Presiden USA. Silahkan menjadi duta utk hal pemaknaan ini. Salam.
    Viva Obama! Thanx buat Obama, karena kisahnya memberi inspirasi buat banyak hal. Good luck bro.. !

    Monday, October 13, 2008

    KRISIS EKOLOGI-PANGAN-EKONOMI GLOBAL MAKIN BETAH BERSAMA KITA.

    KEPANIKAN VERSUS SOLIDARITAS GLOBAL
    Belum habis trauma dan efek Krisis ekonomi 97-98, masyarakat kembali di kejutkan kembali oleh berita Krisis Ekonomi Global. Walaupun Presiden dan Menteri-Pejabat Publik terkait berusaha menenangkan masyarakat utk tidak panik, tapi tetap saja kepanikan terjadi dimasyarakat, mulai dari pemain saham, pengusaha, hingga rakyat kecil yang permohonan kreditnya terancam di batalkan oleh Bank dan yg pemenuhan kebutuhan pokoknya terancam oleh kenaikan harga.
    Telah kita ketahui saat ini Amerika Serikat sedang berada di ambang kehancuran financial sebagai imbas dari krisis ekonomi (dan juga berimbas ke Krisis Ekonomi Global tentunya). Trauma akan krisis ekonomi di tahun 1929 yang sering disebut Great Depression kembali menghantui Amerika. Pada saat itu dampak krisis itu menasional bagi rakyat Amerika Serikat, seperti kesulitan keuangan karena lapangan pekerjaan sedikit hingga kelaparan. Seperti mengulang kejadian Great Depression, dimana saat ini banyak saham-saham yang menjadi maskot Wall Street berguguran. Apalagi perusahaan sekelas Lehman brothers dan Washington Mutual menyatakan kebangkrutan. Belum lagi raksasa Asuransi AIG, sahamnya turun hingga 50 persen.
    Efek dari krisis ekonomi dan finansial di USA telah merambat ke negara-negara di Asia dan Eropa. Banyak negara yang memberikan suntikan dana kepada lembaga keuangan supaya tidak tergerus arus krisis Ekonomi yang berasal dari Amerika Serikat. Amerika saat ini benar-benar terpukul akibat episode-episode krisis keuangan yang melanda negrinya. Krisis yang menghabiskan dana talangan hingga ratusan miliar dolar, dan masih belum banyak memberikan titik cerah bagi perkembangan Ekonomi AS, bahkan telah menjangkit ke beberapa kawasan dari Atlantik hingga Eropa dengan cepat.
    Sumber asap: Ulah siapa?
    Episode-episode krisis AS bukanlah merupakan rekayasa atau bentuk konspirasi negara lain terhadap AS, namun lebih disebabkan karena kerapuhan ekonomi domestik AS itu sendiri. Permasalahan ekonomi AS sebenarnya telah dimulai sejak 1990an, dimana ekonomi AS mulai menunjukkan defisit dalam current account (defisit perdagangan dan defisit fiskal). Bahkan penyakit defisit ini mulai meningkat drastis hingga US $ 664 Milyar di tahun 2004. Di tahun 2006, defisit AS telah mencapai 6.2% dari GDP AS.
    Melihat Musabab Krisis Ekonomi melanda Amerika Serikat?
    Mungkin ini menjadi pertanyaan bagi sebagian besar orang, mengapa negara super power dan terkenal kuat finansialnya bisa mengalami krisis moneter atau ekonomi. Dan kemungkinan berada di ambang kebangkrutan yang akan menyengsarakan rakyatnya dan sebagian besar negara di dunia. Dikutip dari hidayatullah.com, ada sebuah penjelasan dari Bpk Dahlan Iskan, pada Jawa Pos tanggal 28 september 2008, berikut rangkumannya. Sebuah perusahaan yang go public dituntut untuk meningkatkan laba hingga 20 persen tiap tahunnya. Tentang bagaimana caranya, CEO dan direktur yang akan mengaturnya. Pemilik perusahaan atau pemegang saham tidak mau tau yang penting harga saham naik dan laba terus meningkat. Mengapa harga saham harus selalu naik, alasannya adalah jika saham dijual maka harga saham harus lebih tinggi dari harga saham saat membeli. Dan mengapa laba harus naik? alasannya jika saham tidak dijual maka setiap tahunnya mereka bisa mendapat pembagian laba atau deviden yang bertambah banyak. Sehingga CEO selalu mencari cara untuk melakukan 2 hal di atas tadi. Alasannya agar tetap dapat mempertahankan jabatan dan gaji dan bonus yang selalu meningkat. CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali gaji Presiden Bush. Sehingga antara pemegang saham dan CEO menemukan sumbu temu untuk mendapatkan 2 hal di atas. Berbagai cara dilakukan hingga melibatkan pelaku politik, banyak kebijakan yang memungkinkan perubahaan aturan dan undang-undang untuk memungkinkan segala cara para CEO tersebut. Bagi pelaku politik keuntungannya adalah mendapatkan dana kampanye dan dukungan. Dengan cara ini ekonomi AS berkembang pesat, semua orang mampu membeli kebutuhan hidup. Sehingga AS memerlukan banyak barang. Jika tidak bisa dibuat di dalam negeri maka pesan dari negara lain. Maka tak heran China memiliki cadangan devisa terbesar yaitu 2 triliun USD karena memasok banyak barang ke AS. Sudah 60 tahun AS membesarkan perusahaan seperti itu, yang merupakan bagian dari ekonomi kapitalis sehingga AS menjadi penguasa dunia. Tapi itu belum cukup, segala hal harus yang terbaik, terkomputerisasi, bonus yang sudah besar harus dibuat lebih besar lagi. Disinilah ketamakan AS terlihat. Ketika semua orang sudah membeli rumah, seharusnya tidak ada lagi perusahaan penjual rumah bukan. Namun kenyataannya perusahaan harus meningkatkan penjualan untuk mendapatkan pertumbuhan laba. Maka dicarilah jalan agar rumah terjual lebih banyak. Jika orang sudah memiliki rumah maka diciptakan agar kucing dan anjing juga memiliki rumah. Termasuk mobil. Namun ketika "kucing dan anjing sudah memiliki rumah", siapa lagi yang harus membeli? Maka di tahun 1980, Pemerintah AS mengeluarkan keputusan ‘Deregulasi Kontrol Moneter’, intinya dalam kredit rumah, perusahaan real estate diperbolehkan menggunakan variable bunga. Artinya boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini merupakan peluang besar bagi perusahaan real estate, broker, asuransi dan keuangan. Kemudian pemerintah AS menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya, pembeli rumah diberi keringanan pajak. Bagi warga di negara maju, keringanan pajak akan mendapat sambutan luar biasa karena nilai pajak yang tinggi. Tahun 1990, dengan fasilitas pajak bisnis rumah meningkat hingga 12 tahun ke depannya. Dari mortgage 150milyar USD dalam setahun menjadi 2 kali lipat di tahun-tahun berikutnya. Tahun 2004, mortgage mencapai 700 milyar USD per tahun. Gairah bisnis rumah yang terus meningkat ini membuat para pelaku bisnis menghalalkan segala cara. Mulai dari iklan yang jor-joran, keluarnya lembaga investment bank, hingga melunaknya persyaratan KPR. Dalam pikiran pengembang, jika orang tidak bisa membayar kredit atau kredit macet, toh rumah masih bisa dijual karena perhitungannya tiap tahun harga rumah meningkat. Jadi mereka masih untung ketika terjadi kredit macet. Namun ternyata dalam jangka kurang dari 10 tahun, banyak kredit Macet. Banyak orang menjual rumah, harga menjadi turun sehingga nilai jaminan rumah tidak cocok lagi dengan nilai pinjaman. Satu per satu lembaga investment banking bergururan seperti efek domino. Berapa juta rumah yang termasuk mortgage? tidak ada data namun dari nilai uangnya sekitar 5 triliun USD. Jadi kalo George Bush meminta bantuan dana 700 milyar USD itu baru sebagian kecil. Kongres kawatir apakah harus menambah 700 milyar USD lagi jika yang pertama tidak berhasil. Kabar terakhir menyebutkan Kongres AS kemungkinan besar menyetujui rencana bailout ini. (Sebenarnya program 700 milyar dollar itu mirip dengan proyek Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) berbiaya Rp 650 triliun dalam krisis moneter di Indonesia 1998). Peranan calon presiden Barack Obama dalam menggoalkan rancangan itu cukup besar. Dia terus terang mendukung program ini. Anggota kaukus kulit hitam di DPR dia lobi sehingga banyak yang berubah sikap dari menantang jadi mendukung program itu.Akhirnya program itu disetujui di Senat dan kemudian menang voting di DPR, Jumat, 4 Oktober lalu. Sikap Obama yang ‘’all-out’’ dalam menghadapi krisis ekonomi sekarang, membuat namanya lebih berkibar di hadapan pemilih dibanding John McCain, calon presiden dari Partai Republik. Obama tampak di atas angin berhadapan dengan John McCain yang selama ini merupakan pendukung laissez-faire.Tapi sementara itu perusahaan terus bertumbangan satu persatu sebagai korban dari krisis keuangan yang menurut para ahli paling parah setelah depresi terburuk atau Great Depression 1929.
    Strategi defisit merupakan sumber permasalahan krisis yang menimpa AS selama ini. Dengan semakin rendahnya kinerja sektor riil AS tentu telah banyak mempengaruhi kinerja sektor keuangan yang makin babak belur. Meski inovasi dan kemajuan telah terjadi di pasar keuangan AS, namun tetap saja performa pasar keuangan merupakan representasi dari sektor riil. Sehingga resesi di sektor riil sudah pasti akan menciptakan krisis di sektor keuangan.
    Pertanyaannya adalah, mengapa AS sekian lama mampu mempertahankan strategi defisit?dan siapa yang membiayainya?dan mengapa mereka mau membiayai defisit AS?Jawabannya terletak pada kekuatan status US Dollar yang diminati dunia, sebagai standar yang diterima umum dalam perdagangan internasional. Hal inilah yang secara umum mendorong bank-bank sentral dunia untuk memegang aset berdenominasi Dollar, sebagai cadangan (reserves). Strategi ini bertujuan untuk menstabilkan nilai tukarnya terhadap US Dollar. (Reinhart (2000) menjelaskan keadaan ini sebagai kondisi fear of floating, atau takut nilai tukarnya berfluktuasi). Kemudian, musabab lain adalah setelah Partai Republik dikalahkan Partai Demokrat dalam pemilihan umum sela akhir 2006, Presiden Bush menjalankan masa pemerintahannya dengan sulit. Adalah Bush sendiri yang dianggap sebagai penyebab utama kekalahan Partai Republik, antara lain, karena kebijakannya dalam Perang Iraq yang banyak dikecam rakyat Amerika sebab bakal menghabiskan dana 3 triliun dollar. Bush dianggap mengobarkan perang itu dengan alasan palsu, seperti senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan dan kaitan Saddam Hussein dengan jaringan terorisme Al-Qaeda yang juga tak pernah bisa dibuktikan. Perang ini kemudian menjadi pemicu kenaikan harga minyak bumi dunia, dan menjadi salah satu pemicu terjadinya krisis keuangan ini. Sejak kekalahan dalam Pemilu sela akhir 2006, Bush menjadi bebek pincang (lameduck). Ia masih memerintah sebagai presiden tapi dengan kekuasaan yang lemah karena kongres dikuasai kelompok oposisi, Partai Demokrat. Dengan ditolaknya rancangan penyelamatan ekonomi Presiden Bush oleh DPR tadi, berarti sekarang Bush sudah tak didukung para anggota DPR dari Partai Republik, partainya sendiri.
    Penyakit Menular
    Krisis Finansial Amerika bak penyakit menular yang secara cepat menjangkit perekonomian negara-negara lain, termasuk INDONESIA. Bank Sentral Jerman bahkan tengah mempersiapkan pinjaman 35 miliar Euro (US $ 51 Miliar) untuk menyelematkan Hypo Real Estate (Peminjam terbesar kedua di sektor real estate). Hypo Real estate disebutkan sebagai salah satu dari 5 perusahaan yang mendapatkan penyelamatan pemerintah eropa dalam 3 hari terakhir. Beberapa perusahaan seperti: Fortis (Belgia, Belanda dan Luxemborg), Bradfod & Bingley (Inggris), Dexia (Belgia, Prancis dan Luxemburg) dan Glitnir (Iceland), juga ikut serta dalam daftar penyelematan.
    Tentu krisis finansial harus dibayar mahal bagi dunia. Pertama krisis finansial membutuhkan dana talangan (Bail out) yang tinggi, dan menguras keuangan negara. Kedua krisis finansial sebagai jantung perekonomian telah menyebabkan mandeknya sektor riil karena aliran darah (uang) ke seluruh tubuh (sektor ekonomi) terhambat. Ketiga krisis finansial cenderung meningkatkan efek domino yang tinggi (its like a spagheti bowl effect, anda mungkin sulit mencari ujung-ujuangnya mie spageti). Keempat bagi bank-bank, kesulitan likuiditas akibat tingginya biaya dana. Bahwa dengan adanya krisis, bank harus mencari dana tambahan dengan meningkatkan pinjaman overnight dengan biaya bunga yang tinggi. Kelima krisis finansial mudah sekali berubah wujud menjadi kehancuran ekonomi yang menyebabkan hilangnya perkerjaan dan mendorong terjadinya kemiskinan. Di saat seperti inilah sekarang Amerika menghadapi krisis keuangan yang dahsyat yang menyebabkan banyak perusahaan raksasa yang selama ini menjadi ikon Amerika – semacam Lehman Brothers dan AIG -- jatuh bangkrut. Bisnis macet, pengangguran melonjak. Dan kini disebutkan ada tiga bank sedang terancam bangkrut: National City Corp, Downey Financial Corp, dan Sovereign Bancorp. Ketiga bank itu juga terkena imbas dari krisis kredit perumahan, subprime mortgage. Sebelumnya, Wachovia Corporation, salah satu bank besar dengan aset 783 milyar dollar (2007) dengan karyawan 122.000 orang, telah diambil-alih Wells Fargo, bank dari San Francisco. Wachovia betul-betul oleng. Padahal bank yang berpusat di Charlotte, North Carolina itu, sudah berusia 100 tahun, dan terbukti mampu menyelamatkan diri dari berbagai krisis, termasuk dari Great Depression 1929. Kali ini dia tersungkur. Sebelumnya, Washington Mutual Inc, bank simpan-pinjam terbesar di Amerika yang berkantor pusat di Seattle oleng dan diambil-alih The Federal Deposit Insurance Corp (FDIC), badan federal penjamin deposito. Badan itu menjual Washington Mutual Inc – biasa disingkat WaMu – seharga 1,9 milyar dollar kepada Bank JP Morgan Chase. Kemudian lembaga keuangan raksasa yang bangkrut di Amerika sepanjang September ini. Sebutlah Merril Lynch, Lehman Brothers, dan American International Group (AIG). Sebelumnya sudah bangkrut Fanny Mae, Freddy Mac, dan Bear Stearns. Semua ini kelas raksasa. Belum dihitung lembaga keuangan kelas menengah semacam IndyMac, bank dari Los Angeles yang bangkrut Juli lalu. Jumlahnya sudah puluhan. Maka kini raksasa keuangan yang masih tersisa di Amerika Serikat tak lagi banyak. Yang paling solid ada tiga, yaitu Bank of America, JP Morgan Chase, dan Citigroup. Itu pun tak berarti ketiganya bebas dari guncangan krisis. Senin, 29 September lalu, misalnya, ketiganya mengalami penurunan saham sampai lebih 10%. Citigroup tahun lalu sudah oleng terpaksa disuntik dana dari Timur Tengah dan China. Yang menjadi masalah, krisis keuangan ini sudah merembet ke mana-mana. Penjualan mobil – bisnis paling marak di Amerika setelah perumahan – sekarang amat lesu.S ulitnya pengucuran kredit bank ditambah ketidak-pastian banyak orang akan nasib pekerjaannya, menyebabkan bisnis mobil betul-betul melorot. Tahun ini diperhitungkan 500 sampai 600 dealer mobil akan tutup, lebih besar dari tahun lalu, 430 dealer, dan tahun sebelumnya, 295 dealer menutup usahanya.
    Mengapa penyakit krisis finansial ini cepat menular?Jawabannya hampir sama seperti yang terjadi di Asia 1997, bahwa respon pelaku pasar yang asimetri, telah menyebabkan kepanikkan yang luar biasa sehingga menyebabkan perilaku-perilaku di pasar keuanan yang Irasionil. Hal ini tentu disebabkan oleh permasalahan yang kompleks, termasuk bagaimana respon pengambil kebijakan mempengaruhi ekspektasi masyarakat dan sebaliknya. Di sisi lain kemajuan teknologi informasi di pasar keuangan, telah banyak mempengaruhi aliran informasi dengan cepat. Dan mendorong perilaku yang cepat pula. Hal inilah yang secara umum menyebabkan krisis menyebar. Dan ini berpotensi berlangsung di Indonesia, kepanikan yang kemudian dapat memperkeruh ekonomi.
    Sampai kapan krisis berakhir?
    Tak ada ahli yang berani meramalkan dengan tegas. Profesor Paul Krugman, guru besar ekonomi di University of Princeton dan kolomnis The New York Times, berpendapat bahwa yang amat mengkhawatirkan, pemerintah sama sekali tak berfungsi dalam menghadapi krisis besar ini. Kongres tak sedikit pun mempercayai Gedung Putih kata Paul Krugman (The New York Times, 30 September 2008). Sistem Kapitalis Gaya Amarika Terancam Ambruk
    Joseph Stiglitz, salah seorang pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi mengingatkan negara-negara yang selama ini meniru sistem kapitalisme gaya Amerika, bersiap-siaplah menghadapi "kehancuran". Pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi Joseph Stiglitz mengingatkan negara-negara yang selama ini meniru sistem kapitalisme gaya Amerika, bersiap-siaplah untuk menghadapi "kehancuran" ekonominya. Ia mengatakan, upaya penyelamatan yang diumumkan pemerintahan George W. Bush berupa kucuran dana sebesar 700 milyar dollar serta rencana nasionalisasi sejumlah bank merupakan tanda-tanda kematian sistem kapitalisme ala AS. "Orang-orang di seluruh dunia dulu sangat mengagumi sistem perekonomian kita, dan kami mengatakan jika anda ingin seperti kami, inilah hal-hal yang harus kalian lakukan--serahkan kekuasaan pada pasar. Yang jadi persoalan sekarang, mereka yang tidak menghormati model itu lagi yang kini menjadi penyebab krisis ini terjadi," kata Stiglitz pada Washington Post . Seperti kita ketahui, hari Jumat kemarin, Presiden Bush mengumumkan rencana penyelamatan baru senilai 700 milyar dollar dan untuk pertama kalinya pemerintah AS memberikan otorisasi pada Departemen Keuangannya untuk membeli bukan hanya pinjaman-pinjaman hipotek yang macet, tapi juga bank-bank yang bermasalah. Kebijakan nasionaliasi secara parsial dalam industri perbankan, merupakan langkah baru yang diambil pemerintahan Bush dari sejumlah langkah yang dilakukan untuk menstabilkan perekonomiannya akibat hantaman badai krisis keuangan. Meski langkah nasionalisasi tersebut oleh sejumlah kalangan dianggap sebagai langkah yang kurang perhitungan. Sejauh ini, pemerintah AS sudah mengambil alih lembaga-lembaga pinjaman seperti Fannie and Freddie Mac serta memberikan kucuran dana untuk menyelamatkan perusahaan asuransi terbesar di AS, AIG. Lebih lanjut Stiglitz mengatakan, krisis keuangan di AS yang menjalar menjadi krisis keuangan global bahkan lebih buruk dari Great Depression pada era 1930-an membuka mata masyarakat internasional akan rapuhnya sistem kapitalisme yang dianut Negeri Paman Sam. Sistem ini terbukti, pada akhirnya hanya membuat mereka yang menganutnya menjadi sengsara. "Setiap orang merasa, penderitaan yang mereka alami sekarang karena ulah kami," ujar Stiglitz. Dunia kini sedang mengkhawatirkan akan terjadinya resesi global, melihat kondisi sejumlah bursa saham di dunia ikut anjlok mulai dari Eropa, Asia sampai Timur Tengah. Sejumlah negara bahkan sempat menghentikan perdagangan di bursa sahamnya, antara lain Rusia, Austria, Islandia, Rumania, Ukraina, Brazil termasuk Indonesia. Di Korea, Menteri Keuangan Korea Selatan sampai mengatakan,"Banyak orang Korea bertanya, bagaimana bisa negara Amerika Serikat bisa menjadi begitu lemah." Pada akhirnya, moral negara besar seperti AS yang selama ini membangga-banggakan sistem kapitalisme yang dianutnya ke berbagai negara di dunia, dipertanyakan setelah AS sendiri tidak mampu membuktikan bahwa model ekonomi yang dianutnya adalah model ekonomi yang bisa mensejahterakan umat manusia. Negara-negara yang selama ini, menghindar dari ajakan AS untuk mengikuti model ekonominya, terbukti tidak terlalu terpengaruh dengan krisis keuangan global yang terjadi saat ini. Direktur Peterson Institute for International Economics, C. Fred Bergsten mencontohkan salah satu negara itu adalah China. "Jika Anda melihat di seluruh dunia, China jauh lebih baik sekarang dibandingkan AS. China, yang selama ini bertahan untuk tidak mengikuti seruan Washington dan Wall Street agar mengadopsi gaya kapitalisme Amerika, nampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh kehancuran ekonomi yang terjadi saat ini," papar Bergsten. Sistem keuangan dunia berada di ambang "hancur-lebur" secara sistemik. Demikian kata direktur Dana Moneter Internasional, IMF, di Washington, dalam peringatan yang dikeluarkannya.
    Penutup
    Ketidak-pastian akan nasib ekonomi negeri super-power yang sedang dilanda krisis keuangan dahsyat itu tentu berpengaruh ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia, negeri yang punya hubungan politik dan ekonomi sangat dekat dengan Amerika. Dan tak elok rasanya jika kita saling menuduh dan menyalahkan ditengah ancaman Krisis Global ini. Dan lebih tak tepat juga jika kita berada dalam kondisi khawatir berlebihan hingga panik.
    Penting bagi pemerintah Indonesia untuk memberikan informasi sebanyak mungkin untuk mencegah terjadinya rush besar-besaran terhadap bank-bank di Indonesia. Tentunya Krisis Ekonomi yang terjadi tahun 1997 tidak ingin kita ulangi lagi bukan. Rakyat jelas masih trauma dan belum bisa menarik napas lega dengan krisis ekonomi 97 yg hingga sekarang belum tuntas.
    Krisis ekonomi global memerlukan reaksi bersama internasional. Belajar dari krisis 97, kekhawatiran yang berlebihan mendorong sistem keuangan secara khusus Indonesia ke ambang kehancuran sistemik. Karena itu hindari kepanikan. Jangan ada yang meraup keuntungan dengan mengorbankan potensi ekonomi rakyat banyak. Kita berada dalam situasi ini bersama-sama dan kita harus melewatinya bersama-sama. Inilah tantangan solidaritas nasional bahkan global. Doa dan usaha kita bersama mudah-mudahan dunia tidak terpuruk dalam krisis ekonomi berkepanjangan.
    Referensi :
    1. http://iamtheeconomist.blogspot.com/ : MENGURAI KUSUTNYA KRISIS FINANSIAL AMERIKA Oleh : Dias Satria SE.,M.App.Ec - Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Brawijaya - Peneliti INSEF.
    2. http://www.hidayatullah.com/ :
    • Amerika Serikat Sekarang Republik Pisang : Amran-nasution
    • Peraih Nobel: Matinya Kapitalisme AS
    • IMF: Amerika Benar-benar Memasuki Masa Resesi Ekonomi

    Thursday, October 09, 2008

    BANJIR BUKAN TAKDIR

    Visit Banjir Indonesia. happy b"day banjir...
    Setelah 17 tahun tertidur, Indonesia kembali mencanangkan Tahun Kunjungan untuk mendatangkan 7 juta wisatawan mancanegara. Sebenarnya, bagi negeri berpanorama indah, jumlah ini terbilang kecil, tetapi pencanangan ini penting untuk memulai komitmen baru.
    Bagaimanapun, pariwisata terkait erat dengan lingkungan hidup, nilai-nilai sosial, investasi dan keamanan. Nah disini muncul satu Ironi, saat start bendera Visit Indonesia Year dikibarkan, bukan berita indah yang muncul, tetapi banjir, kesemrawutan pengelolaan bandara, kemiskinan, flu burung, demonstrasi anarkis dan lainnya.
    Secara khusus soal banjir. Tahun ini kembali kambuh "rutin", seolah ulang tahunan dia datang secara meiah dan tepat waktu. Ini memalukan. Benarkah Indonesia berkomitmen membangun masa depan pariwisatanya? Banjir yang (lagi-lagi) kembali melanda beberapa daerah di Kalimantan, Pekan Baru, Ibu Kota Jakarta, Medan (dan berbagai kabupaten di Sumatera Utara ) dan puluhan daerah lain di Negeri ini yang terpublikasi maupun yang tidak terpublikasi (disengaja atau tidak disengaja utk tidak dipublikasikan oleh Pemerintah Lokal setempat utk menutupi banyaknya anggaran pembangunan yang dialih pos atau telah di korupsi).
    Apabila kita melihat sebab utama banjir tersebut bukan semata-mata proses alamiah karena meningkatnya intensitas hujan, tetapi bencana banjir yang ada saat ini seiring dengan semakin meningkatnya eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan tidak terkendali. Banjir yang terjadi merupakan dampak atas kebijakan pembangunan yang belum memberikan sentuhan positif terhadap tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam. Mengutip dari Web Walhi, utk Kasus banjir di Kalimantan Pjs. Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan, Hegar Wahyu Hidayat mengatakan "Pemerintah Daerah tidah pernah mau belajar, karena banjir ini telah terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun, maraknya penerbitan izin tambang dan konversi hutan menjadi perkebunan sawit skala besar menjadi penyebab utama bencana banjir ini dan bila terbukti ada perusahaan tambang atau sawit yang berperan besar dalam rusaknya hutan yang mengakibatkan banjir ini maka Walhi meminta pemerintah daerah mencabut izin operasi mereka.Rendahnya tingkat kemampuan hutan sebagai kawasan penyerap air, penyimpan air, dan mendistribusikannya secara alamiah menyebabkan banjir tersebut. Kondisi hutan yang semakin rusak akibat adanya penghancuran sumber daya alam lah yang yang menjadi penyebab semua ini. Data kondisi hutan terakhir menunjukkan tingginya deforestasi hutan Kalsel terutama dikawasan pegunungan Meratus menunjukkan luas areal hutan pada tahun 2006 sebesar 986 ribu hektar, sedangkan kawasan hutan lindungnya 433.677 hektar dan yang telah terambah oleh pertambangan dan perkebunan sawit mencapai 142.523 hektar.
    Saya rasa persoalan yang diungkapkan Wahyu Hidayat diatas besar kecilnya juga dialami dibanyak daerah. Sehingga terjadi banjir yang bukannya semakin terantisipasi oleh Pemerintah, justru makin hari banjir terus berlangsung dan kualitas serta kuantitasnya semakin besar. Ini aneh bin ajaib. Lantas apa yg pemerintah kerjakan? Ironi. Bukannya kerja keras tuntaskan banjir, eh justru ada aparatur pemerintahan seolah cuci tangan menyampaikan bahwa banjir disebabkan oleh warga itu sendiri. Ok lah warga juga bersalah dengan sampah yg di buangnya. Tetapi jika lebih transparan bukankah tugas pemerintah utk menyadarkan warga, menata system persampahan dan menciptakan ruang serap air sehingga efek sampah bisa terantisipasi. Lantas apa tanggung jawab pemerintah dengan semakin tidak adanya ruang serap air di banyak perkotaan karena sisitem pembangunan yg tidfak terencana dan selaras lingkungan ? Ini jugalah yg persoalan di dunia belakangan ini dgn isu Pemanasan Global. Indonesia sebagai paru-paru dunia dinilai tidak becus menjaga hutannya ditengah ancaman tenggelamnya bumi oleh pencairan es di kutub. Ini menjadi persoalan yg perlu kita secara bersama memperhatikannya. Jadi, jelaslah bahwa kesalahan dari pengelolaan sumber daya alam yang tidak memperhatikan kemampuan daya dukung atas lingkungan merupakan penyebab utama dari bencana banjir tersebut. Juga jelas terlihat bahwa eksploitasi sumber daya alam tidak pernah memperhatikan aspek ekologis serta social. Yakin saja, komitmen Indonesia untuk pencanganan tahun kunjungan wisata di Indonesia bisa saja akhirnya menjadi wisata banjir dan mempertontonkan kesembrawutan di Indonesia. Wisata kesembrawutan kemacetan lalu lintas, wisata banjir, wisata tawuran, wisata demonstarasi anarkis akibat pilkada dan ormas anarkis, wisaya kesembratutan pengelolaan penerbangan, wisata seks, dll. Yang jelas ini semua bukan takdir, melainkan kebobrokan manusia yang sering diatasnamakan takdir utk alasan pembenaran. Dan jika hal-hal seperti banjir saja tak bisa ditangani, bukan cerita baik yang akan dibawa pulang wisatawan. Bukan sekadar backfired, sejarah akan mencatat Indonesia sebagai negara yang memperkenalkan kampanye baru, Visit Banjir Indonesia 2008. Referensi : Opini RHENALD KASALI, Visit “Banjir” Indonesia 2008, KOMPAS, Sabtu, 16 Februari 2008, halaman 6 dan Web Site Walhi : http://www.walhi.or.id/

    Monday, September 22, 2008

    Say "No" to crime against culture : Menolak RUU Pornografi

    Menolak Rancangan UU Pornografi bukan berarti setuju akan adanya pornografi dan porno aksi di masyarakat. Statement ini harus digaris bawahi. Teman-teman sebangsa dan setanahair yang masih mencintai budaya bangsa dan menghargai warisan leluhur, isis RUU Pornografi (dahulu RUU APP - Anti Pornografi Porno Aksi) jelas mengorbankan nilai-nilai budaya bangsa yang bhineka tunggal ika. Candi Sukuh, Ceto, Lingga dan Yoni, bahkan Tugu Monas - semuanya bisa dianggap porno. Padahal itu jelas bagian dari budaya bangsa, dan pada waktu itu masyarakat adat sendiri bisa mencerna secara positif patung-patung di candi tanpa pikiran harus ngeres dan pikiran negatif. Kalau begitu terjadi penjajahan satu budaya lebih benar diatas budaya lain. Terjadi tindakan kriminalisasi terhadap budaya tertentu.
    Seorang penari Jawa, Sunda atau Bali bisa dianggap membangkitkan gairah seksual, padahal itu adalah seni. Pertanyaannya, haruskah ada pelarangan terhadap pakaian kebaya yang botabene warisan budaya dan pelarangan gerakan tertentu dari Tarian budaya ? Karya seni budaya ini jangan dikorbankan atas nama "menangani otak porno"dan kepicikan beberapa orang termasuk pembuat RUU Pornografi.
    Anan Krisna dalam Web http //www.akcjoglosemar.org (http://www.akcjoglosemar.org/berita/tolak-uu-pornografi-kita-sudah-memiliki-budaya-dan-peradaban/) menyampaikan bahwa Rancangan undang-undang "porno" sungguh asusila dalam pengertian RUU Pprnografi itu sama sekali tidak menghargai budaya bangsa. Silakan dipelajari, ini adalah upaya arabisasi - jelas sekali. Partai politik yang mendukungnya adalah "antek arab" - silakan pelajari sejarah mereka. Apa hubungannya dengan kelompok-kelompok di luar sana. Upaya untuk merubah Indonesia menjadi bagian dari budaya arab jelas TIDAK BISA DITERIMA. KITA SUDAH MEMILIKI BUDAYA DAN PERADABAN.
    Say "No" to crime against culture. Indonesia, saatnya bersatu - sebelum kau dijajah oleh kaum asing lewat saudara-saudara kita yang tidak memahami sejarah. Sayang, mereka berada di DPR, di MPR, dalam kabinet. Saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang kurang paham dan menganggap penolakan terhadap rancangan undang-undang ini sama dengan penerimaan terhadap pornografi - MESTI DISADARKAN. Ada unsur primordial SARA disana. KITA MENOLAK PORNOGRAFI, TETAPI JUGA MENOLAK RANCANG UNDANG-UNDANG PORNO DAN TUNA SUSILA, BUTA TERHADAP BUDAYA BANGSA. Menurut rencana, DPR akan menggelar sidang paripurna Selasa (23/9) mendatang untuk pengambilan keputusan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pornografi menjadi Undang-Undang (UU). Dua dari 10 fraksi di DPR menolak pengesahan RUU tersebut dan mengancam akan walk out dari sidang paripurna, karena menilai regulasi tersebut bakal mengancam kebinekaan bangsa Indonesia. Definisi dan pasal-pasal mengenai pornografi dalam RUU tersebut, sangat interpretatif, sehingga bisa menjadi ajang perangkap kelompok orang tertentu terhadap orang atau kelompok lain hanya kerana sangkaan pornografi. Pertanyaannya, apakah semangat dan materi RUU tersebut, sungguh mencerminkan nilai-nilai kebangsaan dan kebinekaan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 tersebut? Jawaban atas pertanyaan itu, bisa direkam dari reaksi masyarakat atas rencana penegsahan RUU Pornografi tersebut. DPR boleh mengklaim bahwa RUU tersebut sudah disosialisasikan ke masyarakat, sehingga layak diundangkan, tetapi fakta menunjukkan pula bahwa penolakan keras dari masyarakat, muncul di beberapa daerah.
    Reaksi antara lain muncul dari Daerah Papua/Irian Jaya. Para wanita dengan menggunakan pakaian tradisional adat Papua menari sambil membawa poster penolakan atas RUU Pornografi (sebelumnya disebut RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi/APP) di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua, Jayapura, beberapa waktu lalu. Mereka menyatakan dengan tegas menolak RUU Pornografi, karena dianggap dapat menghancurkan budaya asli setempat. Sejatinya, sebuah regulasi, diterbitkan untuk semua kalangan dalam masyarakat yang heterogen dengan tujuan untuk menjaga norma secara bersama. Untuk konteks Indonesia, tentu saja regulasi tersebut, haruslah merupakan penjabaran dari amanat konstitusi UUD 1945, ideologi negara dan bangsa Indonesia yang pluralitas. Mengingat beragamnya kepentingan yang ada di dalam masyarakat Indonesia, pembahasan UU pun seharusnya dilakukan dengan hati-hati, penuh perhitungan, dan merangkum semua kepentingan dengan dasar musyawarah dan mufakat. Prinsip itu tentu diamanatkan dalam sila ke-4 Pancasila yang telah disepakati bersama menjadi dasar negara kita.
    Kalau dicermati, penolakan keras atas RUU Pornografi itu, memang bukan tanpa alasan. Sebab, materi dan semangat dari RUU tersebut, mengandung banyak hal yang sangat krusial. Pasal dan ayat-ayat krusial itu, sangat berpotensi menghancurkan kebinekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
    Bukan hanya potensi perpecahan antara suku bangsa dengan suku bangsa lainnya, ataupun agama dan ras, tetapi masyarakat dengan kondisinya yang karena kemiskinan atau adat istiadatnya bisa dijeboloskan ke dalam penjara, hanya karena porno maupun dikesankan porno.
    Kita semua sepakat bahwa pornografi merusak moral bangsa. Tetapi, jangan sampai kesan dan persepsi pornografi yang berbeda itu membuat bangsa kita hancur, karena saling menghakimi dan menjadi "polisi moral" terhadap yang lainnya. Jangankan sejumlah pasal yang substansial dan rentan berdampak pada integrasi bangsa yang masih jadi persoalan, definisi pornografi pun masih jadi perdebatan. Definisi yang disepakati Pansus soal pornografi, sangat debatable, dan berbeda dengan definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Definisi Pornografi dalam Pasal 1 Ayat (1) RUU Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan, pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi. Atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks. Dengan definisi yang dibuat DPR dan Pemerintah, tentu saja banyak hal yang menjadi pertanyaan, karena tidak jelas dan cenderung menjadi pasal karet, yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sekelompok orang. Kata-kata "dapat" pada definisi pornografi kalau dicermati secara mendalam tentu saja sangat bersifat subjektif. Misalnya, si Budi mungkin bangkit hasrat seksualnya ketika memandang Mira yang mengenakan rok mini, tetapi si Badu yang berdiri tepat di sampingnya menganggap penampilan Mira biasa-biasa saja, sehingga hasrat seksualnya tidak muncul. Siapa yang harus disalahkan, Badu, Budi, atau Mira? Kemudian, jika "hasrat seksual" hanya terpendam dalam pikiran dan hati dan tidak diwujudnyatakan dalam tindakan, apakah orang-orang semacam itu dikenai hukuman?
    RUU ini juga tidak menjelaskan mengenai apa itu "nilai-nilai kesusilaan". Keberagaman agama, budaya, seni, dan lain-lain yang dimiliki Indonesia tentu saja akan memiliki nilai-nilai yang berbeda seperti halnya nilai-nilai kesusilaan. Belum tentu nilai kesusilaan orang Jawa sama dengan nilai kesusilaan orang Ambon, Papua, Aceh, dan masih banyak etnis lainnya.
    Hal lain yang mendapat sorotan, yakni Pasal 4 ayat 1 (d) yang menyatakan, setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang memuat ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan. Berbicara mengenai ketelanjangan, tentu kita harus melihat dari dasar kalimatnya, yakni telanjang. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan, kata telanjang memiliki arti tidak berpakaian, tetapi kalau kesan ketelanjangan, sulit diukur. Penjelasan RUU menyebutkan "mengesankan ketelanjangan" adalah penampakan tubuh dengan menunjukkan ketelanjangan, yang menggunakan penutup tubuh yang tembus pandang. Pasal ini juga sungguh fatal, karena sangat multiintepretasi.
    Bagaimana dengan perempuan atau ibu-ibu di desa di Jawa-Bali, yang terbiasa dengan kebaya atau lelaki di pedalaman Papua yang mengenakan koteka dalam kehidupan sehari-hari bukan karena seni, apakah itu pornografi atau mengesankan pornografi? Apakah mereka harus mengganti pakaiannya jika RUU ini disahkan? Atau apakah mereka harus mendekam di penjara kalau tetap mengenakan pakaian itu. Bagaimana dengan program membudayakan kebaya sebagai budaya bangsa ? Lalu, bagaimana dengan para olahragawan semisal perenang, atlet bola voli, khususnya pantai yang hanya mengenakan celana dalam dan bra. Bukankah itu lebih terbuka dibanding kebaya? Akankan atlet-atlet tersebut menjadi korban dari serampangannya RUU ini? Bagaimana pula dengan definisi setiap orang yang dimaksud di awal kalimat tersebut. Jika melihat definisi setiap orang dalam RUU, maka anak-anak pun ikut termasuk di dalamnya. Artinya, jika anak-anak bermain dalam kondisi telanjang bisa saja dilaporkan polisi karena tidak menutup tubuhnya.
    "Polisi Moral" Bagian yang harus dicermati juga, yakni soal peran serta masyarakat. Dalam Pasal 22, sangat jelas disebutkan masyarakat bisa melaporkan pelanggaran terhadap UU ini. Pasal ini telah membuka peluang sebesar-besar bagi sekelompok masyarakat untuk bertindak sebagai "polisi moral". Mereka bisa saja melaporkan orang yang dituduh melakukan tindakan pornografi dengan membawa calon korbannya secara sewenang-wenang dengan cara-cara di luar hukum. Celakanya, Pasal 23 kemudian memberi jaminan perlindungan bagi masyarakat atau kelompok masyarakat yang bertindak sebagai pelapor. Bagaimana UU ini bisa mejamin, kalau orang yang melapor tersebut tidak melakukannya dengan cara-cara di luar hukum? Pasal 22 ayat (d) disebutkan, masyarakat turut berperan melakukan pembinaan kepada masyarakat terhadap bahaya dan dampak pornografi. Di sini pun sangat tidak jelas, apa arti dari "pembinaan" yang dimaksudkan.
    Semua hal ini bisa membuat chaos di masyarakat. Seseorang bisa menjadi hakim bagi sesamanya. Akan muncul "penegak hukum tandingan" dan kebingungan di masyarakat. Sebuah bom waktu.
    Pariwisata Untuk sektor Pariwisaya tentu RUU Pornografi ini sangat tidak relevan. Akan terjadi pembatasan kebebasan "berekspresi". Haruskah di Pantai seseorang harus dilarang mengenakan pakaian renang, harus kah seorang wisatawan tertawan budayanya demi menghindari otak kotor porno yang melihat ? Ini penjajahan budaya. Itulah sebabnya salah satu desakan yang paling kuat menolak RUU Pornografi adalah dari Bali. Sementara itu, budayawan Samosir, Sumatera Utara, Hamonangan di Medan, Selasa mengatakan, UU Pornografi akan membuat wisatawan mancanegara enggan untuk berkunjung ke Indonesia. Bila hal ini terjadi, dan wisatawan jera datang, karena banyaknya peraturan, dipastikan akan memukul perekonomian masyarakat, selain mengurangi pendapatan pemerintah dari industri pariwisata. "Apabila RUU ini disahkan, bisa memberikan keuntungan pada instansi lain. Bisa saja persoalan ini menjadi ajang memeras orang," katanya. Peringatan dari berbagai pihak tersebut ada benarnya. Kalau saja para wakil rakyat di Senayan itu berjiwa negarawan, pastilah bisa mencamkan reaksi penolakan dari daerah soal RUU Pornografi tersebut. Kalau perlu, batalkan RUU tersebut atau setidaknya, tunda pengesahannya. ( Referensi : http://www.suarapembaruan.com/ SUARA PEMBARUAN DAILY Awas Perangkap UU Pornografi )