Friday, November 07, 2008

ANAK MENTENG JADI PRESIDEN USA

MEMETIK MAKNA DARI OBAMA
(P.Siantar/hp). Belakangan ini hampir di semua media (baik televisi, majalah, koran, internet) membahas tentang terpilihnya Obama sebagai Presiden ke 44 Amerika. Bagi Bangsa ini, figur Obama memiliki nilai istimewa karena Obama memang pernah tinggal di Menteng Dalam dan Matraman Jakarta sekitar tahun 1967. Sosok Obama telah melekat secara emosional di hati bangsa Indonesia—walaupun banyak yang belum mengenalnya.
Tinta emas yang ditorehkan Obama dalam sejarah AS memang patut diacungi jempol. Berjibaku melawan isu rasial, kampanye hitam hingga serangan politik membabi buta dilewati Obama dengan bijak. Dan hasilnya pun menggembirakan, "Anak Menteng" Obama memenangi Pemilu selayaknya seperti hasil beberapa survei yang dilansir di negeri Paman Sam itu.

Indonesia tak ketinggalan, TV Nasional terus menghadirkan pakar mengulas mulai dari prediksi pemerintahannya kelak, hubungan dengan Indonesia, ekonomi Global, dll, bahkan perayaannya pun dilakukan beberapa komunitas. Ini menarik, ada "wabah" Obama dari negeri Paman Sam di Indonesia (mudah-mudahan tidak hanya sekedar kelatahan sosial).

Bak virus, fenomena kemenangan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 menular ke mana-mana, tidak terkecuali Indonesia. Banyak politisi negeri ini kemudian bermimpi menjadi Obama. Akankah Pemilu 2009 terinfeksi wabah Obama? Hasil memuaskan yang diraih Obama ternyata banyak menginspirasi sejumlah pihak, termasuk aktor perpolitikan Indonesia. Politisi di negeri ini pun seakan ikut larut dalam pesta kemenangan Obama. Harapannya, fenomena Obama terjadi di Indonesia. Partai Demokrat di Indonesia, misalnya, menyambut riang kalahnya John McCain dalam pesta demokrasi AS. Ketua DPP PD, Anas Urbaningrum, mengungkapkan keyakinan pihaknya mengikuti jejak partai yang mengusung Obama. "Kemenangan biru (Partai Demokrat) di Amerika 2008, insya Allah akan diikuti oleh kemenangan Partai Demokrat di Indonesia," ucapnya. Tidak hanya partai besutan SBY, Megawati Soekarnoputri pun tidak ingin ketinggalan. Putri sulung tokoh proklamator Bung Karno itu berharap kemenangan si anak Menteng menginspirasi kemenangan Mega pada Pilpres mendatang. "Saya berharap kemenangan Obama akan menginspirasi kemenangan saya di tahun 2009. Semangat Obama ada pada saya, yakni ingin memberikan yang terbaik untuk rakyat Indonesia," ujar Megawati. Politisi muda seperti Yuddi Chrisnandie pun juga turut 'bermimpi' tertular Obama. Ia mengaku makin termotivasi untuk maju dalam perebutan kursi RI-1 pada 2009 mendatang. "Kemenangan telak Obama atas McCain, membawa angin perubahan hingga ke Indonesia. Obama menjadi inspirator bagi para calon pemimpin muda Indonesia," tegas Yuddi. Dirinya yakin Obama versi Indonesia akan muncul dalam waktu dekat. Sebab, menangnya Obama telah menghilangkan pentingnya pengalaman politik yang kerap diusung politisi senior. "Menjadi Presiden 2009 tidak mudah, namun kaum muda tidak boleh menyerah. Saatnya kaum muda menggerakkan dan menggelorakan kampanye untuk mendukung pemimpin muda," cetus Yuddi. Menanggapi fenomena politisi Indonesia ini, pengamat politik Fachry Ali berpendapat hal ini menunjukkan elit merasa dapat memenangkan kompetisi politik secara instan. Pemimpin politik ini tidak melihat usaha yang dilakukan Obama sebelumnya. "Itu retrorika elit yang merasa bisa berkuasa dengan tiba-tiba," ujar Fachry kepada INILAH.COM. (http://www/inilah.com)
Saya sendiri melihat bahwa mengapa kemenangan Obama ini menjadi sedemikian mewabah menunjukkan bahwa Indonesia masih terkait erat - memiliki harapan dengan Amerika - (bahkan bisa dikatakan cenderung tergantung). Mimpi politisi bahwa Pemilu 2009 mendatang juga mengalami kejutan seperti di AS tentu boleh-boleh saja. Akan tetapi, patut dicatat, Obama meraih kemenangan tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ia harus melewati jalan terjal dengan merintis karier politik dari bawah dan makan waktu bertahun-tahun. Usia boleh muda, tetapi pengalaman politik Obama juga tidak perlu diragukan lagi. Potret inilah yang harus juga dilihat oleh politisi Indonesia. Bukan sekadar fenomena menangnya saja.
Nah, untuk membuat ini mempunyai makna bagi konteks kita, alangkah elok kita mencari makna apa yang bisa dipelajari dari moment terpilihnya Obama. Berikut makna yang bisa saya ambil ;
1. Kenyataan bahwa Obama seorang kulit hitam, dengan nama tengah Hussein, anak dari seorang berdarah Kenya dengan ibu kulit putih yang dibesarkan oleh kakek-neneknya, bisa jadi orang no 1 di "negara adidaya planet" ini, harus disadari punya makna yang luar biasa. Seorang kulit hitam menjadi presiden amerika ke 44, hal yang tidak terbayangkan hal ini bisa terjadi sebelumnya. It's amazing. Bahwa dia pernah tinggal di Menteng, Indonesia beberapa tahun waktu dia kecil, itu hanyalah nilai tambah saja. Hal ini, memicu imajinasi, menciptakan ribuan inspirasi dan jutaan harapan diseluruh planet. Kita bisa mendengar, bahkan sekarang semua orang tua, memacu anaknya yang ketinggalan dan kekurangan dengan kata-kata: "Lihat Obama, dengan segala latar belakangnya bisa jadi Presiden Amerika, kamu juga bisa!". Berhenti berpikir egois dan selfish, dan mengukur segala sesuatunya hanya dengan apa yang ada di depan mata kita saja. Betul bahwa apa yang ada di depan mata tentu penting, tapi di moment ini, di kesempatan ini, mari lihat gambar yang lebih besar, mari jadi bagian dari sejarah, mari lihat bahwa gelas tersebut tidak kosong setengah tapi sekarang sudah menjadi berisi setengah. Lihat bahwa matahari baru bersinar kembali hari ini, membawa hari baru, perubahan baru, keyakinan baru, harapan baru. Tidak saja untuk orang Amerika, tapi untuk semua orang di planet ini.
2. Obama yang berlatar belakang keluarga sederhana juga pernah merasa termarjinalisasi, seperti karena warna kulitnya (bnk. isu sewaktu kampanye). Saya melihat dari sisi positif, Obama akan lebih toleran dengan dunia orang yang termarginalisasi. Paling tidak Obama memberikan simbol perubahan yang selama ini tidak mungkin. Kemenangan Obama memberikan angin segar juga bagi kehidupan demokrasi. Ini juga menjadi simbol anti-diskriminasi dari segala lini. Meski, Obama tak mungkin mengubah dengan membalik telapak tangan, itu tak mungkin. Masih butuh waktu adaptasi. Artinya, Obama harus mampu menurunkan tensi arogansi Amerika, meski kemenangan Obama menjadi sinyal turunnya tensi arogansi Amerika. Itu harapan kita. Jadi dalam konteks ini, kita boleh berharap Obama bisa lebih toleran, dapat berdialog, lebih berpihak pada bangsa-atau kelompok yang termarjinalkan (ekonomi, fisik, budaya, dll), juga tidak terjebak pada fanatisme sempit, tapi jangan menggantungkan harapan terlalu besar layaknya dia superman.
3. Kemenangan Obama memberi pencerahan kaum muda dalam berpolitik. Dengan catatan harus menawarkan program perubahan. Kesatuan hati untuk perubahan yang lebih baik akan memadamkan rasa primordial Ras, ini terbukti dimana masyarakat AS secara kolektif mendemonstrasikan kehendaknya dalam moment terpilihnya Obama. Dan ini pasti menginspirasikan anak muda di Indonesia" bahwa dalam segala hal, dan lini kehidupan, dalam menawarkan perubahan jangan dilihat dari umurnya saja, muda, tetapi kerja kerasnya untuk membawa perubahan. Ingat bro, apa yang dilakukan Obama, bukanlah suatu keberuntungan. Perencanaan dan langkah yang terukur serta nyata menjadi penting dalam berkiprah politik. Dan semua ini tidak dengan cara cepat atau instan. Ini yang harus ditularkan atau diinspirasikan.
4. Pasca Pilpres USA 2009, Fenomena Obama setidaknya ikut meruntuhkan pandangan di Indonesia bahwa presiden RI harus berasal dari suku Jawa saja. Orang non-Jawa pun bisa. Karena itu, para politikus harus berkaca terhadap kemenangan Obama. Bukan hanya dari segi SARA, usia, tetapi program-program yang disodorkan pada saat kampanye. Obama sebagai penantang melawan incumbent, John McCain/Partai Republic membuktikannya. Program-programnya yang berkualitas, figur pekerja keras yang dimiliki, membuahkan bahwa ia mendapat kepercayaan rakyat Amerika. Demikian juga dalam Pemilihan Bupati, Walikota, Gubernur, Kepala Desa dan Jabatan lain, memilih dengan latar belakang primordial atau kesamaan suku-agana-sekampung harus disingkirkan, karena kesamaan atas semua itu, atau latar belakang calon berasal dari kamu mayoritas, tidak menjamin adanya perubahan yang lebih baik. Mari memilih dan mencalonkan diri dari segi kualitas, berkualitas dari segi karakter diri, berkualitas dari segi program hingga kemudian tahap pembuktian melalui kinerja.
5. Hal lain yang bisa ambil makna adalah bagaimana Obama dan team-nya memakai tehnologi informasi (Internet a.l Face Book, Blog dan e-News) untuk mensosialisasikan ide dan membina jejaring merekrut simpatik. Ini amat berguna diera IT sekarang ini, dimana banyak orang yang kesehariannya memakai tehnologi seperti internet dari pada bersosialisasi. Efektif menyapa konsituen dengan tehnologi yang keseharian bersama mereka. Nah, menjelang Pemilu 2009, saya melihat banyaknya Caleg berbondong-bondong membuat Web Site atau Blog untuk mensosialisasikan dirinya. Ini sah dan baik adanya. Asalkan memuat ide-pemikiran yang bersangkutan sehingga tidak hanya bersifat latah dan ikut-ikutan "gaul" belaka.
Mungkin rekan2 bisa melihat hal positif lainnya dengan terpilihnya Husein si anak Menteng menjadi Presiden USA. Silahkan menjadi duta utk hal pemaknaan ini. Salam.
Viva Obama! Thanx buat Obama, karena kisahnya memberi inspirasi buat banyak hal. Good luck bro.. !