Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Wednesday, March 30, 2011

Paket Bom yang Melecehkan

 
SAMPAI hari ini aparat Kepolisian Republik Indonesia belum mampu menangkap pelaku teror bom buku yang menyebar ke berbagai pihak dan berbagai daerah dalam satu pekan terakhir. Jangankan perakitnya, kurir yang mengedarkan paket ke berbagai alamat tidak teridentifikasi.

Satu-satunya kurir yang terendus baru berupa sketsa wajah. Yang lain lenyap tak berbekas. Padahal, paket bom buku yang menyebar ke berbagai alamat dan kawasan jelas tidak mungkin hanya diedarkan satu kurir. Itu pasti dikerjakan sebuah pengorganisasian yang rapi.


Di beberapa tempat, Yogyakarta misalnya, sang kurir seperti meledek polisi. Paket diletakkan di pos polisi pengatur lalu lintas.

Setiap bom meledak, bermunculan para pakar dan analis bom di televisi dan surat kabar. Berbagai analisis, baik yang masuk akal maupun tidak, ikut menambah hiruk pikuk pertanyaan yang tidak kunjung terjawab.

Sampai kapan polisi mentok mencari para pelaku teror bom buku dan jaringan mereka? Padahal, tidak terlalu sulit menemukan unsur-unsur material untuk bom buku yang umumnya berdaya ledak rendah jika dibandingkan dengan jenis berdaya ledak tinggi yang berakibat pemusnahan hebat.


Yang agak mengherankan, dalam peristiwa bom-bom besar yang juga berdaya musnah besar, polisi lebih sigap mengidentifikasi pelaku. Mengapa terhadap bom buku yang lebih sederhana kok sulit melacak para pelaku?


Spekulasi akan liar selama polisi belum menangkap pelaku bom buku. Apa pun spekulasi itu, satu perkara terang benderang, teror bom buku yang merebak adalah pelecehan luar biasa terhadap kewibawaan negara. Pelecehan terhadap kepolisian, terhadap kerja dan kompetensi intelijen.


Di tengah kewibawaan dan kredibilitas negara yang cenderung merosot di mata warga, bom buku menambah guncangan kepercayaan itu. Negara guncang bukan karena ledakan bom yang rumit, melainkan oleh bom yang sederhana.

Mengapa sebuah peristiwa sederhana menjadi rumit? Jawabnya karena para pelaku paham betul aparat keamanan, termasuk intelijen, sedang lengah.

Juga mengapa bom yang rumit dan yang gampang bisa dibuat di negeri ini? Karena semua bahan bom bisa ditemukan dengan mudah. Kalau ada bahan yang sulit, tidak usah khawatir karena dengan godaan sedikit uang, yang tidak boleh menjadi boleh.


Di Indonesia sekarang ini, seluruh urusan keamanan diserahkan kepada polisi. Peran kepamongprajaan dilemahkan. Bila partisipasi publik dan fungsi kepamongprajaan lumpuh, polisi akan lumpuh juga menangani kasus-kasus kriminal yang paling sederhana sekalipun.


Kalau polisi tidak sanggup menangkap pelaku, termasuk kurir bom buku, publik akan menuduh jangan-jangan yang menebar teror bom adalah aparatur negara. Jangan lupa, terorisme tidak selamanya dikerjakan para kriminal, tetapi ada juga yang dikenal dengan
terror by state

Sumber Foto : http://blueagentteam.blogspot.com/2010/05/polisi-mabuk-dengan-wanita.html  & http://almaveda.multiply.com/journal

Friday, January 22, 2010

TAHUN 2010 – TAHUN POLITIK SUMATERA UTARA

GENDERANG PILKADA SUDAH MULAI DITABUH
Happy Pakpahan

Wuuiihhh..., jalanan mulai ramai kembali dipenuhi spanduk, baliho, stiker, selebaran. Kali ini terkait Pemilihan Kepala Daerah yang berlangsung tahun 2010 ini. Jalanan yang sudah tidak teratur oleh pengemudi kendaraan yang semaunya, kini diperparah dengan tata ruang jalan yg tidak teratur pula oleh tempelan dan pajangan dimana-mana. Mulai dari pohon, segala jenis tiang, pagar di pasang alat-alat sosialisasi Pilkada oleh para calon dan kelompok masyarakat perihal dukung mendukung calon.

Melihat jalanan, Genderang Pilkada sudah di depan mata di tahun 2010 ini. Setidaknya kita lihat melalui sosialisasi yg ada, bahwa para peminat Bupati-wakil/Walikota-wakil sudah melakukan "rayuan" kepada masyarakat. Di beberapa daerah, Calon, TS & partai politik mulai melakukan manuver, berbagai pertemuan antar pengurus partai dengan calon kandidat intensif dilakukan. Statement dukung-mendukung juga mulai di bahas dan sosialisasikan oleh ormas-OKP dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Jejaringan sosial seperti Facebook dan Twitter juga mulai banyak diisi oleh sosialisasi Calon. Beberapa dari Calon kemudian membuat Web atau Blog sendiri dan mensosialisasikannya ke konsituen melalui dunia maya. Tak ketinggalan, "rayuannya" pun mulai ditebar ke masyarakat dengan alat komunikasi bervariasi mulai dari penyebaran stiker, spanduk, baleho, berkunjung ke pelosok daerah pedesaan hingga mengumpul massa untuk silaturahmi baik kepada aktifitas sosial, adat/marga, ormas, OKP, Kampus, Pabrik, Panti Asuhan/Jompo hingga lapo tuak. Jelas, ketika berkomunikasi para Calon dan Tim Sukses tampil sangat menjanjikan, bersikap dermawan, memberikan senyum termanis, bersikap melegakan, mencerahkan walaupun belum tentu dapat dibuktikan nantinya setelah terpilih. Satu sisi ini ada positifnya sehingga warga bisa mengenal Calon Kepala Daerahnya, tapi disisi lain ini menunjukkan sikap ketidak patuhan calon terhadap Peraturan yang ada karena oleh KPU sendiri penjadwalan segala bentuk Kampanye ini jelas belum dimulai.

PILKADA DI SUMUT

Di Sumatera Utara sendiri ada sebanyak 24 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2010 akan menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada), ini diungkapkan ketua KPUD Sumut, Irham Buana Nasution kepada Waspada Online. Hal ini dilakukan dengan 2 gelombang; bulan Mei (rencana 12 Mei 2010) dan September 2010. Irham mengatakan, ke-24 kabupaten/kota tersebut, Medan, Binjai, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Simalungun, Asahan, Tanjung Balai, Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Selatan, Toba Samosir, Samosir. Kemudian, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Nias, Nias Selatan, Karo dan Labuhan Batu. Lalu kabupaten/kota pemekaran antara lain Labuhan Batu Utara, Labuhan Batu Selatan, Pemko Gunung Sitoli dan Nias Barat. (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=40346:2010-sumut-laksanakan-24-pilkada&catid=77&Itemid=131 )


UNTUK DI RENUNGKAN

Bagi Para Calon
1. Di dalam konteks kompetisi politik, setiap Calon beserta parpol pendukung-TS harus memiliki sikap kedewasaan berpolitik siap kalah dan siap menang. Para Kandidat yang mengaku punya nilai lebih (sehingga mencalonkan diri) diharapkan memberikan pembelajaran politik yang baik bagi masyarakat dan terlebih pendukungnya. Calon harus meninggalkan cara-cara kampanye yang mengarah kepada saling mendiskreditkan, kepicikan rasial apalagi kekerasan. Ingat Demokrasi juga berarti dapat menerima perbedaan pendapat, identitas, kelompok dan agama. Kemampuan untuk menghormati pendapat orang lain juga menunjukkan seberapa demokratis para Calon.

2. Dalam Kampanye dan bersosialisasi, para Calon tentunya akan memaparkan program kerjanya jika terpilih. Ada yang mengatakan mereka akan menjadi pemimpin amanah, merakyat, menggratiskan pendidikan dan kesehatan dan masih banyak lagi. Bukan itu saja, ada saja calon yang sedikit arogan mengatakan bahwa Kota A maju ditangannya dan karenanya masa depan Kota A ada di bahunya. Itu semua sah dalam proses demokrasi, tapi jangan sampai semua itu hanya sekadar rayuan yang utopia yg cenderung membodohi rakyatnya sendiri. Bagi masyarakat luas, harapan dari hasil pilkada adalah hadirnya pemimpin yang memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi mereka. Itu saja yang diinginkan masyarakat luas. Tidak lebih. Karenanya, sangat diharapkan nantinya kepada seluruh kontestan untuk bersosialisasi  dengan menggunakan nurani dan akal sehat. Berkompetisi dengan cara-cara yang bermartabat. Sebab, dengan cara seperti itu, apa yang dilakukannya tidak melukai hati masyarakat luas (yg bisa saja merasa dibohongi).

Jangan pernah membohongi masyarakat, menjadi Bupati/Walikota adalah tujuan mulia bila dilandasi dengan niat baik, tetapi juga bisa menjadi malapetaka bila ada niat jahat mis.memperkaya diri. Untuk menjadi pejabat itu perlu luruskan niat, terlebih memiliki sikap takut akan TUHAN Yang Maha Kuasa. Karenanya didalam semangat menyala-nyala, sang peminat Bupati/Walikota harus melakukan kontemplasi. Benarkah tujuannya untuk membangun kota/kabupaten beserta masyarakatnya dan lingkungannya. Ataukah ada tujuan terselubung untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga?. Ataukah pencalonannya sendiri terlalu dipaksakan hingga menyiksa diri sendiri, atau bahkan akan menjadi bahan olok-olok masyarakat atas kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki. Ingat, ambisi dan jabatan bisa saja menjadi titik awal kehancuran seseorang bila tidak dijalani dalam kebenaran TUHAN, bisa menjadi awal "bencana" dalam keluarga dan karir. (bnk. nasib banyak pejabat publik yang akhirnya menjadi pesakitan di bui).

3. Bagi setiap Calon dan TS, diperlukan komitmen yang kuat untuk menjaga kondusivitas masyarakat. Hal ini menjadi sangat penting karena tidak jarang dalam suasana menjelang Pilkada di mana politik menjadi panglima, berbagai intrik politik terus dihembuskan untuk menjatuhkan lawan politik. Sikut-menyikut, jegal-menjegal, saling ungkap keburukan, fitnah, serta ”jurus” jahat lainnya selalu dihembuskan untuk sekadar mendiskreditkan lawan politik serta menarik simpati massa (black campaign). Ini berpotensi memecah belah tatanan masyarakat yg sudah ada. Alih-alih kehadiran kalian di kampung halaman/daerah pemilihan membawa kebaikan dan peningkatan kesejahteraan, justru kalian bisa menciptakan rusaknya kekerabatan, sengketa di dalam lapisan masyarakat.

Karna itu, kepada Calon yang ikut dalam Pemilihan Bupati/Walikota di Sumut (dan di seantero Indonesia), masyarakat mengharapkan cara berkampanye yang sehat dan bermartabat. Sebab, ketika seseorang juru kampanye ataupun bakal calon kontestan Pilkada mengungkap keburukan orang lain (lawan politiknya), sesungguhnya dia telah menjelaskan kepada publik bahwa dirinya atau tokoh yang diusungnya tidak layak untuk menjadi kepala daerah. Masyarakat yang sudah semakin pintar akan melihat calon tsb ternyata lebih cocok untuk sekadar menjadi tukang gunjing, tukang gosip, bahkan bukan tidak mungkin lebih cocok menjadi tukang fitnah dari pada mengembah jabatan publik. Sungguh, apa yang dilakukan itu sebagaimana yang dikatakan peribahasa, menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Toh masyarakat sudah semakin bisa menilai kandidat yang layak dipilih.
Jika tiap Calon ketika berkampanye banyak mengeluarkan dusta, maka itu bisa saja adalah signal bahwa ketika ia terpilih akan kembali "berdusta" & memposisikan diri sebagai raja-raja kecil yang setiap saat minta dilayani dan mengumpulkan pundi2 untuk balik modal ketika kampanye plus tambahan2nya. Sementara masyarakat lebih menderita. Akses dari desa menuju kota tetap sangat memrihatinkan lapangan pekerjaan susah, pupuk susah didapat. Sedangkan hutan tergerus habis dalam setiap tahun akibat penebangan liar. Infrastrukur yang menjadi akses utama dan denyut ekonomi masyarakat pun jauh dari yang diharapkan. Di mana-mana terjadi kerusakan parah tetap saja ada akibat tak pernah diurus. Kepemimpinan kalian tak sesuai dengan kondisi riil masyarakat lokal. Jika ini terjadi masyarakat beserta elemen lain akan menjadi lawan dikemudian hari membongkar dosa-dosa kalian.

Bagi Masyarakat
Elemen yang juga menjadi bagian penting di dalam proses Pilkada adalah masyarakat daerah itu sendiri. Karena itu sebagai pemegang kedaulatan, masyarakat daerah, hendaknya mampu memahami hak dan kewajibannya sebagai pemilih, mengenal risalah dan track record para Calon, menggunakan hak suara sesuai dengan nurani, tanpa tekanan dan intervensi dan tidak tergiur politik uang. Bahkan diharapkan masyarakat mampu melakukan fungsi kontrol sosial jika dalam implementasinya Calon, penyelenggara pemilu (KPUD dan Panwaslu) melakukan tindakan yang bertentangan dengan yang Peraturan yang berlaku. Jangan justru masyarakat terpecah belah dan hidup dalam suasana kurang harmonis akibat Proses Pilkada.

Bagi kita sesama anggota masyarakat, Pintar dan semakin jeli-lah dalam Pilkada 2010. Pintarlah melihat bahwa menjelang Pilkada memang masalah kemiskinan, pertanian, pendidikan, pengangguran dan kerusakan jalan terus menjadi komuditas politik kandidat. Bahkan bisa saja ada kandidat yg rela membangun infrastruktur yang rusak demi mencari perhatian publik dan media lokal. Calon yang kebetulan incumbent pun bisa saja tiba-tiba makin gesit dan cepat menggelontorkan dana anggaran daerah demi membangun citra dan simpati publik. Apa jadinya setelah mereka terpilih? Siapa yang tahu hari esok. Tapi yang pasti melihat kinerja Kepala Daerah hasil Pilkada selama ini di banyak Daerah, ada yang berbalik 180 derajat, yang tadinya waktu kampanye seperti Malaikat dan dermawan, kemudian berubah menjadi drakula yang siap melahap habis harta dan kekayaan negara sebagai fasilitas publik. Jika masih saja terjadi demikian, sampai kapan pun masalah kemiskinan dan pengangguran tak kan pernah teratasi dengan baik dan akhirnya membuat masyarakat pesimis akan Pilkada (maka semakin besarlah Golput). 
Karena itu lembaga-lembaga keagamaan seperti Gereja memiliki posisi strategis memberikan pencerahan dan pendidikan politik dalam proses Pilkada kepada warganya. Gereja sama seperti lembaga keagamaan dan elemen kemasyarakatan yang ada harus mendampingi proses Pilkada di mana dia berada. Kita harus menggarami dan menerangi proses Pilkada 2010 ini. Jangan sampai justru Gereja dan Lembaga Keagamaan lainnya turut larut dalam permainan kotor Pilkada. Sehingga diharapkan Proses Pilkada akan menghasilkan Pemimpin Daerah yang benar-benar amanah, dan menjadi berkat buat semua. Bukan menjadi awal "malapetaka" baru di daerah dengan kebijakan yg tidak berpihak pada kesejahteraan masyarakat dan asas hukum di negara ini.

Bagi Penyelenggara Pemilu & Pihak Terkait
Kualitas Pilkada dapat dilihat dari aspek proses dan hasilnya. Belajar dari Pemilihan legislatif dan Presiden 2009 telah selesai. Pemilu berpotensi menimbulkan banyak masalah. Mulai dari kisruh masalah DPT, hingga kisruh penolakan dan atau dukung hasil Pemilu. Karena itu komponen penyelenggara Pilkada (KPUD dan Panwaslu) harus memiliki sumberdaya manusia, sarana dan prasarana yang baik. Penyelenggara Pemilu perlu semakin membekali diri dengan penguasaan peraturan yang terkait dengan pemilu, penguasaan thdp tahap-tahap pemilu, kemampuan leadership dan komunikasi dalam bekerja. Sehingga penyelenggara dapat bekerja secara tepat dan akurat (valid), sehingga persoalan DPT yang mengakibatkan masyarakat tidak dapat memilih dalam Pemilu tidak terulang kembali. Demikian juga dalam penghitungan suara benar-benar dibutuhkan ketelitian, sehingga tidak terjadi lagi adanya penggelembungan suara atau sebaliknya ada suara yang tidak terhitung. Selain itu penyelengggara harus bersikap tegas, netral dan tidak terpengaruh dengan bujukan money politik dari perorangan atau kelompok tertentu. Demikian juga kemampuan mengantisipasi persoalan-persoalan pilkada yang pernah terjadi sebelumnya dapat diantisipasi pihak penyelenggara dan dicarikan solusinya. Masyarakat dan Bangsa ini berharap banyak pada netralitas dan keprofesionalan kerja penyelenggara Pilkada 2010.

Netralitas PNS-TNI-POLRI
Selanjutnya, yang tidak kalah pentingnya dalam menyongsong tahun pilkada adalah sikap positif yang mesti ditunjukkan oleh para Pegawai Negeri Sipil (PNS) termasuk TNI dan POLRI. Dalam konteks perundang-undangan, PNS merupakan abdi masyarakat, yang juga menjadi penyelenggara negara. Dalam jabatan itu melekat tugas dan fungsi yang berada di atas semua golongan, semua kepentingan, dan semua lapisan masyarakat. Sehingga PNS harus benar-benar tidak berpihak pada salah satu Calon. Merupakan sebuah pengkhianatan terhadap bangsa dan negara jika PNS-TNI-POLRI berada dalam kelompok maupun golongan tertentu dalam pilkada. Aparatur Negara harus tetap netral dalam menyikapi para kontestan yang akan tampil sebagai bakal calon kepala daerah.

Benar adanya, akan terjadi tarik-menarik kepentingan dalam proses pilkada tersebut. Tarik-menarik kekuatan secara alamiah akan mempengaruhi khususnya PNS. Hal ini dapat dipahami karena PNS juga bagian dari masyarakat yang mempunyai hak politik untuk menentukan calon pilihannya dalam pilkada. Terlihat ada dualisme PNS. Oleh karena itu, PNS harus pandaipandai menempatkan dirinya. Ketika dia merasa bagian dari aparatur penyelenggara pemerintahan, maka dia harus berada dalam posisi yang netral. Untuk bisa berlaku seperti ini memerlukan iktikad yang kuat serta harus mampu membentengi diri dari sikap keterpengaruhan dari pihak lain dan profesional, menjauhi sikap menjilat/cari muka pada atasannya yg kebetulan ikut Calon .

PENUTUP
Atas realitas pilkada di tahun 2010 ini, sejatinya seluruh komponen masyarakat Sumut harus mampu menjaga situasi yang kondusif. Doa dan Tekat kita menjalani tahun 2010 yang penuh dengan kepentingan politik, masyarakat Sumut dapat menjaga kondusivitas yang baik, menjaga kerukunan antar umat beragama dan intern umat beragama, menjaga kerukunan tatanan adat, permargaan, dll. Masyarakat tentu tidak ingin akibat kepentingan segelintir orang kehidupan sosialnya  dirusak dan menimbulkan luka-luka dan kecurigaan sosial diantara masyarakat (sega nai puang...). Semoga pilkada memberikan hasil yang terbaik bagi masyarakat Sumut. Itu yang diharapkan. Selamat memasuki tahun politik 2010, Selamat ber Pilkada! TUHAN menyertai kita. Horas. (hp)

Thursday, January 07, 2010

Semoga Kami Tidak Repot Gus. (Refleksi Atas Wafatnya Gusdur)





Gusdur telah wafat. Indonesia kehilangan - saya kehilangan. Gusdur salah seorang tokoh yang saya kagumi pemikiran dan karakternya yg mempunyai ciri khas penuh makna.

Berita, kilas balik kiprah dan karya, kenangan dan pendapat masyarakat mulai dari tokoh Agama, tokoh politik hingga wong cilik mengisi berita-berita di media eletronik, cetak hingga mengisi wall jaringan sosial-pertemanan seperti facebook, twitter dll.

Elok rasanya moment ini tidak hanya bersifat melankonik belaka, melainkan kita mengambil makna tentang karya dan pemikiran Gusdur - sang Guru Bangsa - Tokoh kemajemukan. Berikut ada sebuah Paper ditulis oleh Imam Subkhan yang di posting di http://www.kabarindonesia.com/ tertanggal 06-Jan-2010. Disamping mengkalimatkan respon masyarakat terhadap kepergian Gusdur, bung Subkhan mengulas tentang ciri khas kiprah Gusdur dan mencoba membantu kita memaknai karya - pemikiran Gusdur. Semoga bermamfaat. Selamat Jalan Gusdur, pemikiranmu dan teladanmu tetap hidup di hati kami. Semoga kami - bangsa ini tidak repot hidup menghargai-dan saling menghormati kemajemukan beragama-kemajemukan pendapat - di bangsa yang ber Bhineka Tunggal Ika ini. God Bless.

Refleksi Kepergian Gus Dur

Walaupun sudah hampir satu pekan pasca wafatnya Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau biasa akrab disapa Gus Dur, namun suasana duka cita masih sangat terasa di setiap penjuru tanah air. Kita semua, seolah-olah belum percaya atas tiadanya sang pejuang demokrasi ini. Terasa, wafatnya beliau lebih cepat dari apa yang kita duga. Dikarenakan selama ini publik terbiasa disuguhi kabar tentang kesehatan Gus Dur yang naik turun. Namun pada kesempatan lain, Gus Dur tampil di media dengan statemen-statemennya yang khas atau menghadiri sebuah acara penting tertentu. Dua hal ini yang selama ini mewarnai kehidupan Gus Dur yang dikenal publik, terutama masyarakat awam, sehingga ketika terdengar kabar di media beberapa hari sebelum wafatnya beliau, tepatnya 24/12 bahwa kondisi kesehatan Gus Dur menurun dan harus dilarikan ke rumah sakit seusai melakukan ziarah ke beberapa makam kiai di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat tidak terlalu kaget, termasuk penulis.

Namun rupanya, di penghujung tahun 2009, Sang Kholik harus menyempurnakan perjuangan Gus Dur di dunia. Di usianya yang ke-69 tahun, bertepatan dengan hari ulang tahun putri bungsunya, 30/12, bangsa Indonesia harus kehilangan putra terbaiknya, Sang Guru Bangsa, Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme, Pahlawan Demokrasi, Pembela Kaum Minoritas, serta Negarawan Sejati. Sebagaimana diungkapkan presiden SBY tatkala memberikan sambutan pada acara kenegaraan pemakaman almarhum Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, 31/12.


Meninggalnya Gus Dur, ternyata banyak sekali pelajaran dan hikmah yang patut dijadikan refleksi bersama oleh bangsa ini. Banyak yang mengira, ketika Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan pada tahun 2001, era Gus Dur sudah selesai. Pengaruh dan kharismatiknya diperkirakan sirna di tengah-tengah masyarakat. Ternyata, dugaan tersebut meleset dan telah terbantahkan dengan realita yang ada. Gus Dur tetap konsisten dalam memperjuangkan prinsip-prinsip hidupnya, walaupun tidak sedikit yang menghujat dan menentangnya. Beliau selalu hadir dan mengawal setiap momentum penting di negeri ini, termasuk kisruh KPK kemarin. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, semangat juang yang membara, serta diiringi kekuatan spiritual dan keikhlasannya dalam membela yang benar, telah mampu mengalahkan “musuh-musuhnya” sampai akhir hayatnya.

Kini, setelah beliau tiada, semuanya terbukti dan menjadi saksi. Betapa Gus Dur sangat dicintai dan dikagumi oleh semua lapisan masyarakat, termasuk yang selama ini berseberangan dengan pemikiran-pemikirannya, baik di ranah politik, budaya dan keagamaan. Lihat saja, sampai detik ini, makam Gus Dur di ponpes Tebuireng terus dibanjiri para peziarah dari seluruh penjuru tanah air dan berbagai elemen masyarakat. Mulai anak-anak, pelajar, mahasiswa, akademisi, pejabat, tukang becak, artis, seniman, budayawan, aktivis, tokoh ormas, santri, para kyai, pengusaha, turis asing, bahkan semua penganut agama turut berziarah dan mendoakannya.

Sementara di berbagai daerah, digelar doa bersama, tahlilan, dan shalat ghaib untuk mendiang Gus Dur. Selain itu, kegiatan yang cukup unik juga digelar, seperti aksi barongsai menabur bunga di atas foto Gus Dur di Solo serta aksi satu juta lilin dan doa bersama oleh komunitas lintas agama di tugu Proklamasi Jakarta baru-baru ini. Sungguh sebuah pemandangan langka jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh besar yang meninggal dunia sebelumnya, baik di Indonesia maupun di dunia.

Tidak hanya itu, para pemimpin-pemimpin dunia pun turut memberikan ucapan belasungkawa dan komentar mengenai sosok Gus Dur. Sekaliber presiden AS, Barrack Obama pun turut memberikan statemen bahwa Gus Dur sebagai perintis dan pemrakarsa demokrasi di Indonesia dan dunia. Sampai saat ini pun, berbagai media massa masih terus menayangkan biografi Gus Dur dalam “in memorium Gus Dur” disertai tanggapan dari para sahabat Gus Dur, bahkan rival-rival Gus Dur di kancah perpolitikan.

Ke-nyleneh-an Gus Dur selama ini dalam setiap statemennya, yang sebagian masyarakat menganggap kontroversi, ternyata diakui justru menjadi pelajaran, penggugah intelektualitas, pendobrak status quo, penerobos lingkar-lingkar primordialisme, serta pemberangus eksklusivisme dan fanatisme yang sempit. Seperti yang pernah dilontarkan dalam pandangan keagamaan, misalnya ucapan salam assalamu’alaikum supaya diganti selamat pagi, siang atau sore, Al Qur’an sebagai kitab paling porno karena menjelaskan hubungan seksual, pembolehan ucapan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain, termasuk pandangannya terhadap negeri zionis Israel, dimana Gus Dur mengusulkan untuk membuka hubungan diplomatik dengan negara tersebut.

Jika orang menilai pernyataan Gus Dur hanya dari satu sudut pandang, maka hasil akhirnya adalah penyalahan dan “pengkafiran”. Tetapi, jika kita mampu memandang secara multidimensi dan multiperspektif, maka hasilnya akan lain. Orang akan lebih arif, bijak, dan santun dalam memandang setiap persoalan termasuk perbedaan. Pelajaran berharga dari setiap lontaran pemikiran Gus Dur, sesungguhnya sanggup menggugah dan membuka wawasan selebar-lebarnya bagi para kaum intelektual, cendekiawan serta generasi muda, untuk lebih banyak belajar keilmuan dan pengalaman hidup.

Rekonsiliasi

Ibarat pepatah mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan budi atau jasa; Becik ketitik ala ketara. Begitulah yang bisa menggambarkan sosok Gus Dur dengan segala sepak terjangnya selama ini. Hampir semua lapisan masyarakat mengakui kebaikannya. Seperti yang ditanyakan oleh Salahuddin Wahid, adik Gus Dur kepada para peziarah dalam sambutan atas nama keluarga yang diulang sampai tiga kali “Apakah betul Gus Dur orang yang baik?” Semua yang hadir, termasuk presiden SBY mengamininya. Popularitas figur Gus Dur bukan hanya karena beliau merupakan mantan presiden RI ke-4, tetapi ketokohannya sudah diakui dan mengakar kuat di masyarakat, apalagi bagi warga nahdliyin. Dikarenakan beliau selama tiga periode memimpin NU yang merupakan ormas terbesar di Indonesia.

Maka tidak mengherankan, saat pemakaman jenazah cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari ini yang dilakukan secara kenegaraan, telah menjadi ajang pertemuan atau silaturrahim tokoh-tokoh, pejabat dan para kyai, termasuk yang selama ini berbeda pandangan dengan almarhum, khususnya di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Seperti halnya kehadiran Muhaimin Iskandar yang juga keponakan almarhum, saat ini menjabat Menakertrans dan Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB versi pemerintah. Bahkan Cak Imin panggilan akrabnya - merasa mendapatkan wasiat dari Gus Dur untuk bisa merangkul semua pihak yang selama ini tercerai-berai akibat konflik internal di PKB.

Tokoh PKB lain yang juga ikut bertakziyah adalah Alwi Shihab (mantan ketua umum PKB), Choirul Anam (sekarang pendiri PKNU), Effendi Choirie, Syaifullah Yusuf, Marwan Ja’far, Hanif Dhakiri, Eman Hermawan, dan Helmy Faishal Zaini (pengurus DPP PKB). Selain itu, sejumlah kyai kharismatik NU dan tokoh-tokoh PKB juga hadir, seperti KH Musthofa Bisri, KH Maimun Zubair, KH Abdurrahman Chudlori, KH Fawaid As’ad, KH Idris Marzuki, KH Muchit Muzadi, KH Hasyim Muzadi, Mahfud M.D. (sekarang ketua MK), dan para tokoh penting lainnya.

Sebenarnya dari pertemuan tokoh-tokoh tersebut yang telah sekian lama tidak terjalin komunikasi yang baik dapat menjadi momentum yang tepat untuk kembali kompak dan bersatu. Banyak pihak terutama arus bawah sangat menginginkan agar kepergian Gus Dur menjadi tonggak bagi segenap kader PKB dan warga NU untuk bisa merefleksikan diri, sekaligus melakukan rekonsiliasi. Dua kubu besar yang masih terus bercokol di tubuh PKB seharusnya bisa bersatu, yaitu kubu Muhaimin Iskandar dan kubu Yenny Wahid (putri Gus Dur).

Caranya, masing-masing kekuatan harus bisa menanggalkan ego, kepentingan dan ambisi pribadi atau kelompok. Kemudian lebih mengedepankan keikhlasan dan semangat juang untuk membela kepentingan rakyat tanpa melihat posisi, rivalitas atau siapa yang memimpin, serta patuh terhadap nasihat para kyai sebagaimana tradisi di kalangan nahdliyin. Selain itu, semangat dan konsistensi Gus Dur untuk mewujudkan partai yang membawa misi keislaman inklusif, moderat, pluralis, menghargai perbedaan, dan menghormati HAM harus selalu terpatri kuat di jajaran pengurus PKB dan konstituennya. Jika ini terwujud, sungguh merupakan era kebangkitan dan kemenangan PKB untuk menghadapi pemilu 2014 yang akan datang. Karena kita tahu, pada pemilu 2009, tanpa dukungan dan restu Gus Dur, ternyata perolehan suara PKB tidak bisa berbicara banyak di tingkat nasional. Bisa dikatakan, tanpa Gus Dur, tidak akan ada PKB. Tetapi Gus Dur tetap menginginkan partai ini akan tetap eksis dan menjadi penyalur suara warga nahdliyin serta kaum wong cilik, untuk terus menyuarakan dan membela kebenaran, walaupun kehadiran jasadnya sudah tidak di tengah-tengah kita lagi. Oleh karena itu, sudah seharusnya, warga PKB dan NU yang paling terpanggil untuk memperjuangkan Gus Dur diberi gelar Pahlawan Nasional dengan terlebih dahulu melakukan rekonsiliasi. (*)

Oleh : Imam Subkhan
* Penulis adalah anggota komunitas pecinta Gus Dur tinggal di Jaten Karanganyar

Wednesday, November 25, 2009

Memburu Duit Century




BADAN Pemeriksa Keuangan telah menyelesaikan audit investigasi atas pengambilalihan Bank Century oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan. Inilah peristiwa yang telah menimbulkan spekulasi politik hebat bersamaan dengan kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.
Antara Century dan Bibit-Chandra terdapat kesamaan. Yaitu ada indikasi rekayasa pemegang otoritas untuk memenuhi kepentingan tertentu atas nama aturan dan hukum.
Bibit dan Chandra direkayasa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kepolisian dan kejaksaan untuk melumpuhkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Adapun Bank Century--sebuah bank kecil dan sedang sakit--direkayasa untuk mengeruk duit negara Rp6,7 triliun demi kepentingan para nasabah dan pemilik melalui tangan-tangan pemegang otoritas di dalam pemerintahan, terutama Bank Indonesia dan Departemen Keuangan.
Dua kasus itu sekarang menjadi misteri. Misteri karena jalan terang telah diselimuti kabut kegelapan. Power telah berperan dalam kegelapan sehingga memunculkan tangan tak terlihat yang membuat publik merasa diperkosa akal sehat dan kejujurannya.





Begitu hebatnya pengaruh invisible hand itu sampai-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membutuhkan 'dukun' sakti. Tim 8 untuk misteri Bibit dan Chandra dan audit investigasi BPK untuk misteri Century.

Audit BPK sudah dibuka. Temuannya mencengangkan. Sebagian besar kebijakan yang diambil Bank Indonesia dan Departemen Keuangan dalam bailout Bank Century melanggar aturan atau tidak berdasarkan pada undang-undang yang berlaku.
Ada lembaga yang bernama Komite Koordinasi. Lembaga ini belum memiliki dasar hukum, tetapi telah mengeluarkan keputusan. Ada aturan tentang capital adequacy ratio--kecukupan modal--yang dilabrak Bank Indonesia yang seharusnya berpegang pada asas kehati-hatian.

Ada juga dasar hukum bailout yang sengaja diabaikan. Penjaminan yang memenuhi syarat undang-undang hanyalah yang terjadi sebelum 18 Desember 2008 karena masih dinaungi perppu. Akan tetapi, uang penjaminan menggelontor terus setelah 18 Desember sehingga mencapai jumlah total Rp6,7 triliun.
Karena itu, BPK menyimpulkan Rp5,87 triliun dana bailout atau 88,7% melanggar peraturan. Selain itu, pengucuran dana Rp2,8 triliun tidak memiliki dasar hukum. Inilah yang kita sebut misteri Century. Misteri karena ada pelanggaran, tetapi tidak jelas siapa yang bersalah.
Kalau ada wilayah gelap dari audit BPK terhadap kasus Bank Century, wilayah itu berada di tangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Karena BPK tidak bisa memperoleh data ke mana saja dana itu mengalir.
Demokrasi, hukum, dan kebenaran tidak boleh ada misteri. Karena itu, mereka yang bersalah harus dapat dipersalahkan. Adalah kewajiban Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyingkap misteri Century. Dan juga kewajiban DPR mendorong melalui angket.
Bila terhadap Bibit dan Chandra--walaupun berputar-putar--SBY telah berani memerintahkan penyelesaian di luar sidang, dalam kasus Century SBY diharap berani meminta PPATK membuka aliran dana. Hanya dengan demikian arah perburuan dana Century menjadi terang.


Thursday, September 10, 2009

KPK Luncurkan Sistem Online Pengaduan Tindakan Korupsi (KPK Menjamin kerahasiaan Data Palapor)



Mungkin anda sama dengan saya yang sudah "gerah" melihat budaya korupsi, secara khusus korupsi yang dilakukan Pejabat Negara/pejabat Publik. Betapa tidak, segelintir orang yang dibayar oleh rakyat ternyata menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri dan mempertontonkannya di khalayak (bnk. kasus Bank Century). Dan uniknya banyak masyarakat bisa di kaburkan sudut pandangnya melihat orang2 yang memperoleh kekayaan dengan tidak jujur tersebut. Sehingga acap kali perlakuan di ruang publik seperti jalan raya, komunitas marga dll, yg membedakan perlakuan berdasarkan harta dan jabatan. Padahal belum tentu ybs mendapatkan hartanya itu secara halal, bisa saja hartanya itu adalah hasil berbagai korupsi seperti penggelapan asset negara, mark up, pungli, pemerasan, dan aktifitas lainnya yg termasuk kategori korupsi.
Sebagai kaum muda dan orang-orang yang memiliki kesadaran pencerahan, kita harus membongkar paradigma dan sudut pandang itu. Dan kita juga diajak untuk membongkar tabir korupsi. Korupsi secara jelas adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, karna banyak rakyat dan kepentingan umum yang di rugikan oleh sang pelaku korupsi. Karena itu adalah kewajiban orang beriman untuk mencegah dan membawa orang pelaku korupsi ke meja hijau untuk mempertanggung jawabkan dosanya. Walaupun lembaga KPK sekarang tengah dilanda beberapa tantangan, tetapi kita harus mendukung KPK secara amanah Institusi. Jangan pernah takut melawan dan membongkar tabir korupsi, karena kesadaran anti korupsi itu telah mengglobal. Karna itu mari bersatu!!. Bukan kita yang seharusnya takut membongkar korupsi, melainkan pelaku korupsi itulah yang harus kita buat ketar ketir dunia akhirat sehingga ada pertobatan dan penebusan kesalahan buat yang bersangkutan. Dan efek dominonya, maka orang yang diperhadapkan kepada peluang korupsi tentu akan berpikir dua kali untuk melakukannya. Meng-hermeneutikakan Alkitab, Pemberantasan Korupsi harus diartikan sebagai bagian Buah Roh, sebagai tugas garam dan terang, dan sebagai fungsi orang percaya sebagai imamat yang rajani.  

Mengenali Jenis-Jenis Korupsi
Abdullah Hehamahua dalam Artikelnya WAJAH PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA HARI INI yang dimuat dalam website KPK mengatakan bahwa salah satu sebab mengapa korupsi sukar diberantas karena baik pemerintah maupun anggota masyarakat kurang memahami dan mengenali secara baik, jenis-jenis korupsi dan kiat dari para pelakunya. Untuk itu memang perlu suatu gerakan pencerahan pada masyarakat tentang apa-apa saja yang termasuk dalam kategori korupsi.
Membantu pemahaman kita tentang lingkup korupsi, berikut ini beberapa jenis korupsi yang sering terjadi dalam masyarakat dan birokrasi yang saya kutip dari paper bung Abdullah Hehamahua ( http://www.kpk.go.id/modules/news/article.php?storyid=1209 )  : Suap, Hadiah, Pemerasan, Pungli, Mark Up, Transaksi rahasia, Hibah (yang tidak sesuai dengan syar’i), Penggelapan, Menghianati amanah, Melanggar sumpah jabatan, Kolusi, Nepotisme, Penyalah-gunaan jabatan dan fasilitas negara.

KPK MELUNCURKAN SISTEM PELAPORAN ONLINE ( KPK MENJAMIN KERAHASIAAN IDENTITAS PELAPOR)

Saudara se Visi, kita awal September ini mendapat angin segar yang baik dalam melawan korupsi. KPK telah meluncurkan sistem pelaporan online. Jika anda pernah menyaksikan atau mengetahui adanya sebuah tindakan atau perilaku korupsi di sekitar anda, laporkan saja secara online segera ke Komisi Pemberantasan Koruspsi (KPK). Melalui sistem laporan online, KPK akan menjamin kerahasian pelapor.
Dalam salah satu siaran media, saya kutip disampaikan bung M Jasin : "Dengan cara seperti ini, KPK berharap partisipasi masyarakat dalam memberantas korupsi dapat meningkat pesat. "Sistem ini bisa melaporkan dengan mudah dan sangat aman," kata wakil ketua KPK M Jasin di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jaksel, Selasa (2/9/2009). Ide ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2007, hanya saja baru bisa diresmikan saat ini. Menurut Jasin, partisipasi masyarakat dalam melaporkan korupsi memang sudah sangat tinggi. "Ada sekitar 5.841 aduan yang berhubungan dengan korupsi sejak KPK berdiri," kata Jasin. Cara melaporkan melalui sistem ini cukup mudah. Cukup buka akun melalui website KPK, kita akan mendapatkan kotak komunikasi rahasia. Isilah daftar pertanyaan di dalam kotak yang sudah disediakan. Akun tersebut juga dapat membuat KPK berkomunikasi dengan pelapor. Tidak hanya itu, pelapor juga dapat mengetahui kemajuan laporannya. KPK sudah mengantisipasi adanya laporan iseng yang nantinya akan masuk. "Ada panduan dari pertanyaan yang bisa ngejamin laporan tersebut bisa diproses," jelasnya lagi. Dengan sistem ini, KPK juga dapat langsung menindaknya. Sebagai contoh, jika memang tepat waktu, KPK dapat saja menangkap tangan koruptor. ( http://zonsnews.blogspot.com/2009/09/kpk-luncurkan-sistem-online-pengaduan.html )
Jadi dengan dibukanya sistem pengaduan online ini, mari kita dukung KPK dengan memberikan informasi yang kita ketahui perihal tindak pidana korupsi. Jika ada kawan sekerja kita, bos di kantor/pejabat negara, mantan bos anda/mantan pejabat negara, atau pejabat publik di tempat tinggal kita yang terindikasi korupsi, mari laporkan ke situs ini. Tapi ingat, setiap pengaduan hendaknya di lakukan dengan informasi sejujurnya, tidak direkayasa untuk mempermalukan, sehingga pengaduan itu tidak bersifat fitnah. Setiap pengadu hendaknya tetap berlandaskan kebenaran.   
Jika Rekan sekalian ingin melaporkan dugaan korupsi silahkan KLIK :  https://www.bkms-system.net/bkwebanon/report/clientInfo?cin=kpk1116&language=ind

Berikut cuplikan beberapa keterangan dari SITUS pengaduan online KPK dimaksud.


Selamat datang di Sistem Monitoring On-Line KPK.
Sistem ini merupakan sarana bagi masyarakat untuk memberikan pengaduan dugaan tindak pidana korupsi dan juga apresiasi terhadap kinerja instansi pemerintah dan pegawainya dalam melakukan pelayanan publik.
Peran Serta Aktif Dalam Melawan Korupsi
Peran aktif kita sangat diharapkan dalam pemberantasan korupsi di negara ini, demi mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi. Jika kita mengetahui adanya dugaan tindak pidana korupsi, segera laporkan kepada KPK. Kita juga perlu memberikan apresiasi terhadap instansi pemerintah dan pegawainya yang telah melakukan pelayanan publik dengan baik.
Tidak perlu khawatir dan ragu. Undang-undang telah memberikan hak dan melindungi kita untuk melakukan pelaporan ini. KPK menjamin kerahasiaan identitas, selama pelapor tidak mengungkapkannya. Anda dapat memantau perkembangan laporan anda dengan membuka kotak komunikasi rahasia tanpa khawatir identitas Anda akan diketahui oleh siapapun.
Karena itu, tunggu apalagi. Sekaranglah saat yang tepat untuk ambil bagian dalam menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran akibat korupsi.
Lihat! Lawan! Laporkan!

Mengapa Kita harus melaporkan dugaan korupsi?
Korupsi telah menyebabkan kerugian luar biasa bagi bangsa ini. Jika kondisi ini dibiarkan, maka cita-cita luhur bangsa untuk mensejahterakan rakyat Indonesia akan sangat sulit untuk dicapai. Yakinlah, bahwa tanpa korupsi, negara ini akan jauh lebih baik. Karena itu, korupsi harus dilawan bersama-sama.
Peran serta masyarakat merupakan elemen terpenting dalam pemberantasan korupsi. Tanpa dukungan Anda dan segenap masyarakat Indonesia lainnya, segala upaya pemberantasan korupsi tidak akan berjalan secara efektif. Karena itulah, Undang-undang memberikan hak dan perlindungan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemberantasan korupsi.
Salah satu bentuk dukungan itu adalah dengan melaporkan dugaan tindak pidana korupsi dan juga tindakan anti-korupsi yang terjadi di sekeliling Anda kepada kami. Dengan melakukan hal tersebut, maka Anda telah mengambil bagian penting dalam upaya perjuangan bangsa ini melawan korupsi.

Apakah yang akan dilakukan KPK untuk menjamin keamanan kami sebagai Pelapor?
Undang-undang dengan sangat tegas dan jelas telah mengamanatkan kepada KPK untuk melindungi setiap pelapor, dan selama ini kami telah melaksanakan amanat tersebut secara profesional dan konsisten. Kami melakukannya karena kami sadar betapa pentingnya peran serta Anda dalam pemberantasan korupsi.
Kami menjamin kerahasiaan identitas Anda sebagai pelapor. Bahkan, jika memang diperlukan, kami akan bekerjasama dengan pihak yang berwenang untuk memberikan pengamanan fisik terhadap Anda dan keluarga. Semua jaminan keamanan tersebut dapat kami lakukan selama Anda tidak mempublikasikan identitas Anda sebagai pelapor.
Untuk pelaporan tindak pidana korupsi dengan kerugian negara dibawah Rp 1 milyar, KPK akan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian dan Kejaksaan sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku. Koordinasi laporan tersebut akan diinformasikan kepada pelapor.

Langkah-langkah apa yang seharusnya dilakukan dalam pelaporan ini?
Apabila anda ingin mengirimkan pengaduan klik tombol "Kirim Pengaduan atau Memberikan Apresiasi" yang terdapat pada kiri atas dari halaman informasi.
Proses pengaduan dan apresiasi ini terdiri atas empat (4) tahapan yaitu
Pertama, Anda akan diminta untuk membaca informasi yang berkaitan dengan keinginan anda untuk mengungkapkan atau tidak identitas anda, melalui berbagai tahapan konfirmasi yang akan membimbing anda.
Pada halaman selanjutnya, Anda diminta untuk mengisi Judul/topik dari pengaduan anda.
Pada halaman pengaduan, agar dijelaskan dengan bahasa Anda sendiri mengenai kasus yang dilaporkan, maksimal sebanyak 4096 huruf/karakter yang ukurannya sebanding dengan halaman kertas A4. Anda juga diharapkan untuk mengirimkan file (attachment) dengan ukuran maksimum 2 Mb sebagai lampiran pendukung pengaduan Anda. Tolong diperhatikan bahwa dokumen elektronik yang anda kirimkan kemungkinan akan memuat informasi mengenai identitas diri anda, sehingga identitas anda mungkin dapat terungkap. Setelah anda mengirimkan pengaduan Anda, Anda akan menerima nomor pengaduan sebagai bukti pengaduan Anda ke KPK.
Anda dapat terus berkomunikasi dengan KPK dan memantau perkembangan pengaduan Anda dengan membuat Kotak komunikasi rahasia. Pembuatan kotak komunikasi memerlukan user id dan password yang harus anda simpan dengan baik. Jawaban dari sejumlah pertanyaan, dan pemberitahuan mengenai status perkembangan dari pengaduan dapat anda terima melalui kotak komunikasi rahasia tersebut.
Apabila anda telah memiliki kotak komunikasi rahasia, anda dapat mengakses halaman kotak komunikasi rahasia Anda secara langsung melalui tombol “Login”. Dalam hal ini Anda harus merespon terlebih dahulu halaman konfirmasi.
Sepanjang Anda tidak mengisi data-data yang akan mengarah pada pengungkapan identitas Anda, System Monitoring Online KPK akan melindungi status “Anonim” Anda melalui teknologi pemrosesan perlindungan data kami.
Kami tidak akan menyebarkan informasi pribadi anda sebagai “whistleblower”, hanya kasus yang Anda laporkan yang kami buka. Kemungkinan identitas Anda terungkap akan diupayakan seminimum mungkin untuk mencegah kerugian Anda.
Bagaimana saya dapat berkomunikasi dengan KPK dengan tetap merahasiakan identitas saya?
Prinsip paling utama dari prosedur sistem online ini adalah untuk melindungi status anda sebagai pengadu/pelapor yang tidak ingin diungkap. Dalam sistem ini, perlindungan pelapor dengan menjaga kerahasiaan identitas pelapor ini telah disertifikasi.
Pada saat Anda melakukan pengaturan pada kotak komunikasi rahasia, Anda dapat menggunakan nama samaran dan kode rahasia Anda sendiri. Pengaduan anda akan disimpan secara rahasia dan tanpa diketahui identitasnya melalui metode enkripsi dan prosedur pengamanan khusus. Anda tidak akan pernah ditanyai mengenai informasi pribadi. Sepanjang Anda tidak memasukkan data-data yang dapat mengarahkan pada suatu kesimpulan mengenai identifikasi identitas Anda, informasi pribadi Anda tidak akan terungkap.
Anda dapat meningkatkan perlindungan/proteksi untuk menjamin kerahasiaan identitas Anda dengan menggunakan PC/Laptop di tempat umum (contohnya melalui kafe internet). Meskipun menggunakan PC pribadi identitas anda tetap tidak terlacak. Melalui kotak komunikasi rahasia, KPK akan memberikan respon yang berkaitan dengan status pengaduan anda dan akan melakukan konfirmasi kepada anda, apabila pengaduan anda dirasakan kurang memenuhi bukti permulaan yang cukup.
Terima kasih anda telah meluangkan waktu untuk berpartisipasi aktif dalam melawan korupsi di Negara ini!
Lihat! Lawan! Laporkan!

Monday, August 03, 2009

JANGAN MENCEGAH TEROR DENGAN TEROR

Bom meledak lagi. Di tempat yang sama lagi, dan satu tempat lain. Enam tahun lalu di Hotel JW Marrriot, membunuh 11 orang dan membuat luka 152 orang. Kini di JW Marriot dan Ritz-Calton, sembilan tewas dan 53 luka-luka (data terakhir). Sebelum itu, pada 2000, di kediaman Duta Besar Filipina, dua orang tewas dan 21 orang luka-luka (termasuk sang duta besar). Bom terus diledakkan, ratusan korban juga tewas dan luka-luka: di Gedung Bursa Efek Jakarta (tahun 2000); di beberapa kota (2000); di diskotek Sari Club dan Paddy’s, Bali (2002); di restoran McDonald’s, Makassar (2002); di Bandara Soekarno-Hatta, Banten (2003), di kawasan Kedubes Australia, Jakarta (2004), dan di restoran Raja’s dan Nyoman Cafe, Bali (2005).
Sudah sedemikian riskankah hidup di zaman kini? Kemampuan manusia terus bertambah karena perkembangan rasionya. Hidup menjadi lebih mudah ketika sains dan tekonologi sebagai buah rasio membuat manusia mampu mengendalikan alam. Tapi seketika itu pula paradoks muncul: hidup pun penuh risiko. Kemampuan rasio manusia juga yang menghasilkan bom dan nuklir. Kemampuan yang sama pula yang membuat lingkungan alam rusak.Kita tampaknya harus terbiasa atau membiasakan diri hidup dalam risiko. Sewaktu-waktu perang nuklir bisa terjadi, sewaktu-waktu pula bencana alam bisa datang. Semua karena ulah manusia. Di tangan manusia, potensi rasio bisa menjadi berkah tapi juga bencana.
Maka, soal bukan semata terletak pada menggenjot habis kemampuan rasio pada batas terakhirnya. Manusia juga perlu membentuk sistem dan dunia kehidupan yang mengandaikan etika agar rasio bisa dikendalikan untuk tujuan kemaslahatan bersama.Pemimpin dan elite pada lapisan dan bidang manapun, dalam konteks ini, memiliki posisi strategis. Pada mereka digantungkan harapan pembentukan nilai dan etika agar sistem dan dunia kehidupan itu berdiri kokoh. Reaksi tak terukur dan terkesan panik justru kontraproduktif. Di bawah gelap kehidupan yang penuh risiko kini, rakyat membutuhkan terang dan kepastian. Pada pemimpin dan elite yang memerintah mereka berharap.
Dalam ketidak-pastian, ketidak-tahuan, dan keraguan yang mudah muncul secara spontan adalah spekulasi. Ini mestinya menjadi sikap rakyat karena ini amatir. Pada pemimpin dan elite yang diharapkan adalah sikap tenang dan profesional. Pemimpin dan elite negara tak semestinya malah membuat panik dan kisruh dengan pernyataan yang spekulatif. Pemimpin harus berada di depan, karena itu tidak pantas panik dan marah.Kita berharap apa, siapa, bagaimana, dan kenapa bom di JW Marriot dan Ritz-Calton itu meledak dan diledakkan segera terkuak. Dengan begitu menjadi teranglah apa sesungguhnya yang sedang terjadi di negara kita yang konon oleh penguasa sering disebut ada pada jalur yang benar. Kalau benar, kenapa ada orang marah dan meledakkan bom di mana-mana untuk mengekspresikan aspirasi dan kepentingannya?Kita justru melihat fenomena yang sebaliknya di masyarakat bawah. Bom yang baru saja meledak itu tak membuat mereka panik dan takut. Hotel dan mal tetap saja banyak pengunjungnya. Di jejaring perkawanan Facebook malah banyak kita temukan pernyataan yang mengindikasikan ketenangan: peristiwa itu dikomentari dengan penuh canda, meski satu-dua bernada kutukan. Artinya? Rakyat percaya pemimpin dan elitenya serta penegak hukum mampu (atau tidak mampu?) mengungkap dan menangkap pelaku dan dalang teror bom itu. Maka: (tinggal) laksanakan!
Iskandar SiahaanKepala Penelitian dan Pengembangan Liputan 6
Dalam hitungan menit setelah kejadian, peristiwa pemboman Ritz Carlton dan Marriot telah tersebar ke seantero jagad. Sesuatu yang mustahil terjadi 15 atau 20 tahun lalu. Perkembangan internet, alat komunikasi dan media elektronik memungkinkan pertukaran informasi yang begitu cepat, hingga dunia menjadi terasa sebagai sebuah desa alih-alih terdiri atas 5 benua.
Namun dalam konteks terorisme, apa kecepatan informasi ini selalu menguntungkan? Sebelum pertanyaan itu terjawab, kita perlu terlebih dahulu mengasumsikan tujuan para pelaku teror.Menurut www.dictionary.reference.com, teror diartikan sebagai “cause of intense fear or anxiety” atau sesuatu yang mampu menyebabkan perasaan takut dan kecemasan yang sangat.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa pelaku teror menghendaki tingkat ketakutan maksimal sebagai ukuran keberhasilan misinya. Skala ketakutan yang melampaui wilayah dimana operasi teror itu dilakukan. Semakin luas wilayah jangkauan kepanikan, semakin baik buat mereka.
Dengan segala kemajuan perangkat komunikasi seperti sekarang, maka terorisme pun menemukan media penguat amplitudo teror yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang di pelosok Kalimantan bahkan Papua, sangat mungkin turut merasakan takut dan tidak aman, padahal mereka tinggal ribuan kilometer dari pusat peristiwa langsung.
Semakin banyak dibicarakan, semakin merasuk pengaruh teror ke sela kehidupan pribadi-pribadi. Semakin diperbincangkan, peluang para pelaku untuk menebarkan rasa was-was semakin terbuka. Semakin digosok, akan semakin sip buat pelaku terror.
Kemajuan teknologi jelas tidak bisa dinafikan, tidak mungkin menutup kanal televisi atau memblokir internet untuk membendung penyebaran berita teror. Membahas dan menelaah suatu peristiwa teror pun tidak mesti jadi harus dilarang.
Jika satu peristiwa teror terlanjur terjadi, usaha pemulihan kondisi dan kepercayaan masyarakat merupakan hal mendasar yang perlu dilakukan. Upaya kontra-teror harus segera digalang untuk meredam efek teror.
Pemerintah yang tanggap dan bergerak cepat akan menjadi obat peredam yang mujarab dan diharapkan mampu memberikan rasa aman dan percaya kepada masyarakat. Karena efek teror yang umumnya juga mengimbas sektor lain, kerja sama kompak lintas bagian dan departemen menjadi amat diperlukan. Selain itu, pihak berwenang juga harus mampu menahan diri untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang bersifat spekulasi yang dikhawatirkan malah semakin memperburuk suasana ketidakpastian
Namun sebaik apapun semua upaya, ini tergolong tindakan reaktif. Artinya, upaya-upaya ini diambil setelah tindak teror terjadi. Padahal, seperti kata bijak yang sering kita dengar, mencegah akan lebih murah dan efektif dibanding mengobati. Sebagai salah satu langkah pencegah, kultur subur pencetus terorisme seperti radikalisme agama, kesenjangan kaya-miskin yang amat sangat, tingkat pendidikan yang masih rendah, mesti dikikis habis. Selain itu, pengawasan yang dilakukan masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya juga akan jadi cara jitu untuk deteksi dini upaya terorisme. Semoga tak ada lagi teror yang terus berulang. Damai selalu Indonesiaku.[]

Friday, June 19, 2009

JANGAN TAKUT !!

REFLEKSI DARI KITAB Yesaya 41 : 14 – 20 Bacaan : Mazmur 107 : 33 - 43 Telah diterbitkan dalam buku Kumpulan Khotbah Sekretariat Bersama United Evangelical Mission 2009.
“JANGAN TAKUT !” PENGANTAR
Ketakutan adalah suatu kondisi emosional dan batiniah manusia yang muncul sebagai reaksi terhadap suatu keadaan dari luar dirinya yang mengancam ketenangan, kemapanan dan kehidupan sendiri. Seseorang menjadi takut bilamana ancaman dari luar itu membahayakan jiwanya sedangkan dirinya sendiri tidak memiliki kemampuan untuk menangkal bahaya itu. Rasa ketakutan berpotensi dimiliki semua manusia termasuk secara kolektif seperti suatu bangsa. Pada konteks nats, Israel, bangsa pilihan Allah mengalami rasa takut yang disebabkan penindasan dan pembuangan yang dialaminya membahayakan kehidupan, baik kehidupan setiap individu maupun kehidupan kolektif sebagai suatu bangsa. Bahaya itu bukan saja berwujud kematian badani setiap orang israel, melainkan juga kematian kolektif Israel sebagai suatu bangsa.
Dalam Kitab Yesaya bagian kedua ini, pembuangan sebagai sumber ketakutan itu dilukiskan sebagai seeokor naga purba/Rahab (bnd. Yes. 51 : 9-10), lambang kuasa chaos yang menakutkan yang akan memangsa dan menelan habis seluruh eksistensi Israel sebagai suatu bangsa. Dihadapan ular raksasa (naga) itu, Israel hanyalah seekor “cacing” dan seekor “ulat” kecil saja (41:14), maka adalah kewajaran jika ada rasa takut. (bnk. 141-142 Teologi Kemerdekaan : Suatu Ontologi Oleh Marthinus Th. Mawene, http://books.google.co.id/books).
PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI 1. JANGANLAH TAKUT Pernahkah kita memperhatikan seekor cacing atau ulat. Baik cacing atau ulat yang menjijikkan atau yang biasa. Binatang itu kecil dan lemah. Tidak berdaya dan lemah. Cacing selalu menggeliat tragis, gelisah dan tidak mempunyai kesanggupan mempertahankan diri dari setiap bahaya yang mengancam. Tanpa ada yang menolong, si cacing akan mati dan kepanasan. Si ulat akan mati terinjak-injak.
Menghadapi “ular naga” penindasan, penjajahan dan pembuangan yang amat mengancam eksistensi Israel sebagai ciptaan dan bangsa pilihan Allah, kepada si cacing dan si ulat kecil ini TUHAN bersabda : Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Mengapa ? Akulah yang menolong engkau(14). Syair ini merupakan Janji Keselamatan/janji pertolongan Allah kepada umatNya yang berkeluh kesah didalam permbuangan utk berbicara kedalam hati Israel. Secara garis besar disampaikan bahwa Allah tidak meninggalkannya, Israel akan menerima pertolongan tanpa berbuat apa-apa. Ayat ini juga meyakinkan Israel bahwa Allah sendiri yang adalah Khalik dan Pemimpin Sejarah yang akan melindungi umatNya dan menyelamatkan dan membebaskan mereka “si ulat dan cacing”, lepas dari kekuasaan “si naga” itu. Ia akan membebaskan mereka keluar dari perbudakan dan kembali mengikat perjanjian dengan mereka. Begitulah kasih setia Allah yang telah nyata dalam sejarah bangsa Israel. Keadilan berkaitan erat dengan cara Allah bertindak didalam dunia untuk menyatakan kedaulatanNya.
Dewasa ini, gambaran ketakutan akibat ancaman “Naga” itu dapat diartikan dalam bentuk ketakutan manusia akan keadaan cengkraman “Naga monopoli ekonomi”, rakyat tidak berdaya atas tekanan ekonomi (harga yang melambung tinggi sedangkan pendapatan yang sangat terbatas), ketakutan terhadap “Naga pengangguran”, “Naga terorisme”, “Naga ormas atau komunitas anarkis yang mengancam hak menjalankan ibadah”, “Naga penyebarluasan Narkoba dan HIV AIDS”, dan pergumulan hidup lainnya yang membuat ketakutan, ancaman, karena ketidaksanggupan kita menghadapi. Kita lantas bisa berefleksi siapakah ulat dan cacing kecil dalam hal ini? Mereka adalah rakyat kecil yang tidak korup, mereka adalah orang yang setiap pada TUHAN hingga tidak ikut-ikutan korup di pemerintahan dan swasta yang akhirnya dikucilkan dan tidak diberi “job”, mereka adalah kaum minoritas yang terjepit oleh kepentingan dan arogansi kaum mayoritas yang merubah diri menjadi moster, mereka adalah warga negara yang karena agamanya dianggap warga negara kelas dua, dan mereka adalah yang oleh karena kebenaran di marginalkan. Semua kondisi ini membelit dan mengancam eksistensi mereka secara pribadi atau kolektif. Mereka menjadi takut sebab ternyata mereka tidak mempunyai kekuatan apa-apa melawan Naga itu. Mereka ibarat seekor cacing atau ulat kecil yang demikian lemah dan ketakutan dihadapan naga yang mengancam mereka. Siapakah yang melindungi dan mendampingi mereka ? Tuhan menjadi harapan dan pemberi janji pasti ditengah banyaknya bualan politik-dan solusi palsu saat ini. Inilah kekuatan kaum hina dina, inilah kekuatan kaum rendah hati dan lemah, inilah kekuatan semua orang kecil dan dianggap kecil, dan lemah, inilah kekuatan kaum yang dimiskinkan dan dikelas duakan. Sabda Tuhan yang disampaikan ribuan tahun lalu berlaku : “Jangan lah takut hai si cacing kaum minoritas, Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat yang termarjinaliasi! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Minoritas. Demikian kita diajak membaca ulang Nats ini dalam konteks kita, hingga nats ini sangat relevan dimana banyak orang dalam cengkraman “naga” dikuatkan dengan sabda Tuhan ini. Jemaat diajak membaca ulang nats ini dalam konteks kehidupan masing-masing. Berbahagialah mereka yang Gunung Batunya adalah Tuhan. Tuhan berjanji akan melepaskan kita dari ketakutan, karena itu yang pertama mari kalahkan rasa takut. Siapa takut ? Diperlukan keyakinan dan kesabaran didalam sejarah akan penggenapan firman Tuhan ini. Tuhan akan tampil sebagai pembebas dari cengkraman teror, krisis ekonomi, dan keanarkisan.
Menjadi orang kecil saja belum menjadi otomatis akan perlindungan Allah ini. Menjadi orang tersisih dalam birokrasi saja belum menjadi analog dalam ideal ini. Menjadi kaum minoritas yang selalu dimusuhi dan di marginalkan saja belum dapat dikatakan “kaum yang rendah hati dan lemah”, yang mendapat perlindungan Tuhan. Ada moralitas dasar yang haruis dijadikan acuan hidup. Dan itu adalah ketaatan kepada Tuhan dan perintahNya, hidup dalam kebenaran dan kesetiaan Tuhan. Kaum yang tetap berpegang pada kebenaran Injil ditengah suatu masyarakat yang sakit dan alami degradasi moral./ Inilah yang menmbuat mereka eksis dan tetap ada dalam kemelut hidup yang berat. Siapakah diantara kita yang dapat berdiri dihadapan Allah yang Maha Kudus ini. Kudus dalam arti kebenaran dan kesetiaan. (bnk. Teologi Kemerdekaan : Suatu Ontologi... Oleh Marthinus Th. Mawene, hlm 144, http://books.google.co.id/books)
2. KEHIDUPAN YANG LUAR BIASA JIKA DIPAKAI OLEH TUHAN
Dengan kuasa Allah, Israel yang diibaratkan sebagai “ulat dan cacing” dapat di pakai Allah untuk melakukan sebuah pekerjaan yang luar biasa. Nats dalam ayat 15-16 berkata bahwa mereka diibaratkan akan dijadikan papan pengirik yang tajam dan baru, dan akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukit pun akan mereka buat seperti sekam, lalu menampi mereka, hingga angin akan menerbangkan dan badai akan menyerakkan gubung-dan bukit sebagai gambaran musuh-2 Israel. Dalam TUHAN Allah, Israel akan akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel. Nats ini memiliki kesejajaran dengan Matius 17 : 20, dimana Tuhan mengajar bahwa kalau aku mempunyai iman biji sesawi, maka gunung-pun akan pindah. Namun, perlu dimengerti, bahwa dengan kuat kuasa, petunjuk, perlindungan dan pertolongan-Nya (dan bukan dengan kuat gagah manusia), umat percaya adalah yang harus mengirik gunung-gunung tersebut. Ini berarti bahwa umat percaya juga harus terlibat dan bekerja dengan rajin dan tekun dalam proses "peleburan" gunung-gunung ini. Jadi bukan seperti sulap. Umat percaya harus tetap semakin giat berdoa dan bekerja untuk menghasilkan perubahan kearah yang lebih baik.
3. KEBERADAAN ALLAH MENGENDALIKAN KEHIDUPAN DAN SEJARAH Ayat 17 menggambarkan keberadaan Israel sebagai Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; Untuk realitas ini Firman Tuhan menjawab bahwa TUHAN akan menjawab kebutuhan mereka, dan Tuhan Allah tidak akan meninggalkan dan membiarkan umatNya. Disampaikan diayat 18-19 : “Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya.” Atas kesengsaraan Israel dan kebutuhan akan air, TUHAN tidak hanya memberikan mata-mata air yang melimpah tetapi juga menyiapkan ekosistem yang lebih kondusif, alam yang asri sehingga kualitas kehidupan Israel semakin terjamin baik. Ia memperhatikan dan pertolongannya tepat waktu dan tepat sasaran.
Dikaitkan dengan Perjanjian Baru, ketika manusia sengsara akibat dosa, kekeringan rohani dan terancam beroleh maut sebagai upah dosa, maka TUHAN Allah mengambil inisiatif membebaskan manusia dari dosa dan bukan hanya itu, melainkan memberikan kehidupan surgawi dan duniawi yang luar biasa bagi umatNya yang setiap pada imannya. Dalam psikologi pembandingan antitetis, orang tak akan sanggup secara optimal membayangkan kebesaran Allah, kecuali ia menyadari kekerdilan dirinya. Tak sanggup menyadari kemuliaan Allah, kecuali ia melihat kehinaan dirinya. Tak sanggup memahami penebusan Kristus, kecuali ia merasakan kepahitan dosanya. Sebenarnya Nats menempatkan dengan dramatis pengakuan akan kerendahannya bagaikan cacing dihadapan Allah yang Maha Besar. Yang telah menebus manusia di kayu salib, di mana Yesus sudi dan rela menyerahkan nyawa bagi makhluk yang amat sangat rendah seperti dirinya. Di hadapan pengurbanan Kristus di kayu salib, yang begitu mengharukan, rasanya tiada celah bagi pendosa untuk mengagungkan diri sendiri. Nats bisa di relevansikan membawa pengosongan diri dari segala arogansi insaninya. Dalam pengosongan diri inilah, tak ada hak kita untuk mengambil kemuliaan dan hormat bagi diri sendiri, seperti yang sering dilakukan orang. Terlalu malu untuk melakukan tindakan tersebut. Penebusan Kristus di kayu salib harus melenyapkan segala kecongkakan diri dan menumbuhkan rasa kerendahan di hadapan Allah, ibarat cacing dan ulat. Cacing adalah makhluk hina, rendah dan tak berharga. Namun melalui pertolongan Allah yang kudus, melalui pergorbanan Yesus Kristus, kita berharga dan menerima jaminan keselamatan dan memiliki hidup yang kekal.
4. TANGAN ALLAH YANG MENGENDALIKAN SEJARAH KEHIDUPAN - PENUTUP
Ayat 20 menunjukkan perbedaan di antara konsep tangan Tuhan dan Tuhan Mahakudus Allah Israel yang menciptakan. Terdapat dua Identitas yang hadir di sini. Penggunaan istilah dan sesungguhnya menggabungkan dua “Nama”. Ia tidak merujuk kepada dua sifat keperibadian bagi dua orang. Teks ini menunjukkan bahawa tidak ada Allah sebelum atau selepas Allah yang Maha Tinggi.
Nats mempunyai makna akan keMaha Kuasaan Allah yang membuat-menciptakan – mengendalikan semuanya. Tangan Allah mengendalikan semua kehidupan dan Yang Maha Kudus lah yang menciptakan semuanya. Bisa saja secara individu diantar jemaat ada yang sedang menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi, misalnya orang yang kita cintai pergi untuk selamanya. Seringkali timbul dalam hati pertanyaan mengapa tangan TUHAN mau melakukan semuanya ini? Sering timbul kepahitan dalam hati kita mempertanyakan keadilanNya. Ini menunjukkan manusia yang tidak terima posisinya sebagai manusia. Dan dalam banyak kasus kita ingin menjadi Tuhan. Kita sering kali tidak terima dengan banyaknya masalah yang sedang kita hadapi. Ketika Tuhan memanggil orang yang kita cintai seringkali protes kepada Tuhan. Kita marah dan kita bertanya mengapa Tuhan mengambilnya sekarang. Ada banyak sekali alasan yang dapat kita sampaikan untuk memprotes keputusan Tuhan tersebut. Kita seringkali juga marah ketika tertimpa musibah bertubi-tubi, baik bencana alam, kehilangan harta benda, kebangkrutan usaha dan lain sebagainya. Kita marah juga ketika mendapati bahwa anak yang kita harapkan lahir dengan sempurna ternyata memiliki cacat bawaan. Kita seringkali melewati masa-masa yang kelam yang penuh dengan kepahitan hati kepada Tuhan dan selalu bertanya-tanya mengapa Tuhan ijinkan semuanya itu terjadi. Dikaitkan ke Nats, Yakub dimata Tuhan ternyata hanyalah cacing saja, dan dia juga dipanggil sebagai ulat Israel. Tuhan yang Maha Kuasa berjanji untuk menolong si cacing Yakub. Jadi Tuhan yang Maha Baik, Maha Kuasa, Maha Kasih , Maha Tahu pastilah tidak lupa untuk menolong kita para cacing dan ulat yang sering ingin mengendalikan Tuhan. Untuk itu, dalam kemaha tahuan Tuhan (termasuk kemahatahuan Tuhan dalam solusi pergumulan hidup pribadi manusia), kita harus yakin bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita, keberhasilan-kegagalan, untung-rugi, berkembang-bangkrutnya usahan, kelahiran-kematian orang yang kita cintai justru harus membawa kita lebih dekat kepada genggaman tangan pengasihan Allah yang Maha Kudus. Kita harus belajar untuk menerima banyak hal yang diluar kuasa kita. Ada otoritas ditangan Allah untuk membentuk kita melalui apa yang terjadi dalam hidup kita. Carilah wajah Tuhan dan nantikanlah suaraNYa yang berkata “ JANGANLAH TAKUT”. Kita tidak bisa mendikte Tuhan dalam segala hal sebab otoritas Tunggal ada dalam tanganNya. Banyak sekali penyesalan dan kepahitan dari hati kita dapat dipulihkan jika kita mau datang ke hadirat genggaman bimbingan tangan Tuhan yang Maha Kudus. Amin.
Disampaikan pada Khotbah di GKPS Jl. Asahan, P. Siantar, Minggu 24 Juni 2009