Showing posts with label Khotbah. Show all posts
Showing posts with label Khotbah. Show all posts

Friday, June 19, 2009

JANGAN TAKUT !!

REFLEKSI DARI KITAB Yesaya 41 : 14 – 20 Bacaan : Mazmur 107 : 33 - 43 Telah diterbitkan dalam buku Kumpulan Khotbah Sekretariat Bersama United Evangelical Mission 2009.
“JANGAN TAKUT !” PENGANTAR
Ketakutan adalah suatu kondisi emosional dan batiniah manusia yang muncul sebagai reaksi terhadap suatu keadaan dari luar dirinya yang mengancam ketenangan, kemapanan dan kehidupan sendiri. Seseorang menjadi takut bilamana ancaman dari luar itu membahayakan jiwanya sedangkan dirinya sendiri tidak memiliki kemampuan untuk menangkal bahaya itu. Rasa ketakutan berpotensi dimiliki semua manusia termasuk secara kolektif seperti suatu bangsa. Pada konteks nats, Israel, bangsa pilihan Allah mengalami rasa takut yang disebabkan penindasan dan pembuangan yang dialaminya membahayakan kehidupan, baik kehidupan setiap individu maupun kehidupan kolektif sebagai suatu bangsa. Bahaya itu bukan saja berwujud kematian badani setiap orang israel, melainkan juga kematian kolektif Israel sebagai suatu bangsa.
Dalam Kitab Yesaya bagian kedua ini, pembuangan sebagai sumber ketakutan itu dilukiskan sebagai seeokor naga purba/Rahab (bnd. Yes. 51 : 9-10), lambang kuasa chaos yang menakutkan yang akan memangsa dan menelan habis seluruh eksistensi Israel sebagai suatu bangsa. Dihadapan ular raksasa (naga) itu, Israel hanyalah seekor “cacing” dan seekor “ulat” kecil saja (41:14), maka adalah kewajaran jika ada rasa takut. (bnk. 141-142 Teologi Kemerdekaan : Suatu Ontologi Oleh Marthinus Th. Mawene, http://books.google.co.id/books).
PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI 1. JANGANLAH TAKUT Pernahkah kita memperhatikan seekor cacing atau ulat. Baik cacing atau ulat yang menjijikkan atau yang biasa. Binatang itu kecil dan lemah. Tidak berdaya dan lemah. Cacing selalu menggeliat tragis, gelisah dan tidak mempunyai kesanggupan mempertahankan diri dari setiap bahaya yang mengancam. Tanpa ada yang menolong, si cacing akan mati dan kepanasan. Si ulat akan mati terinjak-injak.
Menghadapi “ular naga” penindasan, penjajahan dan pembuangan yang amat mengancam eksistensi Israel sebagai ciptaan dan bangsa pilihan Allah, kepada si cacing dan si ulat kecil ini TUHAN bersabda : Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Mengapa ? Akulah yang menolong engkau(14). Syair ini merupakan Janji Keselamatan/janji pertolongan Allah kepada umatNya yang berkeluh kesah didalam permbuangan utk berbicara kedalam hati Israel. Secara garis besar disampaikan bahwa Allah tidak meninggalkannya, Israel akan menerima pertolongan tanpa berbuat apa-apa. Ayat ini juga meyakinkan Israel bahwa Allah sendiri yang adalah Khalik dan Pemimpin Sejarah yang akan melindungi umatNya dan menyelamatkan dan membebaskan mereka “si ulat dan cacing”, lepas dari kekuasaan “si naga” itu. Ia akan membebaskan mereka keluar dari perbudakan dan kembali mengikat perjanjian dengan mereka. Begitulah kasih setia Allah yang telah nyata dalam sejarah bangsa Israel. Keadilan berkaitan erat dengan cara Allah bertindak didalam dunia untuk menyatakan kedaulatanNya.
Dewasa ini, gambaran ketakutan akibat ancaman “Naga” itu dapat diartikan dalam bentuk ketakutan manusia akan keadaan cengkraman “Naga monopoli ekonomi”, rakyat tidak berdaya atas tekanan ekonomi (harga yang melambung tinggi sedangkan pendapatan yang sangat terbatas), ketakutan terhadap “Naga pengangguran”, “Naga terorisme”, “Naga ormas atau komunitas anarkis yang mengancam hak menjalankan ibadah”, “Naga penyebarluasan Narkoba dan HIV AIDS”, dan pergumulan hidup lainnya yang membuat ketakutan, ancaman, karena ketidaksanggupan kita menghadapi. Kita lantas bisa berefleksi siapakah ulat dan cacing kecil dalam hal ini? Mereka adalah rakyat kecil yang tidak korup, mereka adalah orang yang setiap pada TUHAN hingga tidak ikut-ikutan korup di pemerintahan dan swasta yang akhirnya dikucilkan dan tidak diberi “job”, mereka adalah kaum minoritas yang terjepit oleh kepentingan dan arogansi kaum mayoritas yang merubah diri menjadi moster, mereka adalah warga negara yang karena agamanya dianggap warga negara kelas dua, dan mereka adalah yang oleh karena kebenaran di marginalkan. Semua kondisi ini membelit dan mengancam eksistensi mereka secara pribadi atau kolektif. Mereka menjadi takut sebab ternyata mereka tidak mempunyai kekuatan apa-apa melawan Naga itu. Mereka ibarat seekor cacing atau ulat kecil yang demikian lemah dan ketakutan dihadapan naga yang mengancam mereka. Siapakah yang melindungi dan mendampingi mereka ? Tuhan menjadi harapan dan pemberi janji pasti ditengah banyaknya bualan politik-dan solusi palsu saat ini. Inilah kekuatan kaum hina dina, inilah kekuatan kaum rendah hati dan lemah, inilah kekuatan semua orang kecil dan dianggap kecil, dan lemah, inilah kekuatan kaum yang dimiskinkan dan dikelas duakan. Sabda Tuhan yang disampaikan ribuan tahun lalu berlaku : “Jangan lah takut hai si cacing kaum minoritas, Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat yang termarjinaliasi! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Minoritas. Demikian kita diajak membaca ulang Nats ini dalam konteks kita, hingga nats ini sangat relevan dimana banyak orang dalam cengkraman “naga” dikuatkan dengan sabda Tuhan ini. Jemaat diajak membaca ulang nats ini dalam konteks kehidupan masing-masing. Berbahagialah mereka yang Gunung Batunya adalah Tuhan. Tuhan berjanji akan melepaskan kita dari ketakutan, karena itu yang pertama mari kalahkan rasa takut. Siapa takut ? Diperlukan keyakinan dan kesabaran didalam sejarah akan penggenapan firman Tuhan ini. Tuhan akan tampil sebagai pembebas dari cengkraman teror, krisis ekonomi, dan keanarkisan.
Menjadi orang kecil saja belum menjadi otomatis akan perlindungan Allah ini. Menjadi orang tersisih dalam birokrasi saja belum menjadi analog dalam ideal ini. Menjadi kaum minoritas yang selalu dimusuhi dan di marginalkan saja belum dapat dikatakan “kaum yang rendah hati dan lemah”, yang mendapat perlindungan Tuhan. Ada moralitas dasar yang haruis dijadikan acuan hidup. Dan itu adalah ketaatan kepada Tuhan dan perintahNya, hidup dalam kebenaran dan kesetiaan Tuhan. Kaum yang tetap berpegang pada kebenaran Injil ditengah suatu masyarakat yang sakit dan alami degradasi moral./ Inilah yang menmbuat mereka eksis dan tetap ada dalam kemelut hidup yang berat. Siapakah diantara kita yang dapat berdiri dihadapan Allah yang Maha Kudus ini. Kudus dalam arti kebenaran dan kesetiaan. (bnk. Teologi Kemerdekaan : Suatu Ontologi... Oleh Marthinus Th. Mawene, hlm 144, http://books.google.co.id/books)
2. KEHIDUPAN YANG LUAR BIASA JIKA DIPAKAI OLEH TUHAN
Dengan kuasa Allah, Israel yang diibaratkan sebagai “ulat dan cacing” dapat di pakai Allah untuk melakukan sebuah pekerjaan yang luar biasa. Nats dalam ayat 15-16 berkata bahwa mereka diibaratkan akan dijadikan papan pengirik yang tajam dan baru, dan akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukit pun akan mereka buat seperti sekam, lalu menampi mereka, hingga angin akan menerbangkan dan badai akan menyerakkan gubung-dan bukit sebagai gambaran musuh-2 Israel. Dalam TUHAN Allah, Israel akan akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel. Nats ini memiliki kesejajaran dengan Matius 17 : 20, dimana Tuhan mengajar bahwa kalau aku mempunyai iman biji sesawi, maka gunung-pun akan pindah. Namun, perlu dimengerti, bahwa dengan kuat kuasa, petunjuk, perlindungan dan pertolongan-Nya (dan bukan dengan kuat gagah manusia), umat percaya adalah yang harus mengirik gunung-gunung tersebut. Ini berarti bahwa umat percaya juga harus terlibat dan bekerja dengan rajin dan tekun dalam proses "peleburan" gunung-gunung ini. Jadi bukan seperti sulap. Umat percaya harus tetap semakin giat berdoa dan bekerja untuk menghasilkan perubahan kearah yang lebih baik.
3. KEBERADAAN ALLAH MENGENDALIKAN KEHIDUPAN DAN SEJARAH Ayat 17 menggambarkan keberadaan Israel sebagai Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; Untuk realitas ini Firman Tuhan menjawab bahwa TUHAN akan menjawab kebutuhan mereka, dan Tuhan Allah tidak akan meninggalkan dan membiarkan umatNya. Disampaikan diayat 18-19 : “Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya.” Atas kesengsaraan Israel dan kebutuhan akan air, TUHAN tidak hanya memberikan mata-mata air yang melimpah tetapi juga menyiapkan ekosistem yang lebih kondusif, alam yang asri sehingga kualitas kehidupan Israel semakin terjamin baik. Ia memperhatikan dan pertolongannya tepat waktu dan tepat sasaran.
Dikaitkan dengan Perjanjian Baru, ketika manusia sengsara akibat dosa, kekeringan rohani dan terancam beroleh maut sebagai upah dosa, maka TUHAN Allah mengambil inisiatif membebaskan manusia dari dosa dan bukan hanya itu, melainkan memberikan kehidupan surgawi dan duniawi yang luar biasa bagi umatNya yang setiap pada imannya. Dalam psikologi pembandingan antitetis, orang tak akan sanggup secara optimal membayangkan kebesaran Allah, kecuali ia menyadari kekerdilan dirinya. Tak sanggup menyadari kemuliaan Allah, kecuali ia melihat kehinaan dirinya. Tak sanggup memahami penebusan Kristus, kecuali ia merasakan kepahitan dosanya. Sebenarnya Nats menempatkan dengan dramatis pengakuan akan kerendahannya bagaikan cacing dihadapan Allah yang Maha Besar. Yang telah menebus manusia di kayu salib, di mana Yesus sudi dan rela menyerahkan nyawa bagi makhluk yang amat sangat rendah seperti dirinya. Di hadapan pengurbanan Kristus di kayu salib, yang begitu mengharukan, rasanya tiada celah bagi pendosa untuk mengagungkan diri sendiri. Nats bisa di relevansikan membawa pengosongan diri dari segala arogansi insaninya. Dalam pengosongan diri inilah, tak ada hak kita untuk mengambil kemuliaan dan hormat bagi diri sendiri, seperti yang sering dilakukan orang. Terlalu malu untuk melakukan tindakan tersebut. Penebusan Kristus di kayu salib harus melenyapkan segala kecongkakan diri dan menumbuhkan rasa kerendahan di hadapan Allah, ibarat cacing dan ulat. Cacing adalah makhluk hina, rendah dan tak berharga. Namun melalui pertolongan Allah yang kudus, melalui pergorbanan Yesus Kristus, kita berharga dan menerima jaminan keselamatan dan memiliki hidup yang kekal.
4. TANGAN ALLAH YANG MENGENDALIKAN SEJARAH KEHIDUPAN - PENUTUP
Ayat 20 menunjukkan perbedaan di antara konsep tangan Tuhan dan Tuhan Mahakudus Allah Israel yang menciptakan. Terdapat dua Identitas yang hadir di sini. Penggunaan istilah dan sesungguhnya menggabungkan dua “Nama”. Ia tidak merujuk kepada dua sifat keperibadian bagi dua orang. Teks ini menunjukkan bahawa tidak ada Allah sebelum atau selepas Allah yang Maha Tinggi.
Nats mempunyai makna akan keMaha Kuasaan Allah yang membuat-menciptakan – mengendalikan semuanya. Tangan Allah mengendalikan semua kehidupan dan Yang Maha Kudus lah yang menciptakan semuanya. Bisa saja secara individu diantar jemaat ada yang sedang menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi, misalnya orang yang kita cintai pergi untuk selamanya. Seringkali timbul dalam hati pertanyaan mengapa tangan TUHAN mau melakukan semuanya ini? Sering timbul kepahitan dalam hati kita mempertanyakan keadilanNya. Ini menunjukkan manusia yang tidak terima posisinya sebagai manusia. Dan dalam banyak kasus kita ingin menjadi Tuhan. Kita sering kali tidak terima dengan banyaknya masalah yang sedang kita hadapi. Ketika Tuhan memanggil orang yang kita cintai seringkali protes kepada Tuhan. Kita marah dan kita bertanya mengapa Tuhan mengambilnya sekarang. Ada banyak sekali alasan yang dapat kita sampaikan untuk memprotes keputusan Tuhan tersebut. Kita seringkali juga marah ketika tertimpa musibah bertubi-tubi, baik bencana alam, kehilangan harta benda, kebangkrutan usaha dan lain sebagainya. Kita marah juga ketika mendapati bahwa anak yang kita harapkan lahir dengan sempurna ternyata memiliki cacat bawaan. Kita seringkali melewati masa-masa yang kelam yang penuh dengan kepahitan hati kepada Tuhan dan selalu bertanya-tanya mengapa Tuhan ijinkan semuanya itu terjadi. Dikaitkan ke Nats, Yakub dimata Tuhan ternyata hanyalah cacing saja, dan dia juga dipanggil sebagai ulat Israel. Tuhan yang Maha Kuasa berjanji untuk menolong si cacing Yakub. Jadi Tuhan yang Maha Baik, Maha Kuasa, Maha Kasih , Maha Tahu pastilah tidak lupa untuk menolong kita para cacing dan ulat yang sering ingin mengendalikan Tuhan. Untuk itu, dalam kemaha tahuan Tuhan (termasuk kemahatahuan Tuhan dalam solusi pergumulan hidup pribadi manusia), kita harus yakin bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita, keberhasilan-kegagalan, untung-rugi, berkembang-bangkrutnya usahan, kelahiran-kematian orang yang kita cintai justru harus membawa kita lebih dekat kepada genggaman tangan pengasihan Allah yang Maha Kudus. Kita harus belajar untuk menerima banyak hal yang diluar kuasa kita. Ada otoritas ditangan Allah untuk membentuk kita melalui apa yang terjadi dalam hidup kita. Carilah wajah Tuhan dan nantikanlah suaraNYa yang berkata “ JANGANLAH TAKUT”. Kita tidak bisa mendikte Tuhan dalam segala hal sebab otoritas Tunggal ada dalam tanganNya. Banyak sekali penyesalan dan kepahitan dari hati kita dapat dipulihkan jika kita mau datang ke hadirat genggaman bimbingan tangan Tuhan yang Maha Kudus. Amin.
Disampaikan pada Khotbah di GKPS Jl. Asahan, P. Siantar, Minggu 24 Juni 2009

Monday, September 08, 2008

Hidup Yang Dilandasi Syukur.

Nats : Pengkhotbah 5:17-19 Telah diwartakan pada Ibadah Minggu 31 Agustus 2008, di HKI Jl. Melanthon Siregar, P. Siantar
Tidak ada yg suka yg palsu. Produk barang eletronik yang Palsu biasanya dipakai sebentar, lalu rusak. Pakaian yg palsu (mengadopsi Merk tertentu) mungkin kemasan atau bentuknya saja yg sama dengan yg asli, tapi ketika dipakai bisa cepat luntur dan kemudian rusak, karena memang kualitasnya berbeda dari yang asli. Demikian juga kepalsuan lain, tiap manusia tentu tidak menyukai senyuman palsu, sanda gurau palsu, cinta palsu. Singkat kata Manusia dari dasar hatinya menginginkan sesuatu yang asli, yang sebenarnya. Bukan yang palsu.
Termasuk dengan kebahagiaan, manusia menginginkan kebahagiaan yang sebenarnya bukan kebahagiaan yang semu, yang palsu. Uniknya manusia dalam mencari kebahagiaan, demi sebuah pengakuan, demi mencapai keinginan sering larut dalam arah kebahagiaan yang palsu. Banyak manusia berpikir sumber kebahagiaan adalah materi, kekuasaan, fasilitas dll. Untuk itu dia bekerja keras dengan berbagai cara demi mendapatkannya.
Ada 4 tipe yang bisa kita rumuskan : 1. Manusia bekerja keras agar bisa mendapatkan materi untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, dengan berasumsi jika mendapatkan materi yang banyak maka dia akan bahagia. Akhirnya memang dia mendapatkan banyak materi setelah ia kerja keras. Tapi setelah didapat, ia tidak menemukan kebahagiaan. Melainkan hanya justru kesibukan-2 baru.
Mereka disibukkan untuk membelanjakan uangnya, beli ini dan beli itu dengan anggapan akan mendapatkan kebahagiaan, pendeknya mereka akan membeli gaya hidup yang mencerminkan mereka "bahagia", disibukkan untuk mendapatkan pengakuan, sehingga kepercayan dirinya terletak pada apa yg dimilikinya, terletak pada apa yg dikenakannya, bukan kepada dirinya sendiri sebagai manusia yg diciptakan oleh Allah. Mereka tidak mendapat kebahagiaan yg mereka cari. Yang ada hanya takut bangkrut, atau takut korupsinya ketahuan, takut anaknya justru makin nakal. Yang ada hanya perubahan orientasi hidup : perubahan sikap pd orang lain, ego yg tinggi, dimana yg menjadi prioritas utama hanya dirinya. Itu sebabnya ketika seseorang yang tiba-tiba punya banyak materi, tiba-tiba juga tinggi hati dan menjaga jarak dari orang sekitar. Ia tetap merasa kurang. Akhirnya Konsep ideal tadi bahwa materi menjadi sarana bahagia tidak didapatinya, Justru dia tertawan oleh rasa tidak cukup dan hidupnya tidak tenang. Dimana Yang salah ?
Kemudian kita ke tipe 2. 2. Dan ada juga yang telah bekerja keras, kemudian memiliki harta banyak, ternyata benar-benar bahagia. Ia tetap bekerja keras, harta mengalir dan ia menikmatinya. Ia hidup bahagia.
Dimana kuncinya ? Ternyata rasa hidup bersyukur, memahami bahwa rejekinya berasal dari TUHAN dan harus dipakai sebagai jalan berkat buat orang lain. Sehingga ia menjalani hidup kecukupannya dengan kerendahan hati dan semangat melayani TUHAN melalui sesama.
Tipe 3 : 3. Ada orang yang bekerja keras, tetapi apa yang dimilikinya yang terbatas tetap bisa dinikmatinya, ia bahagia. Kuncinya sama dengan tipe 2 : Rasa syukur.
Tipe 4 : 4. Ada orang yang malas bekerja, hanya berhayal, keseharian kegiatannya menghabiskan waktu dengan membahas apa saja, tapi tidak melakukan apa-apa. Efeknya pendapatannya tidak ada, dan ia tidak menikmati hidupnya karena bukan hanya merasa kurang tetapi faktanya adalah kurang. Orang seperti ini berada dalam posisi kebiasaan "menunda" tindakan, ini merupakan cermin dari gagalnya pikiran untuk menerima DIRI ini dengan apa adanya. Ia hanya berpikir :
- Besok saya akan mengerjakannya jika saja.... - Dulu saya pasti sudah melakukannya kalau saja saya tidak......
- Besok saya pasti akan berbahagia bila saya sudah berhasil meraih A, B, C,...
- Dulu sebetulnya saya sudah bahagia, jika saja saya tidak mengalami A, B, C,...
Jemaat terkasih, diantara 4 tipe dalam menjalani kehidupan menuju kebahagiaan sejati dimana posisi kita ? Apa kuncinya hidup bahagian yang bisa kita dapat ? Mensyukuri. Mensykuri akan mempengaruhi cara pandang kita tentang harta. Bahwa itu adalah titipan Allah dan harus dimamfaatkan untuk orang lain juga. Orang yang tidak menikmati : tidak mensyukuri : tidak diberi kuasa untuk menikmatinya ! Orang yang terbatas tapi bahagia : mensyukuri Orang yang tidak bekerja sehingga tidak bahagia : tidak mensyukuri hidup, tenaga, pancaindera sehingga wajar ekonominya morat marit berkekurangan.
Hal ini terkait dalam pembahasan nats :
Ada beberapa hal yang bisa kita lihat dalam ayat ini : Pada ayat 17 dikatakan Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.
Manusia diminta untuk bekerja dalam hidupnya. Firman TUHAN berkata dalam 2 Tesalonika 3 : 10 ; ……. “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”
Amsal 6:6-11 ; 6:6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 6:7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. 6:9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? 6:10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" 6:11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.
Kesuksesan itu berada dalam ranah tindakan. Betapa banyak orang yang sarat dengan ide-ide cemerlang namun tidak pernah mencapai apapun, karena mereka tidak pernah memutuskan untuk SEGERA bertindak. Kalimat sebab itulah bahagiannya bukan berarti kita mengimani ada takdir seolah Allah sudah menentukan segala sesuatu. Mensahkan anggapan :"Jika gagal, ya sudahlah itu sudah garis hidupku". Ini adalah kalimat putus asa. Masa depan belum pernah terjadi, tidak ada takdir. Allah membuka kesempatan kepada tiap manusia untuk menentukan masa depannya dan mempertanggungjawabkan pada Tuhan. Kemudian pada ayat 18-19 dikatakan : Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya -- juga itu pun karunia Allah. Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.
TIAP MANUSIA MEMPUNYAI KEINGINAN. Tapi demi mencapai itu banyak yang menempuhnya dengan cara yang tidak berkenan dgn Allah. Bnk. 1 Timotius 6:9-10 : 6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Alkitab banyak sekali memperingatkan kita akan bahaya dari kekayaan atau keinginan untuk menjadi kaya secara jasmani. Seringkali harta adalah penyebab kejatuhan manusia;
Bnk. Mat. 6:21 / Luk. 12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Pengkhotbah 5:9-10. Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? 1 Timotius 6:17-19 : Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.
Menjadi kaya adalah suatu berkat, tetapi kita harus berhati-hati dalam menerima, mengelola dan memelihara kekayaan itu. Allah kita Allah yang baik dan menjanjikan kebutuhan jasmani yang cukup, maka janganlah kawatir akan kebutuhan materi : Orang yang cinta akan uang tidak akan pernah puas. Maka yang terutama adalah kejarlah harta surgawi yang membawa kebahagiaan dan hidup yang kekal : dalam memenuhi kebutuhan hidup kita perlu uang, untuk kebutuhan rumah tangga, makan, pakaian, pendidikan, apapun kegiatan kita semuanya perlu dana. Untuk pemenuhannya Allah memerintahkan manusia untuk bekerja :Uang itu penting, tetapi lebih penting lagi bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Yang negatif bukan uangnya melainkan sikap terhadap uang, yaitu "cinta-uang" yang bisa menjadi akar setiap kejahatan. Kita tidak boleh mengabdikan diri sebagai hamba uang dan menjadikannya "Mamon" atau berhala. Yang salah pula, bila kita tamak dan mengandalkan uang lebih dari pada Allah Sumber:
Bnk. Amsal 10:22 Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.Kekayaan adalah dari Tuhan! Janganlah menganggap kekuatan kita yang menjadikan kita kaya. Ulangan 8:17 ; Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Setiap apa yang ada dari pada manusia adalah berasal dari Allah. Karena itu untuk menikmatinya pun mintalah kuasa dari Allah untuk menikmatinya. Ada orang yang bisa menikmati gaji yang dianggap orang rendah, tapi ia justru bahagia. Ada orang yg bergaji besar tapi tidak menikmatinya. Kebahagiaan itu bukan terletak pada apa yang BELUM kita miliki. Bukan pula terletak pada apa yang PERNAH kita miliki. Kebahagian itu terletak di dalam diri ini, SAAT INI. Keikhlasan untuk menerima diri ini apa adanya, adalah kunci untuk memulai langkah awal menuju keberhasilan. Karena itu : Dgn pekerjaan, hasil pekerjaan berupa kekayaan kita bisa memuliakan Allah dgn harta kita, berusaha mencukupkan diri dan mensyukuri yang ada tetapi tetap bekerja maksimal dengan kejujuran. Firman Tuhan dalam Amsal 3:9-10 berkata Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.
Allah lebih senang ketika Dia mendapati anak-anakNya itu tidak memprioritaskan kebutuan jasmani saja, tetapi selalu mencari kebenaran Allah dan hidup menurut ajaranNya : Bnk. Matius 6:33 ; Allah kita adalah Allah yang berkelimpahan. Allah sanggup memberkati kita dengan berkat jasmani yang cukup untuk kita hidup bahkan berkelimpahan. Cinta akan mamon menjadi penghalang dalam mencari Tuhan. Materi atau uang dapat menolak Tuhan Yesus. Dalam hidup ada yang lebih penting daripada uang dan harta, ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kedamaian, sukacita, ketenangan, kasih, tidak bisa dibeli dengan uang. Keselamatan Kekal dari Tuhan tidak bisa dibeli dengan uang, tapi harus dibayar dengan iman percaya. Iman membuat kita yakin akan pemeliharaan Allah, dan ini akan menghadirkan pola hidup bersyukur dalam hidup kita. Jika hal ini kita jalani, maka akan ada damai sejahtera dalam hidup kita, keluarga kita dan ini semua akan terpancar dalam kehidupan kita. Amin.

Tuesday, August 12, 2008

Melawan Ego dan Penindasan dengan Menjadi Saluran Berkat

Nats : Habakuk 2 : 6-14
Disampaikan Pada Ibadah Minggu di HKI Petisah (10/8-08)
Mengawali Khotbah : Ilustrasi 111/hp/doc* * * *
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita. Kita hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan menjadi hakim yg mengklaim atas suatu peristiwa. Kecuali kalau kita sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai?
"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."--------------------------------------- Gambaran seperti ini jugalah yang terjadi pada konteks Kitab Habakuk.
Latar Belakang
Habakuk mengasihi Allah dan membenci dosa. Dia sangat marah hingga sukar baginya untuk memahami apa sebabnya Allah tidak bertindak untuk mencegah kekacauan dalam bidang sosial politik dan ekonomi yang semakin menjadi-jadi di negerinya.
Ketidakadilan dalam masyarakat merajalela, akibatnya kaum berkuasa, bangsawan, pejabat negara menindas kaum lemah dan rakyat jelata yang miskin. Kesedihan akibat kekerasan dan kejahatan yang ia lihat di sekitarnya membuat ia semakin kecewa. Yerusalem diserang Kasdim, perabotan Bait Allah dijarah, dan 10.000 orang Yahudi dibawa selaku tawanan ke Babel. Hal ini membuat Habakuk menjadi bingung mempertanyakan Allah (Hab 1:12-13) Habakuk marah melihat situasi hidup keadaan tanah Yehuda (Hab 1:1-2). Di tengah penantian ini, Habakuk terus berseru dengan tekun kepada Tuhan untuk segera menyatakan keadilannya terhadap situasi yang tengah terjadi. Jemaat terkasih, disini Habakuk begitu emosi, karena menafsirkan realita dengan kaca matanya sendiri. Dalam dialognya dengan Tuhan ia bertanya, “Mengapa Tuhan sering terlihat berbeda dalam menghadapi kejahatan; Mengapa Tuhan tidak menghukum kejahatan?”: ‘Bagaimana mungkin Allah yang Maha Kudus menghukum umat-Nya yang berdosa dengan memakai bangsa Babel yang fasik? Kemudian Seruan Habakuk di ayat 2, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar” : ini semua menunjukkan bahwa seruan dan teriakkan Habakuk ini bukan hanya terjadi satu atau dua kali. Melainkan seruan dan teriakkan ini sudah terjadi bertahun-tahun lamanya - bahkan sampai terjadi perubahan pemimpin pemerintahan - tetapi tidak ada perubahan keadaan yang nyata. Tuhan tampaknya tidak berbuat apa-apa, Tuhan seperti bisu dan tidak peduli pada umatnya dengan berbagai pergumulan mereka. Tapi kenyataan ini membuat Habakuk tidak berhenti untuk berseru kepada-Nya. Terhadap segala jawaban dan Firman Tuhan ini, Habakuk mengambil sikap positif untuk menanti dengan tekun (2:1). Habakuk sabar menanti dan mengamati respon Tuhan Habakuk mengamati dan menunggu sekian lama (Habakuk 2:1-3).
Allah justru menjawab bahwa DIAlah yang membangkitkan bangsa Kasdim yang menindas bangsa Yehuda (Hab 1:5-6).Terungkap kedaulatan Allah menggunakan bangsa kafir untuk menghukum umat-Nya yang jahat, dan memang ketika Israel melakukan banyak dosa kesombongan dan penindasan, maka Allah menghukum mereka melalui bangsa Kasdim dan pembuangan Babel, sehingga apa yang disombongkan Israel sirna seketika. Dan mata iman Habakuk mengajarkan bahwa penghukuman Allah, adalah cara Allah untuk mendidik Israel, untuk kebaikan masa depan israel, untuk mau bertobat dan menyadari bahwa kesombongan hidup tidak boleh dilakukan. Habakuk sadar bahwa Habakuk selama ini telah salah menginterpretasi fakta. Menganggap Allah membiarkan semua yg terjadi karena tega. Itulah sebabnya ketika habakuk melihat segala sesuatu melalui kacamata iman, dia justru mengeluarkan satu kalimat indah yang menjadi kalimat yang sulit dimengerti oleh manusia di dunia. Hab 3:17-19 : Sebab bagaimana mungkin sekalipun pohon ara tidak berbunga, … dan tidak ada lembu sapi dalam kandang namun , "Aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkanku." Disini ada satu perubahan di dalam hidup Habakuk yang mengakibatkan juga perubahan dalam menafsirkan realita. Faktanya tidak berubah, apakah realitanya berubah? Tidak! Apakah penindasan yang sudah terjadi menjadi hilang? Tidak. Tetapi cara pandang habakuk melihat yg terjadi membuat Dia semakin sadar. Saudara, setelah Habakuk mencapai kesimpulan ini Ia tidak pernah marah lagi meskipun keadaan boleh tetap buruk. Jika Alkitab mengatakan Habakuk memulai ps ini dengan doa menurut nada ratapan. Kalau sebelumnya Habakuk marah-marah sekarang justru Habakuk penuh belas kasihan. Ketika Habakuk melihat bahwa Tuhan akan menjatuhkan murka, dia sempat mensisipkan satu kalimat, "Tuhan dalam murkaMu ingatlah akan kasih sayang!" Kini Perubahan Habakuk terjadi karena perubahan cara melihat dan mengerti realita, ini yang membuat Habakuk memiliki jiwa besar dan menjadikan kita tidak hidup dalam ketegangan dan stress. Ini keuntungan yang pertama. Sekalipun keadaan bertambah parah namun Habakuk memiliki reaksi yang berbeda sama sekali. Habakuk ketika dikunci oleh berbagai realita yang ada di depan dia hatinya begitu emosi dihadapan Tuhan. Dalam kondisi seperti ini Habakuk sulit sekali melihat apa yang Tuhan lihat. Ketika Habakuk mulai berhenti dan mulai berdiam untuk melihat apa yang Tuhan kerjakan pada saat itulah wawasan dia mulai berubah. Dari sudut pandang Allah inilah Habakuk mulai melihat apa yang Tuhan kerjakan, bagaimana Tuhan akan menegakkan keadilan&bagaimana semua kejahatan ini akan ditindak. Inilah juga yang seharusnya menjadi sasaran yang kita bisa capai dalam perjalanan hidup kita. Jika seseorang sudah sampai kepada komitmen seperti Habakuk maka hidup dia akan melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Manusia sering melihat segala sesuatu berdasarkan standardnya. Sering manusia memuji Tuhan jika merasakan berkat Tuhan dalam hidup Anda. Coba kalau Tuhan memebrkati, banyak orang akan berterima kasih toh sama Tuhan. Kalau mengalami penderitaan, maka tidak sedikit yang mengeluh sama Tuhan. Konsep bisnis, kalau Tuhan berkati, maka banyak orang akan persembahan, mengucap syukur, dan memuji. Kalau Saya menerima, maka saya ‘membalas’ memberi. Kalau Saya ndak dapat apa-apa, ya ndak memberi. Emangnya apaan? Itu mah konsep bisnis. Take and give. Tetapi puji Tuhan atas hukuman Tuhan? Puji Tuhan karena mereka menderita? Atau puji Tuhan karena Saya tidak mengalami pencobaan tersebut? Atau puji Tuhan karena Saya menderita? Mengalami penderitaan, kita malah puji Tuhan? Karena kita selalu memandang pada berkat sebagai tolok ukurnya. Kalau ada berkat puji Tuhan. Kalau ndak ada, ya wis. Jadi kita tidak pernah memandang pada Tuhan yang sebenarnya. Kita memandang berkat dulu baru Tuhan. Maka tidak heran pada waktu badai datang, hidup kita down. Waktu berkat datang, kita serasa melayang. Dalam situasi kehidupan yang tidak nyaman dan tidak kita harapkan seringkali kita merasa sendirian tanpa Allah ataupun rekan yang dapat mengerti dan mendukung kita. Sering kita merasa Allah tidak berperasaan dan hanya bisa diam saja, sampai akhirnya kita menjadi kecewa dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Dalam situasi yang sangat terjepit seperti itu, masihkah kita bisa percaya dan mempercayakan hidup dan pergumulan kita kepada-Nya? Bnk. AYUB Sebagai anak Tuhan yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, seharusnya kita tetap arahkan pandangan kita kepada Tuhan. Waktu berkat datang, tetap melihat Dia, memuji Dia memperbolehkan kita merasakan anugerahNya yang seharusnya tidak layak kita terima. Waktu penderitaan datang, pandangan tetap kepada Tuhan Yesus, memohon kekuatan untuk melewati pencobaan itu. Menyadari bahwa pencobaan tersebut tidak melebihi kekuatan kita, dan masih dalam kendali Allah. Karena itu, pergumulan adalah proses dimana Tuhan mau kita alami untuk menuju ke kedewasaan rohani. Saudara, ketika Habakuk mengambil kesimpulan dalam Hab 3, apakah kemudian dengan demikian dia lolos daripada segala sesuatu? Tidak! Sejak Habakuk berteriak-teriak sampai akhirnya Zedekia jatuh, bukan hanya babel yang mempunyai waktu yang cukup panjang kira-kira 8 sampai 12 tahun. Dalam kondisi seperti ini Habakuk sadar jika dia mengambil komitmen dihadapan Tuhan itu komitmen yang tidak tergantung atau tidak terkondisi. Ini membuktikan bahwa orang Kristen pun tidak akan lolos dari penderitaan. Mengapa kita mengambil komitmen? Bukan karena saya tidak melihat masa depan tetapi justru karena saya sudah mendengar dan mengerti firman, ini yang menjadi dasar saya mengambil komitmen. Mari kita belajar bertumbuh seperti Habakuk. Pergumulan tidak salah. Tidak ada orang Kristen yang bertumbuh tanpa pergumulan. Hanya masalahnya sesudah pergumulan ada kemajuan atau tidak! Saudara mari kita maju. Mari kita belajar di dalam kesulitan, kita justru belajar bukan menjadi orang Kristen yang pasif, pragmatis, marah, menyesali situasi tetapi justru kita bisa maju secara positif. Saudara, seberapa besar kita dapat tetap percaya kalau Tuhan itu berkuasa dan berdaulat untuk menjadi pembela kita di tengah pergumulan, ketidakadilan dan kegagalan yang menimpa kita? Seberapa berani kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya ketika situasi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita sepertinya terjadi di luar kontrol Tuhan? Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana shg mengganggu kenyamanan, bagaimana kita menghadapinya? Pesannya amat kuat dan jelas. Iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku akan bersorak-2, beria-ria di dalam Allah penyelamatku.” Apakah iman yg sedewasa ini menjadi milik kita? Pandanglah kehidupanmu dari sudut pandang Allah Penilaian seperti ini membatasi seseorang untuk mengasihi orang lain. Kalim atas sesuatu yg terjadi yg terlalu dini bisa membuat terluka orang lain. Dan Cara saudara memandang kehidupan kan membentuk kehidupan saudara. Kalau saudara memandang kehidupan adalah sebuah pesta, maka nilai utama saudara dalam hidup adalah bersenang-senang. Jika saudara melihat kehidupan sebagai sebuah balapan, maka saudara akan menghargai keceptan dan mungkin akan seingkali terges-gesa. Jika saudar memmandang kehidupan sebagai sebiuah pertempuran atua permainan, menang akan menjadi sangat penting bagi saudara. Bgimanakah saudara memandang kehidupan? Cara saudara memandang kehidupan akan menentukan tujuan hidup saudara. Hidup ini singkat namun juga kekal. Kehidupan bukan hanya ada sekarang ini. Apabila saudara sepenuhnya memahami bahwa kehidupan ini bukan sekedar yang ada sekarang dan saudara memahami bahwa kehidupan hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan, saudara akan hidup dengan berbeda - maka nilai-nilai hidup saduara akn berubah. Prioritas-prioritas saudara akan ditata ualng. Paulus berkata:” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (Php 3:7) Belajar dari Habakuk, setiap orang percaya seharusnya dapat tetap percaya kepada Tuhan meskipun berada di tengah keadaan yang tidak diharapkan. Mari memiliki Keyakinan yang teguh kepada Allah yang berdaulat di tengah situasi yang tidak memungkinkan. Kiranya ini menjadi kekuatan bagi kita. -------------------------------- Masalahnya, mengapa seseorang sulit untuk mencapai komitmen seperti ini? Manusia masih dikuasai oleh egosentrik yang sangat besar. Psikologi humanis membuat dunia ini justru celaka karena mengajarkan self exsistence : menegakkan aktualisasi diri dan seluruh hak harus dicukupkan baru setelah semuanya itu manusia baru dapat hidup dengan baik. Iklan mengajarkan : kunci kebahagiaan adalah memiliki barang ini, produk terbaru, dapat bonus dll. Hidup berpusat pada diri itu mencelakakan seluruh masyarakat. Mengacu kepada Nats kita harus bercermin bahwa ketika masing-masing mementingkan kepentingannya sendiri, maka itu merupakan realita dosa. Di sini juga kita bisa melihat bahwa Tuhan dapat menggunakan sesuatu yang tidak biasa untuk memperbaiki kita. Walaupun Allah memakai bangsa Kasdim untuk menghukum Israel, bukan berarti Allah mengizinkan kesewenangan yg dibuat Kasdim. Allah menentang kesewenangan, penindasan, ketamakan, keserakahan. Penghukuman itu tampak dalam Nats Khotbah kita siang ini :
Ada beberapa criteria yang akan celaka – dihadapan keadilan Allah. 2:6 Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya -- berapa lama lagi? -- dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. 2:8 Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. 2:9 Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! 2:10 Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. 2:12 Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. Sifat serakah dari manusia tidak pernah ditelorir oleh Allah. orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan.
Mereka yg berlaku diatas disampaikan akan celaka. Pengertian Nats ini sangatlah luas. Seseorang yang mengambil hak orang lain untuk kepentingan dirinya, rumah tangganya, anak-anaknya, apapun alasanya tidak dibenarkan Allah. Sekalipun sudah terdesak, sekalipun semua orang ditempat pekerjaan kita melakukannya, jangan mengambil keuntungan, segala sesuatu yang bukan hak kita. Karena itu bukan jalan berkat yang dari Allah. Ketika karena keperluan ekonomi kita memaklumkan, mensahkan adanya dosa, maka itu artinya kita meragukan pemeliharaan Alah. Seolah tanpa itu kita tidak akan dapat hidup, kita tidak akan dapat apa-apa. Allah mengerti akan kebutuhan kita, dan dia dengan caraNya akan mencukupkan kita, sesuai dengan pemikirannya, bukan pemikiran kita. Kapan itu sesuai dengan waktunya, bukan atas desakan waktu kita. Semua dosa itu adalah penampakan dari keserakahan manusia. Ada semua kalimat bijak Gandhi : seluruh keperluan mahluk hidup dibumi disediakan secara cukup oleh bumi, akan tetapi bias kurang buat 1 orang yang tamak. Sikap tamak ini memiliki banyak efek : buat dirinya sendiri : rasa tidak nyaman dan tidak menikmati hidup, merasa terus kurang, bukannya menjadi berkat menjadi orang lain, justru bahkan berpotensi menjadi kutuk buat orang lain atau orang sekitarnya. buat orang lain : akan terintimidasi, Karena ketamakan manusialah maka alam rusak, tanah yang dulu kualitasnya baik, kini karena ingin hasil tani yg berlimpah puluhan tahun masyarakat mengeploitasi alam dengan memakai zat kimia – pemakaian segala sesuatu memaksa alam berlebihan. Kualitas air tercemar karena ketamakan industri. Kualitas udara dll. Bencana datang. Walaupun orang berdosa bisa sukses, kesuksesan tersebut bersifat sementara. Kita tidak perlu iri bila melihat kesuksesan orang berdosa sebab kesuksesan mereka itu bersifat sementara dan berujung pada hukuman Allah. Mengikuti ilustrasi Tentu saja kita harus ekstra hati-hati, agar tidak dengan gampangnya mengatakan setiap sukses atau keberhasilan kita sebagai berkat Allah, dan sebaliknya setiap kegagalan atau kekalahan kita sebagai tanda murka atau hukuman Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah agar kita memandang seluruh kehidupan kita sehari-hari (kerja, bisnis, rumah tangga, adat, politik dan seks dll) dalam rangka membangun hubungan kita dengan Tuhan Allah. Baik keberhasilan atau kegagalan, baik suka atau duka, harus menuntun kita kepada pertobatan dan hidup baru dalam Allah. Ada janji penyertaan dan pemeliharaan-Nya di tengah pergumulan hidup kita yang sulit, di tengah ketidakpastian, dan ketidakadilan yang menimpa kita. Kita harus saabar. dan jangan putus asa. Mempercayai, menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah seperti bagaimana kita akan duduk di atas kursi tanpa ragu kita langsung mempercayakan seluruh berat tubuh kita kepada kursi itu, begitu pula seharusnya ketika kita mempercayakan hidup kita kepada Allah. Tujuan hidup kita manusia, mempermuliakan Allah. Mempermulikan Allah bukan berarti menjadikan Allah mulia. Allah memang sudah mulia, Ia sudah mulia sejak dari kekekalan dan tidak ada satu pun mahluk ciptaanNya yang dapat menjadikanNya lebih mulia. Yang dimaksud dengan mempermuliakan Allah adalh memancarkan kemuliaan Allh, ketika kita berada di kelas, ketika kita berada di luar kelas. Pekerjaan kita, hidup kita, dan seluruh hidup kita benar-benar memancarkan kemuliaan Allah. Banyak orang yang lebih suka menjadi ”pintar” daripada menjadi ”benar” terutama dalam dunia modern ini, mengapa? Karena jadi pintar (yang lebih berdimensi pikir daripada nurani), bukan saja dinilai lebih unggul, tetapi bisa selalu ”benar”. Menjadi orang benar adalah pilihan mutlak, dalam arti hidup di dalam kebenaran Allah, artinya yang menjadi norma utama bukan lagi menurut ukuran dunia dan masyarakat, tetapi ketaatan kita kepada Tuhan dalam segala perkara.
Ilustrasi penutup : Sebelas orang bergantung pada sebuah tali yang tergantung pada helikopter, sepuluh pria dan satu wanita. Tali itu tidak kuat menahan beban mereka semua, jadi mereka memutuskan harus ada satu orang yang menjatuhkan diri. Jika tidak, mereka semua akan jatuh. Mereka bingung siapa yang harus merelakan diri jatuh, tapi kemudian si wanitamengatakan sesuatu yang menyentuh. Ia berkata bahwa ia merelakan diri jatuh karena sebagai wanita, ia terbiasa memberikan apa pun untuksuami dan anak, dan untuk pria secara umum, tanpa mengharap balasan. Setelah ia selesai berkata itu, semua pria itu bertepuk tangan (Sumber : E-Humor)
Ilustrasi diatas menggambarkan bahwa kesombongan (Gender, Jabatan, Gelar, Ekonomi) dapat mencelakakan manusia itu sendiri. Semua itu adalah indikator ego manusia yang dominan. Karena itu dibutuhkan pengendalian diri. Amin.

Tuesday, July 29, 2008

Refleksi

Hidup orang beriman bukanlah peminta-minta melainkan pemberi.
Nats : 1 Raja-raja 17 : 7-16
Pdt. Happy Pakpahan
Pengantar – Konteks Nats Elia adalah seorang nabi luar biasa yang dibangkitkan Allah ketika masa penyembahan berhala sedang mengancam kelangsungan penyembahan kepada Allah, yang telah menjadikan Israel sebagai Bangsa Pilihan. Pada waktu itu, Raja Ahab menjadi semakin kafir dan jahat dengan mengambil Izebel, putri raja Sidon menjadi istrinya. Izebel-lah yang memprogandakan penyembahan Baal dan membunuh nabi-nabi Tuhan.
Di tengah-tengah kegelapan rohani dan moral Israel pada waktu itu, Elia muncul dipanggil sebagai nabi Allah. Ketika seluruh bangsa sepertinya sudah beralih pada penyembahan berhala (dimana para tua-tua bangsa telah menjadi kaki tangan raja – 1Raj. 21:8-14; sedangkan umat yang setia menjadi orang percaya yang tersembunyi, seperti Obaja; para nabi telah dibunuh oleh Izebel dan yang selamat kini berada di dalam persembunyian – 1Raj. 18:4), Elia dengan gagah berani berdiri mengkonfrontasi penguasa yang jahat, dan menyerukan bangsa ini untuk kembali kepada Allah. Firman dan Mujizat yang menyertai Elia, hamba-Allah ini sangat dibutuhkan pada zamannya untuk menyatakan kuasa Allah yang hidup di hadapan berhala kesia-siaan buatan manusia. Melalui doanya, langit tidak menurunkan hujan selama tiga setengah tahun; ia menghidupkan anak janda Sarfat; ia menurunkan api dari langit di gunung Karmel; ia menurunkan api dari langit untuk menghanguskan pasukan utusan Ahazia; ia terangkat ke sorga di dalam angin badai dengan kereta berkuda yang berapi.
Begitu luar biasa signifikansi pelayanan Elia, sehingga perintis yang akan mempersiapkan jalan bagi Kristus dikatakan akan datang dalam roh dan kuasa Elia (Luk. 1:17). Walaupun tidak ada bukti pertobatan yang sepenuhnya dari bangsa ini, tetapi pelayanan Elia yang ia tunjukkan pada masa hidupnya merupakan suatu kesaksian kepada setiap generasi mengenai kebenaran penyembahan kepada Allah. Jika orang Israel pada masa itu gagal untuk merespons dengan benar, tentu kita akan memilih untuk merespon yang benar. Allah yang dilayani oleh Elia adalah satu-satunya Allah sejati, yang hidup, yang berkuasa dulu kini dan akan datang; karena itulah, hanya pada Dia saja kita menyembah dan melayani dengan penuh semangat dan keberanian seperti yang diteladankan oleh Elia.
Pembahasan Nats & Relevansi 1. Ketaatan seseorang yang dipercaya dan dipakai TUHAN dalam melaksanakan Amanah TUHAN harus dilaksanakan secara loyal dan total. Inilah yang dicerminkan Elia ketika TUHAN berfirman di Ayat 7-9 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia : "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.". Elia memiliki integritas melaksanakannya, karena ia berkomitmen melaksanakan “Visi” TUHAN. Ada hal menarik lain yang bisa kita lihat yaitu Perintah TUHAN kepada Elia untuk pergi dimasa kemarau itu disertai janji TUHAN dalam ayat 9. Ini menunjukkan pemeliharaan TUHAN didalam amanahNya. TUHAN tidak membiarkan seorang HambaNya terkendala karena kebutuhan jasmani seperti apa yang harus dimakan dan minum. TUHAN dengan caraNya akan mencukupkan kebutuhan hambaNya, sehingga hambaNya harus memiliki iman yang kuat dan tidak khawatir dalam pelaksanaan pelayanannya. Ini bisa kita relevansikan bahwa pemanggilan TUHAN berlangsung dulu, kini dan masa datang. TUHAN yang memberi amanah kepada Elia dan memerintahkan seorang Janda di Zarfat untuk memberi makan Elia adalah TUHAN yang sama, yang berbicara dan memerintahkan kita untuk melaksanakan Amanah Agung (Kis. 1 : 8) di zaman Milenium-Globalisasi saat ini, yang memberikan perintah mengasihi Allah dan sesama serta menjadikan kita Imamat Rajani (1 Petrus 2 : 9). Ingatlah panggilan pelayanan ini harus kita laksanakan secara loyal dan bertanggungjawab. Tanggung jawab pelaksanaan ini berlaku kepada setiap orang Percaya dan dimana dia berada, lintas pekerjaan, lintas tempat dan lintas usia. Jangan sampai kekhawatiran akan hal-hal kebutuhan jasmani menghalangi kita melaksanakan Visi TUHAN. Ingat juga bahwa TUHAN adalah Maha Pemelihara dan Penyerta, melalui orang-orang yang diberkatinya (seperti Janda di Zarfat), maka Ia akan memelihara kita.
2. Memberi ditengah keterbatasan. Nas ini mengajarkan bagaimana pergumulan dahsyat yang dialami oleh seorang janda. Diterangkan diawal Nats bahwa saat itu sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. Dan ketika berjumpa dengan nabi Elia, perempuan tersebut sedang mengumpulkan kayu bakar. Dia hanya memiliki tepung segenggam dan sedikit minyak. Tepung tersebut akan diolahnya untuk menjadi roti untuk konsumsi dia dan anaknya. Setelah itu tidak ada makanan lagi. Artinya kondisinya dalam keadaan tidak berkelebihan, cukup-cukupan (dalam kondisi ekonomi : sangat memprihatinkan/krisis ). Dalam kondisi sedemikian, janda tersebut tidak meminta-minta ke sana-kemari. Ia tidak menolak untuk memberi ketika Elia meminta, justru ia memberikan dengan segala apa yang dimilikinya untuk berbagi. Dia juga tidak meminta nabi Elia untuk menolongnya.
Perintah TUHAN kepada Elia untuk meminta makanan dari Janda Zarfat ini jangan dilihat sebagai perintah TUHAN “untuk meminta-minta” sebagai jalan hambaNya memenuhi kebutuhan hidup. Hiudp pelayan bukan hidup yang mengemis. Memang Elia meminta dibuatkan roti. Namun Elia yang disertai Tuhan melipatgandakan tepung dan minyak yang dimiliki oleh janda tersebut. Oleh pertolongan Tuhan, janda dan anaknya tidak mati kelaparan. Jadi kesimpulannya : Elia bukanlah diperintahkan menjadi peminta-minta (yang tega meminta dari janda yang kondisinya sangat terbatas), namun Elia ingin dipakai Allah menguji iman janda tersebut untuk sebuah hal luar biasa. Oleh kuasa Tuhan terjadi mukjizat. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita sejauh mana keberimanan kita ditengah keterbatasan. Jangan sampai “keterbatasan” menghalangi kita untuk memberi dan dipakai dalam rencana Allah yang lebih besar. Agar semua kebutuhan kita serahkan kepada Tuhan. Tuhan pasti mencukupkan segala kebutuhan kita. Orang Kristen adalah orang yang hidup oleh iman bahwa Allah adalah pemelihara, orang Kristen tidak hidup dalam kekhawatiran sehingga akhirnya terhalang untuk peduli kepada orang lain, terhalang memberi, terhalang untuk berbagi. Orang Kristen memiliki mentalitas memberi, bukan peminta-minta. Setiap hamba Tuhan atau orang percaya jangan berorintasi mental peminta-minta, yang menjadikan “rupiah” menjadi syarat dan orientasi pelayanan. Justru setiap hamba Tuhan dan orang Percaya, harus menjadi saluran berkat bagi orang lain. 2. Yang Kecil Yang Menjadi Alat Saluran Berkat. Perempuan Zarfat itu menyandarkan pengertiannya kepada TUHAN, sehingga melakukan apa yang di beritakan Elia. Perempuan itu jujur akan keadaanya, ia tidak pesimis, ia tidak hitung-hitungan, ia memberi dengan segala potensi dan apa yang dimilikinya, ia tidak ragu melakukan yang dikehendaki Elia. Ia menghormati Elia, dan percaya TUHAN bekerja melalui Elia. Dan ketika ada ketaatan dengan iman penuh untuk melakukan FirmanNya, maka pada saat itulah muzizat terjadi. Dikatakan diayat 15-16 : “ …maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia Janda di Sarfat dalam nats ini melihat dan menikmati berkat Tuhan dalam hidupnya. Semua dimulai dari ketaatannya kepada perkataan Elia “… buatlah TERLEBIH DAHULU bagiku sepotong roti bundar KECIL dan BAWALAH KEPADAKU,…”. Mendahulukan Tuhan lewat hal-hal yang kecil akan melatih kita untuk lebih setia melalukan hal besar. Bagaimana dengan pelayanan yang selama ini Tuhan percayakan kepada saudara? Kesetiaan pada hal-hal yang kecil dalam pekerjaan Tuhan, akan menjadi jalan berkat bagi saudara. Allah tidak meminta yang besar, Dia akan mulai dari ketaatan kita pada hal-hal yang kecil. Perkara yang besar tidak akan dipercayakan kepada kita, sampai Dia melihat bahwa kita telah setia pada hal-hal yang kecil. Mari belajar untuk mendahulukan Tuhan sekalipun itu hanya lewat “sepotong roti bundar yang kecil” . Dan kita akan melihat betapa Allah memperhitungkan “yang kecil” yang kita kerjakan “terlebih dahulu” bagi Dia. (Matius 14:13-21). Bandingkan juga ketika TUHAN Yesus memakai lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang. Ketika Yesus menyuruh para murid memberi orang banyak itu makan, mereka berkata “Yang ada pada kami di sini HANYA lima roti dan dua ikan” Tetapi apa kata Yesus? “BAWALAH KEMARI KEPADAKU”. Terkadang kita pun demikian, merasa sangat kecil dan tidak memiliki apa-apa untuk dapat menolong orang lain padahal dunia saat ini sangat membutuhkan kita. Yesus berkata "apa yang ada pada kamu, bawalah kemari kepada-Ku" Jangan takut jika engkau hanya memiliki “lima roti dan dua ikan” (sangat terbatas dalam segala hal). Jangan takut memberikan potensi diri ditengah keterbatasan dan keadaanmu. Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkannya kepada Tuhan, dan ditangan-Nyalah semua akan diubahkan dan dilipatgandakan untuk menjadi berkat bagi dunia ini. Amin !
3. Janda di zarfat dipakai Allah dalam rencanaNya.
Penghunjukan TUHAN memerintahkan seorang janda untuk memberi Elia makan menunjukkan bahwa siapa saja bisa dipakai TUHAN untuk ambil bagian dalam sebuah tugas Pelayanan. Yang terpenting adalah hati yang tunduk kepada TUHAN. Jadi, yang “Kecil” dapat dipakai TUHAN menyatakan Kuasa Allah (I Samuel 17:40-58). Bandingkan juga ketika Daud mengalahkan Goliat hanya dengan “sebuah batu kecil” Mengapa bisa terjadi? Karena Daud mengenal betul siapa Allah yang dia percaya. Daud berkata “… tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam…” Dan akhirnya ALLAH YANG BESAR memakai “BATU KECIL + DAUD KECIL” untuk mengalahkan musuh!. Luar biasa bukan ? Musuh sebesar apa yang sedang saudara hadapi saat ini, musuh ekonomi, musuh pembatasan kebebasan beragama, musuh “dalam pekerjaan dan karir”, musuh kesehatan, musuh dendam didalam hati, musuh kekafiran, ingatlah didalam TUHAN, kita akan dimampukan menghadapinya. Bukankah yang kecil bagi dunia ini akan dipakai oleh Tuhan untuk mengalahkan yang hebat? Jangan mengatakan engkau kecil dan menjadi takut dengan pergumulan besar, karena bersama dengan engkau yang kecil ada ALLAH YANG BESAR! Jangan mengabaikan hal-hal kecil yang Tuhan berikan kepadamu dan jangan menolak perkara kecil yang Tuhan mau engkau kerjakan. Karena semua itu adalah awal dari perkara besar yang akan Tuhan nyatakan dalam hidupmu. Sekali lagi saya beritakan : yang paling sering diabaikan dan tidak mendapat perhatian dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang kita anggap “kecil dan tidak berarti” Namun demikian, Allah kita adalah Allah yang besar yang dapat menyatakan kuasa-Nya melalui hal-hal yang kecil itu.
4. Secara ekonomi manusia, bisa dikatakan tidak mungkin janda yang hanya mempunyai tepung dan minyak sedikit dapat menampung Elia di dalam rumahnya. Tetapi hal yang luar biasa, Tuhan tidak suruh Elia datang kepada orang yang mampu dan kaya raya untuk memelihara Elia, tetapi kepada janda yang hanya mempunyai tepung dan minyak sedikit. Tetapi oleh TUHAN, tepung dan minyak sedikit itu tidak pernah habis. Allah mau menyatakan kemuliaanNya / kuasaNya agar nama Tuhan dipermuliakan. Kita rindu dalam kehidupan kita ada berkat-berkat yang dari Tuhan / kita berlimpah dalam segala hal. Bagaimana kita orang percaya harus hidup diakhir zaman ini, dan kita diperhadapkan dengan hal sulit dan rumit, yang secara manusia kita tidak mampu lakukan. Kita sering berpikir karena dunia ini kacau balau / tidak menentu tidak mungkin kita diberkati oleh Tuhan. Janda yang tidak punya apa-apa rindu memberi / mempersembahkan yang ia miliki. Ia membuka tangan bagi pelayan Tuhan dan kelangsungan pekerjaan Tuhan, ia mengutamakan Elia yang adalah hamba Tuhan dan tidak mementingkan diri sendiri. Sehingga ia melihat mujizat dan kemuliaan Allah. Ada banyak indikator mental peminta-minta pada diri seseorang. Korupsi salah satunya, pola hidup meminta dengan cara "diluar jalur" untuk memenuhi hasrat kerakusan. Kemudian pola hidup gila hormat dan selalau ingin dilayani, dikasihani, diberi bantuan, dll, adalah indikator pola peminta-minta, dan ironisnya manusia lintas tingkat ekonomi (termasuk orang yang telah mapan bahkan orang kekurangan sekalipun) adalah Pelaku Peminta-minta. Nats mengingatkan, kita harus mempersembahkan persembahan yang benar kepada Tuhan. Persembahan disini dimaksud bukan hanya diukur dari material, tetapi perhatian, pemikiran, tenaga untuk melayani orang yang membutuhkan, menjadi garam dan terang, menjadi duta-duta kasih. Dan ini sangat relevan ditengah krisis multi dimensi di Ripublik ini.
Untuk itu, mari kita persembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus. Karena cuma karena kemurahan dan kasih karunia Allah kita ada, bergerak, bernapas dan berkumpul saat ini. Tuhan mau kita terlibat dalam pelayanan Tuhan dan tidak kita pergunakan hal-hal diluar kehendak Tuhan. Dan kehidupan kita kita fokuskan kepada pekerjaan Tuhan. Waktu yang Tuhan berikan kepada kita jangan kita pergunakan menurut keinginan manusia tetapi menurut kehendak Allah karena cuma karena kemurahan Allah kita ada sekarang. Tuhan mau kita melaksanakan amanat agungNya, melayani Dia, menjadi saksiNya, memberitakan kasih karuniaNya yang ada didalam kehidupan kita. Kita memang harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan materi jika kita rindu melayani Tuhan. Firman Tuhan dalam Amsal 3 : 9 berkata : Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,” Jadi bukan hanya tubuh yang kita persembahkan tetapi juga semua apa yang ada pada kita termasuk harta kita, harus selalu kita pakai untuk kemuliaan nama Tuhan. Karena kita sudah dibayar dengan lunas. Jangan kita pakai tubuh dan harta kita untuk hal yang tidak bermanfaat tetapi untuk hal yang berguna. Filipi 1 : 27 : Hidup sesuai dengan firman Allah : Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,
Penutup Belajar dari Janda di Zarfat, jangan kita ragu dan bimbang untuk mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Tetapi kita harus membantu untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Dan kita berikan yang terbaik untuk pekerjaan Tuhan. Efesus 5 : 20 menyampaikan : Mengucap syukur dalam segala hal. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. Dalam segala aspek kehidupan kita dan dalam mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan pasti ada suka dukanya. Tetapi dalam segala hal kita harus senantiasa mengucap syukur. Di masa sulit ini kita ditantang untuk melayani pekerjaan Tuhan, dan harus kita lakukan bukan dengan bersungut-sungut / berbantah-bantah, tetapi dengan ucapan syukur, karena akan memuliakan Allah. Baik dalam keadaan susah, harus tetap ada ucapan syukur dan kemauan untuk dipakai Tuhan melayaniNya. Persoalan / masalah / pergumulan apapun yang kita hadapi, jangan kita kuatir, tetapi kita tetap datang kepada Tuhan, mempersembahkan persembahan yang benar dihadapan Tuhan, tetap hidup sesuai dengan firman Allah, dan ada ucapan syukur. Maka akan ada mujizat yang akan Tuhan nyatakan dalam kehidupan kita. Seperti kalimat sebuah syair lagu : “Mujizat terjadi sekarang ini”, ya mujijat bukan sebuah “kisah lampau” tetapi Allah yang hidup tetap berkuasa dengan caraNya memberikan mujizat dalam setiap kehidupan manusia. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (hp,-)

Sunday, June 08, 2008

Hidup Baru VS Hidup Lama

Nats : Kolose 3:5-11Melanthon Siregar, 8 juni 2008
Telah di Khotbahkan pada 8 Juni 2008, di HKI Melanthon Siregar, P. Siantar Pdt. Happy Pakpahan
Mengawali : Ilustrasi 78/hp.doc
Prasangka sering membuat manusia tidak tenang hidupnya. Prasangka sering membuat manusia tidak bisa mengendalikan diri. Prasangka sering membuat akhirnya manusia tidak mengampuni. Prasangka dan saling menyalahkan membuat persekutuan antar manusia, antar keluarga, kakak-adik, antar pegawai di kantor, antar jemaat, antar jemaat dan parhalado hubungannya rusak. Dan prasangka adalah bagian dari ego – hawa nafsu – keserakahan manusia yang terkai dengan penilaian terhadap segala sesuatu berorientasi pada penilaiannya sendiri tanpa melihat fakta yg sebenarnya. Hal-hal ini adalah bagian karakter yang disoroti Paulus terhadap Jemaat di Kolose dalam seperti tertulis dalam Nats. Dikatakan : di ayat 5) : Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6). semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Paulus melihat bahwa banyak kebiasaan dan karakter yang salah dalam kehidupan jemaat dan disekitar Jemaat. percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. Percabulan harus dilihat dari segi fisik dan niat atau pikiran, Kenajisan juga bersifat luas, kenajisan dengan memakai obat terlarang, menajiskan diri dengan minuman keras, kebiasaan hidup tidak sehat, dll Hawa nafsu bersifat luas : hawa nafsu ekonomi, hawa nafsu sexual, hawa nafsu jabatan, dll. Nafsu jahat terhadap orang lain, membenci, cemburu, prasangka, dll Semuanya itu sama dosanya dengan penyembahan berhala. Karena ketika percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, menguasai diri kita, menjadi motivasi utama dari setiap aktifitas kita, artinya juga kita memberhalakan diri kita-ego-kepentingan kita diatas segalanya, sekaligus mengkesampingkan Tuhan, mengkesampingkan firmanNya untuk mengasihi dan peduli terhadap sesama, mengampuni, dan hidup dalam kebenaran dan keadilan yg berorientasi kepada kebenaran TUHAN bukan kebenaran versi kita yang sering salah. Disini artinya kita memberhalakan diri kita. Dan ketika satu orang mempertahankan penilaian – adil dan benar menurut versinya maka akan berpotensi menimbulkan pertentangan dengan kebenaran – keadilan versi orang lain juga. Ini berarti kebenaran versi Allah bukan menjadi patokan. Maka akan ada kemarahan, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu dan saling mendustai Seperti yg tertulis dalam ayat 8-9. Jemaat terkasih, jika ini semua masih terjadi, maka ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan-atau kita sendiri, masih hidup dalam kehidupan dosa atau manusia lama menurut Firman Tuhan. Keselamatan yg diberikan Tuhan Yesus melalui penebusan dosa di kayu salib tidak melekat lagi terhadap orang itu. Ia kembali kepada tawanan dosa dan ini artinya kehidupannya menuju maut sebagai upah dosa. Dan uniknya, ketika persoalan terjadi, kita "berprasangka" kepada TUHAN bahwa TUHAN telah mencobai kita. Dengan fasih kita berkata "Tuhan mengapa engkau tega mencobai kami begini". Ingatlah sering sekali masalah yang ada di diri kita, keluarga kita, sakit penyakit dalam tubuh kita, sakit penyakit dalam pikiran kita, kondisi kesutitan ekonomi, keadaan keluarga yang pecah, dan persoalan lain dalam keseharian kita adalah akibat dari kesalahan masa lalu, bukan TUHAN yang mencobai. Kebiasaan pikiran yang penuh prasangka, Kebiasaan marah, fitnah, kata-kata kotor yang keluar dari mulut kita, menimbulkan sakit pikiran, dan rusaknya pertalian atau hubungan persaudaraan, persahabatan, hubungan antar keluarga karena ada luka lama. Kenajisan melalui minuman keras, kebiasaan makan tidak sehat : menimbulkan banyak penyakit. Pola hidup yang tidak teratur membuat banyak penyakit. Perbuatan orang tua yang penuh amarah, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, kemudian telah menjadi teladan juga bagi anak-anaknya sehingga mereka ikut melakukan hal serupa berakibat banyak keluarga yang hancur, semua tidak terkendali. Dampak kebiasaan buruk dalam hidup kita: hidup menjadi tidak produktif, termasuk kehidupan rohani kita, banyak kesempatan untuk maju menjadi tersia-sia. Beberapa gangguan jiwa diakibatkan oleh kebiasaan yang mendarah daging disertai dengan konflik emosional yang berat. JADI BUKAN ALLAH YANG MENCOBAI.
Untuk itulah, Jika kita mengaku sebagai orang percaya kepada Yesus, Nats mengajak kita sudah saatnya kembali kita meriksa diri sendiri apakah karakter kita manusia lama (5 & 8) atau manusia baru (12). Paulus berkata : Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
Nats mengajak kita untuk menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.
Kehidupan kita harus sesuai dengan buah roh : Galatia 5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 5:23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. 5:24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, 5:26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. Lantas ke segi praktis, bagaimana suatu kebiasaan buruk terbentuk?
Hampir sama seperti kebiasaan baik, kebiasaan buruk kita terbentuk oleh pengalaman, melalui contoh dari orang lain, lewat dukungan orang lain. Sering kali mulanya kebiasaan buruk berawal dari suatu tindakan yang iseng atau tidak sengaja. Ketika tindakan itu menyebabkan memperoleh kenikmatan tertentu, tindakan itu akhirnya cenderung diulang. Pengulangan ini akan menciptakan keinginan demi keinginan untuk melakukannya lagi, sehingga terbentuklah kebiasaan.
Mengapa kita sulit menghilangkan kebiasaan buruk? Kebiasaan buruk sering kali telah tertanam sejak lama di dalam diri kita, sehingga untuk melatih kembali butuh waktu yang jauh lebih lama. Ada tarik-menarik yang terjadi antara kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik. Kebiasaan buruk sering berasosiasi dengan hal-hal yang menyenangkan dan menggairahkan, sehingga cenderung berulang, dan ini sesuai dengan natur kita selaku orang berdosa. Ketika suatu kali kita tergoda kembali untuk melakukan suatu kebiasaan lama, kita sering menghibur diri dengan mengatakan bahwa ini adalah yang terakhir, tetapi sering kali yang terakhir ini justru menjadi awal dari kejatuhan kita yang berikutnya. Kiat-kiat untuk menghilangkan kebiasaan buruk yaitu: a. Pikirkan dampak buruknya lebih sering daripada kenikmatan sesaat dari kebiasaan kita b. Ketika suatu kebiasaan buruk berulang, cepatlah berbalik kembali dengan mengakuinya c. Mohon bantuan Roh Kudus lewat doa, dan lewat perenungan firman Tuhan. d. Alihkan kebiasaan buruk kita ke kebiasaan yang lebih baik. Contoh: Minum dan makan berlebihan yg tidak sehat gantikan ke konsep penghematan, makan tidak sehat digantikan dengan makan yang mementingkan keseimbangan gizi dst. e. Minta bantuan teman baik untuk mengingatkan kita.
Jemaat terkasih, pada ayat terakhir Nats berkata : 3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Manusia sering mengkotak-kotakkan dirinya. Pergaulan yang didasarkan kepada apa yang dimiliki, manusia membuat kelas. Sehingga sering terpecah. Wah kemarin dia tidak memilih si A seperti yang kita pilih, jangn diperdulikan. Wah kemarin dia tidak satu horong dengan kita – maka jangan pedulikan dia waktu sakit. Dia bukan anggota STM kita, tak perlu kita hadir waktu dia kemalangan, Ini juga bagian kesombongan manusia yang juga harus ditanggalkan. Semua sama dihadapan Allah. Jangan karena apa yang kamu miliki yang banyak itu seoalah kita merasa tidak layak berteman, bersosial dengan si B yang berbeda kepemilikan, kelas, pendapatan ekonomi dengan kita. Pembaharuan dari Kristus bersifat terus menerus seumur hidup. Sehingga tubuh Kristus yakni gereja tidak lagi dibatasi oleh, suku, bahasa, budaya, warna kulit, gender, status sosial, pendidikan, dstnya. Rasul Paulus bukanlah pendiri gereja di Kolose. Ia juga tidak pernah mengunjungi gereja tersebut. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa jemaat Kolose tidak mengenal Rasul Paulus, dan paulus kemudian tidak mau tahu kepada jemaat Kolose. Iman membuat kita peduli terhadap orang lain. Iman membuat kita mau mengenal satu sama lain. Iman membuat kita mau membantu orang lain keluar dari persoalannya. Rasul Paulus telah mendengar tentang kondisi gereja Kolose dari Epafras. gereja Kolose menghadapi ajaran yang tidak sehat bagi iman Kristen. Sekalipun kemungkinan persoalan itu belum meluas, Rasul Paulus merasa perlu menperingatkan mereka sejak dini. Paulus berpendapat Orang Kristen harus berhati-hati terhadap ajaran yang tidak sehat, yang sebenarnya bukan injil. Bila kita tidak mengenal dengan baik apa dan siapa yang kita percayai, iman kita cenderung goyang dan kita mudah sekali menerima ajaran yg kelihatannya benar, tetapi intinya keliru atau tidak sesuai dengan firman Tuhan. Apa sebabnya mereka harus menanggalkan semuanya itu? Karena mereka sudah dibaptis dalam Kristus. Melalui baptisan mereka telah mati dalam semua tabiat lama mereka. Dan kini mereka yang telah dibaptis juga menerima kemenangan bersama Kristus dalam kebangkitan-Nya. Yesus yang bangkit menghargai manusia sebagai individu yang bernama. Masing-masing dengan kualitas diri dan bakatnya. Jadi iman mempersatukan kita, mempersatukan secara konkret dan terarah demi kemuliaan Tuhan Yesus semata.

Monday, May 26, 2008

Panggilan Membawa Kepada Kehidupan

Nats : Nats: Mat. 4: 18-22
Telah di Khotbahkan di HKI Medan Kota, tgl 25 Mei 2008
Pengantar : Ilustrasi 59/hp.doc
Padahal, satu-satunya pesan tugas yang diberikan Tuhan Yesus kepada manusia ketika ia akan naik kesurga adalh amanah agung melalui perkatan, doa dan perbuatan. Bukan mengumpul pundi-2 karena itu semua sementara, Inilah yang menjadi pembahasan Nats, yang mengingatkan kita bahwa Allah memanggil semua orang yg telah diselamatkanNya, anda, saya dan kita semua untuk menjadi “penjala manusia”. Kristus adalah Raja merupakan tema utama dari Injil Matius. Tuhan Yesus, Raja di atas segala raja itu memanggil para murid tidak menggunakan standar kualifikasi dunia untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan-Nya di muka bumi. Tuhan tidak memakai ahli-ahli Taurat atau orang-orang pandai yang hidup pada jaman itu seperti Gamaliel atau Nikodemus, yang terpelajar. sebaliknya Dia memanggil nelayan untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Apa alasan pemanggilan Nelayan. Ada Penafsir berpendapat bahwa : Seorang nelayan tulen memiliki sifat dan/atau watak sebagai berikut: [1] Dia seorang yang sabar. Terutama sebagai pengail, ia harus bersabar sampai umpan di pancingnya disambar seekor ikan. Dia harus belajar untuk menanti. [2] Dia harus ulet. Dia tidak cepat putus asa dan mau mencoba lagi kalau gagal. [3] Dia harus punya “nyali” (keberanian). Ini terutama diperlukan, ketika angin keras dan topan melanda laut dan/atau danau. Itu berarti dia siap mengambil risiko. [4] Dia memakai umpan yang cocok bagi jenis ikan yang ingin ditangkapnya. Sifat dan/atau watak para nelayan di atas juga diperlukan untuk menjadi “penjala manusia”.
Penafsiran diatas sah-sah saja akan tetapi Tuhan sudah menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan rencana-Nya : HATI yang mau dibentuk ! Nah penghunjukan bagi para Nelayan ini menarik. Orang selalu berpendapat bahwa orang yang melayani adalah orang yang bisa “apa-apa“. Cara Tuhan berbeda. Orang yang merasa diri bisa “apa-apa“ bagi Tuhan justru mereka tidak bisa “apa-apa“. Tuhan tidak memakai orang yang bisa “apa-apa“ seperti Gamaliel atau Nikodemus karena orang-orang demikian sukar untuk dibentuk; konsep dan pola berpikirnya sudah rusak/kaku; mereka merasa diri hebat dan berjasa sehingga tidak perlu diajar lagi. Tuhan melihat potensi yang akan datang dalam diri ke 4 murid yang berlatar belakang nelayan ini. Kualifikasi yang manusia tetapkan berlawanan dengan kualifikasi Tuhan. Tuhan sudah menetapkan kualifikasi yang sesuai dengan rencana-Nya : HATI yang mau dibentuk ! Itulah sebabnya ketika Tuhan Yesus memanggil Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, untuk mengikut Yesus, mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Meninggalkan perahu serta ayahnya, meninggalkan rutinitasnya, meninggalkan profesionalitasnya, lalu mengikuti Dia. Hati yang mau dibentuk, membuat ada penyerahan diri total, mengikut Tuhan tanpa syarat. Ini berbanding terbalik dengan : Kisah di Matius 19:16-22 ;Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Nats mengatakan : Pertimbangkan kualifikasi-kualifikasi orang ini sebagai murid Kristus. 1. Menurut Matius orang muda ini adalah seorang muda yang kaya, secara keuangan dia berkecukupan. Matius mengatakan bahwa "dia memiliki harta yang banyak." Berbeda dengan keempat nelayan dan Matius, orang muda yang kaya ini tidak sibuk dengan pekerjaan lain ketika Tuhan memanggil dia untuk menjadi murid. Kekayaannya memberi dia kecukupan sehingga dia sendiri bisa pergi mencari Yesus, bicara dengan Dia. Jikalau dia jadi mengikuti Yesus, kekayaannya cukup untuk menunjang perjalanannya dalam mengikuti Yesus dan bahkan mungkin cukup untuk menolong orang lain juga. Mungkin jika di hermeneutikkan, jika ada orang demikian datang ke Gereja dan bertanya demikian maka akan banyak gereja yang senang mendapatkan dia.
2. Dia penuh hormat dan berpendidikan. Dia memanggil Yesus sebagai "Guru …" Markus dan Lukas menambahkan bahwa dia menyebut Yesus sebagai "Guru yang baik …" Orang ini adalah orang yang berhasil secara keuangan dan dia memiliki rasa hormat yang tinggi pada Yesus. Pembawaannya memperlihatkan bahwa dia berpendidikan dan membaca banyak tulisan dari para Rabbi pada zamannya.
3. Dia bersungguh-sungguh dalam hal agama. Ketika Yesus memberitahukan padanya bahwa dia harus mememelihara perintah Allah untuk mendapatkan hidup yang kekal, dia dengan cepat menanyakan hukum-hukum mana yang Allah maksudkan. Dia tidak bermaksud menghindar. Dia mengenali bahwa Yesus telah menyentuh bagian yang di mana dia merasa mantap dan dia ingin mengetahui apa yang paling penting. Menarik bahwa Yesus mengutip 5 dari enam Hukum : Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayamu dan ibumu … 19:18-19.Kemudian Dia memberikan hukum ke dua dari dua perintah utama: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 19:19.Orang muda tersebut menjawab tanpa ragu, "Semua ini telah kulakukan …"
4. Lebih dari semua ini, berbeda dengan orang-orang lain, dia yang mengambil inisiatif untuk darang kepada Yesus. Secara sekilas nampaknya tidak ada kelemahan atau kekurangan yang dapat menghalangi orang muda ini dalam menjadi murid Tuhan yang berhasil. Hanya pada waktu dia meninggalkan Tuhan Yesus dengan terdiam barulah kita menyadari bahwa ada sesuatu yang menghalangi orang muda ini dalam mengikuti Yesus. Apakah itu?Jikalau kita memperhatikan dengan lebih teliti, ada tiga kekurangan yang nyata dalam penampilan yang menarik dari orang muda ini.Pertama-tama, dia percaya bahwa dia cukup baik untuk mendapat perkenan dari Tuhan. Pertanyaannya yang mula-mula menunjukan hal ini "Hal baik apakah yang harus kulakukan untuk mendapatkan hidup kekal?" Dia memikirkan tentang perbuatan. Dia membayangkan suatu daftar nilai di mana dia bisa mengumpulkan nilai yang cukup untuk memenangkan hidup kekal.
Di bandingkan dengan orang lain, dia baik, dan dia tidak dapat mengerti mengapa kebaikannya masih tidak cukup.Yesus dengan cepat mengarahkan perhatiannya pada Satu-satunya yang baik dan satu-satunya standar dari segala kebaikan.Kebanyakan orang berpikir bahwa mereka baik karena mereka membandingkan diri mereka dengan hal yang salah. Di sinilah masalahnya. Jika orang muda ini, maupun orang-orang lain, dapat memenangkan keselamatan, dia sudah menjadi sama baiknya dengan Tuhan.
Dalam kebaikan Allah dan kesempurnaan Allah, kesucian Allah adalah standarnya. Itu sebabnya Alkitab mengatakan, "Jika kita mengatakan bahwa ita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita." 1 Yohanes 1:8 "Sebab kasih karunia engkau diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetepi pemberiaan Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri." Efesus 2:8-9. "Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya …" Titus 3:52 Di sini kita menemukan kekuarangan kedua dari orang muda yang kaya ini. Dia tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, akal budi dan jiwanya. Jikalau dia mengasihi Tuhan seperti itu, dia akan taat pada perintah Tuhan untuk meninggalkan kekayaannya; sama seperti Abraham taat pada perintah Tuhan untuk meninggalkan kekayaannya dan tanah kelahirannya dan bahwa kalau perlu, anaknya. Kristus, Allah yang menjadi manusia, minta pada orang muda yang kaya ini suatu pengorbanan yang tidak pernah dimintaNya dari orang-orang lain, untuk menjual semua hartanya dan memberikannya kepada orang-orang miskin, Mengapa? Karena Tuhan melihat bahwa kekayaan orang muda ini dan statusnya lebih penting baginya dibanding hal-hal lain. Apakah dia cukup mencintai Tuhan sehingga rela berkorban? Tidak! Bagaimana dengan jemaat yang hadir disini ?Orang muda ini, sekalipun dia yakin akan kebaikan hatinya, namun dia tidak mencintai sesamanya. Apakah dia benar-benar mencintai orang-orang miskin sama seperti mencintai dirinya sendiri? Kalau betul tentu tidak sulit bagi dia untuk menaati penrintah Tuhan, menjual harta bendanya dan memberikannya pada orang-orang miskin. Dia pasti akan bergembira karena apa yng Tuhan minta dari padanya adalah apa yang dia selalu rindu untuk lakukan. Apakah dia mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri? Tidak! Bagaimana dengan engkau?Jikalau Roh Tuhan berbicara kepadamu bahwa hari ini engkau harus melakukan peneyrahan secara mutlak kepada Yesus sebagai Tuhan dalam kehidupanmu; jikalau Tuhan telah berbicara kepadamu, "Mari, ikutlah Aku," engkau harus menjawab.Mungkin engkau memiliki penghalang terakhir dalam penyerahan tanpa syarat kepada Tuhan. Dalam hatimu mungkin engkau berkata, "Saya tidak cukup baik." Teman, kekuranganmu itu tidak ada hubungannya. Matius, si petugas pajak yang jahat itu juga kurang baik. Tidak ada seorangpun yang dapat menjadi murid Tuhan dengan menjadi orang baik.
Mungkin justru kita merasa sudah melakukan semuanya, kita sudah cukup baik, cukup kudus. Ingat, ketika kita merasa diri hebat maka itu menjadi titik awal kehancuran kita. Itulah sebabnya Tuhan tidak memanggil mereka tetapi memanggil Petrus. Dengan demikian kita dapat memahami siapakah Kristus Yesus sesungguhnya dengan cara pandang Allah bukan dengan kacamata dunia yang hanya melihat seseorang dari tampilan luar belaka.
Mungkin merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan yang lain. Tidak peduli seberapa kecilnya engkau memandang dirimu sendiri karena justru kita yang kecil ini akan menjadi besar ketika ditaruh dalam tangan Sang Tuan. Ingat, kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan, segala sesuatu yang kita banggakan tidaklah ada artinya jika semua itu tidak dipakai untuk kemuliaan nama-Nya. Tuhan hanya ingin hati yang taat dan mau dibentuk untuk menjadi semakin serupa Dia. Karena itu jangan sia-siakan anugerah Tuhan kalau Ia sudah berkenan memanggil dan mau membentuk kita. Jangan keraskan hati ketika Tuhan sedang bekerja karena Tuhan mau menjadikan kita sesuai dengan maksud dan rencana-Nya yang indah.
Atau mungkin ada diantara kita yang menunda untuk benar-benar menjadi murio. Alas an kita tunggu saya sudah mapan, tunggu inventasi saya sebegini, tunggu anak saya begini, tunggu saya punya rumah, tunggu yang lain-lain. Mereka Sadar Tuhan adalh Tuhan dan Juru Selmt, mereka tahu apa yang harus dibuat sebagai wujud hidup benar. Akan tetapi untuk benar-msuk dalam hidup benar mreka mnunda. Masih banyk waktu. Bandingkan ketika raja dunia memanggil atau mengeluarkan perintah maka orang tidak berani tawar menawar. Ironis, manusia lebih takut pada raja dunia yang kelihatan dibandingkan pada Raja pemilik seluruh alam semesta yang bertahta di Sorga.
Tuhan tidak suka pada orang yang selalu tawar menawar ketika mengikut Dia. Orang tidak percaya bahwa segala sesuatu yang Tuhan rencanakan adalah demi untuk kebaikan kita. Berbagai macam filsafat dunia akibatnya orang tidak mau taat dan mulai mempertanyakan untung – rugi mengikut Yesus. Yesus adalah Raja di atas segala raja memanggil, “Ikutlah Aku,...“ namun orang masih berani tawar menawar. Abraham Maslow telah berhasil mempengaruhi dan menjadikan manusia materialis n humanis. Manusia tidak menyadari bahwa kebutuhan akan membuat manusia semakin berambisi n egois.
Bagaimana dengan kita? Apa yang terutama dalam hidupmu tujuan ataukah kebutuhan? Orang yang bijaksana akan mengejar tujuan agung dalam hidup – karena kehidupan yg kekal lebih penting. Ingatlah : Wahyu 3:20 mengatakan: Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.Tuhan Yesus sudah berdiri dan mengetok pintu hati kita. Pertanyaannya adalah apakah kita mendengar dan membukakan pintu? Kita tidak bisa hanya diam di dalam dan berkata “pintu tidak dikunci, masuklah”. Kita harus berinisiatif terlebih dahulu untuk membuka pintunya. Tuhan berkenan membentuk kita dan memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Hari ini justru terbalik orang tidak mau melayani karena merasa diri tidak bisa apa-apa. Panggilan ini bersifat Lintas Pekerjaan. Yang membedakan adalah konsep, cara berpikir kita sekarang berbeda dengan sebelumnya. Dulu segala sesuatu yang kita kerjakan dan kita pikirkan adalah demi untuk keuntungan diri tapi setelah mengenal Kristus, semua yang kita kerjakan demi untuk kemuliaan nama Tuhan. “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“; Come, follow Me and I will make you a fisher of man (Mat. 4:19). “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku-lah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Saudara terkasih, Manusia sudah jatuh dalam dosa dan upah dosa adalah maut maka kalau Tuhan masih berkenan memanggil dan menjadikan kita rekan sekerja itu merupakan anugerah besar. Sangatlah disayangkan, banyak orang yang tidak memahami hal ini dan mereka justru berpendapat bahwa menjadi pengikut Tuhan hanya akan menyusahkan hidup mereka. Tuhan Yesus tidak memanggil untuk suatu keadaan bebas penderitaan, bebas kematian, bebas duka. Akan tetapi memanggil untuk memikul salib, penuh pengorbanan dan tantangan. Atas panggilan ini banyak yang menolak dan menunda. Menggeser dari tujuan manusia menuju pada tujuan Tuhan tidaklah mudah, kita sering jatuh bangun karena perubahan ini menyangkut banyak aspek dalam hidup kita. Ingatlah panggilan itu bukan berarti kita harus meninggalkan profesi. Allah memanggil kita di posisi masing-2 , apakah kita peka terhadap panggilan ini ? Dalam teks Yunani Luk 5:10, kata-kata Yesus "(kau akan) menjala manusia" berbunyi "anthropous (esee) zoogroon" dan sarat dengan pengertian "(kau akan) bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka ke kehidupan". Panggilan juga berarti Gereja perlu terus menerus menawarkan ujud Kerajaan Allah yang menjawab kebutuhan zaman sekarang. Termasuk kepedulian terhadap orang-orang yang terpojok dalam masyarakat? : kemelaratan, kebodohan, ketakadilan, penindasan, perpecahan, tak adanya damai dll.

Monday, May 12, 2008

Parakletos Yang Dijanjikan TUHAN Yesus ada diantara kita.

Roh Kudus Sang Parakletos.
Nats : Bilangan 11 : 24 – 29 Pengantar Pemanggilan Allah kepada seseorang untuk melaksanakan Amanah Allah tidak membuat yang bersangkutan menjadi ”ilahi” dan terlepas sisi kemanusiaannya. Kemanusiaan tetap melekat dalam dirinya. Artinya ia tidak memiliki keterbatasan, bisa berada pada posisi ’menyerah’ dan berkeluh kesah. Hal ini bisa kita lihat dalam risalah hidup Musa. Musa sebagai orang yang dipanggil Allah mulai dari mewartakan 10 tulah, hingga memimpin Israel dari Mesir menuju Kanaan ternyata juga adalah manusia biasa yang bisa hampir berputus asa menghadapi kekerasan hati dan sungut-sungut Bangsa Israel (Mis. Bil 11: 12-15). Akan tetapi keluh kesah Musa bukan berorientasi kepada kepentingannya sendiri melainkan berorientasi kepada tugas kepemimpinan yang diembankan Allah kepadanya. Nah, yang menarik disini adalah keterbukaan Musa kepada Allah. Musa tidak bersandiwara seolah ”sangat kuat” dan sanggup-sanggup saja memimpin Israel, melainkan ia mengungkapkan keluh kesahnya secara terbuka. Ia mengkomunikasikan keluhan dan perasaannya kepada Allah. Dan komunikasi menjadi jalan menguatkan dan memandunya. Inilah yang menjadi garis besar Nats ini. Dimana Allah menunjukkan sikap, merespon keluhan Musa. Allah mengambil inisiatif membantu Musa keluar dari persoalannya. Pembahasan Nats dan Relevansi 1. Atas keluh kesah Musa, TUHAN kemudian mengambil solusi agar Musa mengangkat 70 orang tua-tua dalam membantu kepemimpinan Musa, dengan batasan tugas masing-masing. TUHAN menyadari ada keterbatasan jika hanya seorang diri Musa memimpin bangsa Israel. Perlu pembagian tanggungjawab yang tetap berorientasi kepada kehendak TUHAN. TUHAN kemudian membekali ke 70 tua-tua dimaksud, dengan mengaruniakan RohNya. Lalu atas amanah tersebut, Musa melaksanakan apa yang dikehendaki TUHAN. Diayat 11 diterangkan Setelah Musa datang ke luar, disampaikannya firman TUHAN itu kepada bangsa itu. Ia mengumpulkan tujuh puluh orang dari para tua-tua bangsa itu dan menyuruh mereka berdiri di sekeliling kemah. Musa mensosialisasikan apa yang diterimanya dari TUHAN. Ini merupakan bagian dari Pola kepemimpinan Musa yang bersifat terbuka kepada bangsa yang dipimpinnya. Firman TUHAN bukanlah milik Musa pribadi akan tetapi sebagai satu persekutuan, perlu diketahui oleh bangsa Israel. Sehingga akan membuka kesempatan untuk bekerjasama bersinergi dalam melaksanakan amanah Firman TUHAN. Musa secara TOTAL melaksanakan apa yang dimintakan TUHAN, dan TUHAN pun campur tangan. Lalu terjadilah seperti dipaparkan diayat 25: .... turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. Ke 70 tua-tua Israel menerima Roh Allah. Roh yang menghinggapi mereka adalah roh dari satu TUHAN yaitu Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Lalu ada yang menarik diaparkan pada ayat 26 : Masih ada dua orang tinggal di tempat perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Ketika Roh itu hinggap pada mereka -- mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi tidak turut pergi ke kemah -- maka kepenuhanlah mereka seperti nabi di tempat perkemahan. Walaupun mereka berdua tidak turut pergi ke kemah, akan tetapi Roh Allah tetap turun pada mereka. Pada 27 dikatakan : Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa: "Eldad dan Medad kepenuhan seperti nabi di tempat perkemahan. 11:28 Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: "Tuanku Musa, cegahlah mereka!" Akan tetapi Musa mengantisipasi kebingungan ini dengan berkata diayat 29 Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!" Musa menyadarkan Josua bahwa TUHAN memberikan RohNya kepada setiap orang yang dikehendakiNYa tanpa bisa dicegah oleh manusia. Dan setiap pemberian Roh memiliki Rencana dari Allah. "Kehadiran Roh Allah kepada Eldad dan Medad yang kemudian membingungkan orang banyak, sehingga merasa perlu dilaporkan ke Musa juga menjadi pergumulan kekinian. Seiring dengan kebangunan Rohani belakangan ini, banyak orang yang mengklaim bahwa kehadiran Roh Kudus dalam ibadah mereka dibuktikan dari dimampukannya mereka “berbicara dalam bahasa-bahasa lain”, ini bagian dari kepenuhan, klaim mereka. Ini membingungkan banyak umat Kristen, sama seperti kebingungan orang banyak melihat Eldad dan Medad. Lantas sebenarnya bagimana ciri atau tanda orang yang menerima Roh Allah ? Demikianlah Sedini sejarah awal berkembangnya, gerakan Pentakosta telah menghadapi “kebingungan”. Kemudian penekanan akan kuasa Roh Kudus dalam mendatangkan mujizat & kesembuhan patut diterima dengan syukur. Ini bukan berarti hanya melalui aliran Pentakosta sajalah penyembuhan bisa terjadi. Ini klaim yang picik. Mujizat dan kesembuhan ilahi masih terjadi sampai saat ini juga di kalangan aliran non-Pentakosta. Namun, dibalik itu kita perlu waspada agar penerimaan kebenaran gerakan Pentakosta yang menekankan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan Kristiani janganlah sampai dicampur-adukkan secara sinkretis dengan praktek-praktek perdukunan moderen (New Age / Words of Faith) karena hal itu mendukakan Allah (Bandingkan Musa & Harun vs. Ahli Sihir Mesir dalam Keluaran 7-11, dan Filipus, Petrus & Yohanes vs. Simon si Sihir dalam Kisah 8:4-25. Kedua kasus itu menunjukkan kesamaan mujizat supranatural tetapi memiliki sumber berbeda, yang pertama datangnya dari kuasa Roh Kudus dan yang kedua berasal kekuatan alam/roh-roh lain). Yang terpenting ingatlah bahwa bukti bahwa seseorang itu telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya dapat dilihat dari berbagai hal, antara lain, kerinduannya untuk hidup kudus, memuji dan memuliakan Tuhan, menjadi berkat bagi sesama dan bersaksi bagi Yesus, sebagaimana kita baca dalam penegasan Tuhan Yesus pada Kis.1:8, Galatia 6 : 20-22, dll. Bahasa roh merupakan salah satu kharisma yang diberikan kepada orang-orang tertentu untuk menolong orang lain. Anugerah bahasa Roh pasti akan mendorong orang untuk menyatakan imannya dalam kesatuan dan kerukunan dengan orang beriman lainnya dalam Gereja dan dengan ketaatan penuh pada pimpinan Gereja / hierarki. Kalau tidak demikian, berarti suatu praktek penyimpangan dalam Gereja, atau pun praktek melarikan diri dari realitas kehidupan Gereja / Jemaat. Pemenuhan Roh hendaknya juga suatu bentuk dalam dalam rangka melibatkan diri dalam pembangunan Gereja. Fungsi kehadiran Roh Allah pada ke 70 tua-tua yang dipilih membantu Musa, menjalankan rencana Allah bagi Israel, maka hal ini sangat sesajar dengan penegasan Yesus yang sangat penting, yaitu turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta dikaitkan dengan KUASA UNTUK BERSAKSI. "Dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi" (Kis.1:8). Tugas menjadi saksi tersebut tentu sangat penting. Rasul-rasul diberi hak istimewa untuk menjadi saksi bagi Yesus. Itu berarti mereka dituntut untuk mengatakan apa yang mereka dengar, lihat dan alami tentang Yesus. Tugas menjadi saksi tersebut sangat berat, penuh resiko dan menuntut harga, termasuk ancaman nyawa! Karena itu, kehadiran Roh Kudus dalam diri setiap saksi sangat mutlak, bukan saja untuk meneguhkan dan memberi keberanian kepada saksi, tapi juga supaya orang yang mendengar kesaksian tersebut dapat diyakinkan (Yoh.16:8). Maka orang lebih berkesimpulan seperti ini: karunia berbahasa Roh bukan bukti utama kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang; bukti paling utama adalah buah-buah Roh sebagai kesaksian yang hidup. Sebab dalam diri orang-orang yang mengaku memiliki karunia bahasa Roh tapi tidak menampakkan buah-buah Roh dalam kehidupannya, maka hal ini sebuah kehampaan. Santo Paulus pun bersyukur bahwa ia memperoleh anugerah bahasa Roh, tetapi ia tidak suka menggunakannya karena tidak bermanfaat bagi orang lain. Mengapa? Karena orang lain tidak mengerti. “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:18-19). 2. Musa mengkomunikasikan keluhan dan perasaannya kepada Allah. Komunikasi tersebutlahlah yang menjadi jalan menguatkan dan memandunya. Dimana Allah menunjukkan sikap merespon keluhan Musa. Sejauh ini kita bisa relevansikan bahwa terkadang kita baik sebagai Pendeta, Penetua, Orang Tua, Sintua Sektor dalam mengemban tanggung jawab yang diberikan Allah bisa saja menghadapi tantangan dari orang-orang yang menjadi tanggung jawab pelayanan kita. Anak yang susah diatur ke hal-hal yang baik, lingkungan sektor yang tidak koorporatif dalam pelayanan seperti partangiangan, jemaat yang terlalu banyak menuntut tetapi terlalu pelit bekerjasama, dll. Pertanyaannya apakah keluh kesah ini berawal dari kelalaian kita sendiri atau murni karena kebebalan dari orang yang kita tanggungjawabi. Yang penting, apapun penyebabnya, perlu keterbukaan kepada TUHAN. Keterbukaan kepada TUHAN satu sisi menunjukkan tanggungjawab kita. Para pelayan dan jemaat Gereja HKI harus mengandalkan bimbingan Roh Kudus dalam Pelayanannya. Roh Kudus itulah yang menguatkan-memandu ditengah kelemahan kita. Pelayanan akan lemah, akan berkelahi, akan bersengketa, akan pecah, akan saling fitnah, akan saling menjatuhkan tanpa kehadiran Roh Kudus. 3. Minggu ini adalah Minggu Pentakosta, TurunNya Roh Kudus. Karya Roh Kudus yang utama adalah memulihkan kemampuan umat percaya untuk saling mengasihi, sehingga hubungan dan komunikasi yang terputus dapat terjalin kembali. Bukankah ini juga yang terjadi ketika Turunnya Roh Kudus yang tercatat dalam Kisah para Rasul 7. Orang yang berkata-kata dengan bahasa berbeda bisa saling memahami dan mengerti. Nah kita relevansikan, bagi orang yang telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya maka dalam keluarga atau rumah-tangga umat percaya diharapkan tidak ada lagi yang melakukan kekerasan dalam berbagai bentuk, baik kekerasan secara fisik maupun kekerasan secara emosional. Tetapi kenyataan justru berbicara lain. Keluarga orang-orang Kristen justru sering terlibat dalam kekerasan fisik dan emosi kepada anggota keluarganya. Mereka yang melakukan kekerasan membutuhkan pencurahan Roh sehingga luka-luka batin mereka disembuhkan. Karya Roh Kudus bertujuan untuk mendamaikan diri kita dengan Allah dan sesama kita. Itu sebabnya Roh Kudus yang adalah Penghibur dikaruniakan kepada umat percaya agar mereka mengalami damai-sejahtera Kristus yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Di Yoh. 14:27 Tuhan Yesus berkata: “Damai-sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai-sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. Roh Kudus memberi Pengertian antara yang satu dengan yang lain. Kehidupan kita di antara sesama saat ini sering ditandai oleh kegagalan dalam berkomunikasi dan kesalahpahaman sehingga menimbulkan berbagai konflik dan pertikaian, serta tidak jarang terjadi pertumpahan darah. Walaupun kita seiman, namun tidak jarang kita mengalami kesulitan dan kegagalan untuk memahami “world-view” (pandangan dunia) sesama anggota jemaat kita. Apalagi komunikasi yang kita lakukan dengan orang yang tidak seiman, tidak satu suku/etnis, tidak sama tingkat pendidikan dan tingkat sosialnya akan berada dalam jarak yang lebih lebar dan sulit. Akibatnya hidup kita saat ini sering terkotak-kotak, saling mengucilkan dan mencurigai sesama. Bahkan yang lebih memprihatinkan hubungan di tengah-tengah keluarga juga terkotak-kotak, sehingga hubungan antara suami-isteri sering ditandai oleh kesalahpahaman, pertikaian dan perceraian. Selain itu pada zaman yang modern ini kita masih mengahdapi masalah diskriminasi gender kepada kaum wanita, yang mana kaum wanita masih sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Demikian pula hubungan antara orang-tua dan anak mengalami masalah yang makin kompleks. Pada saat kita gagal dalam komunikasi sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan konflik dengan sesama, sesungguhnya kita juga kehilangan perasaan damai-sejahtera. Sebenarnya pengalaman kehilangan perasaan damai-sejahtera merupakan suatu sinyal rohani yang dikaruniakan oleh Tuhan untuk mengingatkan bahwa hidup kita tidak bahagia karena kita telah gagal dalam memahami dan mengasihi sesama kita.
4. Roh Allah dikatakan dalam Perjanjian Baru dengan Istilah Parakletos (bhs. Yunani), arti harfiahnya ialah yang diseru, dipanggil, dimintai tolong. seperti ketika orang yang sedang ada dalam bahaya berteriak "Tolong! Tolong!". Ungkapan ini sebenarnya kata biasa dalam bahasa Yunani. Siapa saja yang mendengar dan bertindak ialah seorang parakletos. Parakletos juga bisa berarti penghibur yang membesarkan hati. Juga berarti pemberi kekuatan. Apa saja yang dapat menopang orang yang tidak dapat mengatasi keadaan dengan kekuatan sendiri dan oleh karenanya membutuhkan pertolongan secepatnya. Itulah parakletos. Itulah latar pemakaian ungkapan "Penolong" dalam Yoh 15:27. Di situ Yesus mengatakan bahwa yang menanggapi seruan minta tolong tadi itu - Parakletos - diutusnya. Parakletos itu, ditambahkannya, sebagai yang berasal dari Bapa sendiri. Ada dua gagasan baru. Pertama, diutus, artinya dikirim, seperti orang yang diutus menjalankan urusan tertentu. Itulah yang dimaksud Yesus dengan "Penolong yang kuutus". Tugasnya ialah menjawab kebutuhan orang yang minta tolong, apa saja. Dan Penolong "keluar dari Bapa". Artinya, pertolongan yang akan diterima orang yang berseru itu berasal dari Yang Mahakuasa yang berperhatian sebagai Bapa itu sendiri.
Dulu orang Yahudi berseru minta tolong ketika mengalami penderitaan di Mesir. Dan Tuhan mendengar keluhan mereka dan turun untuk menolong mereka dan menuntun mereka ke tanah yang akan diberikanNya kepada mereka (lihat Kel 3:7-10; 6:5-7 Ul 26:5-9). Kekuatan seperti itulah yang dimaksud oleh Yesus sebagai "Penolong yang kuutus dari Bapa". Ia adalah Roh Kebenaran, artinya kekuatan yang benar, yang bukan dari yang bakal membawa ke tujuan lain, melainkan yang terpercaya. Hal ini bisa kita relevansikan ditengah keadaan zaman sekarang ini. Seiring dengan banyaknya persoalan lintas sektoral kehidupan berbangsa, seperti kesulitan ekonomi, pengangguran, bencana alam, bencana akibat kerusakan alam yang dibuat oleh manusia, kebakaran, dll. Dibutuhkan karya dari orang percaya sebagai orang yang telah menerima Roh Kudus untuk menjadi parakletoi (jamak dari parakletos) menolong orang yang kena musibah, dengan macam-macam bantuan. Ingatlah, dipenuhi dengan Roh berarti dikontrol olehNya sebagai sarana Kasih yang lahir dari Iman (Ef 5:18-20). Pergumulan kini adalah apakah Roh itu membuat orang takut, membuat kita berkata-kata yang mubazir, yang tidak dimengerti oleh orang lain maksud dan tujuannya, membuat manusia pingsan dan tertawa-tawa, memukul-mukul diri. Apakah ini merupakan bagian fungsi kehadirannya sebagai penolong, penghibur dan menguatkan? (hp,-)