Showing posts with label Publikasi Via Majalah/Surat Kabar. Show all posts
Showing posts with label Publikasi Via Majalah/Surat Kabar. Show all posts

Friday, June 19, 2009

JANGAN TAKUT !!

REFLEKSI DARI KITAB Yesaya 41 : 14 – 20 Bacaan : Mazmur 107 : 33 - 43 Telah diterbitkan dalam buku Kumpulan Khotbah Sekretariat Bersama United Evangelical Mission 2009.
“JANGAN TAKUT !” PENGANTAR
Ketakutan adalah suatu kondisi emosional dan batiniah manusia yang muncul sebagai reaksi terhadap suatu keadaan dari luar dirinya yang mengancam ketenangan, kemapanan dan kehidupan sendiri. Seseorang menjadi takut bilamana ancaman dari luar itu membahayakan jiwanya sedangkan dirinya sendiri tidak memiliki kemampuan untuk menangkal bahaya itu. Rasa ketakutan berpotensi dimiliki semua manusia termasuk secara kolektif seperti suatu bangsa. Pada konteks nats, Israel, bangsa pilihan Allah mengalami rasa takut yang disebabkan penindasan dan pembuangan yang dialaminya membahayakan kehidupan, baik kehidupan setiap individu maupun kehidupan kolektif sebagai suatu bangsa. Bahaya itu bukan saja berwujud kematian badani setiap orang israel, melainkan juga kematian kolektif Israel sebagai suatu bangsa.
Dalam Kitab Yesaya bagian kedua ini, pembuangan sebagai sumber ketakutan itu dilukiskan sebagai seeokor naga purba/Rahab (bnd. Yes. 51 : 9-10), lambang kuasa chaos yang menakutkan yang akan memangsa dan menelan habis seluruh eksistensi Israel sebagai suatu bangsa. Dihadapan ular raksasa (naga) itu, Israel hanyalah seekor “cacing” dan seekor “ulat” kecil saja (41:14), maka adalah kewajaran jika ada rasa takut. (bnk. 141-142 Teologi Kemerdekaan : Suatu Ontologi Oleh Marthinus Th. Mawene, http://books.google.co.id/books).
PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI 1. JANGANLAH TAKUT Pernahkah kita memperhatikan seekor cacing atau ulat. Baik cacing atau ulat yang menjijikkan atau yang biasa. Binatang itu kecil dan lemah. Tidak berdaya dan lemah. Cacing selalu menggeliat tragis, gelisah dan tidak mempunyai kesanggupan mempertahankan diri dari setiap bahaya yang mengancam. Tanpa ada yang menolong, si cacing akan mati dan kepanasan. Si ulat akan mati terinjak-injak.
Menghadapi “ular naga” penindasan, penjajahan dan pembuangan yang amat mengancam eksistensi Israel sebagai ciptaan dan bangsa pilihan Allah, kepada si cacing dan si ulat kecil ini TUHAN bersabda : Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Mengapa ? Akulah yang menolong engkau(14). Syair ini merupakan Janji Keselamatan/janji pertolongan Allah kepada umatNya yang berkeluh kesah didalam permbuangan utk berbicara kedalam hati Israel. Secara garis besar disampaikan bahwa Allah tidak meninggalkannya, Israel akan menerima pertolongan tanpa berbuat apa-apa. Ayat ini juga meyakinkan Israel bahwa Allah sendiri yang adalah Khalik dan Pemimpin Sejarah yang akan melindungi umatNya dan menyelamatkan dan membebaskan mereka “si ulat dan cacing”, lepas dari kekuasaan “si naga” itu. Ia akan membebaskan mereka keluar dari perbudakan dan kembali mengikat perjanjian dengan mereka. Begitulah kasih setia Allah yang telah nyata dalam sejarah bangsa Israel. Keadilan berkaitan erat dengan cara Allah bertindak didalam dunia untuk menyatakan kedaulatanNya.
Dewasa ini, gambaran ketakutan akibat ancaman “Naga” itu dapat diartikan dalam bentuk ketakutan manusia akan keadaan cengkraman “Naga monopoli ekonomi”, rakyat tidak berdaya atas tekanan ekonomi (harga yang melambung tinggi sedangkan pendapatan yang sangat terbatas), ketakutan terhadap “Naga pengangguran”, “Naga terorisme”, “Naga ormas atau komunitas anarkis yang mengancam hak menjalankan ibadah”, “Naga penyebarluasan Narkoba dan HIV AIDS”, dan pergumulan hidup lainnya yang membuat ketakutan, ancaman, karena ketidaksanggupan kita menghadapi. Kita lantas bisa berefleksi siapakah ulat dan cacing kecil dalam hal ini? Mereka adalah rakyat kecil yang tidak korup, mereka adalah orang yang setiap pada TUHAN hingga tidak ikut-ikutan korup di pemerintahan dan swasta yang akhirnya dikucilkan dan tidak diberi “job”, mereka adalah kaum minoritas yang terjepit oleh kepentingan dan arogansi kaum mayoritas yang merubah diri menjadi moster, mereka adalah warga negara yang karena agamanya dianggap warga negara kelas dua, dan mereka adalah yang oleh karena kebenaran di marginalkan. Semua kondisi ini membelit dan mengancam eksistensi mereka secara pribadi atau kolektif. Mereka menjadi takut sebab ternyata mereka tidak mempunyai kekuatan apa-apa melawan Naga itu. Mereka ibarat seekor cacing atau ulat kecil yang demikian lemah dan ketakutan dihadapan naga yang mengancam mereka. Siapakah yang melindungi dan mendampingi mereka ? Tuhan menjadi harapan dan pemberi janji pasti ditengah banyaknya bualan politik-dan solusi palsu saat ini. Inilah kekuatan kaum hina dina, inilah kekuatan kaum rendah hati dan lemah, inilah kekuatan semua orang kecil dan dianggap kecil, dan lemah, inilah kekuatan kaum yang dimiskinkan dan dikelas duakan. Sabda Tuhan yang disampaikan ribuan tahun lalu berlaku : “Jangan lah takut hai si cacing kaum minoritas, Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat yang termarjinaliasi! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Minoritas. Demikian kita diajak membaca ulang Nats ini dalam konteks kita, hingga nats ini sangat relevan dimana banyak orang dalam cengkraman “naga” dikuatkan dengan sabda Tuhan ini. Jemaat diajak membaca ulang nats ini dalam konteks kehidupan masing-masing. Berbahagialah mereka yang Gunung Batunya adalah Tuhan. Tuhan berjanji akan melepaskan kita dari ketakutan, karena itu yang pertama mari kalahkan rasa takut. Siapa takut ? Diperlukan keyakinan dan kesabaran didalam sejarah akan penggenapan firman Tuhan ini. Tuhan akan tampil sebagai pembebas dari cengkraman teror, krisis ekonomi, dan keanarkisan.
Menjadi orang kecil saja belum menjadi otomatis akan perlindungan Allah ini. Menjadi orang tersisih dalam birokrasi saja belum menjadi analog dalam ideal ini. Menjadi kaum minoritas yang selalu dimusuhi dan di marginalkan saja belum dapat dikatakan “kaum yang rendah hati dan lemah”, yang mendapat perlindungan Tuhan. Ada moralitas dasar yang haruis dijadikan acuan hidup. Dan itu adalah ketaatan kepada Tuhan dan perintahNya, hidup dalam kebenaran dan kesetiaan Tuhan. Kaum yang tetap berpegang pada kebenaran Injil ditengah suatu masyarakat yang sakit dan alami degradasi moral./ Inilah yang menmbuat mereka eksis dan tetap ada dalam kemelut hidup yang berat. Siapakah diantara kita yang dapat berdiri dihadapan Allah yang Maha Kudus ini. Kudus dalam arti kebenaran dan kesetiaan. (bnk. Teologi Kemerdekaan : Suatu Ontologi... Oleh Marthinus Th. Mawene, hlm 144, http://books.google.co.id/books)
2. KEHIDUPAN YANG LUAR BIASA JIKA DIPAKAI OLEH TUHAN
Dengan kuasa Allah, Israel yang diibaratkan sebagai “ulat dan cacing” dapat di pakai Allah untuk melakukan sebuah pekerjaan yang luar biasa. Nats dalam ayat 15-16 berkata bahwa mereka diibaratkan akan dijadikan papan pengirik yang tajam dan baru, dan akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukit pun akan mereka buat seperti sekam, lalu menampi mereka, hingga angin akan menerbangkan dan badai akan menyerakkan gubung-dan bukit sebagai gambaran musuh-2 Israel. Dalam TUHAN Allah, Israel akan akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel. Nats ini memiliki kesejajaran dengan Matius 17 : 20, dimana Tuhan mengajar bahwa kalau aku mempunyai iman biji sesawi, maka gunung-pun akan pindah. Namun, perlu dimengerti, bahwa dengan kuat kuasa, petunjuk, perlindungan dan pertolongan-Nya (dan bukan dengan kuat gagah manusia), umat percaya adalah yang harus mengirik gunung-gunung tersebut. Ini berarti bahwa umat percaya juga harus terlibat dan bekerja dengan rajin dan tekun dalam proses "peleburan" gunung-gunung ini. Jadi bukan seperti sulap. Umat percaya harus tetap semakin giat berdoa dan bekerja untuk menghasilkan perubahan kearah yang lebih baik.
3. KEBERADAAN ALLAH MENGENDALIKAN KEHIDUPAN DAN SEJARAH Ayat 17 menggambarkan keberadaan Israel sebagai Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; Untuk realitas ini Firman Tuhan menjawab bahwa TUHAN akan menjawab kebutuhan mereka, dan Tuhan Allah tidak akan meninggalkan dan membiarkan umatNya. Disampaikan diayat 18-19 : “Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya.” Atas kesengsaraan Israel dan kebutuhan akan air, TUHAN tidak hanya memberikan mata-mata air yang melimpah tetapi juga menyiapkan ekosistem yang lebih kondusif, alam yang asri sehingga kualitas kehidupan Israel semakin terjamin baik. Ia memperhatikan dan pertolongannya tepat waktu dan tepat sasaran.
Dikaitkan dengan Perjanjian Baru, ketika manusia sengsara akibat dosa, kekeringan rohani dan terancam beroleh maut sebagai upah dosa, maka TUHAN Allah mengambil inisiatif membebaskan manusia dari dosa dan bukan hanya itu, melainkan memberikan kehidupan surgawi dan duniawi yang luar biasa bagi umatNya yang setiap pada imannya. Dalam psikologi pembandingan antitetis, orang tak akan sanggup secara optimal membayangkan kebesaran Allah, kecuali ia menyadari kekerdilan dirinya. Tak sanggup menyadari kemuliaan Allah, kecuali ia melihat kehinaan dirinya. Tak sanggup memahami penebusan Kristus, kecuali ia merasakan kepahitan dosanya. Sebenarnya Nats menempatkan dengan dramatis pengakuan akan kerendahannya bagaikan cacing dihadapan Allah yang Maha Besar. Yang telah menebus manusia di kayu salib, di mana Yesus sudi dan rela menyerahkan nyawa bagi makhluk yang amat sangat rendah seperti dirinya. Di hadapan pengurbanan Kristus di kayu salib, yang begitu mengharukan, rasanya tiada celah bagi pendosa untuk mengagungkan diri sendiri. Nats bisa di relevansikan membawa pengosongan diri dari segala arogansi insaninya. Dalam pengosongan diri inilah, tak ada hak kita untuk mengambil kemuliaan dan hormat bagi diri sendiri, seperti yang sering dilakukan orang. Terlalu malu untuk melakukan tindakan tersebut. Penebusan Kristus di kayu salib harus melenyapkan segala kecongkakan diri dan menumbuhkan rasa kerendahan di hadapan Allah, ibarat cacing dan ulat. Cacing adalah makhluk hina, rendah dan tak berharga. Namun melalui pertolongan Allah yang kudus, melalui pergorbanan Yesus Kristus, kita berharga dan menerima jaminan keselamatan dan memiliki hidup yang kekal.
4. TANGAN ALLAH YANG MENGENDALIKAN SEJARAH KEHIDUPAN - PENUTUP
Ayat 20 menunjukkan perbedaan di antara konsep tangan Tuhan dan Tuhan Mahakudus Allah Israel yang menciptakan. Terdapat dua Identitas yang hadir di sini. Penggunaan istilah dan sesungguhnya menggabungkan dua “Nama”. Ia tidak merujuk kepada dua sifat keperibadian bagi dua orang. Teks ini menunjukkan bahawa tidak ada Allah sebelum atau selepas Allah yang Maha Tinggi.
Nats mempunyai makna akan keMaha Kuasaan Allah yang membuat-menciptakan – mengendalikan semuanya. Tangan Allah mengendalikan semua kehidupan dan Yang Maha Kudus lah yang menciptakan semuanya. Bisa saja secara individu diantar jemaat ada yang sedang menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi, misalnya orang yang kita cintai pergi untuk selamanya. Seringkali timbul dalam hati pertanyaan mengapa tangan TUHAN mau melakukan semuanya ini? Sering timbul kepahitan dalam hati kita mempertanyakan keadilanNya. Ini menunjukkan manusia yang tidak terima posisinya sebagai manusia. Dan dalam banyak kasus kita ingin menjadi Tuhan. Kita sering kali tidak terima dengan banyaknya masalah yang sedang kita hadapi. Ketika Tuhan memanggil orang yang kita cintai seringkali protes kepada Tuhan. Kita marah dan kita bertanya mengapa Tuhan mengambilnya sekarang. Ada banyak sekali alasan yang dapat kita sampaikan untuk memprotes keputusan Tuhan tersebut. Kita seringkali juga marah ketika tertimpa musibah bertubi-tubi, baik bencana alam, kehilangan harta benda, kebangkrutan usaha dan lain sebagainya. Kita marah juga ketika mendapati bahwa anak yang kita harapkan lahir dengan sempurna ternyata memiliki cacat bawaan. Kita seringkali melewati masa-masa yang kelam yang penuh dengan kepahitan hati kepada Tuhan dan selalu bertanya-tanya mengapa Tuhan ijinkan semuanya itu terjadi. Dikaitkan ke Nats, Yakub dimata Tuhan ternyata hanyalah cacing saja, dan dia juga dipanggil sebagai ulat Israel. Tuhan yang Maha Kuasa berjanji untuk menolong si cacing Yakub. Jadi Tuhan yang Maha Baik, Maha Kuasa, Maha Kasih , Maha Tahu pastilah tidak lupa untuk menolong kita para cacing dan ulat yang sering ingin mengendalikan Tuhan. Untuk itu, dalam kemaha tahuan Tuhan (termasuk kemahatahuan Tuhan dalam solusi pergumulan hidup pribadi manusia), kita harus yakin bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita, keberhasilan-kegagalan, untung-rugi, berkembang-bangkrutnya usahan, kelahiran-kematian orang yang kita cintai justru harus membawa kita lebih dekat kepada genggaman tangan pengasihan Allah yang Maha Kudus. Kita harus belajar untuk menerima banyak hal yang diluar kuasa kita. Ada otoritas ditangan Allah untuk membentuk kita melalui apa yang terjadi dalam hidup kita. Carilah wajah Tuhan dan nantikanlah suaraNYa yang berkata “ JANGANLAH TAKUT”. Kita tidak bisa mendikte Tuhan dalam segala hal sebab otoritas Tunggal ada dalam tanganNya. Banyak sekali penyesalan dan kepahitan dari hati kita dapat dipulihkan jika kita mau datang ke hadirat genggaman bimbingan tangan Tuhan yang Maha Kudus. Amin.
Disampaikan pada Khotbah di GKPS Jl. Asahan, P. Siantar, Minggu 24 Juni 2009

Tuesday, August 12, 2008

Melawan Ego dan Penindasan dengan Menjadi Saluran Berkat

Nats : Habakuk 2 : 6-14
Disampaikan Pada Ibadah Minggu di HKI Petisah (10/8-08)
Mengawali Khotbah : Ilustrasi 111/hp/doc* * * *
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita. Kita hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan menjadi hakim yg mengklaim atas suatu peristiwa. Kecuali kalau kita sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai?
"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."--------------------------------------- Gambaran seperti ini jugalah yang terjadi pada konteks Kitab Habakuk.
Latar Belakang
Habakuk mengasihi Allah dan membenci dosa. Dia sangat marah hingga sukar baginya untuk memahami apa sebabnya Allah tidak bertindak untuk mencegah kekacauan dalam bidang sosial politik dan ekonomi yang semakin menjadi-jadi di negerinya.
Ketidakadilan dalam masyarakat merajalela, akibatnya kaum berkuasa, bangsawan, pejabat negara menindas kaum lemah dan rakyat jelata yang miskin. Kesedihan akibat kekerasan dan kejahatan yang ia lihat di sekitarnya membuat ia semakin kecewa. Yerusalem diserang Kasdim, perabotan Bait Allah dijarah, dan 10.000 orang Yahudi dibawa selaku tawanan ke Babel. Hal ini membuat Habakuk menjadi bingung mempertanyakan Allah (Hab 1:12-13) Habakuk marah melihat situasi hidup keadaan tanah Yehuda (Hab 1:1-2). Di tengah penantian ini, Habakuk terus berseru dengan tekun kepada Tuhan untuk segera menyatakan keadilannya terhadap situasi yang tengah terjadi. Jemaat terkasih, disini Habakuk begitu emosi, karena menafsirkan realita dengan kaca matanya sendiri. Dalam dialognya dengan Tuhan ia bertanya, “Mengapa Tuhan sering terlihat berbeda dalam menghadapi kejahatan; Mengapa Tuhan tidak menghukum kejahatan?”: ‘Bagaimana mungkin Allah yang Maha Kudus menghukum umat-Nya yang berdosa dengan memakai bangsa Babel yang fasik? Kemudian Seruan Habakuk di ayat 2, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar” : ini semua menunjukkan bahwa seruan dan teriakkan Habakuk ini bukan hanya terjadi satu atau dua kali. Melainkan seruan dan teriakkan ini sudah terjadi bertahun-tahun lamanya - bahkan sampai terjadi perubahan pemimpin pemerintahan - tetapi tidak ada perubahan keadaan yang nyata. Tuhan tampaknya tidak berbuat apa-apa, Tuhan seperti bisu dan tidak peduli pada umatnya dengan berbagai pergumulan mereka. Tapi kenyataan ini membuat Habakuk tidak berhenti untuk berseru kepada-Nya. Terhadap segala jawaban dan Firman Tuhan ini, Habakuk mengambil sikap positif untuk menanti dengan tekun (2:1). Habakuk sabar menanti dan mengamati respon Tuhan Habakuk mengamati dan menunggu sekian lama (Habakuk 2:1-3).
Allah justru menjawab bahwa DIAlah yang membangkitkan bangsa Kasdim yang menindas bangsa Yehuda (Hab 1:5-6).Terungkap kedaulatan Allah menggunakan bangsa kafir untuk menghukum umat-Nya yang jahat, dan memang ketika Israel melakukan banyak dosa kesombongan dan penindasan, maka Allah menghukum mereka melalui bangsa Kasdim dan pembuangan Babel, sehingga apa yang disombongkan Israel sirna seketika. Dan mata iman Habakuk mengajarkan bahwa penghukuman Allah, adalah cara Allah untuk mendidik Israel, untuk kebaikan masa depan israel, untuk mau bertobat dan menyadari bahwa kesombongan hidup tidak boleh dilakukan. Habakuk sadar bahwa Habakuk selama ini telah salah menginterpretasi fakta. Menganggap Allah membiarkan semua yg terjadi karena tega. Itulah sebabnya ketika habakuk melihat segala sesuatu melalui kacamata iman, dia justru mengeluarkan satu kalimat indah yang menjadi kalimat yang sulit dimengerti oleh manusia di dunia. Hab 3:17-19 : Sebab bagaimana mungkin sekalipun pohon ara tidak berbunga, … dan tidak ada lembu sapi dalam kandang namun , "Aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkanku." Disini ada satu perubahan di dalam hidup Habakuk yang mengakibatkan juga perubahan dalam menafsirkan realita. Faktanya tidak berubah, apakah realitanya berubah? Tidak! Apakah penindasan yang sudah terjadi menjadi hilang? Tidak. Tetapi cara pandang habakuk melihat yg terjadi membuat Dia semakin sadar. Saudara, setelah Habakuk mencapai kesimpulan ini Ia tidak pernah marah lagi meskipun keadaan boleh tetap buruk. Jika Alkitab mengatakan Habakuk memulai ps ini dengan doa menurut nada ratapan. Kalau sebelumnya Habakuk marah-marah sekarang justru Habakuk penuh belas kasihan. Ketika Habakuk melihat bahwa Tuhan akan menjatuhkan murka, dia sempat mensisipkan satu kalimat, "Tuhan dalam murkaMu ingatlah akan kasih sayang!" Kini Perubahan Habakuk terjadi karena perubahan cara melihat dan mengerti realita, ini yang membuat Habakuk memiliki jiwa besar dan menjadikan kita tidak hidup dalam ketegangan dan stress. Ini keuntungan yang pertama. Sekalipun keadaan bertambah parah namun Habakuk memiliki reaksi yang berbeda sama sekali. Habakuk ketika dikunci oleh berbagai realita yang ada di depan dia hatinya begitu emosi dihadapan Tuhan. Dalam kondisi seperti ini Habakuk sulit sekali melihat apa yang Tuhan lihat. Ketika Habakuk mulai berhenti dan mulai berdiam untuk melihat apa yang Tuhan kerjakan pada saat itulah wawasan dia mulai berubah. Dari sudut pandang Allah inilah Habakuk mulai melihat apa yang Tuhan kerjakan, bagaimana Tuhan akan menegakkan keadilan&bagaimana semua kejahatan ini akan ditindak. Inilah juga yang seharusnya menjadi sasaran yang kita bisa capai dalam perjalanan hidup kita. Jika seseorang sudah sampai kepada komitmen seperti Habakuk maka hidup dia akan melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Manusia sering melihat segala sesuatu berdasarkan standardnya. Sering manusia memuji Tuhan jika merasakan berkat Tuhan dalam hidup Anda. Coba kalau Tuhan memebrkati, banyak orang akan berterima kasih toh sama Tuhan. Kalau mengalami penderitaan, maka tidak sedikit yang mengeluh sama Tuhan. Konsep bisnis, kalau Tuhan berkati, maka banyak orang akan persembahan, mengucap syukur, dan memuji. Kalau Saya menerima, maka saya ‘membalas’ memberi. Kalau Saya ndak dapat apa-apa, ya ndak memberi. Emangnya apaan? Itu mah konsep bisnis. Take and give. Tetapi puji Tuhan atas hukuman Tuhan? Puji Tuhan karena mereka menderita? Atau puji Tuhan karena Saya tidak mengalami pencobaan tersebut? Atau puji Tuhan karena Saya menderita? Mengalami penderitaan, kita malah puji Tuhan? Karena kita selalu memandang pada berkat sebagai tolok ukurnya. Kalau ada berkat puji Tuhan. Kalau ndak ada, ya wis. Jadi kita tidak pernah memandang pada Tuhan yang sebenarnya. Kita memandang berkat dulu baru Tuhan. Maka tidak heran pada waktu badai datang, hidup kita down. Waktu berkat datang, kita serasa melayang. Dalam situasi kehidupan yang tidak nyaman dan tidak kita harapkan seringkali kita merasa sendirian tanpa Allah ataupun rekan yang dapat mengerti dan mendukung kita. Sering kita merasa Allah tidak berperasaan dan hanya bisa diam saja, sampai akhirnya kita menjadi kecewa dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Dalam situasi yang sangat terjepit seperti itu, masihkah kita bisa percaya dan mempercayakan hidup dan pergumulan kita kepada-Nya? Bnk. AYUB Sebagai anak Tuhan yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, seharusnya kita tetap arahkan pandangan kita kepada Tuhan. Waktu berkat datang, tetap melihat Dia, memuji Dia memperbolehkan kita merasakan anugerahNya yang seharusnya tidak layak kita terima. Waktu penderitaan datang, pandangan tetap kepada Tuhan Yesus, memohon kekuatan untuk melewati pencobaan itu. Menyadari bahwa pencobaan tersebut tidak melebihi kekuatan kita, dan masih dalam kendali Allah. Karena itu, pergumulan adalah proses dimana Tuhan mau kita alami untuk menuju ke kedewasaan rohani. Saudara, ketika Habakuk mengambil kesimpulan dalam Hab 3, apakah kemudian dengan demikian dia lolos daripada segala sesuatu? Tidak! Sejak Habakuk berteriak-teriak sampai akhirnya Zedekia jatuh, bukan hanya babel yang mempunyai waktu yang cukup panjang kira-kira 8 sampai 12 tahun. Dalam kondisi seperti ini Habakuk sadar jika dia mengambil komitmen dihadapan Tuhan itu komitmen yang tidak tergantung atau tidak terkondisi. Ini membuktikan bahwa orang Kristen pun tidak akan lolos dari penderitaan. Mengapa kita mengambil komitmen? Bukan karena saya tidak melihat masa depan tetapi justru karena saya sudah mendengar dan mengerti firman, ini yang menjadi dasar saya mengambil komitmen. Mari kita belajar bertumbuh seperti Habakuk. Pergumulan tidak salah. Tidak ada orang Kristen yang bertumbuh tanpa pergumulan. Hanya masalahnya sesudah pergumulan ada kemajuan atau tidak! Saudara mari kita maju. Mari kita belajar di dalam kesulitan, kita justru belajar bukan menjadi orang Kristen yang pasif, pragmatis, marah, menyesali situasi tetapi justru kita bisa maju secara positif. Saudara, seberapa besar kita dapat tetap percaya kalau Tuhan itu berkuasa dan berdaulat untuk menjadi pembela kita di tengah pergumulan, ketidakadilan dan kegagalan yang menimpa kita? Seberapa berani kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya ketika situasi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita sepertinya terjadi di luar kontrol Tuhan? Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana shg mengganggu kenyamanan, bagaimana kita menghadapinya? Pesannya amat kuat dan jelas. Iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku akan bersorak-2, beria-ria di dalam Allah penyelamatku.” Apakah iman yg sedewasa ini menjadi milik kita? Pandanglah kehidupanmu dari sudut pandang Allah Penilaian seperti ini membatasi seseorang untuk mengasihi orang lain. Kalim atas sesuatu yg terjadi yg terlalu dini bisa membuat terluka orang lain. Dan Cara saudara memandang kehidupan kan membentuk kehidupan saudara. Kalau saudara memandang kehidupan adalah sebuah pesta, maka nilai utama saudara dalam hidup adalah bersenang-senang. Jika saudara melihat kehidupan sebagai sebuah balapan, maka saudara akan menghargai keceptan dan mungkin akan seingkali terges-gesa. Jika saudar memmandang kehidupan sebagai sebiuah pertempuran atua permainan, menang akan menjadi sangat penting bagi saudara. Bgimanakah saudara memandang kehidupan? Cara saudara memandang kehidupan akan menentukan tujuan hidup saudara. Hidup ini singkat namun juga kekal. Kehidupan bukan hanya ada sekarang ini. Apabila saudara sepenuhnya memahami bahwa kehidupan ini bukan sekedar yang ada sekarang dan saudara memahami bahwa kehidupan hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan, saudara akan hidup dengan berbeda - maka nilai-nilai hidup saduara akn berubah. Prioritas-prioritas saudara akan ditata ualng. Paulus berkata:” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (Php 3:7) Belajar dari Habakuk, setiap orang percaya seharusnya dapat tetap percaya kepada Tuhan meskipun berada di tengah keadaan yang tidak diharapkan. Mari memiliki Keyakinan yang teguh kepada Allah yang berdaulat di tengah situasi yang tidak memungkinkan. Kiranya ini menjadi kekuatan bagi kita. -------------------------------- Masalahnya, mengapa seseorang sulit untuk mencapai komitmen seperti ini? Manusia masih dikuasai oleh egosentrik yang sangat besar. Psikologi humanis membuat dunia ini justru celaka karena mengajarkan self exsistence : menegakkan aktualisasi diri dan seluruh hak harus dicukupkan baru setelah semuanya itu manusia baru dapat hidup dengan baik. Iklan mengajarkan : kunci kebahagiaan adalah memiliki barang ini, produk terbaru, dapat bonus dll. Hidup berpusat pada diri itu mencelakakan seluruh masyarakat. Mengacu kepada Nats kita harus bercermin bahwa ketika masing-masing mementingkan kepentingannya sendiri, maka itu merupakan realita dosa. Di sini juga kita bisa melihat bahwa Tuhan dapat menggunakan sesuatu yang tidak biasa untuk memperbaiki kita. Walaupun Allah memakai bangsa Kasdim untuk menghukum Israel, bukan berarti Allah mengizinkan kesewenangan yg dibuat Kasdim. Allah menentang kesewenangan, penindasan, ketamakan, keserakahan. Penghukuman itu tampak dalam Nats Khotbah kita siang ini :
Ada beberapa criteria yang akan celaka – dihadapan keadilan Allah. 2:6 Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya -- berapa lama lagi? -- dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. 2:8 Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. 2:9 Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! 2:10 Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. 2:12 Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. Sifat serakah dari manusia tidak pernah ditelorir oleh Allah. orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan.
Mereka yg berlaku diatas disampaikan akan celaka. Pengertian Nats ini sangatlah luas. Seseorang yang mengambil hak orang lain untuk kepentingan dirinya, rumah tangganya, anak-anaknya, apapun alasanya tidak dibenarkan Allah. Sekalipun sudah terdesak, sekalipun semua orang ditempat pekerjaan kita melakukannya, jangan mengambil keuntungan, segala sesuatu yang bukan hak kita. Karena itu bukan jalan berkat yang dari Allah. Ketika karena keperluan ekonomi kita memaklumkan, mensahkan adanya dosa, maka itu artinya kita meragukan pemeliharaan Alah. Seolah tanpa itu kita tidak akan dapat hidup, kita tidak akan dapat apa-apa. Allah mengerti akan kebutuhan kita, dan dia dengan caraNya akan mencukupkan kita, sesuai dengan pemikirannya, bukan pemikiran kita. Kapan itu sesuai dengan waktunya, bukan atas desakan waktu kita. Semua dosa itu adalah penampakan dari keserakahan manusia. Ada semua kalimat bijak Gandhi : seluruh keperluan mahluk hidup dibumi disediakan secara cukup oleh bumi, akan tetapi bias kurang buat 1 orang yang tamak. Sikap tamak ini memiliki banyak efek : buat dirinya sendiri : rasa tidak nyaman dan tidak menikmati hidup, merasa terus kurang, bukannya menjadi berkat menjadi orang lain, justru bahkan berpotensi menjadi kutuk buat orang lain atau orang sekitarnya. buat orang lain : akan terintimidasi, Karena ketamakan manusialah maka alam rusak, tanah yang dulu kualitasnya baik, kini karena ingin hasil tani yg berlimpah puluhan tahun masyarakat mengeploitasi alam dengan memakai zat kimia – pemakaian segala sesuatu memaksa alam berlebihan. Kualitas air tercemar karena ketamakan industri. Kualitas udara dll. Bencana datang. Walaupun orang berdosa bisa sukses, kesuksesan tersebut bersifat sementara. Kita tidak perlu iri bila melihat kesuksesan orang berdosa sebab kesuksesan mereka itu bersifat sementara dan berujung pada hukuman Allah. Mengikuti ilustrasi Tentu saja kita harus ekstra hati-hati, agar tidak dengan gampangnya mengatakan setiap sukses atau keberhasilan kita sebagai berkat Allah, dan sebaliknya setiap kegagalan atau kekalahan kita sebagai tanda murka atau hukuman Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah agar kita memandang seluruh kehidupan kita sehari-hari (kerja, bisnis, rumah tangga, adat, politik dan seks dll) dalam rangka membangun hubungan kita dengan Tuhan Allah. Baik keberhasilan atau kegagalan, baik suka atau duka, harus menuntun kita kepada pertobatan dan hidup baru dalam Allah. Ada janji penyertaan dan pemeliharaan-Nya di tengah pergumulan hidup kita yang sulit, di tengah ketidakpastian, dan ketidakadilan yang menimpa kita. Kita harus saabar. dan jangan putus asa. Mempercayai, menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah seperti bagaimana kita akan duduk di atas kursi tanpa ragu kita langsung mempercayakan seluruh berat tubuh kita kepada kursi itu, begitu pula seharusnya ketika kita mempercayakan hidup kita kepada Allah. Tujuan hidup kita manusia, mempermuliakan Allah. Mempermulikan Allah bukan berarti menjadikan Allah mulia. Allah memang sudah mulia, Ia sudah mulia sejak dari kekekalan dan tidak ada satu pun mahluk ciptaanNya yang dapat menjadikanNya lebih mulia. Yang dimaksud dengan mempermuliakan Allah adalh memancarkan kemuliaan Allh, ketika kita berada di kelas, ketika kita berada di luar kelas. Pekerjaan kita, hidup kita, dan seluruh hidup kita benar-benar memancarkan kemuliaan Allah. Banyak orang yang lebih suka menjadi ”pintar” daripada menjadi ”benar” terutama dalam dunia modern ini, mengapa? Karena jadi pintar (yang lebih berdimensi pikir daripada nurani), bukan saja dinilai lebih unggul, tetapi bisa selalu ”benar”. Menjadi orang benar adalah pilihan mutlak, dalam arti hidup di dalam kebenaran Allah, artinya yang menjadi norma utama bukan lagi menurut ukuran dunia dan masyarakat, tetapi ketaatan kita kepada Tuhan dalam segala perkara.
Ilustrasi penutup : Sebelas orang bergantung pada sebuah tali yang tergantung pada helikopter, sepuluh pria dan satu wanita. Tali itu tidak kuat menahan beban mereka semua, jadi mereka memutuskan harus ada satu orang yang menjatuhkan diri. Jika tidak, mereka semua akan jatuh. Mereka bingung siapa yang harus merelakan diri jatuh, tapi kemudian si wanitamengatakan sesuatu yang menyentuh. Ia berkata bahwa ia merelakan diri jatuh karena sebagai wanita, ia terbiasa memberikan apa pun untuksuami dan anak, dan untuk pria secara umum, tanpa mengharap balasan. Setelah ia selesai berkata itu, semua pria itu bertepuk tangan (Sumber : E-Humor)
Ilustrasi diatas menggambarkan bahwa kesombongan (Gender, Jabatan, Gelar, Ekonomi) dapat mencelakakan manusia itu sendiri. Semua itu adalah indikator ego manusia yang dominan. Karena itu dibutuhkan pengendalian diri. Amin.

Tuesday, July 29, 2008

Refleksi

Hidup orang beriman bukanlah peminta-minta melainkan pemberi.
Nats : 1 Raja-raja 17 : 7-16
Pdt. Happy Pakpahan
Pengantar – Konteks Nats Elia adalah seorang nabi luar biasa yang dibangkitkan Allah ketika masa penyembahan berhala sedang mengancam kelangsungan penyembahan kepada Allah, yang telah menjadikan Israel sebagai Bangsa Pilihan. Pada waktu itu, Raja Ahab menjadi semakin kafir dan jahat dengan mengambil Izebel, putri raja Sidon menjadi istrinya. Izebel-lah yang memprogandakan penyembahan Baal dan membunuh nabi-nabi Tuhan.
Di tengah-tengah kegelapan rohani dan moral Israel pada waktu itu, Elia muncul dipanggil sebagai nabi Allah. Ketika seluruh bangsa sepertinya sudah beralih pada penyembahan berhala (dimana para tua-tua bangsa telah menjadi kaki tangan raja – 1Raj. 21:8-14; sedangkan umat yang setia menjadi orang percaya yang tersembunyi, seperti Obaja; para nabi telah dibunuh oleh Izebel dan yang selamat kini berada di dalam persembunyian – 1Raj. 18:4), Elia dengan gagah berani berdiri mengkonfrontasi penguasa yang jahat, dan menyerukan bangsa ini untuk kembali kepada Allah. Firman dan Mujizat yang menyertai Elia, hamba-Allah ini sangat dibutuhkan pada zamannya untuk menyatakan kuasa Allah yang hidup di hadapan berhala kesia-siaan buatan manusia. Melalui doanya, langit tidak menurunkan hujan selama tiga setengah tahun; ia menghidupkan anak janda Sarfat; ia menurunkan api dari langit di gunung Karmel; ia menurunkan api dari langit untuk menghanguskan pasukan utusan Ahazia; ia terangkat ke sorga di dalam angin badai dengan kereta berkuda yang berapi.
Begitu luar biasa signifikansi pelayanan Elia, sehingga perintis yang akan mempersiapkan jalan bagi Kristus dikatakan akan datang dalam roh dan kuasa Elia (Luk. 1:17). Walaupun tidak ada bukti pertobatan yang sepenuhnya dari bangsa ini, tetapi pelayanan Elia yang ia tunjukkan pada masa hidupnya merupakan suatu kesaksian kepada setiap generasi mengenai kebenaran penyembahan kepada Allah. Jika orang Israel pada masa itu gagal untuk merespons dengan benar, tentu kita akan memilih untuk merespon yang benar. Allah yang dilayani oleh Elia adalah satu-satunya Allah sejati, yang hidup, yang berkuasa dulu kini dan akan datang; karena itulah, hanya pada Dia saja kita menyembah dan melayani dengan penuh semangat dan keberanian seperti yang diteladankan oleh Elia.
Pembahasan Nats & Relevansi 1. Ketaatan seseorang yang dipercaya dan dipakai TUHAN dalam melaksanakan Amanah TUHAN harus dilaksanakan secara loyal dan total. Inilah yang dicerminkan Elia ketika TUHAN berfirman di Ayat 7-9 Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia : "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.". Elia memiliki integritas melaksanakannya, karena ia berkomitmen melaksanakan “Visi” TUHAN. Ada hal menarik lain yang bisa kita lihat yaitu Perintah TUHAN kepada Elia untuk pergi dimasa kemarau itu disertai janji TUHAN dalam ayat 9. Ini menunjukkan pemeliharaan TUHAN didalam amanahNya. TUHAN tidak membiarkan seorang HambaNya terkendala karena kebutuhan jasmani seperti apa yang harus dimakan dan minum. TUHAN dengan caraNya akan mencukupkan kebutuhan hambaNya, sehingga hambaNya harus memiliki iman yang kuat dan tidak khawatir dalam pelaksanaan pelayanannya. Ini bisa kita relevansikan bahwa pemanggilan TUHAN berlangsung dulu, kini dan masa datang. TUHAN yang memberi amanah kepada Elia dan memerintahkan seorang Janda di Zarfat untuk memberi makan Elia adalah TUHAN yang sama, yang berbicara dan memerintahkan kita untuk melaksanakan Amanah Agung (Kis. 1 : 8) di zaman Milenium-Globalisasi saat ini, yang memberikan perintah mengasihi Allah dan sesama serta menjadikan kita Imamat Rajani (1 Petrus 2 : 9). Ingatlah panggilan pelayanan ini harus kita laksanakan secara loyal dan bertanggungjawab. Tanggung jawab pelaksanaan ini berlaku kepada setiap orang Percaya dan dimana dia berada, lintas pekerjaan, lintas tempat dan lintas usia. Jangan sampai kekhawatiran akan hal-hal kebutuhan jasmani menghalangi kita melaksanakan Visi TUHAN. Ingat juga bahwa TUHAN adalah Maha Pemelihara dan Penyerta, melalui orang-orang yang diberkatinya (seperti Janda di Zarfat), maka Ia akan memelihara kita.
2. Memberi ditengah keterbatasan. Nas ini mengajarkan bagaimana pergumulan dahsyat yang dialami oleh seorang janda. Diterangkan diawal Nats bahwa saat itu sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. Dan ketika berjumpa dengan nabi Elia, perempuan tersebut sedang mengumpulkan kayu bakar. Dia hanya memiliki tepung segenggam dan sedikit minyak. Tepung tersebut akan diolahnya untuk menjadi roti untuk konsumsi dia dan anaknya. Setelah itu tidak ada makanan lagi. Artinya kondisinya dalam keadaan tidak berkelebihan, cukup-cukupan (dalam kondisi ekonomi : sangat memprihatinkan/krisis ). Dalam kondisi sedemikian, janda tersebut tidak meminta-minta ke sana-kemari. Ia tidak menolak untuk memberi ketika Elia meminta, justru ia memberikan dengan segala apa yang dimilikinya untuk berbagi. Dia juga tidak meminta nabi Elia untuk menolongnya.
Perintah TUHAN kepada Elia untuk meminta makanan dari Janda Zarfat ini jangan dilihat sebagai perintah TUHAN “untuk meminta-minta” sebagai jalan hambaNya memenuhi kebutuhan hidup. Hiudp pelayan bukan hidup yang mengemis. Memang Elia meminta dibuatkan roti. Namun Elia yang disertai Tuhan melipatgandakan tepung dan minyak yang dimiliki oleh janda tersebut. Oleh pertolongan Tuhan, janda dan anaknya tidak mati kelaparan. Jadi kesimpulannya : Elia bukanlah diperintahkan menjadi peminta-minta (yang tega meminta dari janda yang kondisinya sangat terbatas), namun Elia ingin dipakai Allah menguji iman janda tersebut untuk sebuah hal luar biasa. Oleh kuasa Tuhan terjadi mukjizat. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita sejauh mana keberimanan kita ditengah keterbatasan. Jangan sampai “keterbatasan” menghalangi kita untuk memberi dan dipakai dalam rencana Allah yang lebih besar. Agar semua kebutuhan kita serahkan kepada Tuhan. Tuhan pasti mencukupkan segala kebutuhan kita. Orang Kristen adalah orang yang hidup oleh iman bahwa Allah adalah pemelihara, orang Kristen tidak hidup dalam kekhawatiran sehingga akhirnya terhalang untuk peduli kepada orang lain, terhalang memberi, terhalang untuk berbagi. Orang Kristen memiliki mentalitas memberi, bukan peminta-minta. Setiap hamba Tuhan atau orang percaya jangan berorintasi mental peminta-minta, yang menjadikan “rupiah” menjadi syarat dan orientasi pelayanan. Justru setiap hamba Tuhan dan orang Percaya, harus menjadi saluran berkat bagi orang lain. 2. Yang Kecil Yang Menjadi Alat Saluran Berkat. Perempuan Zarfat itu menyandarkan pengertiannya kepada TUHAN, sehingga melakukan apa yang di beritakan Elia. Perempuan itu jujur akan keadaanya, ia tidak pesimis, ia tidak hitung-hitungan, ia memberi dengan segala potensi dan apa yang dimilikinya, ia tidak ragu melakukan yang dikehendaki Elia. Ia menghormati Elia, dan percaya TUHAN bekerja melalui Elia. Dan ketika ada ketaatan dengan iman penuh untuk melakukan FirmanNya, maka pada saat itulah muzizat terjadi. Dikatakan diayat 15-16 : “ …maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia Janda di Sarfat dalam nats ini melihat dan menikmati berkat Tuhan dalam hidupnya. Semua dimulai dari ketaatannya kepada perkataan Elia “… buatlah TERLEBIH DAHULU bagiku sepotong roti bundar KECIL dan BAWALAH KEPADAKU,…”. Mendahulukan Tuhan lewat hal-hal yang kecil akan melatih kita untuk lebih setia melalukan hal besar. Bagaimana dengan pelayanan yang selama ini Tuhan percayakan kepada saudara? Kesetiaan pada hal-hal yang kecil dalam pekerjaan Tuhan, akan menjadi jalan berkat bagi saudara. Allah tidak meminta yang besar, Dia akan mulai dari ketaatan kita pada hal-hal yang kecil. Perkara yang besar tidak akan dipercayakan kepada kita, sampai Dia melihat bahwa kita telah setia pada hal-hal yang kecil. Mari belajar untuk mendahulukan Tuhan sekalipun itu hanya lewat “sepotong roti bundar yang kecil” . Dan kita akan melihat betapa Allah memperhitungkan “yang kecil” yang kita kerjakan “terlebih dahulu” bagi Dia. (Matius 14:13-21). Bandingkan juga ketika TUHAN Yesus memakai lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang. Ketika Yesus menyuruh para murid memberi orang banyak itu makan, mereka berkata “Yang ada pada kami di sini HANYA lima roti dan dua ikan” Tetapi apa kata Yesus? “BAWALAH KEMARI KEPADAKU”. Terkadang kita pun demikian, merasa sangat kecil dan tidak memiliki apa-apa untuk dapat menolong orang lain padahal dunia saat ini sangat membutuhkan kita. Yesus berkata "apa yang ada pada kamu, bawalah kemari kepada-Ku" Jangan takut jika engkau hanya memiliki “lima roti dan dua ikan” (sangat terbatas dalam segala hal). Jangan takut memberikan potensi diri ditengah keterbatasan dan keadaanmu. Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkannya kepada Tuhan, dan ditangan-Nyalah semua akan diubahkan dan dilipatgandakan untuk menjadi berkat bagi dunia ini. Amin !
3. Janda di zarfat dipakai Allah dalam rencanaNya.
Penghunjukan TUHAN memerintahkan seorang janda untuk memberi Elia makan menunjukkan bahwa siapa saja bisa dipakai TUHAN untuk ambil bagian dalam sebuah tugas Pelayanan. Yang terpenting adalah hati yang tunduk kepada TUHAN. Jadi, yang “Kecil” dapat dipakai TUHAN menyatakan Kuasa Allah (I Samuel 17:40-58). Bandingkan juga ketika Daud mengalahkan Goliat hanya dengan “sebuah batu kecil” Mengapa bisa terjadi? Karena Daud mengenal betul siapa Allah yang dia percaya. Daud berkata “… tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam…” Dan akhirnya ALLAH YANG BESAR memakai “BATU KECIL + DAUD KECIL” untuk mengalahkan musuh!. Luar biasa bukan ? Musuh sebesar apa yang sedang saudara hadapi saat ini, musuh ekonomi, musuh pembatasan kebebasan beragama, musuh “dalam pekerjaan dan karir”, musuh kesehatan, musuh dendam didalam hati, musuh kekafiran, ingatlah didalam TUHAN, kita akan dimampukan menghadapinya. Bukankah yang kecil bagi dunia ini akan dipakai oleh Tuhan untuk mengalahkan yang hebat? Jangan mengatakan engkau kecil dan menjadi takut dengan pergumulan besar, karena bersama dengan engkau yang kecil ada ALLAH YANG BESAR! Jangan mengabaikan hal-hal kecil yang Tuhan berikan kepadamu dan jangan menolak perkara kecil yang Tuhan mau engkau kerjakan. Karena semua itu adalah awal dari perkara besar yang akan Tuhan nyatakan dalam hidupmu. Sekali lagi saya beritakan : yang paling sering diabaikan dan tidak mendapat perhatian dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang kita anggap “kecil dan tidak berarti” Namun demikian, Allah kita adalah Allah yang besar yang dapat menyatakan kuasa-Nya melalui hal-hal yang kecil itu.
4. Secara ekonomi manusia, bisa dikatakan tidak mungkin janda yang hanya mempunyai tepung dan minyak sedikit dapat menampung Elia di dalam rumahnya. Tetapi hal yang luar biasa, Tuhan tidak suruh Elia datang kepada orang yang mampu dan kaya raya untuk memelihara Elia, tetapi kepada janda yang hanya mempunyai tepung dan minyak sedikit. Tetapi oleh TUHAN, tepung dan minyak sedikit itu tidak pernah habis. Allah mau menyatakan kemuliaanNya / kuasaNya agar nama Tuhan dipermuliakan. Kita rindu dalam kehidupan kita ada berkat-berkat yang dari Tuhan / kita berlimpah dalam segala hal. Bagaimana kita orang percaya harus hidup diakhir zaman ini, dan kita diperhadapkan dengan hal sulit dan rumit, yang secara manusia kita tidak mampu lakukan. Kita sering berpikir karena dunia ini kacau balau / tidak menentu tidak mungkin kita diberkati oleh Tuhan. Janda yang tidak punya apa-apa rindu memberi / mempersembahkan yang ia miliki. Ia membuka tangan bagi pelayan Tuhan dan kelangsungan pekerjaan Tuhan, ia mengutamakan Elia yang adalah hamba Tuhan dan tidak mementingkan diri sendiri. Sehingga ia melihat mujizat dan kemuliaan Allah. Ada banyak indikator mental peminta-minta pada diri seseorang. Korupsi salah satunya, pola hidup meminta dengan cara "diluar jalur" untuk memenuhi hasrat kerakusan. Kemudian pola hidup gila hormat dan selalau ingin dilayani, dikasihani, diberi bantuan, dll, adalah indikator pola peminta-minta, dan ironisnya manusia lintas tingkat ekonomi (termasuk orang yang telah mapan bahkan orang kekurangan sekalipun) adalah Pelaku Peminta-minta. Nats mengingatkan, kita harus mempersembahkan persembahan yang benar kepada Tuhan. Persembahan disini dimaksud bukan hanya diukur dari material, tetapi perhatian, pemikiran, tenaga untuk melayani orang yang membutuhkan, menjadi garam dan terang, menjadi duta-duta kasih. Dan ini sangat relevan ditengah krisis multi dimensi di Ripublik ini.
Untuk itu, mari kita persembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus. Karena cuma karena kemurahan dan kasih karunia Allah kita ada, bergerak, bernapas dan berkumpul saat ini. Tuhan mau kita terlibat dalam pelayanan Tuhan dan tidak kita pergunakan hal-hal diluar kehendak Tuhan. Dan kehidupan kita kita fokuskan kepada pekerjaan Tuhan. Waktu yang Tuhan berikan kepada kita jangan kita pergunakan menurut keinginan manusia tetapi menurut kehendak Allah karena cuma karena kemurahan Allah kita ada sekarang. Tuhan mau kita melaksanakan amanat agungNya, melayani Dia, menjadi saksiNya, memberitakan kasih karuniaNya yang ada didalam kehidupan kita. Kita memang harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan materi jika kita rindu melayani Tuhan. Firman Tuhan dalam Amsal 3 : 9 berkata : Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,” Jadi bukan hanya tubuh yang kita persembahkan tetapi juga semua apa yang ada pada kita termasuk harta kita, harus selalu kita pakai untuk kemuliaan nama Tuhan. Karena kita sudah dibayar dengan lunas. Jangan kita pakai tubuh dan harta kita untuk hal yang tidak bermanfaat tetapi untuk hal yang berguna. Filipi 1 : 27 : Hidup sesuai dengan firman Allah : Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,
Penutup Belajar dari Janda di Zarfat, jangan kita ragu dan bimbang untuk mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Tetapi kita harus membantu untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Dan kita berikan yang terbaik untuk pekerjaan Tuhan. Efesus 5 : 20 menyampaikan : Mengucap syukur dalam segala hal. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. Dalam segala aspek kehidupan kita dan dalam mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan pasti ada suka dukanya. Tetapi dalam segala hal kita harus senantiasa mengucap syukur. Di masa sulit ini kita ditantang untuk melayani pekerjaan Tuhan, dan harus kita lakukan bukan dengan bersungut-sungut / berbantah-bantah, tetapi dengan ucapan syukur, karena akan memuliakan Allah. Baik dalam keadaan susah, harus tetap ada ucapan syukur dan kemauan untuk dipakai Tuhan melayaniNya. Persoalan / masalah / pergumulan apapun yang kita hadapi, jangan kita kuatir, tetapi kita tetap datang kepada Tuhan, mempersembahkan persembahan yang benar dihadapan Tuhan, tetap hidup sesuai dengan firman Allah, dan ada ucapan syukur. Maka akan ada mujizat yang akan Tuhan nyatakan dalam kehidupan kita. Seperti kalimat sebuah syair lagu : “Mujizat terjadi sekarang ini”, ya mujijat bukan sebuah “kisah lampau” tetapi Allah yang hidup tetap berkuasa dengan caraNya memberikan mujizat dalam setiap kehidupan manusia. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (hp,-)

Monday, May 12, 2008

Parakletos Yang Dijanjikan TUHAN Yesus ada diantara kita.

Roh Kudus Sang Parakletos.
Nats : Bilangan 11 : 24 – 29 Pengantar Pemanggilan Allah kepada seseorang untuk melaksanakan Amanah Allah tidak membuat yang bersangkutan menjadi ”ilahi” dan terlepas sisi kemanusiaannya. Kemanusiaan tetap melekat dalam dirinya. Artinya ia tidak memiliki keterbatasan, bisa berada pada posisi ’menyerah’ dan berkeluh kesah. Hal ini bisa kita lihat dalam risalah hidup Musa. Musa sebagai orang yang dipanggil Allah mulai dari mewartakan 10 tulah, hingga memimpin Israel dari Mesir menuju Kanaan ternyata juga adalah manusia biasa yang bisa hampir berputus asa menghadapi kekerasan hati dan sungut-sungut Bangsa Israel (Mis. Bil 11: 12-15). Akan tetapi keluh kesah Musa bukan berorientasi kepada kepentingannya sendiri melainkan berorientasi kepada tugas kepemimpinan yang diembankan Allah kepadanya. Nah, yang menarik disini adalah keterbukaan Musa kepada Allah. Musa tidak bersandiwara seolah ”sangat kuat” dan sanggup-sanggup saja memimpin Israel, melainkan ia mengungkapkan keluh kesahnya secara terbuka. Ia mengkomunikasikan keluhan dan perasaannya kepada Allah. Dan komunikasi menjadi jalan menguatkan dan memandunya. Inilah yang menjadi garis besar Nats ini. Dimana Allah menunjukkan sikap, merespon keluhan Musa. Allah mengambil inisiatif membantu Musa keluar dari persoalannya. Pembahasan Nats dan Relevansi 1. Atas keluh kesah Musa, TUHAN kemudian mengambil solusi agar Musa mengangkat 70 orang tua-tua dalam membantu kepemimpinan Musa, dengan batasan tugas masing-masing. TUHAN menyadari ada keterbatasan jika hanya seorang diri Musa memimpin bangsa Israel. Perlu pembagian tanggungjawab yang tetap berorientasi kepada kehendak TUHAN. TUHAN kemudian membekali ke 70 tua-tua dimaksud, dengan mengaruniakan RohNya. Lalu atas amanah tersebut, Musa melaksanakan apa yang dikehendaki TUHAN. Diayat 11 diterangkan Setelah Musa datang ke luar, disampaikannya firman TUHAN itu kepada bangsa itu. Ia mengumpulkan tujuh puluh orang dari para tua-tua bangsa itu dan menyuruh mereka berdiri di sekeliling kemah. Musa mensosialisasikan apa yang diterimanya dari TUHAN. Ini merupakan bagian dari Pola kepemimpinan Musa yang bersifat terbuka kepada bangsa yang dipimpinnya. Firman TUHAN bukanlah milik Musa pribadi akan tetapi sebagai satu persekutuan, perlu diketahui oleh bangsa Israel. Sehingga akan membuka kesempatan untuk bekerjasama bersinergi dalam melaksanakan amanah Firman TUHAN. Musa secara TOTAL melaksanakan apa yang dimintakan TUHAN, dan TUHAN pun campur tangan. Lalu terjadilah seperti dipaparkan diayat 25: .... turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi. Ke 70 tua-tua Israel menerima Roh Allah. Roh yang menghinggapi mereka adalah roh dari satu TUHAN yaitu Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Lalu ada yang menarik diaparkan pada ayat 26 : Masih ada dua orang tinggal di tempat perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Ketika Roh itu hinggap pada mereka -- mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi tidak turut pergi ke kemah -- maka kepenuhanlah mereka seperti nabi di tempat perkemahan. Walaupun mereka berdua tidak turut pergi ke kemah, akan tetapi Roh Allah tetap turun pada mereka. Pada 27 dikatakan : Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa: "Eldad dan Medad kepenuhan seperti nabi di tempat perkemahan. 11:28 Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: "Tuanku Musa, cegahlah mereka!" Akan tetapi Musa mengantisipasi kebingungan ini dengan berkata diayat 29 Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!" Musa menyadarkan Josua bahwa TUHAN memberikan RohNya kepada setiap orang yang dikehendakiNYa tanpa bisa dicegah oleh manusia. Dan setiap pemberian Roh memiliki Rencana dari Allah. "Kehadiran Roh Allah kepada Eldad dan Medad yang kemudian membingungkan orang banyak, sehingga merasa perlu dilaporkan ke Musa juga menjadi pergumulan kekinian. Seiring dengan kebangunan Rohani belakangan ini, banyak orang yang mengklaim bahwa kehadiran Roh Kudus dalam ibadah mereka dibuktikan dari dimampukannya mereka “berbicara dalam bahasa-bahasa lain”, ini bagian dari kepenuhan, klaim mereka. Ini membingungkan banyak umat Kristen, sama seperti kebingungan orang banyak melihat Eldad dan Medad. Lantas sebenarnya bagimana ciri atau tanda orang yang menerima Roh Allah ? Demikianlah Sedini sejarah awal berkembangnya, gerakan Pentakosta telah menghadapi “kebingungan”. Kemudian penekanan akan kuasa Roh Kudus dalam mendatangkan mujizat & kesembuhan patut diterima dengan syukur. Ini bukan berarti hanya melalui aliran Pentakosta sajalah penyembuhan bisa terjadi. Ini klaim yang picik. Mujizat dan kesembuhan ilahi masih terjadi sampai saat ini juga di kalangan aliran non-Pentakosta. Namun, dibalik itu kita perlu waspada agar penerimaan kebenaran gerakan Pentakosta yang menekankan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan Kristiani janganlah sampai dicampur-adukkan secara sinkretis dengan praktek-praktek perdukunan moderen (New Age / Words of Faith) karena hal itu mendukakan Allah (Bandingkan Musa & Harun vs. Ahli Sihir Mesir dalam Keluaran 7-11, dan Filipus, Petrus & Yohanes vs. Simon si Sihir dalam Kisah 8:4-25. Kedua kasus itu menunjukkan kesamaan mujizat supranatural tetapi memiliki sumber berbeda, yang pertama datangnya dari kuasa Roh Kudus dan yang kedua berasal kekuatan alam/roh-roh lain). Yang terpenting ingatlah bahwa bukti bahwa seseorang itu telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya dapat dilihat dari berbagai hal, antara lain, kerinduannya untuk hidup kudus, memuji dan memuliakan Tuhan, menjadi berkat bagi sesama dan bersaksi bagi Yesus, sebagaimana kita baca dalam penegasan Tuhan Yesus pada Kis.1:8, Galatia 6 : 20-22, dll. Bahasa roh merupakan salah satu kharisma yang diberikan kepada orang-orang tertentu untuk menolong orang lain. Anugerah bahasa Roh pasti akan mendorong orang untuk menyatakan imannya dalam kesatuan dan kerukunan dengan orang beriman lainnya dalam Gereja dan dengan ketaatan penuh pada pimpinan Gereja / hierarki. Kalau tidak demikian, berarti suatu praktek penyimpangan dalam Gereja, atau pun praktek melarikan diri dari realitas kehidupan Gereja / Jemaat. Pemenuhan Roh hendaknya juga suatu bentuk dalam dalam rangka melibatkan diri dalam pembangunan Gereja. Fungsi kehadiran Roh Allah pada ke 70 tua-tua yang dipilih membantu Musa, menjalankan rencana Allah bagi Israel, maka hal ini sangat sesajar dengan penegasan Yesus yang sangat penting, yaitu turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta dikaitkan dengan KUASA UNTUK BERSAKSI. "Dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi" (Kis.1:8). Tugas menjadi saksi tersebut tentu sangat penting. Rasul-rasul diberi hak istimewa untuk menjadi saksi bagi Yesus. Itu berarti mereka dituntut untuk mengatakan apa yang mereka dengar, lihat dan alami tentang Yesus. Tugas menjadi saksi tersebut sangat berat, penuh resiko dan menuntut harga, termasuk ancaman nyawa! Karena itu, kehadiran Roh Kudus dalam diri setiap saksi sangat mutlak, bukan saja untuk meneguhkan dan memberi keberanian kepada saksi, tapi juga supaya orang yang mendengar kesaksian tersebut dapat diyakinkan (Yoh.16:8). Maka orang lebih berkesimpulan seperti ini: karunia berbahasa Roh bukan bukti utama kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang; bukti paling utama adalah buah-buah Roh sebagai kesaksian yang hidup. Sebab dalam diri orang-orang yang mengaku memiliki karunia bahasa Roh tapi tidak menampakkan buah-buah Roh dalam kehidupannya, maka hal ini sebuah kehampaan. Santo Paulus pun bersyukur bahwa ia memperoleh anugerah bahasa Roh, tetapi ia tidak suka menggunakannya karena tidak bermanfaat bagi orang lain. Mengapa? Karena orang lain tidak mengerti. “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:18-19). 2. Musa mengkomunikasikan keluhan dan perasaannya kepada Allah. Komunikasi tersebutlahlah yang menjadi jalan menguatkan dan memandunya. Dimana Allah menunjukkan sikap merespon keluhan Musa. Sejauh ini kita bisa relevansikan bahwa terkadang kita baik sebagai Pendeta, Penetua, Orang Tua, Sintua Sektor dalam mengemban tanggung jawab yang diberikan Allah bisa saja menghadapi tantangan dari orang-orang yang menjadi tanggung jawab pelayanan kita. Anak yang susah diatur ke hal-hal yang baik, lingkungan sektor yang tidak koorporatif dalam pelayanan seperti partangiangan, jemaat yang terlalu banyak menuntut tetapi terlalu pelit bekerjasama, dll. Pertanyaannya apakah keluh kesah ini berawal dari kelalaian kita sendiri atau murni karena kebebalan dari orang yang kita tanggungjawabi. Yang penting, apapun penyebabnya, perlu keterbukaan kepada TUHAN. Keterbukaan kepada TUHAN satu sisi menunjukkan tanggungjawab kita. Para pelayan dan jemaat Gereja HKI harus mengandalkan bimbingan Roh Kudus dalam Pelayanannya. Roh Kudus itulah yang menguatkan-memandu ditengah kelemahan kita. Pelayanan akan lemah, akan berkelahi, akan bersengketa, akan pecah, akan saling fitnah, akan saling menjatuhkan tanpa kehadiran Roh Kudus. 3. Minggu ini adalah Minggu Pentakosta, TurunNya Roh Kudus. Karya Roh Kudus yang utama adalah memulihkan kemampuan umat percaya untuk saling mengasihi, sehingga hubungan dan komunikasi yang terputus dapat terjalin kembali. Bukankah ini juga yang terjadi ketika Turunnya Roh Kudus yang tercatat dalam Kisah para Rasul 7. Orang yang berkata-kata dengan bahasa berbeda bisa saling memahami dan mengerti. Nah kita relevansikan, bagi orang yang telah menerima Roh Kudus dalam hidupnya maka dalam keluarga atau rumah-tangga umat percaya diharapkan tidak ada lagi yang melakukan kekerasan dalam berbagai bentuk, baik kekerasan secara fisik maupun kekerasan secara emosional. Tetapi kenyataan justru berbicara lain. Keluarga orang-orang Kristen justru sering terlibat dalam kekerasan fisik dan emosi kepada anggota keluarganya. Mereka yang melakukan kekerasan membutuhkan pencurahan Roh sehingga luka-luka batin mereka disembuhkan. Karya Roh Kudus bertujuan untuk mendamaikan diri kita dengan Allah dan sesama kita. Itu sebabnya Roh Kudus yang adalah Penghibur dikaruniakan kepada umat percaya agar mereka mengalami damai-sejahtera Kristus yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Di Yoh. 14:27 Tuhan Yesus berkata: “Damai-sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai-sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. Roh Kudus memberi Pengertian antara yang satu dengan yang lain. Kehidupan kita di antara sesama saat ini sering ditandai oleh kegagalan dalam berkomunikasi dan kesalahpahaman sehingga menimbulkan berbagai konflik dan pertikaian, serta tidak jarang terjadi pertumpahan darah. Walaupun kita seiman, namun tidak jarang kita mengalami kesulitan dan kegagalan untuk memahami “world-view” (pandangan dunia) sesama anggota jemaat kita. Apalagi komunikasi yang kita lakukan dengan orang yang tidak seiman, tidak satu suku/etnis, tidak sama tingkat pendidikan dan tingkat sosialnya akan berada dalam jarak yang lebih lebar dan sulit. Akibatnya hidup kita saat ini sering terkotak-kotak, saling mengucilkan dan mencurigai sesama. Bahkan yang lebih memprihatinkan hubungan di tengah-tengah keluarga juga terkotak-kotak, sehingga hubungan antara suami-isteri sering ditandai oleh kesalahpahaman, pertikaian dan perceraian. Selain itu pada zaman yang modern ini kita masih mengahdapi masalah diskriminasi gender kepada kaum wanita, yang mana kaum wanita masih sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Demikian pula hubungan antara orang-tua dan anak mengalami masalah yang makin kompleks. Pada saat kita gagal dalam komunikasi sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan konflik dengan sesama, sesungguhnya kita juga kehilangan perasaan damai-sejahtera. Sebenarnya pengalaman kehilangan perasaan damai-sejahtera merupakan suatu sinyal rohani yang dikaruniakan oleh Tuhan untuk mengingatkan bahwa hidup kita tidak bahagia karena kita telah gagal dalam memahami dan mengasihi sesama kita.
4. Roh Allah dikatakan dalam Perjanjian Baru dengan Istilah Parakletos (bhs. Yunani), arti harfiahnya ialah yang diseru, dipanggil, dimintai tolong. seperti ketika orang yang sedang ada dalam bahaya berteriak "Tolong! Tolong!". Ungkapan ini sebenarnya kata biasa dalam bahasa Yunani. Siapa saja yang mendengar dan bertindak ialah seorang parakletos. Parakletos juga bisa berarti penghibur yang membesarkan hati. Juga berarti pemberi kekuatan. Apa saja yang dapat menopang orang yang tidak dapat mengatasi keadaan dengan kekuatan sendiri dan oleh karenanya membutuhkan pertolongan secepatnya. Itulah parakletos. Itulah latar pemakaian ungkapan "Penolong" dalam Yoh 15:27. Di situ Yesus mengatakan bahwa yang menanggapi seruan minta tolong tadi itu - Parakletos - diutusnya. Parakletos itu, ditambahkannya, sebagai yang berasal dari Bapa sendiri. Ada dua gagasan baru. Pertama, diutus, artinya dikirim, seperti orang yang diutus menjalankan urusan tertentu. Itulah yang dimaksud Yesus dengan "Penolong yang kuutus". Tugasnya ialah menjawab kebutuhan orang yang minta tolong, apa saja. Dan Penolong "keluar dari Bapa". Artinya, pertolongan yang akan diterima orang yang berseru itu berasal dari Yang Mahakuasa yang berperhatian sebagai Bapa itu sendiri.
Dulu orang Yahudi berseru minta tolong ketika mengalami penderitaan di Mesir. Dan Tuhan mendengar keluhan mereka dan turun untuk menolong mereka dan menuntun mereka ke tanah yang akan diberikanNya kepada mereka (lihat Kel 3:7-10; 6:5-7 Ul 26:5-9). Kekuatan seperti itulah yang dimaksud oleh Yesus sebagai "Penolong yang kuutus dari Bapa". Ia adalah Roh Kebenaran, artinya kekuatan yang benar, yang bukan dari yang bakal membawa ke tujuan lain, melainkan yang terpercaya. Hal ini bisa kita relevansikan ditengah keadaan zaman sekarang ini. Seiring dengan banyaknya persoalan lintas sektoral kehidupan berbangsa, seperti kesulitan ekonomi, pengangguran, bencana alam, bencana akibat kerusakan alam yang dibuat oleh manusia, kebakaran, dll. Dibutuhkan karya dari orang percaya sebagai orang yang telah menerima Roh Kudus untuk menjadi parakletoi (jamak dari parakletos) menolong orang yang kena musibah, dengan macam-macam bantuan. Ingatlah, dipenuhi dengan Roh berarti dikontrol olehNya sebagai sarana Kasih yang lahir dari Iman (Ef 5:18-20). Pergumulan kini adalah apakah Roh itu membuat orang takut, membuat kita berkata-kata yang mubazir, yang tidak dimengerti oleh orang lain maksud dan tujuannya, membuat manusia pingsan dan tertawa-tawa, memukul-mukul diri. Apakah ini merupakan bagian fungsi kehadirannya sebagai penolong, penghibur dan menguatkan? (hp,-)

Manifestasi Kehadiran Roh Kudus

Nats Acuan : Yudas 1 : 24 - 25 Telah diterbitkan di Majalah Bina Warga HKI edisi Juni-Juli 2008
Happy Pakpahan
PENGANTAR Kitab Yudas ditulis sekitar tahun 70-80 sesudah Masehi, oleh seseorang bernama Yudas. Yudas menyebut dirinya sebagai hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus (Yudas 1:1). Yudas ini bukanlah Yudas yang disebutkan dalam Yohanes 14:22, melainkan adalah Yudas dalam Matius 13:55 dan Markus 6:3, ia adalah saudara Yesus. Kita mengetahui bahwa saudara-saudara Tuhan Yesus ini menolak untuk percaya kepada-Nya semasa hidup-Nya (Yoh. 7:5), namun Alkitab mencatat bahwa di kemudian hari setelah kebangkitan Yesus mereka bertobat dan menjadi percaya (bdk. 1Kor. 15:7, 1 Korintus 9:5). Secara hakiki, Kitab ini ditujukan kepada orang-orang Kristen (untuk semua yang percaya di seluruh dunia). Kitab Yudas terdiri dari satu pasal. Konteks surat Yudas adalah keadaan penerima pertama sama dengan penerima Kitab I, II, III Yohanes. Penulis mengamati jemaat sedang menghadapi ajaran sesat, ajaran yang tidak sesuai dengan Firman Allah. Ini ditandai dengan menyusupnya orang-orang jahat ke dalam jemaat TUHAN dengan kehidupan dan ajaran moral mereka yang buruk. Semua ini dapat membahayakan kehidupan iman dan moralitas umat Allah. Disamping itu terjadi tekanan-tekanan dan penganiayaan yang semakin meningkat kepada jemaat Kristus. Untuk konteks inilah Yudas menasihatkan para pembacanya untuk tetap berdiri teguh dan tetap berjuang untuk mempertahankan iman (Yudas 1:3) dan memaparkan akibat-akibat yang menghancurkan dari sikap mempercayai ajaran-ajaran palsu. Yudas memperingatkan mereka untuk melawan kesesatan dan aniaya dengan tindakan yang positif, yaitu untuk bertumbuh dalam kebenaran dan terpelihara dalam kasih karunia Allah. Di dalam Kitab ini Yudas juga menasehati setiap orang Kristen untuk tetap berjuang mempertahankan iman yang telah disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan.
PEMBAHASAN NATS DAN RELEVANSI 1. Ditengah keterbatasan manusia menghadapi tantangan kehidupan seperti penganiayaan dan ajaran-ajaran sesat yang dapat merusak persekutuan manusia dengan TUHAN, Firman TUHAN pada Kitab Yudas ayat 24 berkata : Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya. Nats dengan jelas mengatakan TUHAN Yesus Kristus sebagai Allah yang Esa berkuasa menjaga umatNya agar jangan tersandung. Tersandung biasanya terjadi tanpa disengaja, kelalaian yang tidak terantisipasi sebelumnya, akan tetapi bisa berakibat fatal. Demikian juga dengan rusaknya moral dan persekutuan umat, bisa terjadi tanpa terantisipasi sebelumnya. Ajaran sesat yang masuk kehidupan Jemaat masuk dengan cara halus akan tetapi bisa berakibat fatal, jatuhnya manusia kedalam dosa dan rusaknya hubungan antara manusia dengan Allah, dan persekutuan manusia dengan sesama manusia lainnya. Karena itu hidup dalam persekutuan dan kasih Tuhan Yesus Kristus dikatakan dapat membuat umat tidak tersandung dan jatuh kedalam dosa, tidak ternoda melainkan dapat penuh kegembiraan dihadapan kemuliaanNya. Kegembiraan yang didapat bukan kegembiraan duniawi, sementara dan semu, akan tetapi kegembiraan yang abadi. Sebuah kegembiraan sejati, termasuk menghadapi segala sesuatu, karena kita dikuatkan.Yudas menekankan bahwa Jemaat harus tetap berjuang dalam segala daya upaya, hidup dan bertahan pada iman yang teguh. Iman kepada Yesus Kristus menuntut adanya hidup yang suci, seturut ajaran-ajaran Firman Allah. Dasar iman yang suci dalam Roh Kudus, menunjukkan kebaikan kepada orang lain, dengan disertai rasa takut kepada Tuhan, tidak mengikuti atau mengingini kejahatan/dosa yang mencemarkan hidup. Guru-guru palsu dan ajarannya harus ditolak oleh orang Kristen. Bagi guru-guru palsu yang mencemarkan kehidupan jemaat, jelas akan menerima penghukuman dari Allah. Hal ini disebabkan mereka telah mengubah kasih karunia Allah dengan cara hidup di dalam dosa, dan mereka menyangkal Tuhan Yesus Kristus. Nats ini bisa kita relevansikan, bahwa sejajar dengan Roma 8:1-13, rasul Paulus mengingatkan kepada umat percaya bahwa setiap orang yang hidup dalam kuasa Roh tidak akan hidup lagi dalam keinginan daging. Sebab kuasa Roh Allah memberi kita hidup, kita dimerdekakan oleh Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Dalam kuasaNya, sebenarnya jemaat TUHAN telah diberi kekuatan untuk menolak dan melawan kehidupan menurut daging yang diajarkan Guru Ajaran Sesat. Namun seringkali jemaat yang sebenarnya telah dijaga oleh TUHAN, dimerdekakan dari sandungan, pengakuan iman itu tidak diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Justru kita membiarkan keinginan daging menguasai seluruh aspek kepribadian kita. Sehingga arah dan orientasi hidup kita tertuju kepada keinginan daging dan hawa-nafsu dunia ini. Kita menjadi budak dan hamba dari hawa nafsu seperti misalnya: hawa-nafsu amarah, serakah, bersikap sewenang-wenang, sikap konsumerisme, melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan atau jabatan, dan sebagainya. Di Roma 8:6 merupakan gambaran bagaimana perbedaan orientasi antara mereka yang hidup menurut daging dan mereka yang hidup menurut Roh, yaitu: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh”.
2. Nats bertujuan untuk memulihkan kembali arah dan orientasi hidup kita agar tertuju kepada keinginan Roh. Kita semua dipanggil untuk tidak bersikap toleran dan tidak berkompromi sedikitpun dengan berbagai keinginan daging. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai-sejahtera (Rom. 8:6). Manakala kita dibebaskan dari keinginan daging, maka oleh kuasa Roh Kudus kita diberi karunia damai-sejahtera. Ketika kita hidup menurut keinginan daging maka kita terbelenggu oleh hawa-nafsu dan kuasa dosa, sehingga membuat kita terpisah dari persekutuan dengan Allah. Kita dikuasai oleh roh perbudakan yang membuat kita hidup dalam ketakutan bukan kegembiraan. Kita kehilangan damai-sejahtera di dalam hati kita karena hidup kita menjadi telah seteru Allah. Padahal damai-sejahtera merupakan suatu kebutuhan rohaniah yang paling mendasar. Tanpa damai-sejahtera dari Allah, maka hidup kita tidak dapat mengenyam makna kegembiraan dalam hidup ini. Tepatnya tanpa damai-sejahtera dari Allah, kita tidak bahagia. Namun kita sering membungkam perasaan tidak bahagia ini dengan melakukan berbagai keinginan daging. Untuk jangka waktu sementara hati kita memang terhibur. Tetapi perasaan tidak bahagia yang ditutupi oleh berbagai keinginan daging sesungguhnya makin memperdalam penderitaan batin kita. Keadaan tersebut seperti seseorang yang sedang kehausan dengan meminum banyak air laut. Dia akan makin haus ketika minum air laut, tetapi tak lama lagi dia akan mati. Di tengah-tengah dunia yang berdosa ini Kristus tidak membiarkan diri kita seperti yatim-piatu, tetapi dikatakan Nats ini poada ayat 24, Dia yang menjaga kita. TUHAN memampukan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah sehingga dalam hidup kita tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya
3. Kemudian diayat 25 dikatakan : Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.Ayat ini sebuah pengakuan iman dari penulis yang di saksikan kepada pembacanya. Dikatakan Allah yang Esa, Allah Bapa, Anak, yang hadir dalam Yesus Kristus, dan Roh Kudus adalah satu kesatuan Allah yang Esa. Kemuliaan, kebesaran, dan kuasa sebelum segala abad adalah bagi Allah yang Esa. Dan ini berlaku sekarang dan sampai selama-lamanya. Kalimat ini sebuah ”kalimat tegas” yang menyaksikan keMaha Kuasaan Allah. Jadi ilah-ilah buatan tangan manusia, ilah-ilah lokal, yang dipuja banyak bangsa tidak berkekuatan dihadapan Allah. Secara implisit, nats ini mengatakan bahwa dalam Yesus Kristus sajalah terletak kekuatan orang Kristen. Inilah dasar dari kemenangan akhir setiap orang Kristen.
4. Jemaat yang terkasih dalam Allah yang Esa, minggu ini berdasarkan kelender Minggu Gerejawi kita kenal sebagai Minggu Pentakosta. Pentakosta awalnya merupakan satu dari tiga hari raya orang Yahudi sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah (Im 23:4-21). Itu sebabnya pada hari Pentakosta yang dicatat pada Kitab Kisah Para Rasul kita melihat mengapa banyak orang hadir di Yerusalem, karena sudah menjadi tradisi. Pentakosta adalah hari ke-50 sesudah Paskah dan juga disebut hari genap 7 Minggu (Im 23:15). Tradisi ini kemudian mengalami Transformasi makna melalui turunnya Roh Kudus. Disini Roh Kudus menuai hasil pekerjaan Kristus, menghidupkannya dalam hati manusia. Roh Kudus datang sebagaimana ditetapkan oleh TUHAN. Apa arti perayaan Pentakosta bagi kehidupan kita yang merayakannya? Kita juga hidup di zaman dengan penuh dengan ajaran-ajaran yang merusak pertumbuhan iman dan kehidupan Kristen yang sehat. Karena itu kita harus sungguh-sungguh hidup dari kuasa karya Roh Kudus, di mana Kristus dalam RohNya itu meraja di dalam hidup kita dan kita hidup dalam sikap taat dan setia kepada-Nya. Maka, di sanalah akan terjadi perubahan dan pembaharuan dalam hidup bersama sebagai suatu persekutuan umat Allah dalam Gereja yang satu dan kudus. Roh Kudus pula memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran, yaitu mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita hidup dan melaksanakan kehendak Bapa di surga.
5. Karya pencurahan Roh Kudus sering dikaitkan dengan pemberian berbagai karunia kepada setiap orang percaya. Anugerah diberikan oleh Tuhan kepada seseorang seturut kehendak-Nya yang bebas. Segala kharisma diberikan Tuhan demi pembangunan jemaat / umat, dalam ketaatan penuh pada pimpinan Gereja. Pembangunan jemaat tidak hanya dengan doa dan nyanyian saja, tetapi juga harus dengan karya nyata: cintakasih, amal dan karya pelayanan. Kalau tidak demikian, maka bukan kharisma yang sungguh-sungguh melainkan bentuk-bentuk egoisme intern. Jadi, kharisma itu diberikan Tuhan untuk menolong orang lain atau sesama, bukan untuk kepentingan dan kehormatan pribadi. Santo Paulus menyebut beberapa kharisma, antara lain: karunia melayani, mengajar, memberi nasehat, membagikan derma, bahasa roh, penyembuhan. Sering muncul perbandingan bahwa jika ada suatu gereja yang tidak ada peristiwa kepenuhan dengan berbahasa roh dan mujijat penyembuhan, maka Gereja itu dianggap sebagai gereja yang hidup tanpa roh. Bagaimana kita harus menjawab permasalahan ini? Selaku gereja Tuhan, kita tidak menyangkal bahwa karya Roh Kudus juga mengaruniakan berbagai macam karunia seperti menyembuhkan orang sakit, membuat mukjizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, karunia bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh (I Kor. 12:8-10). Namun yang ditonjolkan oleh kalangan tertentu ternyata bukan karunia hikmat, pengetahuan, bernubuat dan membedakan bermacam-macam roh; melainkan yang sangat ditonjolkan justru karunia menyembuhkan orang sakit, membuat mukjizat dan karunia bahasa roh. Mengapa karunia-karunia tersebut yang ditonjolkan bahkan sering dijadikan ukuran untuk menentukan tingkat dan kualitas iman? Seluruh karunia tersebut ditempatkan oleh rasul Paulus untuk membangun jemaat dalam kesatuan tubuh (I Kor. 12:13, 24-25). Ini berarti karunia Roh yang utama adalah kasih. Sebab kasih senantiasa dapat menjembatani suatu jarak yang semula terputus, dan memampukan setiap pihak yang berbeda untuk hidup dalam rasa hormat dan sikap saling menghargai. Ketika kita mampu untuk saling mengasihi dan membangun kehidupan persekutuan, maka kita juga mengalami makna damai-sejahtera sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yesus.
Jika demikian, karya pencurahan Roh Kudus pada hakikatnya merupakan karunia Allah bagi setiap orang percaya agar kita mengalami transformasi dalam spiritualitas iman kita. Tanda-tanda pencurahan Roh Kudus dapat terlihat pada kenyataan yang terjadi dalam spiritualitas dan kepribadian kita, yaitu apakah kita telah berdamai dengan Allah, sesama dan diri kita sendiri. Ketika kita telah diperdamaikan oleh kuasa Roh Kudus, maka kita juga dimampukan untuk mengasihi Allah, sesama dan diri kita sendiri. Bagaimana dengan kehidupan saudara saat ini? Apakah jemaat sendiri masih sering tersandung dalam dosa ? Juga apakah hidup saudara sungguh-sungguh bahagia dan penuh makna? Bila belum, maka pada saat ini Allah menawarkan kasih-karuniaNya kepada kita. Kristus menawarkan Roh KudusNya yang mampu membebaskan diri kita dari roh perbudakan, yaitu kuasa dosa yang mengikat dan membelenggu diri kita.
6. Kekristenan tidak dapat dipisahkan dari pengalaman hidup bersama Roh Kudus. Alkitab bahkan menegaskan bahwa sesungguhnya, hidup baru di dalam Kristus adalah hidup di DALAM dan DIPIMPIN Roh. Kehadiran Roh Allah kepada manusia akan memperbaharui hidupnya. Hal ini bisa kita bandingkan dengan keadaan para murid Tuhan Yesus. Pada saat Tuhan Yesus melakukan pengajaran, menyembuhkan orang sakit lalu disalibkan dan mati, saat itu mereka mempunyai kebanggaan menjadi pengikut Yesus. Semua yang dilakukan Yesus serta tanggapan orang banyak membuat mereka percaya diri bahwa masa depan yang cemerlang tersedia bagi mereka. Akan tetapi ketika Yesus ditangkap dan disalibkan, para murid buyar. Dari bangga dan penuh keyakinan mereka kini kecil hati. Dari orang-orang yang berani bercerita mengenai sang Guru, kini mereka menjadi orang yang takut dituduh pengacau dengan risiko ditangkap dan kemudian mengurung diri. Mereka juga dipandang sebagai yang menawarkan ajaran keliru oleh para simpatisan mereka dulu. Mereka hilang muka di hadapan kaum mereka sendiri. Ini situasi para murid. Kemudian setelah Pentakosta, mereka tampil sebagai Pemberita injil yang sangat militan. Roh Kudus yang turun pada diri mereka memperbaharui dan menguatkan Visi pelayanan mereka. Dengan kuasa dari Roh Kudus tersebut, ketaatan dan kesetiaan para rasul menghasilkan buah, di mana jumlah murid yang percaya kepada Yesus berkembang dengan sangat cepat. Dokter Lukas mencoba memberikan data statistik di mana dimulai dengan 120 orang (Kis.1:15), lalu setelah khotbah pada hari Pentakosta menjadi 3000 org (2:41), meningkat 5000 orang (4:4). Itu berarti peningkatan hampir 4200 persen! Angka di atas merupakan angka terakhir yang diberikan oleh dokter Lukas, karena selanjutnya, kita hanya menemukan istilah "jumlah murid makin bertambah..." (6:1). Kiranya, tanda-tanda di atas juga menjadi tanda yang kita temukan di Gereja-gereja kita sebagai manifestasi dari hadirnya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing. Kiranya, seiring dengan berubahnya hidup kita oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh tersebut, kita juga melihat perubahan di dalam Gereja kita, semakin bertambah banyak dan bertumbuh makin dewasa (Efesus 4:13). Masalahnya, apakah ketaatan dan penyerahan kita kepadaNya sudah mencerminkan hidup seseorang yang dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus? Indikator kehadiran/kepenuhan Roh Allah adalah adanya perubahan hidup pada diri seseorang. Amin.

Saturday, February 23, 2008

Ketika Imu Pengetahuan Manusia Berusaha Menggugat Kebenaran Allah

Refleksi atas Kitab Roma 11 : 25 – 32 Pdt. Happy Pakpahan (Telah diterbitkan dalam MBW HKI) Kesaksian Paulus ; sebuah Panduan Keberimanan
Para Ahli Tafsir mengatakan bahwa Surat Roma ini merupakan surat Paulus yang paling panjang, paling teologis, dan paling berpengaruh. Mungkin karena alasan-alasan itulah surat ini diletakkan di depan ketiga belas suratnya yang lain. Paulus menulis surat ini dalam rangka pelayanan rasulinya kepada dunia-suku bangsa nonYahudi. Di surat Roma Paulus meyakinkan orang percaya di Roma bahwa dia sudah berkali-kali merencanakan untuk memberitakan Injil kepada mereka, namun hingga saat itu kedatangannya masih dihalangi (Rom 1:13-15; Rom 15:22). Dia terus menegaskan kerinduan untuk datang dengan segera (Rom 15:23-32). Tujuan Penulisan Kitab ini adalah :(1) Karena jemaat Roma rupanya mendengar kabar angin yang diputarbalikkan mengenai berita dan ajaran Paulus (mis. Rom 3:8; Rom 6:1-2,15), Paulus merasa perlu untuk menulis Injil yang telah diberitakannya selama dua puluh lima tahun.(2) Dia berusaha untuk memperbaiki beberapa persoalan yang terjadi di dalam gereja karena sikap salah orang Yahudi terhadap mereka yang bukan Yahudi (mis. Rom 2:1-29; Rom 3:1,9) dan orang bukan Yahudi terhadap orang Yahudi (mis. Rom 11:11-36). II. Pembahasan NatsTema Surat Roma diketengahkan dalam Rom 1:16-17, yaitu bahwa di dalam Tuhan Yesus dinyatakan kebenaran Allah. Kemudian Paulus menguraikan kebenaran-kebenaran dasar dari Injil. Setelah dibenarkan secara cuma-cuma oleh kasih karunia melalui iman dan setelah mendapatkan keselamatan (pasal 5; Rom 5:1-21), pembebasan manusia dari pergumulan untuk mencapai kebenaran menurut hukum Taurat (pasal 7; Rom 7:1-26), pengangkatan manusia sebagai anak-anak Allah dan hidup baru "melalui Roh" yang menuntun manusia kepada kemuliaan (pasal 8; Rom 8:1-39), Allah sedang mengerjakan rencana penebusan-Nya kendatipun ketidakpercayaan Israel (pasal 9-11; Rom 9:1--11:36). Akhirnya, Paulus menyatakan bahwa kehidupan yang diubah dalam Kristus mengakibatkan penerapan kebenaran dan kasih pada semua bidang kelakuan – sosial kemasyarakatan, dan moral (pasal 12-14; Rom 12:1--14:23). Dan salah satunya yang menjadi pembahasan di perikop ini : Pada Ayat 25 tertulis, Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Semua orang -- baik Yahudi maupun bukan Yahudi -- perlu diperbaiki hubungannya dengan Allah, sebab semuanya sama-sama berada dalam kekuasaan dosa. Hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali kalau manusia percaya kepada Yesus Kristus dan tidak terhalang oleh anggapan dirinya pandai. Hal ini mempunyai makna yang kontekstual, karena pada saat itu perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya membuat banyak orang tinggi hati, mengkalim dirinya cendikiawan-orang pandai, dan tidak mempercayai bagaimana TUHAN yang Pencipta menjadi manusia dan mati dikayu salib untuk menyelamatkan manusia. Paulus menerangkan, kerahasiaan karya Penyelamatan Kristus diketahui jika kita menyelaminya dalam pengenalan pengetahuan yang didasari iman. Klaim bahwa diri pandai bisa menutup mata iman kita akan hal yang besar ini. Dan karya keselamatan Tuhan Yesus bukan bersifat primordial, terbatas hanya kepada orang Israel saja, DIA Allah bukan Allah kesukuan tetapi bersifat universal. Setiap pribadi yang berasal dari berbagai suku bangsa dapat masuk menjadi persekutuan orang Percaya - anak-anak Kerajaan Allah. Dan ini artinya setiap bangsa-bangsa berhak datang menyembah kepada TUHAN secara kontekstual, memakai budaya dan kesenian budaya yang telah mengalami transformasi makna. 26-28. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. Jalan manusia diselamatkan adalah skenario Allah. Dan berdasar janji Allah kepada Abraham, bapa kaum Israel, keselamatan akan dihadirkan melalui tengah-tengah bangsa Israel. Dikatakan Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Sion adalah simbol tempat peribadatan bangsa Israel kepada TUHAN. Dan dikatakan, dari sanalah TUHAN akan menyingkirkan kefasikan bagi seluruh keturunan Yakub, bangsa Israel. Memang terjadi penolakan oleh bangsa Israel yang dipimpin para Imam dan Ahli Taurat sampai kemudian menghambat pekabaran Injil yang dilakukan oleh Rasul dan orang percaya lainnya. Akan tetapi Paulus menyampaikan bahwa itu juga bagian dari janji Allah, dan hendaknya jemaat di Roma jangan sampai membenci bangsa Yahudi karena mereka adalah ”kekasih Allah karena nenek moyang”. Ada makna pandangan Paulus bahwa ia yakin orang Yahudi tidak selalu akan menolak Yesus. Dari ayat ini juga dipaparkan Paulus bahwa walaupun bangsa Yahudi banyak yang menghambat Pekabaran Injil, akan tetapi pengampunan dan kasih Allah masih terbuka bagi bangsa tersebut. Sebuah nilai teladan tentang pengampunan. Akhirnya Paulus menulis tentang bagaimana orang harus hidup sebagai orang Kristen, terutama sekali tentang caranya mempraktekkan kasih kepada orang lain. Hidup baru itu tumbuh karena adanya hubungan yang baru dengan Allah. Orang yang sudah percaya kepada Yesus, hidup damai dengan Allah dan dengan sesama. Paulus mengingatkan bahwa Allah benar-benar Maha Pengasih dan kasihNya tidak akan tertutup oleh karena ketidaktaatan manusia. Ayat 29-32 mengatakan Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua Kasih Allah tidak didasarkan kepada jasa ketaatan manusia. Tetapi kasih Allah bersifat anugerah diberikan kepada manusia. Allah menunjukkan kemurahanNya ditengah-tengah ketidaktaatan manusia. Dan ini berlaku bukan hanya kepada bangsa Israel tetapi kepada manusia kini dan sekarang. Karena Kasih Allah terbuka pada manusia, tidak dibatasi ruang dan waktu.
Penyangkalan Yang Tetap Terjadi
Saat ini sama seperti dilintasan abad sebelumnya, di satu sisi kita melihat banyak juga manusia yang memegang iman bahwa keselamatan telah dihadirkan melalui Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan kepada Bapa. Tapi disisi lain, banyak orang yang menolak, memandang rendah dan mentertawai ide tentang keselamatan dan pengharapan yang kita miliki di dalam Kristus Yesus. Dan mereka yang menolak memiliki alasan yang banyak untuk menyangkal hal itu dan bahkan ada yang sampai memakai aksi teror dan kekerasan sebagai ekspresi sebagai seteru Injil. Kemudian, adalagi yang menganggap diri pandai dang kemudian menghasilkan ketidaktaatan dengan menyangkal Karya Keselamatan Oleh Tuhan Yesus berlangsung hingga saat ini. Saya ingat ketika kuliah dalam bagian mata kuliah Filasafat, salah satu orang yang menyangkal Keselamatan dari Tuhan Yesus adalah seorang ahli filsafat Jerman yang bernama Friedrich Nietzsche. Orang ini adalah seorang ahli filsafat yang anti-kristen. Meskipun ayahnya seorang Pendeta, ia melawan segala sesuatu tentang kekristenan. Bukanlah suatu perkara yang luar biasa untuk orang-orang yang dibesarkan dalam keluarga Kristen kemudiannya berbalik dan melawan kekristenan karena jenis kekristenan yang mereka lihat di rumah. Nietzsche adalah seorang yang sangat pandai tetapi entah mengapa ia memiliki obsesi untuk melawan Tuhan. Dari sekian banyak buku yang ditulisnya, salah satunya berjudul "Anti-Kristus", di mana ia menyatakan dirinya sebagai Anti-Kristus. Ia berbalik melawan Allah karena Allah disampaikan kepadanya dengan cara yang salah. Tetapi dengan berbaliknya Nietzsche dari Allah, ia tidak lagi memiliki tujuan hidup. Ia telah kehilangan semua arti hidup. Menolak Injil bearti menolak semua dasar pengharapan. Tidak ada suatu apapun yang kekal, segala sesuatu adalah fana. Nietzsche menjadi gila pada usia 45 tahun dan meninggal 11 tahun kemudian, yaitu tahun 1900. Kisah Nietzsche adalah sebuah bagian upaya manusia yang menganggap diri pandai kemudian menolak Allah. Dan banyak buku, tabloid, brosur, website lainnya, yang atas nama kecendikiawanan dan ilmu pengetahuan, yang berisikan sangkalan dan penolakan terhadap karya penyelamatan oleh TUHAN Yesus Kristus. Ini tantangan Misi diera Tehnologi Informatika saat ini. Karena setiap anak, remaja, pemuda hingga orang dewasa sekalipun jika mengakses internet maka akan terbuka berbagai aliran ilmu yang tidak sedikit berisikan penyangkalan dan penolakan terhadap keselamatan oleh TUHAN Yesus. Dan itu semua dihadirkan dengan tampilan yang menarik (up to date) dan kalimat-kalimat yang meyakinkan. Karena itu tetap perlu pendampingan dan pendewasaan iman bagi seluruh anggota keluarga agar tidak tergoda dan tergoncang imannya akan pengaruh media.
Jemaat Kristus, di zaman modren ini banyak cara manusia tidak taat dan kemudian menyangkal Allah. Ada banyak kisah kemurtadan dimana seorang yang dulunya Kristen kemudian mengaku telah mempelajari inti kekristenan kemudian tidak puas dengan realita Kekristenan yang dilihatnya dan akhirnya murtad dan menyangkal Allah. Ia kemudian bersaksi dalam berbagai mimbar menyangkal Kristus. Ketidaktaatan hadir juga dalam rupa menyandarkan diri kepada keberuntungan ajiajian dan memakai kuasa kegelapan meraih suatu tujuan tertentu. Banyak orang disamping berdoa kepada TUHAN juga kemudian mengandalkan kuasa susuk dan jasa konsultan feng shui untuk meraih keuntungan – laris dalam usaha – menarik dalam pergaulan dll. Di dunia usaha dan pekerjaan, ketidak taatan kepada TUHAN hadir dalam bentuk tetap korup, kolusi, kekerasan, penipuan takaran timbangan, dan dosa lainnya untuk meraih keuntungan. Didunia hukum ketidaktaatan kepada TUHAN hadir dalam bentuk penyelewengan wewenang dan hukum berdasarkan standard pribadi dan keuntungan yang diperoleh sehingga keadilan seperti dagangan. Akarnya adalah godaan iblis yang menanamkan kerakusan dalam pikiran manusia sehingga berbuat tidak taat dan berlaku curang. Ini semua adalah bentuk meragukan kasih dan pemeliharaan TUHAN seolah jika berbuat benar dan jujur maka tidak akan dapat hidup dan tidak mendapat apa-apa. Dan tragisnya, untuk sampai kepada totalitas ketaatan pada TUHAN, banyak orang yang terbuai pada pola ”masih banyak waktu untuk bertobat ” sehingga tetap larut dan semakin jauh dalam persekutuan Gereja dan lebih memilih ”membahas” di Lapo dari pada bersekutu di Gereja setiap Minggu dan Kebaktian lainnya. Saudara terkasih, Kebenaran Allah telah dinyatakan dalam TUHAN Yesus Kristus karena itu hiduplah didalam DIA. Jangan ada lagi berbagai bentuk penyangkalan dan ketidaktaatan dihadapanNya. Dan Firman TUHAN juga berkata bahwa TUHAN masih membuka kemurahannya untuk pertobatan manusia yang tidak taat kepadaNya. Sebagai pengikut Kristus, jemaat TUHAN diminta untuk tetap hadir sebagai garam dan terang. Garam yang tidak hambar tetapi memberi arti dan terang yang tidak menghanguskan melainkan memberi petunjuk/teladan yang memperbaharui. Serta dipakai sebagai alat menunjukkan kemurahan Kristus yang berlaku sepanjang aktifitas. Ini tekat kita. Amin. Haleluya. (hp,-)