Thursday, April 10, 2008

Makna Sebuah Pekerjaan

Beberapa waktu yang lalu saya memberikan pelatihan mengenai sikapkerja disebuah hotel berbintang lima di Singapura. Salah satu peserta pelatihan adalah Pak Lim, seorang pria berusia 60 tahunan yang bekerjadi hotel tersebut. Bagi saya pekerjaan sehari-hari Pak Lim sangatlah monoton dan membosankan. Setiap hari, dengan membawa sebuah daftar, dia mengecek engsel pintu setiap kamar hotel. Saya akan menceritakan sedikit bagaimana tugas Pak Lim sebenarnya.Pak Lim memulai rangkaian tugasnya dengan mengecek engsel pintu pintu kamar 1001 dan memastikan bahwa engsel dan fungsi kunci pintu berfungsi dengan baik. Pengecekan yang dilakukannya bukanlah pengecekan “seadanya”, namun pengecekan yang saksama di setiap engsel dan memastikan bahwa setiap pintu bisa dibuka-tutup tanpa masalah. Untuk mengecek satu pintu saja, Pak Lim berulang kali membukan dan menutup pintu tersebut hanya untuk memastikan bahwa semuanya berfungsi dengan baik. Barulah setelah puas, dia memberi paraf pada daftar yang dibawanya dan mengecek pintu kamar berikutnya, kamar 1002, dia melakukan hal yang sama, begitu seterusnya. Dalam sehari, Pak Lim bisa mengecek pintu 30 kamar. Anda tentu bertanya, berapa hari waktu yang dibutuhkan Pak Lim untuk mengecek pintu semua kamar di hotel itu. kurang lebih sebulan! Tidak mengejutkan sebenarnya karena hotel berbintang lima ini memiliki sekitar 600 kamar. Tugas pengecekan Pak Lim dapat diibaratkan sebagai lingkaran. setelah pintu kamar terakhir selesai dicek, Pak Lim akan kembali lagi ke kamar pertama, kamar 1001. Rangkaian tugas ini terus berjalan seperti itu, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun demi tahun. Pekerjaan semacam ini jelas merupakan pekerjaan monoton, tanpa variasi dan membosankan! saya sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin Pak Lim masih bisa cermat dan teliti mengecek setiap engsel pintu dalam menjalani tugas yang membosankan ini. saya membayangkan, seandainya saya sendiri yang diminta melakukan hal semacam ini, mungkin saya akanmemeriksa setiap engsel sekedarnya saja. Karena sangat penasaran, suatu hari saya bertanya kepada Pak Lim apa yang sebenarnya membuatnya begitu tekun menjalani pekerjaan rutin itu. Jawabannya sungguh diluar dugaan saya. Dia mengatakan,” James, dari pertanyaan Anda, saya bisa menyimpulkan bahwa Anda tidak mengerti pekerjaan saya. Pekerjaan saya bukan sekedar memeriksa engsel, tetapilebih dari itu. Begini. Tamu-tamu kami di hotel berbintang lima ini jelas bukan orang sembarangan. mereka biasanya adalah Kepala Keluarga, CEO sebuah perusahaan, Direktur atau Manajer Senior. Dan saya tahu mereka semua jelas bertanggung jawab atas kehidupan keluarga mereka, dan juga banyak karyawan dibawahnya yang jumlahnya mungkin 20 orang,100 atau bahkan ribuan orang. “Nah, kalau sesuatu yang buruk terjadi di hotel ini, misalnya sajakebakaran dan pintu tidak bisa dibuka karena engselnya rusak, merekabisa meninggal didalam kamar. akibatnya bisa Anda bayangkan, pasti sangat mengerikan, bukan hanya untuk reputasi hotel ini, tetapi jugabagi keluarga mereka, karyawan yang berada dibawah tanggungan mereka.Keluarga mereka akan kehilangan sosok Kepala Keluarga yang menafkahi mereka dan karyawan mereka akan kehilangan sorang pimpinan senior yang bisa jadi mengganggu kelancaran perusahaan. Sekarang Anda mungkin dapat mengerti bahwa tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel, tapi menyelamatkan Kepala Keluarga dan Pimpinan unit bisnis sebuah perusahaan. Jadi, jangan meremehkan tugas saya.” Saya benar-benar terperangah mendengar penjelasan panjang lebar PakLim. Dari situlah saya mengerti bahwa jika seseorang tahu benar makna dibalik pekerjaannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan bangga, dengan senang hati, dengan penuh tanggung jawab. Sebaliknya, seandainya saja Pak Lim tidak mengerti makna pekerjaannya, dia akan mengatakan bahwa tugasnya hanya sebagai tukang periksa engsel. Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri. Apakah anda tahu benarmakna dibalik pekerjaan Anda? Katakanlah Anda adalah seorang Staff, Kepala Bagian, Manajer unit bisnis, Kadiv, apakah Anda tahu makna dibalik pekerjaan anda sebagai seorang Staff, Kepala Bagian , Manajer atau Kadiv ? Ingatlah bahwa jika seorang tahu makna pekerjaannya, dia pasti akan melakukan pekerjaan dengan rasa bangga, dan yang terpenting, dia akan membuat pekerjaannya penuh arti, bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi perusahaannya.
Regards,JAMES GWEE

Jalan Menuju Sukses

Jalan menuju sukses
Seorang anak muda berbicara dengan gurunya. Ia bertanya, “Guru,bisakah engkau tunjukkan dimana jalan menuju sukses ?” Uhm….., Sang guru terdiam sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Anak muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapasaat melangkah tiba-tiba ia berseru, “Ha! Ini jalan buntu!” Benar,di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan, “Barangkali aku salah mengerti maksud sangguru.” Kembali, Anak muda itu berbalik menemui sang guru untuk bertanya sekali lagi, “Guru, yang manakah jalan menuju sukses.” Sang guru tetap menunjuk ke arah yang sama. Anak muda itu kembaliberjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuahtembok yang menutupi. Ia berpikir, ini pasti hanya gurauan. Dan anak muda itupun merasa dipermainkan. Emosi dan dengan penuh amarah ia menemui sang guru, “Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalanbuntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menujusukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, bicaralah!” Sang guru akhirnya berbicara, “Di situlah jalan menuju sukses. Hanyabeberapa langkah saja di balik tembok itu.” Siapa bilang tembok adalah tujuan akhir?

Kekuatan Terbesar Manusia

Manusia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan mahakarya.Kekuatan terbesar dalam diri manusia itu terdapat pada pikiran. Tetapikita jarang membuktikan kekuatan pikiran tersebut, sebab kita seringterjebak dalam zona nyaman atau kebiasaan tertentu. Sehingga selamanyatidak dapat mencari kemungkinan yang lebih baik atau perubahan nasibyang berarti. Oleh karena itu milikilah target yang lebih tinggi untuk merangsangkekuatan dalam pikiran tersebut. Sebab target atau sasaran baru yangdipikirkan itu akan menggerakkan diri kita untuk melaksanakan tindakan.Apalagi jika diyakini target tersebut bakal tercapai, maka diri kitaakan lebih siap menghadapi tantangan yang ada. Setelah tindakan-tindakan baru yang lebih konstruktif dikerjakan hinggaberulang-ulang, maka tanpa disadari kita sudah banyak melakukan hal-halpenting hinga kita tiba di zona baru, dimana kita berhasil mencapaitarget yang didambakan. Itulah mengapa dikatakan bahwa manusia mempunyaipotensi yang sangat besar dalam pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiranbawah sadar itu dapat dibangkitkan melalui 2 cara, yaitu: autosuggestiondan visualization.
Autosuggestion Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawahsadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadarsangat besar dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan diri kitauntuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar danterekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion. Autosuggestion seharusnya dilakukan dengan penuh rasa percaya,melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyekyang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadarinilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita. Kekuatan yangditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat entah digunakanuntuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untukmelakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar. Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock) . Karena dilakukanberulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembuspikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa semangat.Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita. Mungkin kegiatan autosuggestion ini akan dianggap aneh oleh orang lain.Tetapi itulah salah satu cara untuk mengubah diri dari dalam. Biasakanmendengar pola pikir positif dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yangkonstruktif. Jadi jangan ragu untuk melakukan budaya-budaya yangpotensial, menumbuhkan optimisme dan kreatifitas. Ada 5 (P) petunjuk dalam melakukan autosuggestion, yaitu; - Positive : pada saat melakukan autosuggestion, pikirkan hal-hal yangpositif saja. - Powerful : lakukan dengan penuh keyakinan sebab dapat memberikankekuatan untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. - Precise : keinginan yang hendak dicapai harus sudah dapatdideskripsikan, karena pikiran bawah sadar hanya bisa menyusunberdasarkan kategori. - Present Tense: dalam bentuk keinginan saat ini, bukan keinginan dimasa lalu atau akan datang. - Personal : lakukan perubahan positif terhadap diri sendiri terlebihdahulu.
Visualization Bila kita menginginkan sesuatu maka pikiran bawah sadar akanmenggambarkan apa yang didambakan itu. Dengan cara memvisualisasikanimpian terlebih dahulu, terciptalah banyak sekali karya-karyaspektakuler di dunia ini. Marcus Aurelius Antonius, seorang kaisarRomawi jaman dahulu mengatakan, “A man’s life is what his thought makeof it - Kehidupan manusia ialah bagaimana mereka memikirkannya. ” Sesuatu yang selalu divisualisasikan manusia akan mudah terekam dalampikiran bawah sadar. Lalu muncul kekuatan pikiran tersebut, yangberperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga tubuhpunbereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumnya tidak pernahdigunakan, dalam bentuk kreatifitas atau tindakan. Memvisualisasikanimpian memungkinkan seluruh impian tercapai oleh pikiran bawah sadar. Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sama besar kepadamanusia. Tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kitauntuk mencapai impian-impian. Berikut ini beberapa langkah dalammemvisualisasikan impian, yaitu:
1. Mendefinisikan impian Mendefinisikan impian artinya memberikan batasan atau standar akanimpian yang hendak dicapai. Kemudian, gambarkanlah semua impianseolah-olah Anda sudah sepatutnya meraih impian tersebut. Meskipuntindakan ini terkesan sederhana, tetapi dari gambaran impian itulah kitaakan mencoba berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan dan akhirnyadapat meraih cita-cita.
2. Menentukan target waktu Dambakan impian itu terwujud sesuai target yang telah ditentukan, sebabimpian tanpa target waktu hanya akan menjadi mimpi sesaat. Impian dengantarget waktu akan menggerakkan kesadaran untuk tidak segan-seganmelakukan perubahan. Maka mulailah dari sekarang, Be the best, do thebest, and then let God take care the rest ?Jadilah yang terbaik, lakukanyang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan. Potensi yang kita milikikelihatannya sangat sayang jika tidak dioptimalkan.
3. Melakukan berulang-ulang Melakukan ulangan artinya mengkondisikan diri kita untuk lebih seringingat akan impian kita. Jika sering ingat, maka perlahan-lahan impianitu akan tertanam di alam pikiran bawah sadar. Bila pesan sudah diterimaoleh SCM (sub-conscience mind), maka dia akan menggerakkan diri kitauntuk menciptakan keputusan atau menjadikan kita lebih kreatif. Jika impian lebih sering diimajinasikan ternyata dapat melipatgandakankekuatan dari pikiran bawah sadar. Imajinasi yang diulang-ulang ini akansecara tidak langsung merangsang ilusi akan kenyataan yang luar biasatentang potensi kita sebagai umat manusia. Sehingga diri kita akanberusaha keras mencapai impian yang divisualisasikan. Begitulah seterusnya kekuatan pikiran bawah sadarbekerja dan dibangkitkan, hingga perubahan besar terjadi dalam diri kitapada suatu waktu.*
Sumber: Kekuatan Pikiran Bawah Sadar oleh Andrew Ho

10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai

Ketulusan Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai olehsemua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karenayakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakankebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan ataumemutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangidengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadikeluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
Kerendahan Hati Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justrumengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikaprendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orangyang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisamembuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnyatidak merasa minder.
Kesetiaan Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yangsetia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punyakomitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
Positive Thinking Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihatsegala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruksekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan oranglain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih sukamencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dansebagainya.
Keceriaan Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidakharus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceriaadalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selaluberusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorongsemangat orang lain.
Bertanggung jawab Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengansungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untukdisalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akanmenyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yangbertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
Percaya Diri Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimanaadanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percayadiri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Diatahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
Kebesaran Jiwa Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa bencidan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidakmembiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
Easy Going Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak sukamembesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatirdengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalahyang berada di luar kontrolnya.
Empati Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan sajapendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi keduabelah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Diaselalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.
Artikel dikutip dari Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung

Orang Brengsek Guru Sejati

Orang Brengsek Guru Sejati oleh : Gede Prama
Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With DifficultPeople.Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik dan tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama, dll. Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang menemui saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana sebagian adalah manusia sulit. Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri untukmemecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkanperilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka;seperti keras kepala, menang sendiri, dll dan kemudian saya tanya apakah itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian darimereka hanya tersenyum kecut. Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan kacamata terlebih dahulu,sebelum melihat orang lain. Dalam banyak kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun kelihatan kotor.Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit, yakinlah kalau bukanAnda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras kepala, maka orang berbeda pendapat sedikit saja punjadi sulit. Karena Anda amat mudah tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda jadi kesal. Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalamkeadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit. Dengan meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah gurukehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit. Terutama karena beberapa alasan. Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan betapamenjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu. Saya berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan sukamenghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak. Sekarang, bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab, saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina anak kecil. Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadiorang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini seperti karet. Pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, itu berarti kita sedang menarik karet ini ( baca : tubuh dan jiwa ini ) menjadi lebih longgar ( sabar ). Saya pernah mengajar sekumpulan anak-anak muda yang tidak saja amat pintar,namun juga amat rajin mengkritik. Setiap di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi kebal. Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil saya,pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain.Dan gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas. Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan.Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya. Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator. Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadiorang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dihina orang lain. Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Di masa kecil, saya termasuk orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian, kalau ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa besar dan hebatnya diri ini rasanya, kalau berhasil membantu orang yang tadinya menghina kita.

Creative Advertising

Lihat sisi creative nya ya bro'
Regards.

Creative & Fun

Seger aQ lihat advertising ini.

Sunday, April 06, 2008

Suara Kenabian ditengah Konteks Pergumulan Kekinian

Panggilan menjadi AlatNya.
Refleksi dari Suara Kenabian Nabi Amos (Amos 5 : 14-17)
Pdt. Happy Pakpahan
I. Konteks Nats
Pemanggilan oleh Allah untuk menjadi alatNya berlangsung lintas profesi. Misalnya saja pemanggilan kepada Amos yang berfrofesi sebagai seorang petani berasal Tekoa. Ia dipanggil oleh Allah sebagai Nabi pada saat Kerajaan Israel memasuki babak baru dalam kehidupannya, dimana terjadi perkembangan ekonomi, sosial, politik yang menjanjikan harapan yang indah bagi segenap penduduk Israel. Perkembangan politik terbukti dengan makin luasnya wilayah teritorial kerajaan Israel. Roda kehidupan ekonomi melaju pesat karena aktivitas perdagangan luar negeri yang makin aktif dan lancar. Perkembangan ini semua diikuti dengan semakin tumbuhnya nasionalisme yang kental di rakyat Israel yang terbalut oleh keyakinan iman yang ekslusif. Semangat keyakinan iman itu dihayati dan dirayakan dalam bentuk-bentuk keagaman yang simbolik, Ramai-ramai umat Israel secara rutin mengunjungi tempat-tempat ibadah. Dibawah pimpinan para imam, orang samakin ramai mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Pesta-pesta keagaman dilakukan dengan sangat meriah dan antusias. Melalui ekspresi keagamaan dan ceromoni inilah umat Israel berusaha memelihara “hubungan baiknya” dengan Allah. Mereka seolah-olah hendak meyakinkan diri bahwa jika melakukan demikian maka Allah pasti akan memberkati dan menyertai bangsaNya Israel, umat pilihanNya. Akan tetapi dibalik sisi gemerlap “keagamaan ini”, terjadi hal yang ironis. Kemakmuran Israel yang tergambar dalam meriahnya aktifitas keagamaan ternyata hanya menyentuh sebagian kecil masyarakat, yakni mereka yang hidup sebagai kalangan pejabat dan kaya. Sementara sebagian besar masyarakatnya justru hidup miskin, menderita dan tertindas. Terjadi kesenjangan social-ekonomi. Dan ternyata hal ini terkondisikan oleh perbuatan mereka-mereka yang “berlaku saleh“ dalam aktifitas keagamaannya itu. Dalam konteks inilah Amos dipanggil dan menyuarakan suara kenabian yang dari Allah.
II. Panggilan - Suara Kenabian Amos & Relevansi
Melihat konteks inilah dalam nubuatannya Nabi Amos mengatakan bahwa aktifitas keagamaan yang meriah itu sebagai realitas yang palsu dan semu. Amos dikenal sebagai Nabi yang bernubuat dengan kata-kata yang tajam dan blak-blakan mewartakan teguran dan hukuman dari Allah bagi Israel, karena sebagai bangsa, Israel telah berdosa dihadapan Tuhan. Ada kesenjangan keagamaan dengan realitas. Sebab kenyataannya, kegiatan ibadah mereka tidak mengubah karakter hidupnya. Masih tetap terjadi penindas terhadap orang miskin dan lemah oleh orang kaya yang sehari-hari melakukan rutinitas keagamaan. Ayat 14. Diawal nats dengan tegas dikatakan “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. “. Ada pesan untuk berbuat aktif, mencari yang baik dan jangan yang jahat, bukan menunggu. Kalimat ini tegas, mengajak orang mengambil sikap melakukan perbuatan baik. Dan perbuatan baik itu berasal dari kedekatan hubungan dan penyertaan dari Allah. Hidup orang percaya adalah hidup yang aktif sebagai pencari dan pelaku kebaikan. Ini sejajar dengan panggilan dalam perkataan Tuhan Yesus di Perjanjian Baru sebagai garam dan terang dunia. Dan kemudian dipaparkan bahwa ada dampak dari perbuatan baik itu yaitu mereka akan hidup dan Allah Semesta Alam akan menyertai mereka. Dari nats ini Amos kembali menekankan bahwa kehidupan itu berasal dari penyertaan Allah semata.
Ayat 15. Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf. Bukan saja mencari yang baik tetapi suara kenabian Amos juga mengajak mengambil sikap tegas terhadap pebuatan jahat. Dikatakan Bencilah yang jahat. Artinya : tidak menteloransi – tidak membiarkan kejahatan - atau lebih tegas melawan yang jahat. Allah membenci kejahatan sekaligus mencintai hal yang baik. Dan kedua hal ini tidak saling menteloransi. Mencintai yang baik diikuti dengan perbuatan menegakkan keadilan dipintu gerbang. Pintu gerbang artinya tempat persidangan. Mencari yang baik berarti menegakkan keadilan serta kebenaran, dan ini dilakukan di pengadilan dan segala aspek kehidupan manusia. Hal ini tidak terpisah. Menegakkan keadilan dan kebenaran adalah panggilan jalan kehidupan orang percaya. Mereka yang mengaku umat Pecaya kepada Allah akan tetapi tidak menegakkan keadilan dan kebenaran maka pengakuannya itu adalah palsu. Dan ayat ini diikuti kalimat konsekuensi ( sebab – akibat ) yaitu : Jika membenci yang jahat dan mencintai yang baik dan menegakkan keadialan mungkin Tuhan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf. Kata mungkin disini menunjukkan pergumulan kerohanian Amos terhadap Tuhan. Disatu sisi Amos bergumul dengan pertobatan Israel, sisi lain Amos bergumul supaya Tuhan menyatakan belas kasihannya kepada Israel.
Ayat 16-17. Sesungguhnya, beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Tuhanku: "Di segala tanah lapang akan ada ratapan dan di segala lorong orang akan berkata: Wahai! Wahai! Petani dipanggil untuk berkabung dan orang-orang yang pandai meratap untuk mengadakan ratapan. Dan di segala kebun anggur akan ada ratapan, apabila Aku berjalan dari tengah-tengahmu," firman TUHAN. Pada ayat ini Amos kemudian berbicara tentang kondisi yang akan terjadi bila kejahatan tetap dilakukan umat Israel. Bangsa ini tidak akan luput dari penghukuman – akan ada ratapan dimana-mana, termasuk bagi orang-orang yang pandai, yang menggap diri sanggup mengendalikan segala sesuatu. Ini adalah bagian dari keadilan Allah. Dengan mewartakan ini, Amos mengajak umat Israel mengingat kembali kuasa dan kendali yang dimiliki Allah. Demikianlah Amos dalam pemberitaannya memberitakan penghukuman dan juga memberitakan kasih Allah. Segala sesuatu memiliki konsekuensi. Perbuatan baik akan mendatangkan berkat, penyertaan Allah, sedangkan perbuatan yang melanggar ketetapan Allah akan mendatangkan penghukuman. Di Negeri kita, Indonesia, Agama sangat dijunjung. Mulai dari pendidikan dasar hingga publikasi pariwisata, selalu diajarkan bahwa masyarakat Indonesia disebut masyarakat religius, yang berakhlak, santun dan bermoral tinggi. Di Negeri ini juga dapat disaksikan pesatnya pembangunan rumah-rumah ibadah mulai di masyarakat hingga di Kantor Pemerintah dan Swasta, berdiri rumah ibadah. Aktifitas keagamaan dilakukan dengan meriah (apalagi di Moment Hari besar keagamaan). Pada moment keagamaan, masyarakatnya secara lintas masing-masing latar belakang agama, rajin mengunjungi rumah ibadah sehingga rumah ibadah tampak penuh dan padat. Ibadah tidak lagi hanya dilaksanakan di rumah ibadah akan tetapi hingga ke kantor-kantor swasta atau pemerintah, hotel-hotel, kapal-kapal hingga ke tanah lapang. Dimana-mana diadakan “pagelaran” bertajuk Doa Bersama, Gebyar Praise and Worship, Tabliq - Ibadah Akbar, dll. Juga masing-masing Agama gencar melakukan gebyar Dakwah. Bermunculan Pengkotbah – Pendoa yang populer dan professional layaknya selebritis. Akan tetapi ternyata ratapan-ratapan sosial – ekonomi – budaya – karakter – dan ratapan kriminal tetap berlangsung dinegeri ini. Indikatornya : tetap dan semakin banyak saja terjadi kekerasan mengatas namakan Agama. Pembakaran, penutupan rumah ibadah agama tertentu, gerakan sistematis penindasan terhadap aktivitas melakukan hak dasar beragama tetap berlangsung melalui peraturan dan UU berbau syariah agama tertentu. Hingga intimindasi – terror bagi umat melakukan ibadah juga tetap terjadi dibeberapa daerah. Atas nama agama tertentu, sekelompok orang melakukan kekerasan yang notabene adalah kejahatan hak asasi. Tetap maraknya praktek korupsi, kolusi, nepotisme merambat laksana KANKER dimasyarakat, mulai dari satpam hingga pejabat, dari kondektur hingga direktur, dari tukang parkir hingga konglomerat. Penipuan, pencurian, perampokan, terror, pelecehan. pemerkosaan tetap terjadi dan menjadi isi sehari-hari media massa. Sementara itu, kebencian antar golongan, Agama, suku ditiup-tiupkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang pada dasarnya dikendalikan oleh kepentingan. Gerakan ekslusifisme keagamaan menjamur. Ironisnya, tetap terjadi kesenjangan ekonomi. Disatu sisi berdiri bangunan sebagai symbol kemewahan dan kejayaan, disisi lain diseberangnya tetap berdiri gubuk-gubuk kumuh symbol kekalahan persaingan ekonomi. Ini semua bermuara ke frustasi sosial dimasyarakat, lihat saja karena persoalan sepele seorang bias dikeroyok hingga babak belur, pelaku copet diadili dan dibakar massa hingga meninggal. Penyelesaian persoalan lebih banyak dengan kekerasan. Main hakim sendiri bukti ketidakpercayaan kepada proses hukum yang dikelola pejabat publik Negara. Ada terjadi, satu waktu orang berjalan dengan pakaian simbol kesalehan sambil menjinjing kitab sucinya, tetapi di lain waktu orang yang sama adalah pelaku korupsi dan merampok hak-hak orang banyak. – penindas. Disatu sisi di moment keagamaan tertentu diadalan perayaan meriah yang cenderung komersil dengan makanan dan kemewahan disisi lain banyak orang yang kelaparan dan kekurangan yang dibiar kan menonton kemewahan. Manusia telah buta dan tuli akan penderitan orang lain. Dipihak tertentu, kerajinan merumuskan UU, peraturan – peraturan, ketepatan–ketetapan telah menjadi “topeng” pelindung buruk rupa para perumus. Dibeberapa kasus justru orang yang tahu tentang agama dan perundang-undanganlah yang diharapkan menjadi motor kebaikan justru menjadi actor kebejatan.
Inilah wajah negeri kita. Sebuah wajah yang terbelah. Sangat kontras. Lalu kemana ajaran – pengajaran agama selama ini ? kemana bermuara semua kotbah – dakwah – nyanyian – doa – dan “tampilan kesalehan” itu semua ? kemana semua wejangan ilahi ? Menyedihkan memang. Mengapa sebagai Negara yang beragama, di Ripublik kita ini kejahatan dan ketidakadilan justru tetap mewarnai kehidupan kita. Sejajar dengan nubuatan Amos, Apa yang salah ? ada benar terjadi kesenjangan antara aktivitas keagamaan dengan kenyataan hidup. Benarkah umat beragama secara khusus umat Kristen tidak konsisten mencintai yang baik dan membenci yang jahat, menegakkan keadilan dan kebenaran. Atau justru sebagai bagian pelaku kejahatan dan pelaku ketidakadilan ?. Nubuatan Amos mewartakan kepada kita hari ini tanpa disertai perilaku yang benar, aktivitas keagamaan adalah sia-sia. ( bnk. Yesaya 58 : 1-7 ; Matius 6 : 16 – 18 ; Zakaria 7 : 9-10). Jika tindakan keagaman ( sermon, partangiangan, ibadah mingggu, doa, nyanyian, pesta pembangunan, dll) sebagai tindakan lahiriah tanpa disertai oleh kemurnian hati, mencintai dan melakukan hal yang baik dan menegakkan keadilan dan kebenaran, aktifitas itu semua tidak berkenan di hadapan Allah. Sebaliknya jika ibadah dilakukan dengan kemurnian hati dan terimplementasi dalam perbuatan hidup, maka terang dari Tuhan akan bersinar dengan sendirinya menjadi berkat yang menerangi dan menggarami keadaan. Mengenai ratapan dalam kehidupan ekonomi, sosial dan kebebasan beragama, persoalannya sekarang justru bukan karena Allah yang tidak menolong atau mendengar keluhan umat sehingga kondisi tetap demikian.
Tetapi pertanyaan refleksi adalah mengacu kepada ayat 16-17, benarkah “ratapan” itu terjadi justru karena umat sendirilah yang ternyata tetap menajiskan dirinya dengan perbuatan dosa, dan dosa itu yang membuat mereka terpisah dari Allah. Bagi Amos sangat jelas yang memisahkan manusia dari Allah adalah dosa. Kejahatan dan perlakuan kejahatan manusia itulah yang mendatangkan penderitan dan ratapan bagi manusia. Untuk itu mari kita mereflesikan diri, benarkah justru telah terjadi kesenjangan antara iman dan perbuatan dalam kehidupan kekristenan selama ini. Mari berefleksi apakah Ibadah yang gebyar-gebyar selama ini tidak diikuti dengan mencintai dan hidup melakukan kebenaran dan keadilan. Untuk itu belajar dari Nats Kitab Amos ini, mari mencintai kebaikan dan keadilan dan kebenaran, naikkanlah syafaat doa untuk negeri ini. Gereja hendaknya semakin kontekstual dan maksimal mewartakan suara kenabian Amos agar umat Tuhan semakin mencintai kebaikan dan membenci kejahatan serta seakligus menegakkan keadilan dan kebenaran, dipakai Allah memberikan suara kenabian ditengah masalah kerakyatan.. Dan mari berlaku sebagai garam yang tidak hambar dan terang yang tidak disembunyikan didalam gantang. Inilah panggilan hidup orang percaya. Syalom.

Monday, March 31, 2008

Konsep Diri

SIAPAKAH AKU? Sebuah Konsep Diri & Kaitannya Pada Kepemimpinan Kristen Disampaikan pada LDK GMKI Komisariat FKM USU Minggu, 30 Maret 2008 – Taman Doa P. Batu
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Yohanes 12:24 I. Pengantar – Analisa Kebutuhan Siapakah saya …. ? apakah saya mengenal diri saya ? apakah saya mengenal betul apa yg saya pelajari dari masa lalu saya ? apakah ada pertumbuhan kedewasaan iman, cara berpikir dan perilaku dalam diri saya ? Apakah saya layak disebut sebagai anak-anak kerajaan Allah ? atau saya hanyalah seorang anak domba yg hilang oleh dosa ditengah gemuruh keramaian dunia ? atau saya adalah seorang manusia “bertopeng” yg mengaku bahwa saya adalah seorang murid Yesus padahal karakter dan perbuatan saya jauh dari kehendakNya? apa sisi kekuatan dan kelemahan saya ? mengapa ini tercipta ? jadi apa yg harus saya lakukan ke depan ? Bagaimana sikap kepemimpinan dalam diri saya ? Apakah saya hanya pengikut bukan pemimpin? Ini adalah deretan pertanyaan standart yg patut kita ajukan dalam introspeksi diri kita sendiri demi pertumbuhan kita. Tidak semua manusia mengenal dirinya sebagai gambar dan rupa Allah. Untuk itulah sangat perlu mempelajari diri kita yg dikenal dengan istilah konsep diri. Manusia adalah mahluk istimewa yg diciptakan segambar dan rupa Allah. Konsep diri sebagai gambar dan rupa Allah sering kali kabur dalam diri kita (oleh karena kita sendiri ) sehingga kita tidak menikmati dan menjalani keberadaan hidup kita sebagai gambar & rupa Allah. Dalam sesi ini kita memakai waktu untuk mengenali potret diri yg ada dalam diri kita, potret hubungan dengan diri kita sendiri, sesama manusia, dan kepada TUHAN. Peka terhadap Potret Diri kita, penting untuk memaknai, menghargai, dan mengisi hidup, menjadi murid yg menjadi dirinya sendiri tanpa ada topeng kebohongan. Untuk itu izinkan saya memandu sesi ini, memeriksa konsep diri masing-masing dengan landasan kejujuran.
II. Pentingnya Pengenalan “Siapa Aku” dihadapan Sesama dan TUHAN Para filsuf memberi nasehat yang bijaksana kepada kita, “kenalilah dirimu sendiri”. Pengetahuan diri yang benar terdiri dari dua hal. Pertama, memahami keunggulan alamiah yang dikaruniakan Allah kepada kita saat penciptaan, suatu pengenalan yang harus membuat kita bersyukur. Kedua, menyadari kondisi nestapa yang kita alami setelah kejatuhan kedalam dosa, bahwa pada mulanya, kita dibentuk menurut gambar Allah, dan diberikan akal budi dan hikmat untuk menempuh kehidupan yang berkebajikan dan beribadah kepada Allah, namun di dalam Adam, kita semua tergelicir dari kondisi orisinil kita. Pengertian ini biarlah membuat kita benar-benar rendah hati dan mendorong kita untuk mencari Allah. Allah mau kita mengenal diri dengan benar supaya hal itu membawa kita untuk tunduk kepadaNya. Orang berusaha mengenal diri berdasarkan standar Allah tidak memiliki alasan untuk memegahkan diri; namun secara paradoks ia mengetahui kelebihan-kelebihan yang Allah tanamkan dalam dirinya. Untuk mengenal diri dengan benar; pertama-tama, kita harus memperhatikan apa tujuan kita diciptakan sehingga diberikan karunia yang demikian luar biasa; kedua, mempertimbangkan kemampuan maupun keterbatasan kita. Yang pertama, membawa dia kepada kesadaran akan tugas kita kepada Allah, sedangkan yang kedua, kesadaran akan kemampuan yang kita miliki untuk melaksanakan tugas kita. Artikel berikut akan mengulas tentang konsep diri, apa dan bagaimana konsep diri berpengaruh terhadap kepemimpian seseorang. Karena itu sangat diperlukan pengenalan diri. Pengenalan diri adalah dasar sebuah kepemimpinan Kristen. Bagi sebagian orang mengenali diri sendiri mungkin adalah masalah yang mudah tapi umumnya sebagian besar orang menganggap adalah masalah yang sukar dan sulit. Secara pribadi saya sendiri berpendapat bahwa mengatasi proses pengenalan diri sendiri ini memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan gampang. Permasalahan utama yang sering timbul dan menghambat kita untuk dapat mengenali diri kita ini adalah kemampuan diri untuk berdiri secara "jujur, obyektif dan adil" dalam memberikan pandangan terhadap diri sendiri. Nah, dalam kenyataannya memang hal inilah yang justru jarang bisa dilakukan oleh setiap orang . Akhirnya proses mengenali diri sendiri ini memang akan menjadi sangat sulit dan membingungkan karena faktor ketidak jujuran, ketidak obyektifan dan ketidak adilan dalam memandang diri itu sendirilah yang harus bisa disadari dan diperbaiki (revisi). Padahal, saya menurut saya sering berbeda hasilnya dengan penilaian siapa saya menurut orang-orang disekitar saya apalagi menurut TUHAN. Karena itu konsep diri sangat diperlukan untuk ajang evaluasi pembenahan dan pengembangan diri. “Siapa saya" adalah jati diri kita (berupa eksistensi) yang sesungguhnya yang ada dahulu, sekarang dan yang akan datang. Setiap orang memiliki jati diri yang mempunyai keunikannya masing- masing. Kata "keunikan" ini sengaja dipakai untuk menggantikan kata "kelebihan dan kekurangan" agar kita tidak terjebak dalam pandangan untuk saling membandingkan. Keunikan jati diri masing-masing ini adalah merupakan hasil dari proses-proses terdahulunya dan merupakan awal dari proses kedepan yang juga tidak perlu dibandingkan dan dinilai berlebihan, akan tetapi haruslah dipahami dan disadari sepenuhnya.
III. Kegunaan Mengenal Diri Pertama, kegunaan atau faidah praktis dari pengenalan diri adalah memberikan peluang kepada manusia untuk lebih familiar terhadap kemampuan dan bakatnya. Hal ini akan banyak membantu seseorang dalam hidupnya, misalnya untuk mengambil keputusan yang mempengaruhi hidupnya. Kedua, di samping itu pengenalan diri sangat bernilai karena manusia dapat menyadari bahwa ia bukanlah sosok atau maujud yang mengada dengan sendirinya (self-existent). Hal ini penting, lantaran akan membantu seseorang untuk memahami bahwa sehebat apa pun ia atau setinggi apa pun kedudukan dan status sosialnya, esensi manusia sebagai mahluk social adalah butuh sesama dan bergantung kepada Tuhan. Ketiga, Pengenalan diri sangat efektif bagi sistem dan mekanisme pengembangan diri. Keempat, mengenal diri akan membantu seseorang memahami bahwa ia tidak tercipta secara kebetulan (by chance). Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan kita, diri kita, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang tak-terelakkan bahwa Tuhanlah yang mencipta seluruh keberadaan. Kita tidak mewujud dengan sendirinya atau hanya karena persemaian antara sperma dan ovum dari kedua orang tua kita. Manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya. Ia akan melakukan monologue pada dirinya ihwal Darimanakah kedatanganku?Ke mana langkah yang aku tuju? Untuk tujuan apa keberadaanku? Dengan mengenal diri, ia akan menuai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini.
IV. Pengenalan Diri : Siapakah Aku?

Pada sesi ini kita akan latihan mengenal Potensi diri. Untuk itu dipersilahkan peserta mempersiapkan alat tulis untuk moment mengevaluasi diri. Modal dasar utama yang diperlukan untuk melewati sesi ini adalah kejujuran dan keterbukaan. Akan tetapi dilain sisi, jangan pula kita sampai terjerumus dan terseret arus pola berpikir pesimis yang akhirnya justru membesar-besarkan faktor ketidakmampuan dan keterbatasan yang ada menjadi senjata dan alasan untuk meng "cover" semua hal dalam kehidupan ini yang memang sulit dan berat bagi siapapun.

  • Sifat - sifat dan karakter > Setiap orang pasti membawa sifat-sifat dan karakternya sendiri-sendiri, setiap orang walaupun bisa saja ada kemiripan tapi tidak pernah ada yang sama persis dalam hal ini.- Mari peserta pertemuan ini menuliskan 5 sifat-karakter diri.
  • Hasrat dan keinginan> Setiap orang pasti memiliki hasrat dan keinginannya masing-masing, yang biasanya adalah merupakan refleksi dari sebuah bentuk ideal / cita-cita yang awalnya bersumber dari ego. - Mari peserta pertemuan ini menuliskan 5 hasrat & keinginan dalam hidupnya.
  • Kemampuan > Penguasaan terhadap suatu hal yang merupakan ciri khas seseorang yang dimiliki dan didapat secara dan dalam kealamiahannya masing - masing, haruslah terus digali dan dikembangkan serta dipergunakan secara positif demi kepentingan kebaikan yang semakin luas semakin baik. Oleh karena itu jika bisa mengenal kemampuan diri maka secara lebih gampang pula kita dapat terus mengembangkannya sehingga mencapai suatu level yang relatif tinggi. Biasanya kemampuan seseorang itu berupa wawasan, pengetahuan, kepandaian dan keahlian, yang merupakan hasil dari perpaduan antara intelegensi dan emosi melalui proses belajar (baik sekolah maupun otodidak) serta pengalaman-pengalaman sepanjang hidupnya.Dari sini, maka kita dapat disimpulkan bahwa "belajar" dan "berlatih" adalah dua hal pokok yang sangat berperan dalam usaha meningkatkan kemampuan diri.- Mari peserta pertemuan ini menuliskan 5 kemampuan yang diandalkan dari diri masing-masing.
  • Ketidakmampuan & keterbatasan>. Diluar kemampuan yang ada, maka adalah hal yang alami pula bahwa setiap insan didunia ini selalu diliputi juga oleh ketidakmampuan dan keterbatasan (sengaja penulis tidak menggunakan kata "kelemahan" untuk memberikan nuansa optimisme). Dalam masalah ini memang kemauan dan usaha keras secara konsisten mutlak diperlukan , karena biasanya untuk dapat bisa "mengakui" bahwa kita mempunyai ketidakmampuan dan keterbatasan saja sudah sangat sulit apalagi untuk merubahnya.- Mari peserta pertemuan ini menuliskan 5 hal ketidakmampuan atau keterbatasan diri.
  • Latar belakang>. Latar belakang bisa dianggap sebagai akar dari semua perkembangan yang timbul dan ada sekarang ini bagi siapapun juga. Walau kita pada akhirnya memang tidak perlu mempermasalahkan tapi bisa memahami latar belakang dari diri kita sedikit banyak dapat berguna untuk mengetahui siapa dan bagaimana diri kita yang sesungguhnya menurut kita, sesame dan dihadapan TUHAN.Oleh karena itu pula dalam metode pengembangan kepribadian, pemanfaatan latar belakang diri seseorang sebagai alat refleksi diri untuk membangkitkan pemicu semangat kearah yang lebih efektif masih sangat ampuh dan bermanfaat. - Peserta dipersilahkan mengevaluasi : “menurut anda, siapakah anda di mata keluarga, lingkungan kampus, lingkungan GMKI”.
Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai.
V. Kaitan Pengenalan Konsep Diri dan karakteristik Kepemimpinan Kristen 1. Arti KePemimpinan Secara Kristen Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Mengutip Henry Pratt Fairchild, arti pemimpin dalam pengertian luas, seorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menujukan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan, atau posisinya untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu. Sedangkan KePemimpinan Kristen berarti pemimpin yang mengenal Allah secara pribadi dalam Kristus dan memimpin secara kristiani. Pemimpin Kristen adalah pribadi yang memiliki perpaduan antara sifat-sifat alamiah dan sifat-sifat spiritualitas Kristen. Sifat-sifat alamiahnya mencapai efektivitas yang benar dan tertinggi karena dipakai untuk melayani dan memuliakan Allah. Sedangkan sifat-sifat spiritualitas kristianinya menyebabkan ia sanggup mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk menaati dan memuliakan Allah. Sebab daya pengaruhnya bukan dari kepribadian dan ketrampilan dirinya sendiri, tetapi dari kepribadian yang diperbaharui Roh Kudus dan karunia yang dianugrahkan Roh Kudus. Pemimpin Kristen berbeda dengan pemimpin alamiah (sekuler/umum) dalam beberapa hal. Pemimpin rohani mengenal Allah, mencari kehendak Allah, menaati kehendak Allah, bergantung pada Allah, mengasihi Allah dan manusia, dan akhirnya memuliakan Allah. Sedangkan pemimpin alamiah hanya mengenal manusia, membuat keputusan sendiri atau organisasi, berusaha mencapai sasaran pribadi atau organisasi, bersandar pada cara-cara sendiri, bergantung pada kuasa dan ketrampilan diri sendiri, mengutamakan hasil kerja dan cenderung mengabaikan manusia. [1]
2. Persyaratan pemimpin rohani. Jika persyaratan kualitas karakter dan sosial dalam pemimpin umum bersifat relatif, bahkan boleh saja tidak dimiliki, maka persyaratan pemimpin Kristen sangat menekankan aspek karakter dan sosialnya. Ada dua puluh kriteria yang dicantumkan dalam 1Tim. 3:1-13 dan Tit. 1:5-9, delapan belas berkaitan dengan reputasi seseorang, etika, moralitas, temperamen, kebiasaan, dan kedewasaan rohani serta psikisnya. Kualifikasi yang ditulis Paulus ini sebagai kualifikasi sosial, moral, mental, kepribadian, rumah tangga, dan kedewasaan. Kualifikasi dalam 1Tim. 3:1-7 ini memiliki tiga ciri menonjol, yakni menyangkut 1) persyaratan fundamen, bukan tugas, 2) tingkah laku yang teramati, 3) karakter tersebut bukan khas Kristen melainkan ideal tertinggi moralitas konteks Hellenistis zaman itu. Jadi kriteria di atas menunjukkan bahwa persyaratan seorang pemimpin rohani sangat ketat dan menuntut kedewasaan jiwani, rohani dan sosial. Kepemimpinan dalam Kristen menempatkan posisinya di bawah kontrol Kristus. Misalnya, seorang pemimpin Kristen bukan menjadi orang nomor satu dalam gereja, sebab Kristus adalah Kepala Gereja. Ia memimpin namun juga dipimpin oleh Pemimpin Agung, Tuhan Yesus (Yoh. 13:13). Demikian juga dalam kepemimpinan di Organisasi kekritenan seperti GMKI. Dengan demikian kerendahan hati dalam kepemimpinannya akan riil dalam praktiknya. Kerendahan hati yang melihat baik kebenaran tentang dirinya maupun keterbukaan untuk terus belajar akan kepemimpinan yang lebih baik, termasuk keunggulan dalam orang lain. Kemudian, cirri khas kepemimpinan berdasarkan motivasi Kristen adalah : jika kepemimpinan sekuler pada umumnya berdasarkan kekuatan manusiawi dan bertujuan untuk meraih keuntungan pribadi (Mrk. 10:42). Sedangkan kepemimpinan rohani harus menanggalkan pementingan diri dan motivasinya untuk kepentingan orang lain dan kemuliaan Tuhan. Sebab itu dia dimotivasi oleh kasih Kristus. Dia harus berbuah dan menghasilkan seperti yang tertulisa dalam Yohanes 12:24 : “Aku berkata kepadamu:Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Kepemimpinan secara Kriten mendasarkan otoritasnya pada pengorbanan. Sebab itu pemimpin Kristen yang sejati disebut “pemimpin pelayan” (a servant leader). Cacat terdalam dalam kepemimpinan sekuler berakar pada arogansi yang membuatnya bertindak dominan berdasarkan rasa superioritas. Yesus mengajarkan bahwa ciri khas dan kebesaran pemimpin spiritual terletak bukan pada posisi dan kuasanya, melainkan pada pengorbanannya. Hanya melalui melayani, seseorang menjadi besar (Mrk. 10:43-44). Pemimpin yang memberi keteladanan dan pengorbanan akan memiliki wibawa spiritual untuk memimpin orang lain. Salah satu kelemahan terbesar manusia--dan yang paling fatal adalah kecenderungannya untuk menjadi seperti Allah. Sejak manusia yang pertama sampai sekarang, bukankah itu yang kita jumpai di kantor manapun, baik pemerintah, swasta, maupun di gereja. Orang-orang yang berlagak dan mengklaim dirinya seolah-olah ia adalah tuhan-tuhan kecil dan allah-allah kecil.
Bahan Diskusi Bagian V : 1. Menurut anda, apa kaitan Konsep diri dengan pola kepemimpinan Kristiani? 2. Apa Relevansi Yoh 13:13 bagi Konsep diri “siapakah aku” dan Pola kepemimpinan Kristen. 3. Konsep diri yang bagaimana yang harus dimiliki seorang pemimpin Kristen (ditiap lingkungan hidupnya :kampus, organisasi, keluarga) mengacu kepada Mrk. 10:43-44? Apakah Relevansi Nats Yohanes 12:24 dalam Konsep Diri dan pola kepemimpinan ?
VI. KESIMPULAN
Tuhan Yesus menegaskan adanya perbedaan esensial antara pemimpin Kristen dan pemimpin sekuler dengan menyatakan, "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk. 10:42-45). Ini semua berawal dari pengenalan konsep diri “siapa aku”, yang menyadarkan siapa kita dihadapan TUHAN, dihadapan sesama dan apa rencana TUHAN melalui kita bagi dunia sekitar kita. Sehingga kita benar-benar dapat mewartakan kasih dan amanah damaiNya dengan semangat tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian. Ut Omnes Unum Sint. Syalom. __________________________________________________ Nats Bacaan : Filipi 2 : 1-5 ; Gal. 6 : 2 - 4 , 7 - 10. Gal. 2 : 20 Salam. Pdt. Happy Pakpahan [1] Alkitab tidak hanya menyajikan satu model kepemimpinan yang ideal. Di dalam Alkitab model itu selalu berubah dan bervariasi sesuai dengan situasi dan kebutuhan yang ada. Itu sebabnya model kepemimpinan Musa berbeda dengan model kepemimpinan Yosua; bentuk kepemimpinan hakim-hakim berbeda dengan bentuk kepemimpinan raja-raja. Samuel pernah merangkap tiga fungsi sekaligus yaitu imam, nabi, dan raja, tetapi kemudian ketiganya terpisah ketika Israel menjadi Monarkhi. Di Perjanjian Baru kita juga melihat hal yang sama. Pada awalnya gereja purba sudah merasa cukup dipimpin oleh para rasul dengan semua kharisma mereka. Tetapi Kisah Rasul 6 segera mencatat, memberi kesaksian bahwa kebutuhan dan situasi baru menuntut suatu bentuk kepemimpinan yang lain, suatu bentuk struktur organisasi yang lain. Mulailah apa yang disebut diaken, syamas diakonoi. Kisah Rasul 11 kemudian memperkenalkan jabatan lain yaitu presbuteros, jabatan penatua atau tua-tua. Kisah Rasul 13 berbicara mengenai nabi-nabi yang memimpin jemaat di Antiokhia. Kemudian entah bagaimana dan dari mana, episkopos hadir dan ada variasi baru di dalam Kisah Rasul. Kalau kita mempelajari surat-surat Paulus, variasi itu jauh lebih kaya lagi. Apa sebenarnya yang hendak dikatakan melalui semua ini? Semuanya hendak mengatakan bahwa prinsip kepemimpinan Kristen yang pertama adalah keanekaragaman atau pluriformitas bentuknya, fleksibilitasnya, kelenturannya, keluwesannya. Dan bukankah memang benar bahwa Tuhan itu seringkali jauh lebih luwes, jauh lebih fleksibel daripada kita, manusia dan pemimpin-pemimpin gereja. Inilah asas pokok kepemimpinan Kristen, yaitu keanekaragaman atau pluriformitas kepemimpinan. Tetapi saya juga harus segera menambahkan satu prinsip lain yang membentuk dwitunggal dengan prinsip pertama tadi, yakni, kepemimpinan Kristen itu hanya mengenal satu pemimpin yaitu Tuhan Allah.

Tuesday, March 18, 2008

Selamat Paskah

Salam PASKAH.
Terkadang Visual lebih banyak & tepat berbicara tentang suatu hal.
Ketika materialisme dan keindividuan mulai merajai pikiran banyak orang, ketika setiap orang mulai hanya memikirkan dirinya sendiri, ketika ekonomi menjadi ukuran memandang dan menilai seseorang, saat itulah korban kekerasan ekonomi, ketidak pedulian sosial, dan kemerosotan terhadap nilai kemanusia terjadi. Paskah mengajarkan KASIH sebagai Amanah bagi Orang Percaya. Kasih yang lintas batas kesukuan, ras, dan latar belakang lainnya. Kasih ikhlas yang lahir dari iman, bagi mereka yang membutuhkan pertolongan kita yang notabene ada disekitar kita. Mari tidak menutup mata dan menjadi saluran berkat dan lilin kecil yang menerangi dimana kita berada.
Firman TUHAN berkata :
Matius 25:35-40 : "Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku".
Yesaya 58:6-8 : "..... Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu."
Salam PASKAH.
Salam KASIH yang memberdayakan.
Salam Tekat menjadi BERKAT bagi sesama.
Salam DAMAI yang dari pada TUHAN YESUS.
Pdt. Happy Pakpahan

Friday, March 14, 2008

Kesetaraan Ciptaan VS Vonis Sosial

Nats : Hakim-Hakim 11:1-11
Khotbah Minggu di HKI Jl. M. Siregar-P.Siantar
Tgl. 09 Maret 2008
Pdt. Happy Pakpahan
Sejak awal Allah menciptakan manusia didalam dunia ini dengan unsur yang sama, tidak ada dari debu tidak ada yang dari plastic. Sejak awal manusia didalam dunia ini diciptakan dihembuskan nafas kehidupan yang satu dan ini berlaku bagi semua orang. Sejak awal – dikatakan gambar dan rupa Allah. Dan manusia diberikan matahari yg sama, langit yg sama, udara ya sama dan bulan yang sama. Manusia diberikan kebutuhan yang sama, untuk makan, minum, damai, sejahtera, dan rasa adil dan mendapatkan kebenaran. Semua diberikan hak hidup yang sama. Hak untuk diperlakukan secara adil dan manusiawi tanpa memandang status dan latar belakang kehidupannya. Baik laki-laki, perempuan, kaya atau miskin, hitam atau putih, semuanya sama dihadapan Allah. Allah selalu berikan yang terbaik bagi manusia. Ini bentuk keadilan semesta Ilahi. Namun terkadang hal ini dirusak oleh manusia itu sendiri. Hak yang sama yang diberikan oleh Allah kepada manusia, diubah manusia itu sendiri menjadi bertingkat-tingkat yang diukur berdasarkan status, jabatan, kekayaan dan apa yang dimiliki seseorang. Inilah yang menjadi pembahasan dalam nats kita. Dalam nats diceritakan terjadi sebuah perlakuan yang tidak adil terhadap hak seorang manusia yang dinilai berdasarkan latar belakang kehidupannya. Ini terjadi pada kisah hidup Yepta. Yepta adalah anak yang lahir dari hubungan seorang lak-ilaki bernama Gilead dengan perempuan sundal. Padahal Gilead juga mempunyai istri yang sah dan memiliki beberapa anak laki-laki. Pada suatu hari dikatakan diayat 2-3 : Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain."
Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia. Jelas ia kecewa diperlakukan demikian. Yefta tidak bersalah. Yefta tidak pernah meminta ia dilahirkan dari hubungan yang salah antara ayahnya dan ibunya. Kalau ditanya tentu semua anak ingin dilahirkan dari keluarga yang sah. Dosa seorang orang tua tidak bisa diwariskan kepada anaknya. Yefta memulai hidupnya sendiri terlepas dari keluarga yang telah mengusirnya. di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia. Kemudian dikatakan 11:4 Beberapa waktu kemudian bani Amon berperang melawan orang Israel. 11:5 Dan ketika bani Amon itu berperang melawan orang Israel, pergilah para tua-tua Gilead menjemput Yefta dari tanah Tob. 11:6 Kata mereka kepada Yefta: "Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan bani Amon." Ternyata kabar tentang keperkasaan Yefta terberita ke Israel. Dan mereka menginginkan seseorang memimpin pertempuran. Dan itu Yepta. 11:7 Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: "Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?" Ya sering manusia seperti ini. Jika sudah sukses, terdesak maka berteman. Jika terpuruk, dianggap tidak kenal. Lidah manusia tidak bertulang. 11:8 Kemudian berkatalah para tua-tua Gilead kepada Yefta: "Memang, kami datang kembali sekarang kepadamu, ikutilah kami dan berperanglah melawan bani Amon, maka engkau akan menjadi kepala atas kami, atas seluruh penduduk Gilead." 11:9 Kata Yefta kepada para tua-tua Gilead: "Jadi, jika kamu membawa aku kembali untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka kepadaku, maka akulah yang akan menjadi kepala atas kamu?" 11:10 Lalu kata para tua-tua Gilead kepada Yefta: "Demi TUHAN yang mendengarkannya sebagai saksi antara kita: Kami akan berbuat seperti katamu itu." 11:11 Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa Jemaat terkasih, perlakuan saudara –saudara Yefta yg telah mengusirnya adalah wujud keegoisan manusia yang kerap kali memperlakukan sesama manusia secara tidak manusiawi. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan Penciptaan manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ( Kej 1: 26). Tapi ada yang bisa kita pelajari dari Yepta, walaupun Yefta disisihkan dari keluarganya tetapi ia tidak mendendam. Allah membela dan memberkatinya. Kemudian ia dikuatkan Allah untuk memimpin bangsa Israel. Demikianlah Allah memperdulikan orang-orang yang disisihkan dan Allah memakainya untuk pekerjaanNya. Apa yang bisa kita relevansikan ? Gereja-persekutuan kita ini adalah persekutuan orang-orang yg dipanggil untuk menerima dan melakukan karya kebenaran Allah. Tuhan menghendaki agar manusia dapat hidup saling menopang, saling menasihati, saling menolong bukan saling memvonis. Hal ini penting dimaknai. Sering dalam kehidupan manusia orang selalu mempertanyakan latarbelakang kekeluargaan dan menjadikannya sebagai “punish” untuk melihat kehidupan dan pribadi seseorang dalam pekerjaan dan tugasnya setiap hari. Tidak jarang kita mendengar perkataan yang keluar dari seseorang “ ai hutanda do keluarga ni bae i”. Seolah seseorang langsung di vonis, salah total, tidak benar, dll. Kemudian dalam masyarakat luas juga, seiring dengan materialisme dan kapitalisme yang dibawa oleh globalisasi, manusia untuk mewujudkan keinginanya rela menindas orang lain, kelas-kelas tercipta, seolah kelas bos tuan dan babu. Si A tidak pantas berkawan dengan si B karena ekonomi yang berbeda. Pengusaha kayu menebang semua pohon dan tidak menggantinya sehingga longsor dan banjir terjadi dimana-mana. Seolah hanya dia yang bisa hidup sejahtera dan aman sedangkan orang lain tidak perlu. Manusia sering merasa besar dengan jabatan, kekayaan, dan kekuatannya. Lihat saja orang berseragam bisa merasa diatas angin kepada orang yang lemah, bus besar seenaknya menguasai jalan dan mengabaikan kendaraan kecil seperti kereta. Untuk rasa adil, dimanamana banyak gedung pengadilan yang megah tetapi sulit ditemukan keadilan. Manusia menjadi srigala kepada sesamanya. Tidal lagi mencerminkan kesegambaran dengan Allah. Gereja tidak boleh memperlakukan istimewa kepada orang lain karena ia orang kaya, tondong, dan berpengaruh dan disissi lain mengabaikan orang lain. Amsal 14 : 31 : Siapa yang menindas orang lemah, menghina Penciptanya. Jangan tolak Pencipta dengan menolak ciptaanNya. Jangan memberikan sanksi sosial kepada orang lain. Seolah hukum adat, sosial lebih tinggi dari Firman TUHAN yang memerintahkan kita mengasihi sesama sebagai gambar dan rupa Allah. Jangan mengucilkan orang lain. Jangan menghakimi orang lain karena masa lalu yang mungkin saja tidak tidak terlibat apapun akan kesalahan masa lalu-sejarah hidupnya, apalagi Firman TUHAN mengatakan hak menghakimi adalah hak Allah. Kita sama-sama manusia. Roma 14 : 10-12 sebagai Nats Epistel minggu ini menegaskan bahwa manusia tidak berhak menghakimi sesamanya ataupun menghinanya karena semua manusia akan diperhadapkan ketahta pengfadilan Asllah dan memberikan pertanggungjawaban kepada Allah. Allah tidak akan membiarkan manusia memberlakukan orang lain secara sewenang wenang. Tidak ada yang sangat benar dihadapan Allah dan tidak ada yang terlalu berdosa sehingga membatasi karya pengampunan dari Allah. Jangan ambil wewenang ilahi untuk menghukum manusia padahal Allah sendiri maha pemurah dan pengampun. Gereja terpanggil untuk ikut merasakan kesusahan orang lain, mencari orang yang terbelenggu dalam dosa, jauh dari TUHAN, mempunyai dosa pada masa lalu yang kelam, gereja terpanggil untuk membawanya kepersekutuan dengan Allah, bukan mengucilkannya. Kalau ada gereja atau orang percaya menutup diri atau menghindari seseorang karena mengganggap dia terlalu berdosa maka kita sendirilah yang berdosa dan bersalah. Menjadi batu sandungan seoalah menutup kata ampun dari Allah.
Nah, jika anda merasa dikucilkan, yang menjadi korban vonis sosial, berlakukan seperti Yefta, 11: 11 : Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa. Serahkan semua perkara, keluh kesah dan mohon bimbingan dan kekuatan dari padaNya yang menciptakan engkau ke dunia. Minggu ini adalah Minggu “Judika, Berilah keadilan kepadaku, Ya Allah (Mzm.43:1)”, hal ini mengingatkan kita akan kepribadian kita sebagai manusia yang harus ditopang oleh Allah agar memperoleh kemenangan, maka setiap manusia harus menyandarkan hidupnya kepada Dia, sebab didalam Dia ada kemenangan dan sukacita. Jangan menjadi orang-orang yang merasa berhak emmfonis kehidupan yang diberikan Allah kepada seseorang. Jika ada yang memiliki kesalahan dosa sosial, tugas kita sebagai orang percaya untuk merangkulnya kepada persekutuan yang hidup kepada Allah. Jangan justru menyingkirkannya. Jadi mari menjadi duta-duta Allah menegakkan kesetaraan ciptaan, keutuhan ciptaan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Sebuah solidaritas ciptaan. TUHAN Memberkati. Syalom.

Wednesday, March 05, 2008

Masih Adakah Yg Bisa Masyarakat Harapkan Dari GAMKI ?

Kotbah Pelantikan GAMKI Siantar.
Nats : Yesaya 6 : 8 & Roma 8 : 19-22 Pdt. Happy Pakpahan
Masih adakah yang bisa diharapkan dari GAMKI pada saat ini ? Ini adalah pertanyaan menantang yang perlu dijawab dengan karya oleh kader-2 GAMKI. Bagaimana tidak ! Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang 'era' mengeluh di Ripublik ini. Saat ini kita, saya, anda, keluarga kita dan masyarakat pada umumnya, orang Kristen pada khususnya JUGA MENGELUH mengalami banyak tantangan hidup. kesulitan multi dimensi dalam hidup berbangsa saat ini ditengah Ripublik ini, Dalam bidang Agama : kita mengalami tantangan dalam mengekspresikan iman kita, tantangan berupa fisik, intimidasi, kekerasan, pelemparan, penghambatan jalan menuju Gereja, perobohan bangunan, penculikan hamba Tuhan, pelarangan bernyanyi dalam ibadah pada kompleks-2 perumahan tertentu dibeberapa Kota, dan pelecehan kata-kata. Ada juga penekanan dalam bentuk UU berbau otonomi, UU perbankan, dan UU sisdiknas, Peraturan bersama 2 Mentri. Ini membuat umat salah satu agama semakin percaya diri menekan umat dari Agama lain secara khusus Kristen. Kemudian terjadi Penyalah gunaan agama. Agama bukan lagi sebagai sarana kasih-membawa keteraturan dan sejahtera, melainkan diperalat untuk memenuhi kehendak manusia yg di make-up atau dilegalisir sebagai kehendak Allah. Politik di 'agamakan' dan agama di 'politikkan'. Agama dijadikan sebagai alat menghimpun massa yg dahsyat untuk menghancurkan golongan lain yg tidak sepaham dengannya atau penghambat terwujudnya kepentingan tokoh-tokoh tertentu. Inilah yg terjadi dalam konflik di berbagai daerah seperti Ambon, Poso, Tasikmalaya,. Bagaimana dengan wacana kerukunan antar umat beragama? Ternyata hanya masih berlangsung ditatanan seminar, dialog, temu ramah, tetapi pengimplementasiannya dipertanyakan. Indikatornya, masih banyaknya intimidasi dari ormas dan masyarakat yang diperalat, kepada umat yang minoritas dari segi jumlah. Dibidang Ekonomi, ketidakpastian kondisi berbangsa, ketidakpastian bagi investor, sehingga mereka tarik modal : Sulitnya lapangan pekerjaan :- semakin banyaknya pengangguran baik yang terdata/ tersembunyi. yang menjadi bom waktu. Singkat kata, masyarakat yang mengeluh dan berharap : mulai : frustasi sosial. Semakin besar jumlah kelompok orang yg terpinggirkan, Masyarakat gampang terhasut untuk melakukan kekerasan. Itulah awal dari berbagai letupan ketidak puasan yg muncul dimasyarakat dalam bentuk demonstrasi, penjarahan, pembakarandan berbagai bentuk protes terhadap kemapanan. Emosi massa yg tidak stabil, gampangnya menghabisi nyawa orang lain, merusak bangunan termasuk gereja tanpa merasa bersalah. Trand kekerasan merajalela. Ironisnya, hal ini diperparah Politik : dimana “perkelahian Elit Politik” sendiri pun sering mempropagandakan kecemasan rakyat dan memperalat rakyat/ massa pendukungnya kekerasan otot bukan otak demi mencapai tujuan politiknya. Terjadi pembodohan terhadap rakyat& kekerasan melalui UU. Dan pihak yang dianggap sebagai tempat mengadu sebagai Dewan Perwakilan Masyarakat, eh ternyata banyak yang sandiwara memakan tumbal anggota masyarakat. Kepentingan pribadi tetap jadi orientasi !
Kekerasan dalam bidang Budaya : Indonesia sebagai Negara berkembang adalah pasar potensial bagi kapitalis : iklan : krisis budaya, konsumenisme, dan atas nama modrenitas, sex bebas, hedonisme, : melahirkan generasi X yang sulit diatur. Keadaan alam kita yg semakin Koma dengan polusi tanah, air dan udaranya yg dibuat oleh ketamakan manusia sendiri yang mengekspolitasi bumi. - bencana “ Ini menyadarkan kita bahwa sekarang kita hidup diantara jerami kering, yg dengan api kecilpun ternyata dapat mehyala hebar dan tidak mudah untuk dipadamkan .” Ditengah keadaan inilah masyarakat berharap. Sekarang GAMKI mengadakan hajatan besar yaitu pelantikan PAC kota Siantar. Ini menyadarkan kita bahwa GAMKI telah berdiri sekian tahun berdiri, dan “konon” di Kota ini telah beranggotakan seratusan hingga ribuan lebih anggota. Hajatan Ini berbiaya besar. Sebab itu amat wajar untuk Peristiwa Besar, jumlah keanggotaan yg besar, ada harapan besar. Persoalannya : masih adakah yg riil yg dapat kita harapkan dari GAMKI ? Banyak lembaga keumatan dan lembaga kader yang mengaku sebagai lembaga jawaban terhadap persoalan kompleks. Untuk menjawab konteks Nats, Yesaya 6 ; 8 dalam konteks refleksi kekinian, kita akan bedah “Pengenalan Standart GAMKI GAMKI tidak terlepas dari rangkaian kata yg terangkai dalam GAMKI, yaitu : 1. Kata Gerakan ( Movement ) mengandung makna adanya lebih dari satu orang yg menjadi satu kesatuan yg bergerak ke arah yg sama, serta menyerap lebih banyak lagi orang lain ( mobilisasi ) dan berjuang bersama. Kata Gerakan juga mengandung makna adanya tujuan, keinginan, dan cita-cita yg ingin diwujudkan melalui kegiatan bersama = dipakai Allah menghadirkan syalom Allah. Sebagai organisasi yang bergerak : dinamis : Pengurus harus mengetahui siapa yang memimpin gerakan ( TUHAN YESUS ) dan kemana arah geraskan, tanpa itu : orang buta menuntun orang buta. Layaknya berjalan tanpa arah – tanpa peta. Pengenalan tujuan didapat dari pengajaran Alkitab : aneh jika program kerohanian lebih banyak dilupakan dari pada politik social : rohani mengarahkan program berikutnya. GAMKI : sebagai lembaga kader : tertantang membawa umat untuk berpengharapan secara rendah hati kepada Allah. Diterangi oleh Roh Kudus membuat program-2 yang bersifat empowering : memberdayakan skill anggota dan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, sebagai wujud karya konkret. Organisasi yang stagnasi yang tidak bergerak : mati; organisasi yang habis energinya untuk persoalan internal : keributan antar pengurus : mati. 2. Kata Angkatan Muda menunjukkkan ciri usia dan jiwa yg menjadi anggota GAMKI, dimana dari segi usia mereka adalah kaum muda, yg penuh idealisme dan dinamika. sehinggga cenderung berpikir analitis, bersifat ingin tahu, dan berpandangan luas. Ketika sudah merasa mapan : tidak bisa dikoreksi : mati !jika ada figure seperti ini : mari introspeksi. 3. Kata Kristen : Dengan kata Kristen menjadi indikasi dari sifat Kristiani yg menjiwai seluruh gerak dan kegiatan GAMKI, sebagai titik tolak dalam usaha pencapaian tujuan yg bersumber kepda Alkitab. Bukan kepentingan golongan atau nafsu jabatan dan kekayaan. Tetapi kepentingan Kristus. Kita juga harus kritis Memandang Pola Kekristenan kini ? Ketika kepentingan pribadi : pejabat; donator; kakanda : aura organisasi hilang : masyarakat mengeluh : memperkeruh : tidak ada yang bisa diharapkan dari GAMKI. Kekeristenan kita harus Kritis : Jangan sampai kekristenan kita hanya mengurusi internal : kesalehan ; mengurung diri dalam ibadah : munculnya sikap menerima begitu saja tatanan yg ada ( status Quo). Gejolak masyarakat akibat sistem politik yg muncul tidak dipandang serius, malah seolah-olah diperlukan sebagai ujian iman, dimana kemenagan iman tidak dilihat dari keterlibatannya dalam menghadapi pokok persoalan, melainkan hanya menanamkan sikap tabah yg pasrah, dan berdiam diri. Tidak menghadirkan SOLUSI. 4. Kata Indonesia menunjukkan identitas kebangsaan gerakan ini, GAMKI lahir dan hidup di bumi Indonesia, Sehingga harus peka terhadap isu loka; keluhan dan pergumulan masyarakat dan kita sendiri. Jika tidak peka : dianggap mati ! Ingat, sesungguhnya ikan yg senantiasa mengikuti arus adalah ikan yg mati, sdangkan ikan yg hidup pasti akan melawan arus. Kita adalah imamat yang Rajani : Tuhan Yesus berpesan PI, tidak pernah dibatalkan atau diamandement : layaknya perumpamaan talenta kita akan diminta pertanggungan jawab. Dari segi pribadi kita sebagai pemuda, mahasiswa, peajar, pegawai, ternyata banyak juga yang tidak mau terbeban memikul salib, ada perasaan malu, tidak mau repot : dengan alasan “ itu tugas pendeta dan penginjil”, takut ditolak teman dalam pergaulan, Kemudian : jangankan menjadi saksi, justru banyak diantara kita yang sering menjadi sumber masalah dengan tidak disiplin & pola hidup yg tidak benar dll. Jangankan bisa membuat orang lain percaya pada Tuhan Yesus, justru kita sendiripun tidak bisa dipercaya. Sering sekali kita membela diri dengan mengatakan tugas yg diperlukan waktu dulu, kini keadaan lebih ruwet. Siapa bilang, keadaan dulu lebih ruwet. Kekristenan penuh dengan penganiayaan dan pengejaran, penangkapan. Kita juga sering mengatakan bahwa bukankah kita adalah minoritas ditengah kemajemukan, dulu tidak begini parahnya keadaan. siapa bilang, dari Alkitab dan buku-buku sejarah gereja kita ketahui bahwa zaman-zaman para rasul dan kekeristenan mula-mula keadaan lebih rumit. Dulu saling bunuh, persaingan agama lekat dengan ekspansi. Dan ada banyak pemerintahan dan kepercayaan radikal ditengah pertumbuhan kekeristenan yg menganiaya kekristenana. Nah bukankah keadaan kita sekarang lebih baik dengan telah lebih terorganisirnya agama dan adanya pengakuan terhadap HAM. Dan lagi, berada dalam keadaan majemuk adalah bukan kehendak kita, ini pilihan Tuhan, TUHAN menempatkan saya, anda dan kita semua di tengah kemajemukan. Kita percaya bahwa tentu penempatan ini mempunyai tujuan, rencana. Tetapi memang kita sering tidak serius menanggapinya. Kita kurang meresapi apa tujuan dari ini semua, apa sikap yg seharusnya kita lakukan, apa arti Amanah Agung bagi hidup kita, lingkungan tempat tinggal, kost, pekerjaan dll. Firman TUHAN berkata beritakanlah injil baik atau tidak baik keadaaannya, artinya dimana dan kapan saja. Kita khawatir agenda kekristenan kita secara pribadi dan organisasi tidakberpikir lagi soal PI. Sehingga kita tidak punya daya sebar seperti garam dan terang. Kekristenan seperti “ pelita dalam gantang ”. Untuk itu mari bersaksi dan menjadi teladan. Jadi pekabar injil melalui perbuatan, kata dan doa kita. Firman Tuhan berkata "beritakanlah Injil, baik atau tidak baik keadaanya". Sehingga Pemuda/I tidak ragu untuk mengatakan “ Ini Aku, Utuslah Aku TUHAN “ seperti yg dikatakan Yesaya ( Yesaya 6 : 1-9). Jangan sirnakan harapan masyarakat akan suara kenabian yang disuarakan GAMKI, jangan buat masyarakat apatis pada GAMKI, seoalah ada atau tidak ada GAMKI, nothing to lose! Masyarakat berharap pada GAMKI. Akhir kata, Banyak yg terpanggil sedikit yang terpilih. Selamat memperkuat gerakan !! Tinggilah Iman kita, Tinggilah Ilmu kita dan Tinggilah Pengabdian kita. Syalom. (2007)