Thursday, October 09, 2008

BANJIR BUKAN TAKDIR

Visit Banjir Indonesia. happy b"day banjir...
Setelah 17 tahun tertidur, Indonesia kembali mencanangkan Tahun Kunjungan untuk mendatangkan 7 juta wisatawan mancanegara. Sebenarnya, bagi negeri berpanorama indah, jumlah ini terbilang kecil, tetapi pencanangan ini penting untuk memulai komitmen baru.
Bagaimanapun, pariwisata terkait erat dengan lingkungan hidup, nilai-nilai sosial, investasi dan keamanan. Nah disini muncul satu Ironi, saat start bendera Visit Indonesia Year dikibarkan, bukan berita indah yang muncul, tetapi banjir, kesemrawutan pengelolaan bandara, kemiskinan, flu burung, demonstrasi anarkis dan lainnya.
Secara khusus soal banjir. Tahun ini kembali kambuh "rutin", seolah ulang tahunan dia datang secara meiah dan tepat waktu. Ini memalukan. Benarkah Indonesia berkomitmen membangun masa depan pariwisatanya? Banjir yang (lagi-lagi) kembali melanda beberapa daerah di Kalimantan, Pekan Baru, Ibu Kota Jakarta, Medan (dan berbagai kabupaten di Sumatera Utara ) dan puluhan daerah lain di Negeri ini yang terpublikasi maupun yang tidak terpublikasi (disengaja atau tidak disengaja utk tidak dipublikasikan oleh Pemerintah Lokal setempat utk menutupi banyaknya anggaran pembangunan yang dialih pos atau telah di korupsi).
Apabila kita melihat sebab utama banjir tersebut bukan semata-mata proses alamiah karena meningkatnya intensitas hujan, tetapi bencana banjir yang ada saat ini seiring dengan semakin meningkatnya eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan tidak terkendali. Banjir yang terjadi merupakan dampak atas kebijakan pembangunan yang belum memberikan sentuhan positif terhadap tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam. Mengutip dari Web Walhi, utk Kasus banjir di Kalimantan Pjs. Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan, Hegar Wahyu Hidayat mengatakan "Pemerintah Daerah tidah pernah mau belajar, karena banjir ini telah terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun, maraknya penerbitan izin tambang dan konversi hutan menjadi perkebunan sawit skala besar menjadi penyebab utama bencana banjir ini dan bila terbukti ada perusahaan tambang atau sawit yang berperan besar dalam rusaknya hutan yang mengakibatkan banjir ini maka Walhi meminta pemerintah daerah mencabut izin operasi mereka.Rendahnya tingkat kemampuan hutan sebagai kawasan penyerap air, penyimpan air, dan mendistribusikannya secara alamiah menyebabkan banjir tersebut. Kondisi hutan yang semakin rusak akibat adanya penghancuran sumber daya alam lah yang yang menjadi penyebab semua ini. Data kondisi hutan terakhir menunjukkan tingginya deforestasi hutan Kalsel terutama dikawasan pegunungan Meratus menunjukkan luas areal hutan pada tahun 2006 sebesar 986 ribu hektar, sedangkan kawasan hutan lindungnya 433.677 hektar dan yang telah terambah oleh pertambangan dan perkebunan sawit mencapai 142.523 hektar.
Saya rasa persoalan yang diungkapkan Wahyu Hidayat diatas besar kecilnya juga dialami dibanyak daerah. Sehingga terjadi banjir yang bukannya semakin terantisipasi oleh Pemerintah, justru makin hari banjir terus berlangsung dan kualitas serta kuantitasnya semakin besar. Ini aneh bin ajaib. Lantas apa yg pemerintah kerjakan? Ironi. Bukannya kerja keras tuntaskan banjir, eh justru ada aparatur pemerintahan seolah cuci tangan menyampaikan bahwa banjir disebabkan oleh warga itu sendiri. Ok lah warga juga bersalah dengan sampah yg di buangnya. Tetapi jika lebih transparan bukankah tugas pemerintah utk menyadarkan warga, menata system persampahan dan menciptakan ruang serap air sehingga efek sampah bisa terantisipasi. Lantas apa tanggung jawab pemerintah dengan semakin tidak adanya ruang serap air di banyak perkotaan karena sisitem pembangunan yg tidfak terencana dan selaras lingkungan ? Ini jugalah yg persoalan di dunia belakangan ini dgn isu Pemanasan Global. Indonesia sebagai paru-paru dunia dinilai tidak becus menjaga hutannya ditengah ancaman tenggelamnya bumi oleh pencairan es di kutub. Ini menjadi persoalan yg perlu kita secara bersama memperhatikannya. Jadi, jelaslah bahwa kesalahan dari pengelolaan sumber daya alam yang tidak memperhatikan kemampuan daya dukung atas lingkungan merupakan penyebab utama dari bencana banjir tersebut. Juga jelas terlihat bahwa eksploitasi sumber daya alam tidak pernah memperhatikan aspek ekologis serta social. Yakin saja, komitmen Indonesia untuk pencanganan tahun kunjungan wisata di Indonesia bisa saja akhirnya menjadi wisata banjir dan mempertontonkan kesembrawutan di Indonesia. Wisata kesembrawutan kemacetan lalu lintas, wisata banjir, wisata tawuran, wisata demonstarasi anarkis akibat pilkada dan ormas anarkis, wisaya kesembratutan pengelolaan penerbangan, wisata seks, dll. Yang jelas ini semua bukan takdir, melainkan kebobrokan manusia yang sering diatasnamakan takdir utk alasan pembenaran. Dan jika hal-hal seperti banjir saja tak bisa ditangani, bukan cerita baik yang akan dibawa pulang wisatawan. Bukan sekadar backfired, sejarah akan mencatat Indonesia sebagai negara yang memperkenalkan kampanye baru, Visit Banjir Indonesia 2008. Referensi : Opini RHENALD KASALI, Visit “Banjir” Indonesia 2008, KOMPAS, Sabtu, 16 Februari 2008, halaman 6 dan Web Site Walhi : http://www.walhi.or.id/

Monday, September 22, 2008

Say "No" to crime against culture : Menolak RUU Pornografi

Menolak Rancangan UU Pornografi bukan berarti setuju akan adanya pornografi dan porno aksi di masyarakat. Statement ini harus digaris bawahi. Teman-teman sebangsa dan setanahair yang masih mencintai budaya bangsa dan menghargai warisan leluhur, isis RUU Pornografi (dahulu RUU APP - Anti Pornografi Porno Aksi) jelas mengorbankan nilai-nilai budaya bangsa yang bhineka tunggal ika. Candi Sukuh, Ceto, Lingga dan Yoni, bahkan Tugu Monas - semuanya bisa dianggap porno. Padahal itu jelas bagian dari budaya bangsa, dan pada waktu itu masyarakat adat sendiri bisa mencerna secara positif patung-patung di candi tanpa pikiran harus ngeres dan pikiran negatif. Kalau begitu terjadi penjajahan satu budaya lebih benar diatas budaya lain. Terjadi tindakan kriminalisasi terhadap budaya tertentu.
Seorang penari Jawa, Sunda atau Bali bisa dianggap membangkitkan gairah seksual, padahal itu adalah seni. Pertanyaannya, haruskah ada pelarangan terhadap pakaian kebaya yang botabene warisan budaya dan pelarangan gerakan tertentu dari Tarian budaya ? Karya seni budaya ini jangan dikorbankan atas nama "menangani otak porno"dan kepicikan beberapa orang termasuk pembuat RUU Pornografi.
Anan Krisna dalam Web http //www.akcjoglosemar.org (http://www.akcjoglosemar.org/berita/tolak-uu-pornografi-kita-sudah-memiliki-budaya-dan-peradaban/) menyampaikan bahwa Rancangan undang-undang "porno" sungguh asusila dalam pengertian RUU Pprnografi itu sama sekali tidak menghargai budaya bangsa. Silakan dipelajari, ini adalah upaya arabisasi - jelas sekali. Partai politik yang mendukungnya adalah "antek arab" - silakan pelajari sejarah mereka. Apa hubungannya dengan kelompok-kelompok di luar sana. Upaya untuk merubah Indonesia menjadi bagian dari budaya arab jelas TIDAK BISA DITERIMA. KITA SUDAH MEMILIKI BUDAYA DAN PERADABAN.
Say "No" to crime against culture. Indonesia, saatnya bersatu - sebelum kau dijajah oleh kaum asing lewat saudara-saudara kita yang tidak memahami sejarah. Sayang, mereka berada di DPR, di MPR, dalam kabinet. Saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang kurang paham dan menganggap penolakan terhadap rancangan undang-undang ini sama dengan penerimaan terhadap pornografi - MESTI DISADARKAN. Ada unsur primordial SARA disana. KITA MENOLAK PORNOGRAFI, TETAPI JUGA MENOLAK RANCANG UNDANG-UNDANG PORNO DAN TUNA SUSILA, BUTA TERHADAP BUDAYA BANGSA. Menurut rencana, DPR akan menggelar sidang paripurna Selasa (23/9) mendatang untuk pengambilan keputusan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pornografi menjadi Undang-Undang (UU). Dua dari 10 fraksi di DPR menolak pengesahan RUU tersebut dan mengancam akan walk out dari sidang paripurna, karena menilai regulasi tersebut bakal mengancam kebinekaan bangsa Indonesia. Definisi dan pasal-pasal mengenai pornografi dalam RUU tersebut, sangat interpretatif, sehingga bisa menjadi ajang perangkap kelompok orang tertentu terhadap orang atau kelompok lain hanya kerana sangkaan pornografi. Pertanyaannya, apakah semangat dan materi RUU tersebut, sungguh mencerminkan nilai-nilai kebangsaan dan kebinekaan bangsa yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 tersebut? Jawaban atas pertanyaan itu, bisa direkam dari reaksi masyarakat atas rencana penegsahan RUU Pornografi tersebut. DPR boleh mengklaim bahwa RUU tersebut sudah disosialisasikan ke masyarakat, sehingga layak diundangkan, tetapi fakta menunjukkan pula bahwa penolakan keras dari masyarakat, muncul di beberapa daerah.
Reaksi antara lain muncul dari Daerah Papua/Irian Jaya. Para wanita dengan menggunakan pakaian tradisional adat Papua menari sambil membawa poster penolakan atas RUU Pornografi (sebelumnya disebut RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi/APP) di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua, Jayapura, beberapa waktu lalu. Mereka menyatakan dengan tegas menolak RUU Pornografi, karena dianggap dapat menghancurkan budaya asli setempat. Sejatinya, sebuah regulasi, diterbitkan untuk semua kalangan dalam masyarakat yang heterogen dengan tujuan untuk menjaga norma secara bersama. Untuk konteks Indonesia, tentu saja regulasi tersebut, haruslah merupakan penjabaran dari amanat konstitusi UUD 1945, ideologi negara dan bangsa Indonesia yang pluralitas. Mengingat beragamnya kepentingan yang ada di dalam masyarakat Indonesia, pembahasan UU pun seharusnya dilakukan dengan hati-hati, penuh perhitungan, dan merangkum semua kepentingan dengan dasar musyawarah dan mufakat. Prinsip itu tentu diamanatkan dalam sila ke-4 Pancasila yang telah disepakati bersama menjadi dasar negara kita.
Kalau dicermati, penolakan keras atas RUU Pornografi itu, memang bukan tanpa alasan. Sebab, materi dan semangat dari RUU tersebut, mengandung banyak hal yang sangat krusial. Pasal dan ayat-ayat krusial itu, sangat berpotensi menghancurkan kebinekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bukan hanya potensi perpecahan antara suku bangsa dengan suku bangsa lainnya, ataupun agama dan ras, tetapi masyarakat dengan kondisinya yang karena kemiskinan atau adat istiadatnya bisa dijeboloskan ke dalam penjara, hanya karena porno maupun dikesankan porno.
Kita semua sepakat bahwa pornografi merusak moral bangsa. Tetapi, jangan sampai kesan dan persepsi pornografi yang berbeda itu membuat bangsa kita hancur, karena saling menghakimi dan menjadi "polisi moral" terhadap yang lainnya. Jangankan sejumlah pasal yang substansial dan rentan berdampak pada integrasi bangsa yang masih jadi persoalan, definisi pornografi pun masih jadi perdebatan. Definisi yang disepakati Pansus soal pornografi, sangat debatable, dan berbeda dengan definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Definisi Pornografi dalam Pasal 1 Ayat (1) RUU Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan, pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi. Atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks. Dengan definisi yang dibuat DPR dan Pemerintah, tentu saja banyak hal yang menjadi pertanyaan, karena tidak jelas dan cenderung menjadi pasal karet, yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sekelompok orang. Kata-kata "dapat" pada definisi pornografi kalau dicermati secara mendalam tentu saja sangat bersifat subjektif. Misalnya, si Budi mungkin bangkit hasrat seksualnya ketika memandang Mira yang mengenakan rok mini, tetapi si Badu yang berdiri tepat di sampingnya menganggap penampilan Mira biasa-biasa saja, sehingga hasrat seksualnya tidak muncul. Siapa yang harus disalahkan, Badu, Budi, atau Mira? Kemudian, jika "hasrat seksual" hanya terpendam dalam pikiran dan hati dan tidak diwujudnyatakan dalam tindakan, apakah orang-orang semacam itu dikenai hukuman?
RUU ini juga tidak menjelaskan mengenai apa itu "nilai-nilai kesusilaan". Keberagaman agama, budaya, seni, dan lain-lain yang dimiliki Indonesia tentu saja akan memiliki nilai-nilai yang berbeda seperti halnya nilai-nilai kesusilaan. Belum tentu nilai kesusilaan orang Jawa sama dengan nilai kesusilaan orang Ambon, Papua, Aceh, dan masih banyak etnis lainnya.
Hal lain yang mendapat sorotan, yakni Pasal 4 ayat 1 (d) yang menyatakan, setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang memuat ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan. Berbicara mengenai ketelanjangan, tentu kita harus melihat dari dasar kalimatnya, yakni telanjang. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan, kata telanjang memiliki arti tidak berpakaian, tetapi kalau kesan ketelanjangan, sulit diukur. Penjelasan RUU menyebutkan "mengesankan ketelanjangan" adalah penampakan tubuh dengan menunjukkan ketelanjangan, yang menggunakan penutup tubuh yang tembus pandang. Pasal ini juga sungguh fatal, karena sangat multiintepretasi.
Bagaimana dengan perempuan atau ibu-ibu di desa di Jawa-Bali, yang terbiasa dengan kebaya atau lelaki di pedalaman Papua yang mengenakan koteka dalam kehidupan sehari-hari bukan karena seni, apakah itu pornografi atau mengesankan pornografi? Apakah mereka harus mengganti pakaiannya jika RUU ini disahkan? Atau apakah mereka harus mendekam di penjara kalau tetap mengenakan pakaian itu. Bagaimana dengan program membudayakan kebaya sebagai budaya bangsa ? Lalu, bagaimana dengan para olahragawan semisal perenang, atlet bola voli, khususnya pantai yang hanya mengenakan celana dalam dan bra. Bukankah itu lebih terbuka dibanding kebaya? Akankan atlet-atlet tersebut menjadi korban dari serampangannya RUU ini? Bagaimana pula dengan definisi setiap orang yang dimaksud di awal kalimat tersebut. Jika melihat definisi setiap orang dalam RUU, maka anak-anak pun ikut termasuk di dalamnya. Artinya, jika anak-anak bermain dalam kondisi telanjang bisa saja dilaporkan polisi karena tidak menutup tubuhnya.
"Polisi Moral" Bagian yang harus dicermati juga, yakni soal peran serta masyarakat. Dalam Pasal 22, sangat jelas disebutkan masyarakat bisa melaporkan pelanggaran terhadap UU ini. Pasal ini telah membuka peluang sebesar-besar bagi sekelompok masyarakat untuk bertindak sebagai "polisi moral". Mereka bisa saja melaporkan orang yang dituduh melakukan tindakan pornografi dengan membawa calon korbannya secara sewenang-wenang dengan cara-cara di luar hukum. Celakanya, Pasal 23 kemudian memberi jaminan perlindungan bagi masyarakat atau kelompok masyarakat yang bertindak sebagai pelapor. Bagaimana UU ini bisa mejamin, kalau orang yang melapor tersebut tidak melakukannya dengan cara-cara di luar hukum? Pasal 22 ayat (d) disebutkan, masyarakat turut berperan melakukan pembinaan kepada masyarakat terhadap bahaya dan dampak pornografi. Di sini pun sangat tidak jelas, apa arti dari "pembinaan" yang dimaksudkan.
Semua hal ini bisa membuat chaos di masyarakat. Seseorang bisa menjadi hakim bagi sesamanya. Akan muncul "penegak hukum tandingan" dan kebingungan di masyarakat. Sebuah bom waktu.
Pariwisata Untuk sektor Pariwisaya tentu RUU Pornografi ini sangat tidak relevan. Akan terjadi pembatasan kebebasan "berekspresi". Haruskah di Pantai seseorang harus dilarang mengenakan pakaian renang, harus kah seorang wisatawan tertawan budayanya demi menghindari otak kotor porno yang melihat ? Ini penjajahan budaya. Itulah sebabnya salah satu desakan yang paling kuat menolak RUU Pornografi adalah dari Bali. Sementara itu, budayawan Samosir, Sumatera Utara, Hamonangan di Medan, Selasa mengatakan, UU Pornografi akan membuat wisatawan mancanegara enggan untuk berkunjung ke Indonesia. Bila hal ini terjadi, dan wisatawan jera datang, karena banyaknya peraturan, dipastikan akan memukul perekonomian masyarakat, selain mengurangi pendapatan pemerintah dari industri pariwisata. "Apabila RUU ini disahkan, bisa memberikan keuntungan pada instansi lain. Bisa saja persoalan ini menjadi ajang memeras orang," katanya. Peringatan dari berbagai pihak tersebut ada benarnya. Kalau saja para wakil rakyat di Senayan itu berjiwa negarawan, pastilah bisa mencamkan reaksi penolakan dari daerah soal RUU Pornografi tersebut. Kalau perlu, batalkan RUU tersebut atau setidaknya, tunda pengesahannya. ( Referensi : http://www.suarapembaruan.com/ SUARA PEMBARUAN DAILY Awas Perangkap UU Pornografi )

Monday, September 08, 2008

Hidup Yang Dilandasi Syukur.

Nats : Pengkhotbah 5:17-19 Telah diwartakan pada Ibadah Minggu 31 Agustus 2008, di HKI Jl. Melanthon Siregar, P. Siantar
Tidak ada yg suka yg palsu. Produk barang eletronik yang Palsu biasanya dipakai sebentar, lalu rusak. Pakaian yg palsu (mengadopsi Merk tertentu) mungkin kemasan atau bentuknya saja yg sama dengan yg asli, tapi ketika dipakai bisa cepat luntur dan kemudian rusak, karena memang kualitasnya berbeda dari yang asli. Demikian juga kepalsuan lain, tiap manusia tentu tidak menyukai senyuman palsu, sanda gurau palsu, cinta palsu. Singkat kata Manusia dari dasar hatinya menginginkan sesuatu yang asli, yang sebenarnya. Bukan yang palsu.
Termasuk dengan kebahagiaan, manusia menginginkan kebahagiaan yang sebenarnya bukan kebahagiaan yang semu, yang palsu. Uniknya manusia dalam mencari kebahagiaan, demi sebuah pengakuan, demi mencapai keinginan sering larut dalam arah kebahagiaan yang palsu. Banyak manusia berpikir sumber kebahagiaan adalah materi, kekuasaan, fasilitas dll. Untuk itu dia bekerja keras dengan berbagai cara demi mendapatkannya.
Ada 4 tipe yang bisa kita rumuskan : 1. Manusia bekerja keras agar bisa mendapatkan materi untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, dengan berasumsi jika mendapatkan materi yang banyak maka dia akan bahagia. Akhirnya memang dia mendapatkan banyak materi setelah ia kerja keras. Tapi setelah didapat, ia tidak menemukan kebahagiaan. Melainkan hanya justru kesibukan-2 baru.
Mereka disibukkan untuk membelanjakan uangnya, beli ini dan beli itu dengan anggapan akan mendapatkan kebahagiaan, pendeknya mereka akan membeli gaya hidup yang mencerminkan mereka "bahagia", disibukkan untuk mendapatkan pengakuan, sehingga kepercayan dirinya terletak pada apa yg dimilikinya, terletak pada apa yg dikenakannya, bukan kepada dirinya sendiri sebagai manusia yg diciptakan oleh Allah. Mereka tidak mendapat kebahagiaan yg mereka cari. Yang ada hanya takut bangkrut, atau takut korupsinya ketahuan, takut anaknya justru makin nakal. Yang ada hanya perubahan orientasi hidup : perubahan sikap pd orang lain, ego yg tinggi, dimana yg menjadi prioritas utama hanya dirinya. Itu sebabnya ketika seseorang yang tiba-tiba punya banyak materi, tiba-tiba juga tinggi hati dan menjaga jarak dari orang sekitar. Ia tetap merasa kurang. Akhirnya Konsep ideal tadi bahwa materi menjadi sarana bahagia tidak didapatinya, Justru dia tertawan oleh rasa tidak cukup dan hidupnya tidak tenang. Dimana Yang salah ?
Kemudian kita ke tipe 2. 2. Dan ada juga yang telah bekerja keras, kemudian memiliki harta banyak, ternyata benar-benar bahagia. Ia tetap bekerja keras, harta mengalir dan ia menikmatinya. Ia hidup bahagia.
Dimana kuncinya ? Ternyata rasa hidup bersyukur, memahami bahwa rejekinya berasal dari TUHAN dan harus dipakai sebagai jalan berkat buat orang lain. Sehingga ia menjalani hidup kecukupannya dengan kerendahan hati dan semangat melayani TUHAN melalui sesama.
Tipe 3 : 3. Ada orang yang bekerja keras, tetapi apa yang dimilikinya yang terbatas tetap bisa dinikmatinya, ia bahagia. Kuncinya sama dengan tipe 2 : Rasa syukur.
Tipe 4 : 4. Ada orang yang malas bekerja, hanya berhayal, keseharian kegiatannya menghabiskan waktu dengan membahas apa saja, tapi tidak melakukan apa-apa. Efeknya pendapatannya tidak ada, dan ia tidak menikmati hidupnya karena bukan hanya merasa kurang tetapi faktanya adalah kurang. Orang seperti ini berada dalam posisi kebiasaan "menunda" tindakan, ini merupakan cermin dari gagalnya pikiran untuk menerima DIRI ini dengan apa adanya. Ia hanya berpikir :
- Besok saya akan mengerjakannya jika saja.... - Dulu saya pasti sudah melakukannya kalau saja saya tidak......
- Besok saya pasti akan berbahagia bila saya sudah berhasil meraih A, B, C,...
- Dulu sebetulnya saya sudah bahagia, jika saja saya tidak mengalami A, B, C,...
Jemaat terkasih, diantara 4 tipe dalam menjalani kehidupan menuju kebahagiaan sejati dimana posisi kita ? Apa kuncinya hidup bahagian yang bisa kita dapat ? Mensyukuri. Mensykuri akan mempengaruhi cara pandang kita tentang harta. Bahwa itu adalah titipan Allah dan harus dimamfaatkan untuk orang lain juga. Orang yang tidak menikmati : tidak mensyukuri : tidak diberi kuasa untuk menikmatinya ! Orang yang terbatas tapi bahagia : mensyukuri Orang yang tidak bekerja sehingga tidak bahagia : tidak mensyukuri hidup, tenaga, pancaindera sehingga wajar ekonominya morat marit berkekurangan.
Hal ini terkait dalam pembahasan nats :
Ada beberapa hal yang bisa kita lihat dalam ayat ini : Pada ayat 17 dikatakan Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.
Manusia diminta untuk bekerja dalam hidupnya. Firman TUHAN berkata dalam 2 Tesalonika 3 : 10 ; ……. “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”
Amsal 6:6-11 ; 6:6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 6:7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. 6:9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? 6:10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" 6:11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.
Kesuksesan itu berada dalam ranah tindakan. Betapa banyak orang yang sarat dengan ide-ide cemerlang namun tidak pernah mencapai apapun, karena mereka tidak pernah memutuskan untuk SEGERA bertindak. Kalimat sebab itulah bahagiannya bukan berarti kita mengimani ada takdir seolah Allah sudah menentukan segala sesuatu. Mensahkan anggapan :"Jika gagal, ya sudahlah itu sudah garis hidupku". Ini adalah kalimat putus asa. Masa depan belum pernah terjadi, tidak ada takdir. Allah membuka kesempatan kepada tiap manusia untuk menentukan masa depannya dan mempertanggungjawabkan pada Tuhan. Kemudian pada ayat 18-19 dikatakan : Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya -- juga itu pun karunia Allah. Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.
TIAP MANUSIA MEMPUNYAI KEINGINAN. Tapi demi mencapai itu banyak yang menempuhnya dengan cara yang tidak berkenan dgn Allah. Bnk. 1 Timotius 6:9-10 : 6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Alkitab banyak sekali memperingatkan kita akan bahaya dari kekayaan atau keinginan untuk menjadi kaya secara jasmani. Seringkali harta adalah penyebab kejatuhan manusia;
Bnk. Mat. 6:21 / Luk. 12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Pengkhotbah 5:9-10. Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? 1 Timotius 6:17-19 : Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.
Menjadi kaya adalah suatu berkat, tetapi kita harus berhati-hati dalam menerima, mengelola dan memelihara kekayaan itu. Allah kita Allah yang baik dan menjanjikan kebutuhan jasmani yang cukup, maka janganlah kawatir akan kebutuhan materi : Orang yang cinta akan uang tidak akan pernah puas. Maka yang terutama adalah kejarlah harta surgawi yang membawa kebahagiaan dan hidup yang kekal : dalam memenuhi kebutuhan hidup kita perlu uang, untuk kebutuhan rumah tangga, makan, pakaian, pendidikan, apapun kegiatan kita semuanya perlu dana. Untuk pemenuhannya Allah memerintahkan manusia untuk bekerja :Uang itu penting, tetapi lebih penting lagi bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Yang negatif bukan uangnya melainkan sikap terhadap uang, yaitu "cinta-uang" yang bisa menjadi akar setiap kejahatan. Kita tidak boleh mengabdikan diri sebagai hamba uang dan menjadikannya "Mamon" atau berhala. Yang salah pula, bila kita tamak dan mengandalkan uang lebih dari pada Allah Sumber:
Bnk. Amsal 10:22 Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.Kekayaan adalah dari Tuhan! Janganlah menganggap kekuatan kita yang menjadikan kita kaya. Ulangan 8:17 ; Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Setiap apa yang ada dari pada manusia adalah berasal dari Allah. Karena itu untuk menikmatinya pun mintalah kuasa dari Allah untuk menikmatinya. Ada orang yang bisa menikmati gaji yang dianggap orang rendah, tapi ia justru bahagia. Ada orang yg bergaji besar tapi tidak menikmatinya. Kebahagiaan itu bukan terletak pada apa yang BELUM kita miliki. Bukan pula terletak pada apa yang PERNAH kita miliki. Kebahagian itu terletak di dalam diri ini, SAAT INI. Keikhlasan untuk menerima diri ini apa adanya, adalah kunci untuk memulai langkah awal menuju keberhasilan. Karena itu : Dgn pekerjaan, hasil pekerjaan berupa kekayaan kita bisa memuliakan Allah dgn harta kita, berusaha mencukupkan diri dan mensyukuri yang ada tetapi tetap bekerja maksimal dengan kejujuran. Firman Tuhan dalam Amsal 3:9-10 berkata Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.
Allah lebih senang ketika Dia mendapati anak-anakNya itu tidak memprioritaskan kebutuan jasmani saja, tetapi selalu mencari kebenaran Allah dan hidup menurut ajaranNya : Bnk. Matius 6:33 ; Allah kita adalah Allah yang berkelimpahan. Allah sanggup memberkati kita dengan berkat jasmani yang cukup untuk kita hidup bahkan berkelimpahan. Cinta akan mamon menjadi penghalang dalam mencari Tuhan. Materi atau uang dapat menolak Tuhan Yesus. Dalam hidup ada yang lebih penting daripada uang dan harta, ada banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kedamaian, sukacita, ketenangan, kasih, tidak bisa dibeli dengan uang. Keselamatan Kekal dari Tuhan tidak bisa dibeli dengan uang, tapi harus dibayar dengan iman percaya. Iman membuat kita yakin akan pemeliharaan Allah, dan ini akan menghadirkan pola hidup bersyukur dalam hidup kita. Jika hal ini kita jalani, maka akan ada damai sejahtera dalam hidup kita, keluarga kita dan ini semua akan terpancar dalam kehidupan kita. Amin.

Tuesday, September 02, 2008

Let Your Soul Be Your Pilot

Banyak kesalahan, celaka, perkara (pertikaian fisik non fisik, kriminal, sengketa, hingga korupsi) yang terjadi ketika hati nurani di masing-masing pihak pelaku terabaikan. Nurani yang adalah murni, sering terhimpit oleh ego berwujud nafsu, ketamakan, rasa ingin menguasai, ketinggian hati dll. Sebenarnya Nurani adalah media yang disediakan TUHAN pada tiap manusia untuk mengontrol hidup. Tidak ada edisi ciptaan berwujud manusia yang diciptakan tanpa nurani. Pertanyaannya apakah fungsi control itu di aktifkan atau justru di benam. Firman TUHAN dalam Mazmur 16:7 berkata : "Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku." Pemazmur mengisyaratkan bahwa Allah memakai nurani dalam menasihati, memberi petunjuk akan hidupnya. Jadi bukan berarti kita mengandalkan nurani terlepas dari komunikasi dan kedekatan kita dengan TUHAN. Ini harus berbarengan. Kombinasi dari hal ini akan ada pencerahan hidup, kerendahan hati, sehingga akhirnya kita menjadi pelita yang menerangi. Selamat hidup bersama nurani.
"Let Your Soul Be Your Pilot"
Sting
Let your soul be your pilot
Let your soul guide you
He'll guide you well
When you're down and they're counting
When your secrets all found out
When your troubles take to mounting
When the map you have leads you to doubt
When there's no information
And the compass turns to nowhere that you know well
Let your soul be your pilot
Let your soul guide you
He'll guide you well
When the doctors failed to heal you
When no medicine chest can make you well
When no counsel leads to comfort
When there are no more lies they can tell
No more useless information
And the compass spins
The compass spins between heaven and hell
Let your soul be your pilot
Let your soul guide you
He'll guide you well
And your eyes turn towards the window pane
To the lights upon the hill
The distance seems so strange to you now
And the dark room seems so still
Let your pain be my sorrow
Let your tears be my tears too
Let your courage be my model
That the north you find will be true
When there's no information
And the compass turns to nowhere that you know well
Let your soul be your pilot
Let your soul guide you
Let your soul guide you
Let your soul guide you upon your way...

Thursday, August 28, 2008

Refleksi

.............
Sejak kamu bangun pada pagi hari ini, Aku memperhatikan kamu dan berharap kamu akan segera menyapa-Ku, walaupun cuma beberapa kata saja, atau meminta pendapat-Ku dan bersyukur kepada-Ku atas segala sesuatu yang baik telah terjadi dalam hidupmu kemarin. Tetapi Aku melihat kamu terlalu sibuk mencari-cari pakaianmu yang terbagus untuk bekerja.
Aku menunggu lagi.
Setelah siap, kamu berlari tergesa-gesa, Aku tahu bahwa kamu memiliki waktu beberapa saat untuk berhenti sejenak untuk menyapa-Ku, tetapi kamu masih terlalu sibuk.
Berikutnya, kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu hanya duduk saja dengan santai di atas sofa selama 15 menit, Kemudian tiba-tiba kamu beranjak, Aku mengira bahwa kamu hendak berbicara kepada-Ku, tetapi ternyata kamu beranjak hendak menelpon teman-temanmu untuk mengetahui gosip-gosip terbaru.
Setelah itu, kamu pun berangkat dari rumah untuk segera bekerja dan Aku masih menunggumu sepanjang hari dengan sabar.
Dengan segala aktifitasmu yang sangat padat, Aku kira kamu masih tidak sempat untuk sekedar menyapa-Ku.
Pada tengah hari. sebelum kamu menyantap makan siangmu, Aku melihat kamu menoleh ke kiri dan ke kanan, mungkin kamu merasa malu untuk berbicara kepada-Ku, maka dari itu kamu tidak menundukkan kepala padahal kamu sudah melihat beberapa teman-temanmu berbicara kepada-Ku terlebih dahulu sebelum mereka menyantap makanan mereka, tetapi kamu tidak...
Tidak apa-apa...
Setelah sore tiba, kamu pulang ke rumah. Masih ada waktu yang tersedia, Aku masih berharap kamu untuk menyapa-Ku. Ternyata masih banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan di rumah. Setelah selesai, kamu menghidupkan TV. Aku tidak tahu kamu suka menonton acara-acara di televisi atau tidak, hanya saja kamu kerap kali menghabiskan banyak waktu di depannya, tanpa memikirkan apa-apa kecuali menonton setiap acara yang ada sambil menikmati cemilan. Kembali Aku menunggu dengan sabar.
Tetapi kamu masih saja tidak menyapa-Ku.Tibalah waktu untuk tidur bagimu, tentunya kamu sudah merasa sangat lelah sepanjang hari ini. Kemudian kamu pun langsung tertidur dengan pulasnya. Tidak apa-apa karena mungkin kamu tidak menyadari bahwa Aku ini selalu ada disekitarmu.
Aku mempunyai kesabaran dan kelembutan lebih daripada yang dapat kamu ketahui. Bahkan Aku ingin sekali mengajarmu bagaimana untuk bersabar dan bersikap lembut kepada orang-orang di sekitarmu dengan baik.
Aku sangat mengasihi kamu. Setiap hari Aku menunggu tundukan kepalamu atau doa-doamu atau ungkapan terima kasih dari dalam hatimu.
Seperti kemarin-kemarin, kamu bangun dari tidurmu dan kembali Aku menunggu dengan penuh kasih setia dan berharap pada hari ini kamu paling tidak akan memberikan sedikit waktu untuk-Ku....
Aku memberkatimu!
_________________________
tahun ke bulan ke minggu ke hari - tak pernah jemu membaca ilustrasi ini,
mari memaknai - semoga menjadi berkat.
Maha Mulia Kasih TUHAN YESUS.

Tuesday, August 26, 2008

Hening

Belakangan ini kembali aku merasakan betapa berharganya sebuah keheningan. Bayangkan saja, semenjak manusia lahir, selalu saja ada hiruk pikuk yang secara terus menerus hadir di pikiran. Hiruk pikuk itu tidak pernah pergi bahkan ketika kita tertidur atau berada sendiri sekalipun. Sebuah hiruk pikuk yang menyelubungi diri kita hingga kita berhenti mendengarkan. Dan bahkan ketika kita berhenti, kita masih tetap mendengar hiruk pikuk itu dan tidak merasakan keheningan. Hiruk pikuk bagaimana penilaian orang-2 terhadap kita, hiruk pikuk peristiwa sekitar, hingga hiruk pikuk pikiran apa yang harus kita kerjakan, bagaimana mendapatkan pengakuan dari orang lain baik dipekerjaan, lingkungan hingga keluarga, dll. Pekerjaan dan aktifitas keseharian sering menghalau keheningan yang datang untuk berbicara pada kita, tapi atas nama lelah, ingin tidur, ada deadline, keriuhan diantara teman2, keheningan itu dibungkam.
Fakta memang, setiap manusia membutuhkan dan mencari kedamaian, ketenangan. Bekerja-berprestasi jika ditelaah adalah untuk mengatasi kebutuhan itu. Namun kita sering mencarinya lewat aktifitas pikiran manusia yang tergesa-gesa dan tidak berguna. Manusia telah menjadi ahli dalam menciptakan kesenangan dan kepuasan perasaan, namun kesenangan dan kepuasan itu hanya di permukaanya saja sehingga tidak kekal atau nyata. Kita menyenangkan pikiran kita dengan mainan baru, pemandangan baru, unlimited work', kesenangan baru, aktifitas "baru", tetapi jarang sekali dari kesemuanya itu yang merupakan kedamaian nyata. Kita hanyut dalam arus lingkaran semu hidup, tanpa bisa benar-2 menikmatinya.
Karenanya, hal yang paling berharga untuk dicari adalah ketenangan dan keheningan. Dalam keheningan, kita akan diajak berbicara tentang hal-2 yang selama ini mungkin kita tolak untuk dibicarakan karena menyakitkan. Ingatlah, justru itulah yang menuntun kita kepada kedamaian hidup dan apa seharusnya yg dilakukan. Kedamaian ini tidak bergantung pada keadaan eksternal. Dalam prosesnya, berada dalam suasana hening akan memusatkan ketidakseimbangan yang ada pada kita, tentang siapa diri kita tentang apakah kita serta mengapa kita disini, menelanjangi tiap kekeliruan dalam hidup, keheningan membawa penyesalan akan kejadian lampau dimana kita mungkin telah menyakitkan perasaan orang lain, keheningan menyadarkan benarkah ditengah kesibukan kita telah mengabaikan orang-2 yg justru mendoakan dan mencintai kita dgn tulus, keheningan menghempaskan keangkuhan kita, keheningan menyadarkan kita bahwa semua yang ada pada kita termasuk kemampuan untuk hidup dan berindera adalah hanya karena TUHAN, keheningan menerima kenyataan akan sebuah kegagalan atau keberhasilan, keheningan membuka topeng dan kemunafikan, keheningan memuntahkan dusta,
Kadang-kadang kita dapat menyadari kebesaran Tuhan ketika kita diam. Hening adalah suatu ekspresi penghormatan yang tepat, karena Tuhan juga berbicara kepada kita dengan suara yang hening. Keheningan merawat dan menyalakan kerinduan kita untuk Tuhan.
luar biasa jika keheningan di hayati...
Dalam Keheningan Datanglah Pengertian - Dalam Pengertian Datanglah Kebijaksanaan - Dalam Kebijaksanaan Datanglah Perbuatan Yang Tepat.

Tuesday, August 19, 2008

Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Alur Hidup

Pada musim panas 1946 desas-desus tentang kelaparan melanda sebuah provinsi di negara Amerika Latin. Padahal tanaman bertumbuh baik dan cuaca pun sempurna, menunggu panen raya.
Tetapi karena daya sas-sus itu, 20.000 petani gurem meninggalkan sawah-ladangnya dan lari ke kota-kota.
Karena perbuatan mereka, panen gagal, ribuan orang meninggal dan isyu kelaparan terbukti nyata. (doa sang katak/doc).
PIKIRAN Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain, namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran dia menghampiri belalang lain itu dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia maupun ukuran tubuh?” Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan, “Di manakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.” Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan kebiasaan bisa membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada kita tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri. Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan seutas tali yang terikat pada sebilah pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kakinya, padahal “sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil… Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “penjara” itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda? Sebagai manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai segala aspirasi positif yang ingin Anda capai.
'Sakit' memang, lelah memang, tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.———————-

Tuesday, August 12, 2008

Living Green

Happy Green
Thanks to Al Gore and other environmentalists the concern of global warming is rapidly growing throughout the world, mostly in the West. In America, for example, people talk this issue every day. At bookstores people are reading books and magazines giving them instructions how to be green and be part of a global movement to save the earth. As a response to public awareness, industries are helping their customers to become greener and greener. Supermarkets are stocking their shelves with organic and eco-friendly products. Whole Foods Market, the world’s leading retailer of natural and organic food, is growing fast by giving its customers a promise that the food they buy will help saving the earth. Despite the fact that U.S. government is still unwilling to sign the Kyoto Protocol, every day new organic products are filling supermarkets’ stock lists in America. Now they have organic apple, organic bread, organic burgers, organic lipstick, and a bunch of other organic products. Someone once told me that organic chicken tastes better than the regular chicken. I got confused and complained, “How could that be?” She explained that an organic chicken is fed only with organic grains, never given any antibiotics and hormones, and raised in a stress-free environment. Now I know that a happy chicken tastes better. I later added, “We have that kind of chicken in our country too, it’s called ayam kampung.” On my first visit to Market a cashier asked me when I was preparing to swipe my card, “Paper or plastic?” Looking like a fool I responded bluntly, “I don’t understand. I don’t want to buy paper or plastic, that will be all.” Later I found out that she was asking me whether I wanted to have a plastic bag or a paper bag. The paper bag is considered eco-friendly since it’s recyclable. But, Whole Foods Market is doing further now by not asking that kind of question again. They have sacked all their plastic bags and only provide their consumers with paper and reusable bags. h. The reason Foods Market implements this strategy is because the company claims it’s what their consumers demand and more importantly is the fact that a disposable plastic bag takes more than a thousand years to break down in a landfill. A thousand years for a plastic bag! That’s huge. But now, what does it mean that we should be green? Is dumping plastic bags enough to stop the global warming? And does buying organic food and other eco-friendly products will actually help this earth? Or is it just another trend like other frenzies that will always come and go? Are we really sincere in helping this earth when we buy an organic milk or locally planted fruits? Whatever the reason is, it is important to understand that the issue of global warming is something real and needs to be taken seriously by every living person in this world, including Indonesians. The discussion of global warming is not merely about how organic our food is or how much we can disassociate ourselves from plastic bags but also how we can solve the energy crisis and other issues too. I know it’s not easy for most Indonesians to be concerned in this matter since they are struggling hard just to find food to eat. Indonesians who live in small cities and villages, for example, know exactly how the environment is part of their lives. But when they have to choose between saving the earth or having no food to eat, the result is something that all environmentalists don’t wish to dream about. It is sad to know that according to Time’s Michael Grunwald in his recent article “The Clean Energy Scam” Indonesia is the third world’s top carbon emitter due to its deforestation. The irony is, most trees are cut down because investors backed by politicians and local governments are pouring their money into the palm oil industry in the name of biofuels. And while many politicians believe that biofuels might be the answer for the energy crisis, not many people know that biofuels are actually making things worse. Saving the earth is not an easy job. Relying this issue entirely on our central government is certainly not enough. Every one of us has to be creative and sincere. Making sure that your own environment is clean is good, but it’s not enough. The earth wants you to spread the news that saving the earth is not just something cool but it’s a must. It’s time for us to be green.

Melawan Ego dan Penindasan dengan Menjadi Saluran Berkat

Nats : Habakuk 2 : 6-14
Disampaikan Pada Ibadah Minggu di HKI Petisah (10/8-08)
Mengawali Khotbah : Ilustrasi 111/hp/doc* * * *
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita. Kita hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan menjadi hakim yg mengklaim atas suatu peristiwa. Kecuali kalau kita sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai?
"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."--------------------------------------- Gambaran seperti ini jugalah yang terjadi pada konteks Kitab Habakuk.
Latar Belakang
Habakuk mengasihi Allah dan membenci dosa. Dia sangat marah hingga sukar baginya untuk memahami apa sebabnya Allah tidak bertindak untuk mencegah kekacauan dalam bidang sosial politik dan ekonomi yang semakin menjadi-jadi di negerinya.
Ketidakadilan dalam masyarakat merajalela, akibatnya kaum berkuasa, bangsawan, pejabat negara menindas kaum lemah dan rakyat jelata yang miskin. Kesedihan akibat kekerasan dan kejahatan yang ia lihat di sekitarnya membuat ia semakin kecewa. Yerusalem diserang Kasdim, perabotan Bait Allah dijarah, dan 10.000 orang Yahudi dibawa selaku tawanan ke Babel. Hal ini membuat Habakuk menjadi bingung mempertanyakan Allah (Hab 1:12-13) Habakuk marah melihat situasi hidup keadaan tanah Yehuda (Hab 1:1-2). Di tengah penantian ini, Habakuk terus berseru dengan tekun kepada Tuhan untuk segera menyatakan keadilannya terhadap situasi yang tengah terjadi. Jemaat terkasih, disini Habakuk begitu emosi, karena menafsirkan realita dengan kaca matanya sendiri. Dalam dialognya dengan Tuhan ia bertanya, “Mengapa Tuhan sering terlihat berbeda dalam menghadapi kejahatan; Mengapa Tuhan tidak menghukum kejahatan?”: ‘Bagaimana mungkin Allah yang Maha Kudus menghukum umat-Nya yang berdosa dengan memakai bangsa Babel yang fasik? Kemudian Seruan Habakuk di ayat 2, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar” : ini semua menunjukkan bahwa seruan dan teriakkan Habakuk ini bukan hanya terjadi satu atau dua kali. Melainkan seruan dan teriakkan ini sudah terjadi bertahun-tahun lamanya - bahkan sampai terjadi perubahan pemimpin pemerintahan - tetapi tidak ada perubahan keadaan yang nyata. Tuhan tampaknya tidak berbuat apa-apa, Tuhan seperti bisu dan tidak peduli pada umatnya dengan berbagai pergumulan mereka. Tapi kenyataan ini membuat Habakuk tidak berhenti untuk berseru kepada-Nya. Terhadap segala jawaban dan Firman Tuhan ini, Habakuk mengambil sikap positif untuk menanti dengan tekun (2:1). Habakuk sabar menanti dan mengamati respon Tuhan Habakuk mengamati dan menunggu sekian lama (Habakuk 2:1-3).
Allah justru menjawab bahwa DIAlah yang membangkitkan bangsa Kasdim yang menindas bangsa Yehuda (Hab 1:5-6).Terungkap kedaulatan Allah menggunakan bangsa kafir untuk menghukum umat-Nya yang jahat, dan memang ketika Israel melakukan banyak dosa kesombongan dan penindasan, maka Allah menghukum mereka melalui bangsa Kasdim dan pembuangan Babel, sehingga apa yang disombongkan Israel sirna seketika. Dan mata iman Habakuk mengajarkan bahwa penghukuman Allah, adalah cara Allah untuk mendidik Israel, untuk kebaikan masa depan israel, untuk mau bertobat dan menyadari bahwa kesombongan hidup tidak boleh dilakukan. Habakuk sadar bahwa Habakuk selama ini telah salah menginterpretasi fakta. Menganggap Allah membiarkan semua yg terjadi karena tega. Itulah sebabnya ketika habakuk melihat segala sesuatu melalui kacamata iman, dia justru mengeluarkan satu kalimat indah yang menjadi kalimat yang sulit dimengerti oleh manusia di dunia. Hab 3:17-19 : Sebab bagaimana mungkin sekalipun pohon ara tidak berbunga, … dan tidak ada lembu sapi dalam kandang namun , "Aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkanku." Disini ada satu perubahan di dalam hidup Habakuk yang mengakibatkan juga perubahan dalam menafsirkan realita. Faktanya tidak berubah, apakah realitanya berubah? Tidak! Apakah penindasan yang sudah terjadi menjadi hilang? Tidak. Tetapi cara pandang habakuk melihat yg terjadi membuat Dia semakin sadar. Saudara, setelah Habakuk mencapai kesimpulan ini Ia tidak pernah marah lagi meskipun keadaan boleh tetap buruk. Jika Alkitab mengatakan Habakuk memulai ps ini dengan doa menurut nada ratapan. Kalau sebelumnya Habakuk marah-marah sekarang justru Habakuk penuh belas kasihan. Ketika Habakuk melihat bahwa Tuhan akan menjatuhkan murka, dia sempat mensisipkan satu kalimat, "Tuhan dalam murkaMu ingatlah akan kasih sayang!" Kini Perubahan Habakuk terjadi karena perubahan cara melihat dan mengerti realita, ini yang membuat Habakuk memiliki jiwa besar dan menjadikan kita tidak hidup dalam ketegangan dan stress. Ini keuntungan yang pertama. Sekalipun keadaan bertambah parah namun Habakuk memiliki reaksi yang berbeda sama sekali. Habakuk ketika dikunci oleh berbagai realita yang ada di depan dia hatinya begitu emosi dihadapan Tuhan. Dalam kondisi seperti ini Habakuk sulit sekali melihat apa yang Tuhan lihat. Ketika Habakuk mulai berhenti dan mulai berdiam untuk melihat apa yang Tuhan kerjakan pada saat itulah wawasan dia mulai berubah. Dari sudut pandang Allah inilah Habakuk mulai melihat apa yang Tuhan kerjakan, bagaimana Tuhan akan menegakkan keadilan&bagaimana semua kejahatan ini akan ditindak. Inilah juga yang seharusnya menjadi sasaran yang kita bisa capai dalam perjalanan hidup kita. Jika seseorang sudah sampai kepada komitmen seperti Habakuk maka hidup dia akan melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Manusia sering melihat segala sesuatu berdasarkan standardnya. Sering manusia memuji Tuhan jika merasakan berkat Tuhan dalam hidup Anda. Coba kalau Tuhan memebrkati, banyak orang akan berterima kasih toh sama Tuhan. Kalau mengalami penderitaan, maka tidak sedikit yang mengeluh sama Tuhan. Konsep bisnis, kalau Tuhan berkati, maka banyak orang akan persembahan, mengucap syukur, dan memuji. Kalau Saya menerima, maka saya ‘membalas’ memberi. Kalau Saya ndak dapat apa-apa, ya ndak memberi. Emangnya apaan? Itu mah konsep bisnis. Take and give. Tetapi puji Tuhan atas hukuman Tuhan? Puji Tuhan karena mereka menderita? Atau puji Tuhan karena Saya tidak mengalami pencobaan tersebut? Atau puji Tuhan karena Saya menderita? Mengalami penderitaan, kita malah puji Tuhan? Karena kita selalu memandang pada berkat sebagai tolok ukurnya. Kalau ada berkat puji Tuhan. Kalau ndak ada, ya wis. Jadi kita tidak pernah memandang pada Tuhan yang sebenarnya. Kita memandang berkat dulu baru Tuhan. Maka tidak heran pada waktu badai datang, hidup kita down. Waktu berkat datang, kita serasa melayang. Dalam situasi kehidupan yang tidak nyaman dan tidak kita harapkan seringkali kita merasa sendirian tanpa Allah ataupun rekan yang dapat mengerti dan mendukung kita. Sering kita merasa Allah tidak berperasaan dan hanya bisa diam saja, sampai akhirnya kita menjadi kecewa dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Dalam situasi yang sangat terjepit seperti itu, masihkah kita bisa percaya dan mempercayakan hidup dan pergumulan kita kepada-Nya? Bnk. AYUB Sebagai anak Tuhan yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, seharusnya kita tetap arahkan pandangan kita kepada Tuhan. Waktu berkat datang, tetap melihat Dia, memuji Dia memperbolehkan kita merasakan anugerahNya yang seharusnya tidak layak kita terima. Waktu penderitaan datang, pandangan tetap kepada Tuhan Yesus, memohon kekuatan untuk melewati pencobaan itu. Menyadari bahwa pencobaan tersebut tidak melebihi kekuatan kita, dan masih dalam kendali Allah. Karena itu, pergumulan adalah proses dimana Tuhan mau kita alami untuk menuju ke kedewasaan rohani. Saudara, ketika Habakuk mengambil kesimpulan dalam Hab 3, apakah kemudian dengan demikian dia lolos daripada segala sesuatu? Tidak! Sejak Habakuk berteriak-teriak sampai akhirnya Zedekia jatuh, bukan hanya babel yang mempunyai waktu yang cukup panjang kira-kira 8 sampai 12 tahun. Dalam kondisi seperti ini Habakuk sadar jika dia mengambil komitmen dihadapan Tuhan itu komitmen yang tidak tergantung atau tidak terkondisi. Ini membuktikan bahwa orang Kristen pun tidak akan lolos dari penderitaan. Mengapa kita mengambil komitmen? Bukan karena saya tidak melihat masa depan tetapi justru karena saya sudah mendengar dan mengerti firman, ini yang menjadi dasar saya mengambil komitmen. Mari kita belajar bertumbuh seperti Habakuk. Pergumulan tidak salah. Tidak ada orang Kristen yang bertumbuh tanpa pergumulan. Hanya masalahnya sesudah pergumulan ada kemajuan atau tidak! Saudara mari kita maju. Mari kita belajar di dalam kesulitan, kita justru belajar bukan menjadi orang Kristen yang pasif, pragmatis, marah, menyesali situasi tetapi justru kita bisa maju secara positif. Saudara, seberapa besar kita dapat tetap percaya kalau Tuhan itu berkuasa dan berdaulat untuk menjadi pembela kita di tengah pergumulan, ketidakadilan dan kegagalan yang menimpa kita? Seberapa berani kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya ketika situasi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita sepertinya terjadi di luar kontrol Tuhan? Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana shg mengganggu kenyamanan, bagaimana kita menghadapinya? Pesannya amat kuat dan jelas. Iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku akan bersorak-2, beria-ria di dalam Allah penyelamatku.” Apakah iman yg sedewasa ini menjadi milik kita? Pandanglah kehidupanmu dari sudut pandang Allah Penilaian seperti ini membatasi seseorang untuk mengasihi orang lain. Kalim atas sesuatu yg terjadi yg terlalu dini bisa membuat terluka orang lain. Dan Cara saudara memandang kehidupan kan membentuk kehidupan saudara. Kalau saudara memandang kehidupan adalah sebuah pesta, maka nilai utama saudara dalam hidup adalah bersenang-senang. Jika saudara melihat kehidupan sebagai sebuah balapan, maka saudara akan menghargai keceptan dan mungkin akan seingkali terges-gesa. Jika saudar memmandang kehidupan sebagai sebiuah pertempuran atua permainan, menang akan menjadi sangat penting bagi saudara. Bgimanakah saudara memandang kehidupan? Cara saudara memandang kehidupan akan menentukan tujuan hidup saudara. Hidup ini singkat namun juga kekal. Kehidupan bukan hanya ada sekarang ini. Apabila saudara sepenuhnya memahami bahwa kehidupan ini bukan sekedar yang ada sekarang dan saudara memahami bahwa kehidupan hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan, saudara akan hidup dengan berbeda - maka nilai-nilai hidup saduara akn berubah. Prioritas-prioritas saudara akan ditata ualng. Paulus berkata:” Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (Php 3:7) Belajar dari Habakuk, setiap orang percaya seharusnya dapat tetap percaya kepada Tuhan meskipun berada di tengah keadaan yang tidak diharapkan. Mari memiliki Keyakinan yang teguh kepada Allah yang berdaulat di tengah situasi yang tidak memungkinkan. Kiranya ini menjadi kekuatan bagi kita. -------------------------------- Masalahnya, mengapa seseorang sulit untuk mencapai komitmen seperti ini? Manusia masih dikuasai oleh egosentrik yang sangat besar. Psikologi humanis membuat dunia ini justru celaka karena mengajarkan self exsistence : menegakkan aktualisasi diri dan seluruh hak harus dicukupkan baru setelah semuanya itu manusia baru dapat hidup dengan baik. Iklan mengajarkan : kunci kebahagiaan adalah memiliki barang ini, produk terbaru, dapat bonus dll. Hidup berpusat pada diri itu mencelakakan seluruh masyarakat. Mengacu kepada Nats kita harus bercermin bahwa ketika masing-masing mementingkan kepentingannya sendiri, maka itu merupakan realita dosa. Di sini juga kita bisa melihat bahwa Tuhan dapat menggunakan sesuatu yang tidak biasa untuk memperbaiki kita. Walaupun Allah memakai bangsa Kasdim untuk menghukum Israel, bukan berarti Allah mengizinkan kesewenangan yg dibuat Kasdim. Allah menentang kesewenangan, penindasan, ketamakan, keserakahan. Penghukuman itu tampak dalam Nats Khotbah kita siang ini :
Ada beberapa criteria yang akan celaka – dihadapan keadilan Allah. 2:6 Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya -- berapa lama lagi? -- dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. 2:8 Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu. 2:9 Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka! 2:10 Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri. 2:12 Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. Sifat serakah dari manusia tidak pernah ditelorir oleh Allah. orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian. orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan.
Mereka yg berlaku diatas disampaikan akan celaka. Pengertian Nats ini sangatlah luas. Seseorang yang mengambil hak orang lain untuk kepentingan dirinya, rumah tangganya, anak-anaknya, apapun alasanya tidak dibenarkan Allah. Sekalipun sudah terdesak, sekalipun semua orang ditempat pekerjaan kita melakukannya, jangan mengambil keuntungan, segala sesuatu yang bukan hak kita. Karena itu bukan jalan berkat yang dari Allah. Ketika karena keperluan ekonomi kita memaklumkan, mensahkan adanya dosa, maka itu artinya kita meragukan pemeliharaan Alah. Seolah tanpa itu kita tidak akan dapat hidup, kita tidak akan dapat apa-apa. Allah mengerti akan kebutuhan kita, dan dia dengan caraNya akan mencukupkan kita, sesuai dengan pemikirannya, bukan pemikiran kita. Kapan itu sesuai dengan waktunya, bukan atas desakan waktu kita. Semua dosa itu adalah penampakan dari keserakahan manusia. Ada semua kalimat bijak Gandhi : seluruh keperluan mahluk hidup dibumi disediakan secara cukup oleh bumi, akan tetapi bias kurang buat 1 orang yang tamak. Sikap tamak ini memiliki banyak efek : buat dirinya sendiri : rasa tidak nyaman dan tidak menikmati hidup, merasa terus kurang, bukannya menjadi berkat menjadi orang lain, justru bahkan berpotensi menjadi kutuk buat orang lain atau orang sekitarnya. buat orang lain : akan terintimidasi, Karena ketamakan manusialah maka alam rusak, tanah yang dulu kualitasnya baik, kini karena ingin hasil tani yg berlimpah puluhan tahun masyarakat mengeploitasi alam dengan memakai zat kimia – pemakaian segala sesuatu memaksa alam berlebihan. Kualitas air tercemar karena ketamakan industri. Kualitas udara dll. Bencana datang. Walaupun orang berdosa bisa sukses, kesuksesan tersebut bersifat sementara. Kita tidak perlu iri bila melihat kesuksesan orang berdosa sebab kesuksesan mereka itu bersifat sementara dan berujung pada hukuman Allah. Mengikuti ilustrasi Tentu saja kita harus ekstra hati-hati, agar tidak dengan gampangnya mengatakan setiap sukses atau keberhasilan kita sebagai berkat Allah, dan sebaliknya setiap kegagalan atau kekalahan kita sebagai tanda murka atau hukuman Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah agar kita memandang seluruh kehidupan kita sehari-hari (kerja, bisnis, rumah tangga, adat, politik dan seks dll) dalam rangka membangun hubungan kita dengan Tuhan Allah. Baik keberhasilan atau kegagalan, baik suka atau duka, harus menuntun kita kepada pertobatan dan hidup baru dalam Allah. Ada janji penyertaan dan pemeliharaan-Nya di tengah pergumulan hidup kita yang sulit, di tengah ketidakpastian, dan ketidakadilan yang menimpa kita. Kita harus saabar. dan jangan putus asa. Mempercayai, menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah adalah seperti bagaimana kita akan duduk di atas kursi tanpa ragu kita langsung mempercayakan seluruh berat tubuh kita kepada kursi itu, begitu pula seharusnya ketika kita mempercayakan hidup kita kepada Allah. Tujuan hidup kita manusia, mempermuliakan Allah. Mempermulikan Allah bukan berarti menjadikan Allah mulia. Allah memang sudah mulia, Ia sudah mulia sejak dari kekekalan dan tidak ada satu pun mahluk ciptaanNya yang dapat menjadikanNya lebih mulia. Yang dimaksud dengan mempermuliakan Allah adalh memancarkan kemuliaan Allh, ketika kita berada di kelas, ketika kita berada di luar kelas. Pekerjaan kita, hidup kita, dan seluruh hidup kita benar-benar memancarkan kemuliaan Allah. Banyak orang yang lebih suka menjadi ”pintar” daripada menjadi ”benar” terutama dalam dunia modern ini, mengapa? Karena jadi pintar (yang lebih berdimensi pikir daripada nurani), bukan saja dinilai lebih unggul, tetapi bisa selalu ”benar”. Menjadi orang benar adalah pilihan mutlak, dalam arti hidup di dalam kebenaran Allah, artinya yang menjadi norma utama bukan lagi menurut ukuran dunia dan masyarakat, tetapi ketaatan kita kepada Tuhan dalam segala perkara.
Ilustrasi penutup : Sebelas orang bergantung pada sebuah tali yang tergantung pada helikopter, sepuluh pria dan satu wanita. Tali itu tidak kuat menahan beban mereka semua, jadi mereka memutuskan harus ada satu orang yang menjatuhkan diri. Jika tidak, mereka semua akan jatuh. Mereka bingung siapa yang harus merelakan diri jatuh, tapi kemudian si wanitamengatakan sesuatu yang menyentuh. Ia berkata bahwa ia merelakan diri jatuh karena sebagai wanita, ia terbiasa memberikan apa pun untuksuami dan anak, dan untuk pria secara umum, tanpa mengharap balasan. Setelah ia selesai berkata itu, semua pria itu bertepuk tangan (Sumber : E-Humor)
Ilustrasi diatas menggambarkan bahwa kesombongan (Gender, Jabatan, Gelar, Ekonomi) dapat mencelakakan manusia itu sendiri. Semua itu adalah indikator ego manusia yang dominan. Karena itu dibutuhkan pengendalian diri. Amin.

Tuesday, August 05, 2008

United We Stand

Hillsong United (band) From Wikipedia, the free encyclopedia
The Hillsong United band is an Australian rock and worship band, a part of Hillsong Church's youth ministry Hillsong United. Their music is a contemporary style of praise and worship tempered with mainstream rock.
History The band formed as close friends from within Hillsong Church's youth ministry, originally called 'Powerhouse Youth', led for many years by Donna Crouch.
As the house band for the youth meetings of Powerhouse, the band played covers of Hillsong Church and various other ministries' music, sometimes members contributing to Youth Alive and its' albums (Darlene Zschech was involved in Youth Alive before Hillsong Church).
Dr Mark Evans (Macquarie Uni) states in his Ph. D thesis, "A youth band was formed from the Hillsong music team, which took what was happening in the church musically and played it louder and rockier, appealing directly to a youth demographic".
Steve McPherson, Deb Ezzy and Donia Makedonez were significant members. Powerhouse grew and was split in the late 1990s into two youth groups, 'Powerhouse' (18-25 years of age) and 'Wildlife' (12-16 yrs). Reuben Morgan, assisted by Marcus Beaumont and Tanya Riches were placed in charge of the Powerhouse band, with the former Channel V Leg-Up competition winner 'Able' band boys, Joel Houston and Marty Sampson in charge of Wildlife, while Luke Munns was the main drummer, and Michael Guy Chislett the main guitarist.
In the Summer of 1997, the new team made a huge impact at their youth ministry's Summer Camp. After coming back from from Summer Camp with a God full in their hearts, the many youth ministries in Hillsong Church joined together as one, and started to call the nights, "UNITED" Nights. When united, God does something powerful. Delirious?' Martin Smith's song 'Did You Feel the Mountains Tremble' was the theme song of the camp, and the momentum of youth carried well beyond the camp into church services. Reuben Morgan wrote 'My Redeemer Lives' as a way for the youth to continue worshipping, along with many other songs that appear on the album 'By Your Side' written by Marty Sampson and Luke Munns 'Stay'.
Darlene Zschech suggested to Reuben that they make an album in 1998 after many songs were written in the youth ministry, and the EP 'One' was recorded. The album was packaged with the Hillsong annual album, and both achieved Gold sale status in Australia. 'Everyday' was recorded in 1999. The band continued to release an album each year, rebranding as Hillsong United in 2002 after Reuben Morgan stepped down as co-worship leader of the band. Joel Houston, the eldest son of the church's senior pastor Brian Houston, stepped up to lead the group together with Marty. Current members of the Hillsong United band include Jonathon Douglass (J.D.), Jadwin "Jad" Gillies, Holly Watson, Annie Garratt, Bec Gillies, and Michelle Fragar, daughter of Russell Fragar. Michael Guy Chislett plays guitar and Matthew Tennikoff plays bass guitar.
Former original drummer Luke Munns made a transition from the drums to front the rock/indie band LUKAS. Popular New Zealand artist Brooke Fraser recently joined the band when she joined the church, first appearing on United We Stand. The annual Hillsong United CD/DVD was recorded over many years during their October youth conference Encounterfest, with the album released in the first quarter of the following year. The 2007 album All of the Above was the first album to be fully studio recorded, containing videos of songs on the DVD. The band has toured in a number of countries, leading worship to thousands in North and South America, Europe and Asia.
Following his marriage to Michelle on November 2006, Marty stepped down as one of the main worship leaders of the band. He contributed two more songs with United, 'Devotion'(which he wrote & sang on the album) & 'Saviour King'(which he wrote w/ Mia Fieldes), before he officially stepped down. These songs are part of the 2007 release All of the Above . Brooke replaced Marty as one of the principal worship leaders of the band, while Marty went on to move with the main band to serve as one of main Hillsong worship leaders of the band, alongside Darlene and Reuben.
Discography Main articles: List of Hillsong albums and Hillsong Music
Studio albums 2007: All of the Above
EPs 1998: One 2007: In a Valley by the Sea [edit] Other Albums 2006: Unidos Permanecemos (United We Stand in Spanish) [edit] DVDs 2004: More Than Life (bonus DVD with album) 2005: Look to You (bonus DVD with album) 2006: United We Stand (bonus DVD with album) 2007: All of the Above (bonus DVD with album) September 2008 "The I Heart Revolution: With Hearts As One (Music DVD)" March 2009 "The I Heart Revolution: We're All In This Together"
Success and achievements Hillsong United's 2006 album United We Stand was the best-selling album of 2006 in Canada at Christian retail stores. The album All of the Above was released on March 17, 2007 in Australia, where it debuted and peaked at #6 on the ARIA Charts.[1] In the United States, the album was released on May 22, 2007, selling 10,505 units in its first week. It debuted at #1 on the Billboard Top Christian/Gospel Albums chart, #1 on iTunes' chart of Christian music digital album sales, and #60 on the Billboard 200.[2] The first single released from the album, "Point of Difference", was a top ten hit on Christian radio in Australia.
Silahkan juga berkunjung ke : http://www.rhapsody.com/hillsong