Thursday, April 09, 2009

MEMBINGKAI MAKNA PEMILU LEGESLATIF 2009

MASIH ADAKAH YANG BISA DIHARAPKAN DARI PRODUK PEMILU 2009 ?
Pemilu Legeslatif usai sudah. Baliho, spanduk, yang terpajang selama ini mulai diturunkan. usai sudah KAMPANYE ALA "CALEG IDOL" (dengan banyaknya terpampang Baliho, Spanduk dll). Usai penghitungan, jelas, ada yang terpilih dan ada yang tidak bisa duduk di lembaga Legeslatif di tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat dan DPD. Ini adalah sebuah konsekuensi dari Demokrasi. Mudah-mudahan semua Caleg "gagal" bisa berbesar hati dan semakin dewasa dalam menapak demokrasi. Usai Pesta Demokrasi, sayang rasanya proses Demokrasi yang telah berlangsung lama dan rumit ini serta “MAHAL” ini kita lewatkan begitu saja tanpa mengambil makna dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Untuk itu berikut ada beberapa hal yang bisa kita maknai dari Proses Pemilu yang melelahkan ini :
1. Di tingkat masyarakat mulai berkembang kesadaran Politik akan hak dan arti sebuah Pemilihan Umum. Ini terbukti konkret dengan berbondong-bondongnya rakyat men contreng pada Pemilu 2009, dan menerima keberadaan pihak yang Golput sekalipun secara dewasa. Ini adalah bukti konkret bahwa siap menerima perbedaan keputusan di masing-masing orang. Ini juga terbukti dalam hal menerapkan pilihan. Memang ada masyarakat yang memilih berdasarkan kedekatan marga, profesional (karna punya hubungan relasi pekerjaan dengan Caleg tertentu), alasan kedaerahan, dll ; tetapi ada yang memiliki logika yang kuat sebelum menentukan pilihan. Nah orang seperti ini tidak mudah mendapatkan suaranya, faktor diatas tidak menjadi penentu dalam pengambilan pilihan. Tetapi ada faktor lain yaitu kredibilitas Caleg yang dipilihnya, apakah dianggap mampu memperjuangkan issu tertentu atau tidak, faktor inilah yang jadi penentu pilihannya.
Calon pemilih ini jelas harus dipetakan dan tidak boleh di generalisir oleh Caleg dan Tim Suksesnya. Tapi, fenomena ini banyak yang tidak tercerna oleh para Caleg yang akhirnya terjerumus pada penghamburan dana untuk mengambil hati calon pemilihnya. Berbagai cara dilakukan, mulai mengadakan acara (yang dulu-dulunya jangankan mengundang rakyat hadir ke rumahnya, bertegur dan bersosialisasipun tidak), pemberian uang atau materi lain, hingga melakukan “serangan fajar beberapa saat sebelum waktu pemilu dilaksanakan. Alhasil terjadi salah prediksi dan muncullah kekecewaan ketika suara yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan. Dari sini kita bisa memaknai bahwa setiap Caleg harus pintas dan punya analisa dan pendekatan berbeda kepada konsituennya.
3. Mengingat kembali sebelum Pemilu 2009, 44 partai politik menandatangani deklarasi antikorupsi di kantor KPK, Pada saat yang sama sejumlah tokoh lainnya mendeklarasikan “Blok Perubahan” di sebuah hotel di Jakarta. Apakah ada maknanya? Tentu tak ada yang salah dengan semakin banyaknya deklarasi yang berisi komitmen para elite politik membenahi bangsa kita menjadi lebih baik. Hanya, jika deklarasi demikian muncul setiap menjelang pemilu, sementara perilaku korup dan penyalahgunaan kekuasaan para elite yang dihasilkan pemilu tidak berubah, maka yang berlangsung tidak lebih dari sekadar upacara. Sebagai upacara, hampir tidak ada yang diperoleh rakyat kita melalui deklarasi-deklarasi demikian. Ia sekadar “tontonan” yang tidak memiliki makna apa pun ketika pemilu menjadi arena pertukaran kepentingan di antara para politisi dan parpol.
4. Pembacaan yang sama dapat diberikan pada pameran bisu ribuan foto-diri para calon anggota legislatif, serta poster, spanduk, dan baliho parpol yang mengepung seantero negeri dewasa ini. Alih-alih menawarkan program, para caleg parpol justru mohon “doa restu”, padahal kita tak pernah tahu dan diajak bicara tentang mereka. Akibatnya, pemilu yang seharusnya merupakan arena penawaran ide terbaik untuk membenahi kehidupan kolektif, akhirnya menjadi ajang mematut diri bagi para elite yang mempertahankan posisi di satu pihak, dan mereka yang kebelet berkuasa di pihak lain. Belum lagi Baliho, spanduk, stiker, brosur mereka yang telah membuat setiap kota menjadi kumuh dan tidak tertata. Sebuah kompetisi CALEG IDOL...;
5. Fenomena serupa tampak pada para calon presiden (capres) yang sibuk bersilaturrahmi dan saling menjajagi koalisi, tetapi tak pernah jelas apa agenda mereka untuk menyelamatkan bangsa ini dari ancaman krisis keuangan global, kehancuran lingkungan ataupun bencana banjir yang bisa menenggelamkan Pulau Jawa. Belum lagi soal kemiskinan, pengangguran, serta krisis energi dan pangan yang menghantui bangsa ini akibat akumulasi “salah urus” negara yang tak berkesudahan.
6. Rakyat menjadi “Komoditas”
Pemilu sebenarnya merupakan momentum bagi suatu bangsa untuk merefleksikan kembali pencapaiannya selama lima tahun terakhir. Pemilu juga memberi kesempatan bagi rakyat untuk menilai kembali prestasi para pejabat publik hasil pemilu sebelumnya. Namun rakyat acapkali tak bisa merebut kesempatan itu karena hegemoni para elite politik atas ruang publik menjelang pemilu melalui berbagai ritual yang tak berkaitan langsung dengan nasib rakyat. Seperti pemilu-pemilu sebelumnya, nasib rakyat kita masih sebagai “komoditas” untuk memperbesar suara para caleg, parpol, ataupun capres.
Karena itu tidak mengherankan jika antusiasme rakyat terhadap pemilu kini cenderung menurun. Persoalannya, meningkatnya perkembangan demokrasi ternyata berbanding terbalik dengan tegaknya pemerintahan yang yang bersih. Deklarasi antikorupsi yang semakin intens, juga berbanding terbalik dengan maraknya kasus suap dan korupsi yang dilakukan anggota parlemen di pusat dan daerah, serta para pejabat publik lainnya. Di sisi lain, membengkaknya jumlah partai, caleg, dan capres justru berbanding lurus dengan semakin miskin dan dangkalnya ide-ide tentang perubahan. Akibatnya, janji-janji perubahan yang ditawarkan para elite pun cenderung artifisial, sehingga tak lebih dari gincu politik yang akhirnya luntur bersamaan dengan usainya pemilu.
Mengapa demikian? Secara kultural penjelasannya bisa mungkin dicari dalam tradisi berbagai masyarakat nusantara yang sarat dengan rangkaian ritual dan upacara. Akan tetapi upacara semestinya berhenti sebagai aktivitas privat dan komunal yang tak berhubungan dengan urusan publik. Ketika ritual komunal ditranformasikan sebagai standar perilaku dalam relasi politik yang bersifat publik, maka yang berlangsung adalah praktik demokrasi yang primitif. Artinya, praktik demokrasi memang marak, tetapi seringkali sekadar bingkai untuk mengemas sahwat politik liar yang absen dari komitmen etis terhadap kemaslahatan kolektif.

Tidak Inspiratif

Oleh karena itu yang diperlukan bangsa ini sebenarnya bukanlah parpol ataupun caleg yang sekadar pintar membuat deklarasi. Juga, bukan para capres yang hanya sibuk wira-wiri mencari pasangan atau menunggu pinangan. Kita membutuhkan parpol, caleg, dan capres yang bisa berbagi ide tentang persoalan kolektif bangsa dalam ruang publik yang memperlakukan pemilih sebagai “warga negara”, bukan “massa” yang mudah dikelabui, dibodohi dan diprovokasi melalui janji-janji kosong pemilu.
Sudah terlalu banyak pidato dikumandangkan, visi dan misi dipaparkan, serta komitmen diucapkan dan dideklarasikan. Akan tetapi hampir tidak ada insipirasi baru yang bisa membesarkan harapan serta membangkitkan optimisme publik akan masa depan yang lebih baik. Para elite politik fasih bicara tentang kemiskinan, penderitaan rakyat dan keterpurukan bangsa kita, tetapi pada umumnya sebatas jargon untuk meraih simpati dan dukungan ketimbang suatu terobosan gagasan genuine dan jernih untuk mengatasinya. Pada saat yang sama, ironisnya, media cetak dan elektronik pun yang seharusnya mengawal hati publik, acapkali turut terperangkap kecenderungan parsial yang sama.
Kondisi ini diperburuk oleh kinerja Komisi Pemilihan Umum yang jauh dari menggembirakan. Komisi yang seharusnya bisa meyakinkan publik akan keberhasilan pemilu justru terperangkap pada produksi wacana yang tak perlu, prioritas kerja yang tak jelas dan jauh dari fokurs, serta sosialisasi pemilu ke luar negeri yang urgensinya rendah.
Lalu, kemana bangsa ini akan menuju jika carut-marut pemilu seperti ini terus berulang? Mengapa kita harus bangga dengan predikat sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia –sesudah India dan Amerika Serikat—jika semua itu semu belaka? Dari hari ke hari rakyat merajut harapan akan hidup lebih layak dan sejahtera. Namun dari pemilu ke pemilu pula harapan itu hanya menggantung di bibir para wakil dan pejabat publik terpilih. Barangkali, inilah utang politik terbesar dan tak ternilai para elite politik menjelang dan usai pemilu yang digarisbawahi oleh artikel pendek ini. http://syamsuddinharis.wordpress.com/2009/03/16/merajut-harapan-dari-pemilu/
Publik Pesimis Pengangguran Teratasi Pasca-Pemilu
Mayoritas publik masih merasa pesimis masalah pengangguran dan harga Sembako bisa teratasi atau keadaannya akan lebih baik pasca-Pemilu 2009 mendatang. Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodary, mengungkapkan itu di Jakarta, Minggu, sehubungan dengan hasil survei nasional lembaga riset yang dipimpinnya.
"Hanya 32,3 persen responden pemilih yang mewakili publik yang kami tanya yang menyatakan, sangat yakin atau cukup yakin, bahwa masalah pengangguran itu akan dapat teratasi atau keadaannya lebih baik pasca Pemilu 2009," ungkapnya. Selebihnya, lanjutnya, yakni sekitar 57,5 persen, merasa kurang yakin bahkan tidak yakin sama sekali, sedangkan 10,3 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab."Posisi yang sama, yakni merasa pesimis, terjadi pada masalah harga Sembako.
Tercatat 42,8 persen responden menyatakan cukup yakin, tetapi 47,7 persen sebaliknya tidak yakin sama sekali, dan hanya 9,5 persen tidak tahu," katanya meyakinkan. Pemaparan hasil survei itu, diikuti dengan diskusi tentang "Pengetahuan dan Harapan Masyarakat terhadap Pemilu 2009", yang menghadirkan pula Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Hafiz Anshari, Anggota Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu), Bambang Eka, dan Direktur CETRO, N Hadar Gumay."Memang, mayoritas masyarakat, yakni diwakili 56,3 persen responden pemilih merasa bahwa Pemilu 2009 akan membawa keadaan Indonesia pada pasca Pemilu akan menjadi lebih baik. Namun itu tadi, angka pesimistis masih cukup besar, yakni berkisar 30 sampai 40 persen," ungkapnya.
Ia menjelaskan, waktu pengumpulan data antara tanggal 16 hingga 26 Desember 2008, dan survei ini dilaksanakan di 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah responden sebesar 1.200 orang ('margin of error') sebesar tiga persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Satu hal lagi, menurut M Qodary, responden dipilih dengan metode 'multistage random sampling' untuk menghasilkan responden yang mewakili populasi publik dewasa Indonesia.Infrastruktur, Kesehatan, PendidikanIndo Barometer juga, menurut M Qodary, menelusuri persepsi publik tentang aspek-aspek pembangunan infrastruktur, kesehatan dan pendidikan."Ternyata, dalam aspek pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan dan pelayanan pendidikan, mayoritas responden merasa yakin, Pemilu 2009 akan membuatnya menjadi lebih baik," ujarnya.Misalnya dalam hal pembangunan infrastruktur, lanjutnya, ada 60,8 persen responden menyatakan sangat yakin akan ada perbaikan, hanya 28,8 persen tidak yakin, sedangkan tidak menjawab cuma 10,4 persen.Kemudian untuk pelayanan kesehatan, menurutnya, angkanya juga cukup tinggi, yakni ada 60,3 persen responden cukup yakin akan ada perbaikan, hanya 31,1 persen kurang yakin, lalu 8,6 persen tidak menjawab."Sementara itu, dalam hal pelayanan pendidikan, 57,6 persen responden sangat yakin akan ada perbaikan, 34,1 persen kurang yakin, dan hanya 8,3 persen tidak tahu," ungkap M Qodary. (Ant). http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3639:publik-pesimis-pengangguran-teratasi-pasca-pemilu&catid=173:12-januari-2009&Itemid=135
BERIKUT BEBERAPA FOTO BALIHO CALEG YANG NORAK DAN JELAS GAK NYAMBUNG (didapat dari beberapa sumber)
Caleg yang satu ini mencantumkan Foto David Beckham di Balihonya. Dan uniknya Foto Beckham lebih besar dari fotonya sendiri. Apa ini bukti caleg yang ngak PD ? Ngak ngerti kita apa visi dan yang bisa dikerjakan caleg seperti ini jika terpilih jadi wakil rakyat.
Caleg yang ini bawa-bawa popularitas putrinya yang kebetulan adalah artis. Tampaknya segala cara di legalkan demi mempublikasikan diri, walau ngak nyambung dengan esensi Perjuangan di Lembaga Legeslatif.
Ini Baliho Caleg atau Baliho dukun ? sampe-sampe ngepublikasikan jimat segala... Emangnya rakyat mau diajari mengatasi kemiskinan dengan ilmu santet apa?
Ini contoh Kampanye tidak ramah lingkungan dengan merusak/main paku di pohon, yang jelas mungkin bukan dia yang menanam. Belum apa-apa sudah merusak lingkungan nih Caleg....
Ibu Ca-DPD yang satu ini nyadar betul dirinya kurang populer, sampai-sampai mencantumkan Foto Ayahnya segala dan nama Suami serta Kampus dimana suaminya kerja.... Visinya abstrak, apa kinerja yang bisa diharapkan dari dia tidak tertuang sama sekali..
Ini Caleg atau tukang obat... dari kalimatnya yang sembrawut dan janji yang muluk-muluk tampaknya Caleg yang satu ini aneh...
Ini Caleg tidak tanggung-tanggung, dia mencantumkan silsilah kelurganya... Nah lantas kalau tidak terpilih apa berarti ini wujud masyarakat tidak memberikan apresiasi kepada leluhurnya ? wah jangan bawa-bawa leluhur deh bro'', berbuat aja untuk rakyat pasti perjuanganmu lebih berarti untuk duduk di Lembaga Legeslatif..
Ini mau jadi Anggota Dewan atau Rocker?? Apa nge-GAUL bisa jadi solusi untuk persoalan sosial-ekonomi-budaya-alam yang njelimet? Yang konkret deh...
Ini Caleg terobsesi masa kecil yang suram kali ya..., Tak jelas apa Visi dan perjuangan mengatasi isu apa yang hendak diperjuangkannya melalui DPR. Apa Caleg ini nyadar bahwa gak ada Superman? Yakin kemampuanya adalah SUPER untuk menyelesaikan pergumulan konkret rakyat ? Mimpi....
Ini satu lagi Caleg yang norak... Mau jadi Don Juan bro.. ?
Makin pusing liat Baliho yang satu ini, gak jelas apa visinya ? Mau bertinju atau tawuran di DPR ?

Monday, January 26, 2009

Gerakan jangan Pilih Politisi Busuk Pada Pemilu 2009

GEBYAR PESTA DEMOKRASI, JALANAN SUDAH SEPERTI DUFAN ATAU JAJARAN BATU NISAN.
Sejak semester ke dua di tahun 2008 negeri ini sudah berbenah untuk pelaksanaan Pesta Demokrasi - Pemilu 2009. Mulai dari sang Caleg hingga Parpol sibuk mengurusi persiapan pesdok. Alhasil setelah Daftar Calon Tetap Pemilu Legeslatif ditetapkan, walaupun masa Kampanye belum dimulai, jalanan sudah seperti Dufan (bahkan terkesan seperti jajaran Batu Nisan), dimana-mana jalanan warna-warni dengan terpampangnya Spanduk-Baliho-Papan Reklame-Selebaran- Foto dan Identitas Caleg (dari DPRD TK. II, DPRD TK.I, DPR Pusat, hingga DPD). Isi kalimat Baliho-Spanduk-Iklan Caleg juga beragam, ada yang menyapa dengan memamfaatkan ucapan selamat Momen Keagamaan (Idul Fitri, Natal-Tahun Baru, Imlek) hingga memperkenalkan diri secara primordial bahwa dia adalah anak lokal (penduduk asli kota dimana spanduk-balihonya dipasang). Dan sang Caleg juga beragam, ternyata proses Pemilihan DCT memang sudah terbuka luas sehingga mulai dari wajah-wajah lama, mantan pejabat (sipil-militer), pengusaha, ibu rumah tangga, pegawai hingga tukang bakso-tukang kredit sekalipun berdiri sejajar sebagai caleg.
Ada beberapa hal yang patut di pertanyakan, bukankah masa kampanye belum dimulai? mengapa KPU tidak menertibkan ini semua karena jelas sangat mengganggu keindahan kota-tak teratur. Kemudian apakah disahkan menggunakan simbol-simbol keagamaan-dalam spanduk-baliho seperti banyak beredar di jalanan? Ini jelas berpotensi membawa Pemilu kepada terkotak-kotaknya masyarakat berdasarkan SARA, substansi Pemilu dikaburkan yang bersangkutan. Kemudian, banyak caleg yang mulai mendatangi "calon kunsituennya" dengan mengedepankan hubungan kekeluargaan, keanggotaan di ormas atau lembaga keagamanaan tertentu hingga silsilah keluarga (anak-siapa; istri-suami siapa, besan siapa, dll).
Melihat keadaan ini, wajar sebagai anak bangsa kita patut gelisah. Gelisah untuk memikirkan bagaimana memaksimalkan produk Pemilu 2009 ini. Jangan sampai warga masyarakat memilih orang-orang yang tidak tepat, tidak berkualitas, orang-orang kurup, arogan, dan primordial (yang mementingkan kelompoknya semata). Tampaknya pendidikan politik bagi rakyat sangat perlu di hadirkan mengawal proses Pemilu 2009 ini.
Gerakan Bersama Menolak Politisi Busuk
Proses Pemilihan Umum harus disadari sebagai titik baru perbaikan kehidupan berbangsa lintas sektoral. Karena pada Pemilu inilah (Pilkada, Pemilihan Legeslatif, Pilgub, Pilpres) rakyat menentukan wakil-2nya untuk duduk menentukan kehidupan berbangsa. Pemilu juga tentunya membuka "Lapangan Kerja baru" bagi orang yang ingin duduk di DPD, DPR, DPRD Tk.I-II, Bupati, Walikota, Gubernur, hingga Presiden. Respon beragam, banyak yang hasratnya bangkit untuk duduk di tiap posisi, tak urung banyak juga yang masa bodoh hingga apatis. Tak heran menjelang Pemilu 2009, ribuan orang ikut proses (secara khusus) penjaringan Calon Legeslatif di Parpol Peserta Pemilu 2009. Alhasil hampir bisa ditemui di tiap jalan ada Caleg (hingga di tiap gang/kompleks di daerah tertentu ada Calegnya).
Menarik melihat nama dan banyaknya Caleg berdasar Data Daftar Celeg Tetap yang dikeluarkan KPU, muncul pertanyaan aspirasi apa dan keterwakilan siapa yang hendak mereka perjuangkan, apakah murni hendak memperjuangkan aspirasi masyarakat atau "aspirasi lahan ekonomi baru"? Apakah mereka memiliki kredibilitas (skill, pengetahuan dan motivasi) yang benar, atau hanya sekedar Nafsu untuk mendapatkan kekuasaan (dan juga pundi-pundi tentunya), atau jangan-2 hanya hasil usaha pemenuhan quota-strategi pengembangan sayap Parpol semata (rekruting)? Jika setiap Caleg memiliki kredibilitas (skill, pengetahuan dan motivasi) yang benar, itu tentunya positif, tapi jika tidak ? Ini bahayanya.
Disamping itu yang sangat perlu diperhatikan adalah munculnya wajah-wajah lama yang ada setiap kali penyelenggaraan Pemilu, yang hingga kini masih saja dipasang oleh partai sebagai calon legislatif (Caleg), padahal mereka memiliki rekam jejak yang buruk (perilaku busuk). Masih dicalonkannya politisi busuk, tentunya akan berdampak buruk terhadap masa depan kehidupan bangsa dan kredibilitas lembaga perwakilan rakyat, karena sudah pasti mereka akan menjadi calo, tukang suap, tukang skandal, dan tukang korupsi. Coba lihat banyak wajah lama yang lompat partai demi mengejar kekuasaan. Dan uniknya setiap kali dia menjadi anggota legeslatif, kehadirannya tidak memberikan mamfaat apa-apa buat daerah pemilihannya apalagi demi masyarakat luas. Mereka hanya menjadi tanggungan beban ekonomi rakyat dan ironisnya justru mereka berprilaku arogan dengan indikator pemeras terhadap pengusaha dan terhadap masyarakat dengan menerbitkan peraturan hingga UU yang menyengsarakan orang banyak (Mis. PB 2 Mentri, UU Sisdiknas, UU Pornografi).
Muasalnya perilaku busuk itu sendiri telah menjadi rahasia umum yaitu Praktek Jual-beli nomor ketika pencalonan caleg hingga duduk di kepengurusan Partai. Indikator konkretnya, bisa kita lihat berita dan kesaksian Caleg bahkan tega merusak atribut partainya karena kecewa namanya yang semula dijanjikan menempati posisi nomor satu ternyata bergeser menjadi nomor tiga. Amarahnya meledak lantaran posisi nomor satu yang dijanjikan itu diperolehnya setelah menyetor dana Rp 50 juta ke partainya. Bagaimana kita bisa berharap pada caleg yang belum apa-apa sudah bersedia main sogok. Logikanya, buat apa dia menyetor duit sebanyak itu jika tak mengharapkan akan memperoleh ganti berlipat ganda kalau kelak terpilih sebagai wakil rakyat, eh wakil parpol. Dasar busuk!
Bandingkan juga temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tentang 400 travel cheque yang mengalir pada 41 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merupakan data terakhir yang mempertebal keyakinan publik, ada yang tidak beres di DPR. Berbagai kasus korupsi yang mulai terungkap dan melibatkan anggota DPR ini sesungguhnya dapat diposisikan sebagai bukti empiris survey persepsi korupsi yang rutin dirilis Tranparency Internasional (TI). Sekaligus akan menjawab, kenapa setelah sekian lama pemberantasan korupsi dilakukan, begitu banyak undang-undang diterbitkan dan bahkan lebih dari tujuh tim khusus anti korupsi dibentuk, tetapi Indonesia tetap dalam posisi terkorup. Berdasarkan survey TI-Indonesia, posisi parlemen dan partai politik tetap dalam rangking institusi terkorup. Tahun 2005 dan 2006 berada di posisi terkorup pertama, serta posisi kedua di tahun 2007. Dan, agaknya di tahun 2008-2009, sektor ini akan kembali merebut juara pertama. Setidaknya, melihat dari tipologi sektor yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jilid II, legislatif menduduki porsi yang seimbang dengan eksekutif. ICW mencatat (per:agustus 2008), tujuh dari 26 tersangka yang berhasil dijerat KPK berasal dari sektor legislatif. Atau, sekitar 27%. Sedangkan eksekutif mencapai 35% (9orang). Angka ini akan semakin bertambah jika KPK konsisten membongkar sejumlah skandal aliran uang haram ke DPR. Dari kasus Bank Indonesia saja, sekitar 93 anggota Dewan dapat dijerat. 52 nama diantaranya dari skandal BI jilid I terkait diseminasi revisi undang-undang BI dan penyelesaian BLBI secara politis di parlemen. Serta, 41 lainnya dari skandal BI jilid II, yakni indikasi suap pada pemilihan deputi gubernur senior BI. Artinya, sekitar 99 nama dari partai dan fraksi yang beragam dapat menjadi kado menjelang pemilihan umum 2009 nanti. Amanat konstitusi yang memberikan DPR tiga fungsi utama dikhianati. Fungsi Legislasi yang seharusnya menjadi tumpuan agar undang-undang yang disusun bermanfaat bagi rakyat dibajak dengan praktek “jual-beli” pada proses pembahasan. Fungsi Pengawasan, justru hanya digunakan sebagai upaya mengkatrol posisi tawar politik untuk mendapatkan fasilitas tertentu. Dan, fungsi anggaran (budgeting) ditelikung sedemikian rupa untuk memperkaya diri sendiri dan bahkan partai politik.URL: Karena itu jelas, tampilnya politisi busuk dalam pemilihan umum (Pemilu) 2009 harus terus diperangi. Guna mengantisipasinya, diperlukan komitmen bersama dari seluruh elemen bangsa. Satu-satunya cara, kata dia, adalah perlu pendidikan politik kepada rakyat jangan memilih politisi busuk. Ini harus jadi gerakan bersama.
Kriteria Caleg/Politisi Busuk Muncul pertanyaan, apakah kriteria seseorang tergolong sebagai Politisi Busuk ? Berikut saya kutip dari http://satudunia.oneworld.net/ : Gerakan nasional tidak pilih politikus busuk (Ganti Polbus) menetapkan beberapa kriteria dan difinisi caleg/politikus busuk yang boleh dipilih oleh rakyat. Selain menetapkan kriteria politisi busuk, Ganti Polbus juga menetapkan kriteria operasional politikus busuk. Gerakan nasional tidak pilih politikus busuk (Ganti Polbus) menetapkan beberapa kretieria caleg/politikus busuk (DPR RI/DPRD Provinsi/DPRD Kabupaten/Kota). Kriteria tersebut, yakni koruptor, penjahat HAM, penjahat lingkungan, pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak, pelaku kejahatan narkoba. Selain menetapkan kriteria politisi busuk, Ganti Polbus juga menetapkan kriteria operasional politikus busuk. Berikut kriteria dan difinisi caleg/politikus busuk, sebagaimana disebutkan Indonesia Corruption Watch (ICW), dalam situsnya http://www.antikorupsi.org/ :
Kriteria Caleg/Politikus Busuk
I. Definisi Politikus Busuk
1. Koruptor. Koruptor adalah setiap orang yang secara sendiri atau bersama-sama karena jabatan dan kekuasaannya melakukan penyalahgunaan wewenang dan melanggar hukum. Sehingga menyebabkan adanya kerugian negara dan masyarakat, baik dari sisi anggaran negara maupun kebijakan yang menguntungkan pribadi ataupun kroni.
2. Penjahat HAM. Penjahat HAM adalah seorang pejabat publik yang secara sendiri atau bersama-sama yang melakukan tindakan pelanggaran hak asasi manusia, yaitu tindakan-tindakan—baik secara langsung maupun tidak langsung—yang membatasi, mengurangi maupun melanggar hak-hak dan kebebasan dasar manusia, yaitu hak untuk hidup, hak bebas dari penyiksaan dan penghukuman serta perlakuan lain yang tidak manusiawi, hak atas integritas fisik (bebas dari penangkapan/penahanan sewenang-wenang), hak atas rasa aman, kebebasan berpendapat, berkumpul dan berekspresi, hak untuk tidak dianggap bersalah sebelum ada putusan pengadilan, dan hak untuk mendapatkan peradilan yang fair.
3. Penjahat Lingkungan. Penjahat Lingkungan adalah seorang yang secara sendiri atau bersama-sama melakukan tindakan perampasan atau penghilangan hak atas lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat yang dilakukan secara langsung melalui pengaruh, kekutan modal, kekuatan politik dan kekuasaan (posisi-jabatan) didalam suatu badan usaha/pemerintahan atau TNI – Polri yang menimbulkan dan/atau mengakibatkan pengrusakan atau pemusnahan secara terus menerus lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat (ecocide).
4. Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Pelaku kekerasan terhadap perempuan adalah seseorang yang secara sendiri atau bersama-sama melakukan kekerasan fisik dan atau mental di dalam lingkup domestik (rumah tangga) maupun lingkup publik yang melingkupi kekerasan seksual, kekerasan ekonomi, terlibat dalam perdagangan perempuan dan anak, mengeluarkan serta membuat kebijakan publik yang menimbulkan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
5. Pelaku Kejahatan Narkoba. Pelaku tindak pidana narkoba adalah seseorang yang secara sendiri atau bersama-sama melakukan pengedaran atau penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang yang bertentangan dengan ketentuan hukum, melindungi praktik tersebut serta memodali bisnis narkoba.
II. Kriteria Operasional Politikus Busuk
1. Kriteria Operasional Korupsi.
  • Melakukan tindakan memperkaya diri sendiri atau kelompok/kroni dengan melawan hukum.
  • Mencuri uang rakyat untuk memperkaya diri sendiri atau kelompoknya dengan menggunakan kekuasaannya sebagai pejabat negara
  • Membuat kebijakan publik yang menyebabkan mahalnya pelayanan kepada masyarakat dan distorsi ekonomi
  • Tidak dapat mempertanggungjawabkan jumlah kekayaannya secara wajar.
2. Kriteria Operasional Pelanggaran HAM
  • Mereka yang bertanggung jawab langsung terhadap pelanggaran hak asasi manusia (melakukan penangkapan, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, penculikan, dan eksekusi di luar hukum).
  • Mereka yang menggunakan kekuasaannya untuk menghambat penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM.
  • Mereka yang menggunakan kekuasaan yang mereka miliki untuk menciptakan melanggaran HAM baru (memerintahkan untuk melakukan melakukan penangkapan, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, penculikan, dan eksekusi di luar hukum).
  • Mereka yang tidak memiliki kemauan kuat untuk mencegah terjadinya pelanggaran HAM dan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu.
  • Melarang/menghambat hak berekspresi dan berpendapat, melakukan pembiaran terhadap terjadinya pelanggaran HAM seperti; Penggusuran, PHK massal, buruh migran, dan pemenuhan atas hak-hak dasar; Pendidikan, kesehatan air minum dan lain sebagainya.
3. Kriteria Operasional Pelanggaran Lingkungan Hidup
  • Terlibat langsung dalam tindak pengrusakan lingkungan dan penghilangan hak rakyat.
  • Terlibat pada pembuatan kebijakan yang merusak lingkungan dan penghilangan hak rakyat.
  • Melakukan tindakan pembiaran dan kebohongan publik terhadap pengrusakan lingkungan hidup dan penghilangan hak rakyat.
  • Terlibat dalam perusahaan-perusahaan perusak lingkungan penghilangan hak rakyat.
  • Memberikan dukungan kepada instansi atau perusahaan untuk melakukan atau memberi dampak pada pengrusakan lingkungan penghilangan hak rakyat.
4. Kriteria Operasional Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
  • Terlibat dalam kekerasan rumah tangga
  • Melakukan tindak kekerasan seksual
  • Melakukan kekerasan ekonomi terhadap perempuan
  • Terlibat dalam perdagangan perempuan dan/atau anak.
  • Memproduksi serta membuat kebijakan publik yang menimbulkan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
5. Kriteria Operasional Pelanggaran Narkoba
  • Menggunakan Narkoba dengan melanggar hukum
  • Menjual dan/atau mengedarkan Narkoba
  • Memodali bisnis Narkoba
  • Dengan kekuasaan yang dimiliki melindungi bisnis Narkoba dan atau menghambat proses hukum terhadap kasus Narkoba. (http://satudunia.oneworld.net/)

Apa yang bisa kita lakukan ?

  • Kegagalan kampanye anti politisi busuk selama ini karena isu ini belum tersosialisasi dengan baik sampai ke akar rumput dan terkesan hanya menjadi isu beberapa kelompok saja. Tahun 2009 kampanye politisi busuk harus digalang secara berakar.
  • Rakyat harus menghukum partai-partai yang mencalonkan politisi busuk," dengan cara tidak memilih Partai-partai tersebut.
  • Salah satu Kriteria politisi busuk yang banyak dijumpai adalah kerap mengumbar janji namun tidak pernah direalisasikan, hal ini tentunya sangat menyakitkan bagi masyarakat. Karena itu Rakyat jangan mudah percaya kepada Caleg seperti itu dan jika caleg yang dulu sesumbar demikian maka langkah konkret adalah jangan hadiri kampanye mereka dan jelas jangan Pilih mereka.
  • Melihat Mass Media, Rakyat juga bisa melihat siapa-siapa saja di daerahnya yang terlibat Korupsi, karena itu jJangan pernah pilih orang-orang korup, atau partai politik yang selalu mencoba menghalangi-halangi pemberantasan korupsi, apalagi parpol yang mendapat dana dari uang hasil korupsi, termasuk anggota parlemen ataupun calon legislatif yang ikut andil dalam pencemaran dan perusakan lingkungan; pembalakan liar, pelaku kekerasan HAM atau yang memberi perlindungan terhadap pelanggar HAM; pelaku KDRT dan diskriminasi hak perempuan; pengguna dan pengedar narkoba; serta para penggusur hunian rakyat.
  • Beri Informasi akurat kepada Aparatur terkait jika kita melihat ada Caleg yang terbukti memakai ijazah palsu, atau kasus korupsi dan penyalahgunaan kewenangan lainnya (baik di Kantor, Kelurahan, dll, dimana anda berada)," katanya.
  • Jika anda orang yang diperhitungkan di ormas atau masyarakat, jangan mau dipakai partai politik atau caleg sebagai pendongkrak suara di pemilu.
  • KPU telah mengumumkan daftar calon tetap, masyarakat harus mencermati dan bisa menentukan mana yang busuk dan mana yang tidak. "Setelah itu mari dibuat semacam kesepakatan bahwa haram memilih yang busuk itu," tegasnya.
  • Jangan memilih Caleg hanya berdasarkan kekerabatan, marga, ketokohan, uang atau bahkan ancaman (terhadap pekerjaan, kenyamanan, dll). Karena hal ini bisa membuatkan kita salah pilih dan akhirnya menjadikan mereka yang korup, tidak berkualitas, menjadi wakil kita di Dewan Perwakilan. Alhasil semua ini akan berakibat kita tidak bisa berharap banyak untuk kesejahteraan bangsa kedepan.

Penutup

Simpul kata, menjelang Pemilu 2009, masyarakat diimbau tidak memilih politisi busuk, sehingga lembaga Dewan bisa diisi oleh orang-orang berkualitas untuk memajukan bangsa. Jelilah membedakan antara partai politik yang benar memperjuangkan aspirasi dan kepentingan umum, atau partai yang hanya membungkus elok sebuah kleptokrasi. Politisi busuk jelas adalah individu-individu yang bermoral buruk atau penghianat rakyat. Mereka tak menjalankan tugas dan wewenangnya dengan cukup. Jika dilakukan penilaian kerja politik mereka jauh dari nilai minimum. Mereka bisa diidentikkan dengan para politisi yang rapornya merah. Setuju sekali, dengan adanya Gerakan anti Politisi Busuk akan bisa meminimalisir adanya pejabat DPR/MPR ataupun pejabat pemerintahan yang kurang mempunyai KOMITMEN pada RAKYAT, dan sebaliknya bisa membantu rakyat untuk bisa memilih WAKILnya yang TEPAT, yang benar-benar bisa memperjuangkan nasib rakyat dan berpihak pada rakyat. Kita sangat harapkan gerakan ini sifatnya adalah informatif, netral, investigatif, dipercaya. Pemilu 2009 jangan kita biarkan sebatas sandiwara dan ritual lima tahunan saja, masyarakat mestinya memanfaatkan momen pemilu itu sebagai sarana memberikan hukuman politik kepada politisi yang dinilai amoral dan tidak mempunyai adab. Masyarakat, tidak boleh berharap kepada orang yang terbukti busuk berdasarkan indikator Politisi Busuk diatas. Itu artinya kita menjudikan masa depan kita pada orang yang tidak benar.

Dari Siantar, saya sambut gerakan yang disampaikan Anti Polbus dan rekan-rekan di ICW, mari bergandengan tangan mengawal proses Pemilu Tahun 2009 dengan Memberi pencerahan di masyarakat MENOLAK MEMILIH POLITISI BUSUK.

Dan buat rekan yang menjadi Caleg 2009, berkomitmenlah jangan menjadi Politisi Busuk melainkan menjadi wakil rakyat yang takut akan TUHAN dan menjadi berkat buat semua. Berkomitmenlah untuk menjawi Perwakilan Rakyat yang BERKUALITAS DAN PRODUKTIF sehingga suara rakyat disalurkan melalui anda-anda dengan prinsip kebenaran, keadilan, kesetaraan, penghormataan terhadap HAM, demi keutuhan ciptaan dan kesejahteraan bersama. Syalom!

Friday, January 09, 2009

"TAHUN BARU - PERANG BARU" : NO WAR - NO MORE KILLING !!!

"Saya yakin bahwa perjuangan bersenjata adalah satu-satunya solusi bagi rakyat yang berjuangan untuk membebaskan dirinya, dan saya konsisten terhadap apa yang saya yakini. " Che Guevara (1928 - 1967)
Serangan terhadap Gaza yang dilakukan oleh Israel sebenarnya dapat kita prediksi sebelumnya jika kita melihat sejarah Zionisme. Sepenggal sejarah, pada tanggal 25 Januari 2006 ketika rakyat Palestina mengadakan pemilihan umum dan memilih Hamas, Israel segera menolak mengakui hasil demokratik tersebut. Israel menolak menyerahkan hasil pajak Palestina, dengan sengaja memblokade sektor perdagangan yang mengakibatkan rakyat Palestina hidup dalam kondisi serba kekurangan. Semua itu ditambahkan dengan kekerasan terus menerus terhadap rakyat Palestina, yang membunuh dan melukai ratusan orang. Berbagai macam bentuk tawaran gencatan senjata oleh Hamas ataupun oleh Otoritas Palestina dan dunia internasional selalu ditolak oleh Israel.
Saat ini dalam operasi yang disebut dengan Operation Cast Lead telah mengakibatkan korban jiwa lebih dari 600 orang dan lebih dari 2500 orang terluka, banyak diantaranya adalah anak-anak. Serangan Israel yang mereka katakan menargetkan pimpinan dan pusat-pusat kegiatan Hammas nyatanya menghancurkan rumah sakit, Islamic University dan rumah-rumah penduduk sipil. Bahkan Israel juga menghancurkan sekolah yang dikelola oleh PBB.
Keberanian Israel dalam melakukan penyerangan, bahkan menyerang PBB dan pengabaian terhadap segala seruan internasional tidak terlepas dari dukungan penuh Rejim George W Bush ataupun rejim-rejim yang pernah memimpin AS sebelumnya. Dukungan ini jelas sekali terlihat dalam bentuk veto AS terhadap semua resolusi Dewan Keamanan PBB yang merugikan Israel. Ataupun pelanggaran Resolusi PBB oleh Israel yang diabaikan oleh “komunitas Internasional”. Dukungan AS tersebut juga berupa bantuan sebesar 3 miliar US dollar pertahun sejak tahun 1985. Belum termasuk bantuan militer sebesar miliaran US dollar pertahun yang diberikan oleh AS. Sementara itu berdasarkan survey oleh Richard Cohen dari Washington Post menyatakan bahwa 60 persen pendanaan untuk Partai Demokrat dan 35 persen dana untuk Partai Republik berasal dari Political Action Committees pro Israel.
Metode Perjuangan Tanpa Persatuan Hanya Menguntungkan Rejim ZIonis
Seiring dengan serangan Israel ke Gaza, Hamas membalasnya dengan meluncurkan roket ke daerah-daerah Israel. Dan dalam pernyataannya, Mahmod Zahar, salah satu pemimpin Hamas menyatakan bahwa Israel telah melegitimasi pembunuhan terhadap anak-anak dan orang Israel karena telah membunuh rakyat Palestina. Sementara itu elit pemimpin Palestina lainnya terpecah, Associated Press melaporkan bahwa partai dari Mahmod Abbas, Presiden Palestina, dari kelompok Fatah dalam hari-hari pertama serangan Israel menyalahkan Hamas atas apa yang terjadi. Abbas sendiri menghadapi demonstrasi oleh rakyat Palestina di West Bank karena tidak bersikap tegas melawan serangan Israel. Dalam demonstrasi di Ramallah jumat lalu, 2 Januari 2009, beberapa demonstran yang mengibarkan bendera Hamas ditangkap oleh polisi Otoritas Palestina. Upaya untuk mengadakan demonstrasi di pos pemeriksaan Israel juga digagalkan oleh Otoritas Palestina. Sementara demonstrasi di Universitas Bir Zeit, 6 Januari 2009 dibubarkan oleh Otoritas Palestina dan mengakibatkan beberapa mahasiswa terluka.
Metode peluncuran roket tersebut terlihat memperkuat dan memperbesar propaganda Israel bahwa mereka bertindak membalas serangan terhadap rakyat sipil. Yang lebih penting bahwa metode tersebut juga memperkuat dukungan penduduk Israel terhadap Rejim Zionis. Roket tersebut jelas diluncurkan secara serampangan dan besar kemungkinan mengenai penduduk sipil Israel. Penduduk sipil Israel yang sebenarnya juga tertindas oleh Zionisme dan kapitalisme Israel. Pada periode 2003-05 pengangguran di Israel sebesar lebih dari 10 persen dari penduduknya. Dan 21 persen penduduk Israel hidup dibawah garis kemiskinan. Israel sendiri menerapkan kebijakan rasis terhadap imigran Yahudi yang berasal dari Etopia ataupun Rusia. Pemotongan terhadap anggaran pendidikan dan uang pensiunan demi membangun kekuatan militer. Pada tahun 2003 Israel memotong anggaran untuk rakyat Israel, antara lain anggaran pendidikan sebesar 0,5 miliar NIS (mata uang Israel), kesehatan 0,5 miliar NIS, transportasi public 0,3 miliar, subsidi untuk perumahan dan tunjangan untuk orang cacat dan pengangguran sebesar 0,8 miliar NIS. Disisi lainnya para pemilik modal Israel dilimpahkan berbagai macam keringanan. Sebanyak 2,5 miliar NIS berupa pengurangan pajak bagi 10 persen orang terkaya di Israel, 1,5 miliar NIS berupa pengurangan pembayaran asuransi sosial untuk bisnis. Agresi ke Gaza adalah cara klise menutupi kasus korupsinya pemimpin-pemimpin Rejim Zionis, seperti Ehud Olmert, Yitzak Rabin, Benjamin Netanyahu, Ehud Barak dan juga Ariel Sharon.
Politik rejim Zionis sangat korup bahkan turut menentukan sejarah perkembangan dan perang Hamas di Palestina. Seperti Osama Bin Laden yang pada awalnya didukung oleh AS untuk melawan Soviet di Afganistan, namun kemudian menyerang AS pada 11 September, demikian juga Hamas pada awalnya didanai secara langsung atau tidak langsung oleh Israel untuk berfungsi sebagai penyeimbang PLO yang saat itu sedang berkembang. Setelah Hamas mengontrol Gaza, mereka menyerbu kantor Federasi Serikat Buruh Palestina, dalam upayanya untuk menghancurkan organisasi-organisasi buruh Palestina. Bahkan Hamas juga terlibat dalam membantu pasukan keamanan Mesir untuk mencegah rakyat Palestina di Gaza mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari dari perbatasan Mesir. Dukungan rakyat Palestina yang diberikan kepada Hamas hanyalah berlandaskan karena ketiadaan kepemimpinan gerakan rakyat Palestina yang lebih progresif dari Hamas ataupun Fatah dan mampu menunjukan perlawanannya terhadap Rejim Zionis Israel.
Negara-negara Arab lainnya, yang selalu didengung-dengungkan oleh gerakan fundamentalis Indonesia sebagai saudara muslim, ternyata juga berada dibelakang Israel ataupun Negara-negara Imperialis lainnya dengan malu-malu. Mesir telah lama mendukung Israel dengan menjaga perbatasannya. Sehingga rakyat Palestina di Gaza hidup didalam tembok dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Sementara itu Liga Arab hanya mampu menghasilkan pertemuan demi pertemuan tanpa menyelesaikan serangan Israel di Gaza. Jordania dan Mesir sendiri masih menjalin hubungan diplomatik normal dengan Israel hingga saat ini.
Kebangkrutan Gerakan Fundamentalis Indonesia, Sikap Rejim SBY serta Media Massa di Indonesia.
Tanpa pemahaman yang penuh dan objektif serta mengabaikan fakta-fakta yang ada, gerakan-gerakan fundamentalis di Indonesia dengan lantang menyerukan mobilisasi untuk berjihad di Palestina. Dengan membentuk sentiment massa rakyat Indonesia bahwa perang tersebut berlandaskan agama. Gerakan fundamentalis sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan zionis Israel yang mereka tentang. Kalau Zionis punya konsep “Tanah Terjanji” yang hanya diperuntukan bagi Yahudi, yang mendorong mereka melakukan pengusiran dan pembinasahan rakyat Palestina. Maka gerakan fundamentalis pun meyakini tidak adanya hak hidup bagi agama lain, kelompok lain, gerakan pro demokratik, gerakan perempuan, lgbt – lesbian, gay, bisexual, transgender, dsb. Kesamaan dalam memandang rendah kemanusiaan di luar kelompok fundamentalis dan zionis.

Pendangkalan kesadaran rakyat untuk solidaritas kemanusiaan dalam isu Palestina juga disebabkan kenyataan bahwa beberapa fakta penting tidak pernah dimuat dimedia massa Indonesia antara lain fakta bahwa ada solidaritas antara rakyat Israel dan Palestina seperti yang ditunjukan oleh; demonstrasi ribuan orang terdiri dari rakyat Palestina dan Yahudi di Tel Aviv hari Sabtu, 3 Januari 2009, menolak serangan Israel ke Gaza. Inipun bukan yang pertama kali, ketika Israel menyerang Lebanon tahun 2006 silam banyak kelompok Yahudi dan Palestina yang mengadakan demonstrasi menentang perang tersebut tepat dijantung ibu kota Zionis. Hal tersebut terus mereka lakukan walaupun gangguan dari kontra protes pro Zionis. Sikap media massa yang seperti itu juga akan memperbesar pandangan rakyat Indonesia bahwa serangan tersebut adalah serangan bermotifkan agama.

Pengiriman Tim Medis, Dokter dan bantuan humanitarian yang dilakukan oleh Rejim SBY harus diakui adalah hal yang baik namun tidak sinkron dengan peran yang bisa dilakukan Indonesia di PBB. Hanya meminta adanya resolusi dari Dewan Keamanan PBB ataupun dari Majelis Umum PBB adalah lelucon belaka dalam politik internasional. Sejarah telah menunjukan bahwa hampir seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB yang merugikan Israel selalu diveto oleh AS. Indonesia harus mencontoh apa yang dilakukan oleh Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Pada tanggal 12 September 2008 Chavez mengusir Duta Besar AS sebagai solidaritas terhadap Morales, Presiden Bolivia yang akan dikudeta oleh oleh kelompok sayap kanan didukung oleh AS. Dan pada hari selasa, 7 Januari 2009, Chavez mengusir Duta Besar Israel setelah menyatakan bahwa Presiden Israel harus diseret ke International Criminal Court dan apa yang dilakukan oleh Israel adalah holocaust.

Dengan latar belakang kondisi seperti itu maka, Perhimpunan Rakyat Pekerja menyerukan:

  1. Penghentian serangan oleh Israel terhadap Rakyat Palestina di Gaza dan serangan roket yang dilakukan oleh Hamas
  2. Penghentian blokade yang dilakukan oleh Israel terhadap Rakyat Palestina di Gaza ataupun West Bank
  3. Pemerintah Indonesia mengambil sikap lebih tegas dan berani terhadap AS yang lewat veto dan intervensinya di PBB telah memungkinkan tiada hentinya kesewenang-wenangan dan serangan brutal Israel terhadap rakyat Palestina. Pemerintah harus menekan keras dengan desakan pemutusan hubungan diplomatik dengan AS demi menjalankan mandate konstitusi kita yaitu menjaga perdamaian dunia.
  4. Solidaritas sejati adalah solidaritas sesama rakyat. Oleh karena itu diperlukan pembangunan front solidaritas rakyat untuk melawan Zionisme dan Imperialisme. Kita harus membangun solidaritas di atas fondasi perjuangan membela kemanusiaan seperti yang sudah dipelopori dari aksi bersama rakyat Israel dan Palestina.
  5. Pembebasan sejati melawan zionisme yang angkuh saat ini memerlukan metode Intifada bersenjata yang dibangun atas dasar partisipasi popular dari Rakyat Palestina dan dukungan solidaritas Internasional.
  6. Pembebasan sejati bagi rakyat Palestina dari Zionisme dan Imperialisme hanya akan terwujud dengan persatuan internasional dari rakyat pekerja, termasuk rakyat pekerja Israel.
Sumber :
Judul : PERNYATAAN SIKAP PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA - Hentikan Pembantaian Rakyat Palestina! (http://www.prp-indonesia.org/Pernyataan_Sikap_PRP_Hentikan_Pembantaian_Rakyat_Palestina__.html )
Jakarta, 8 Januari 2009, Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja - Sekretaris Jenderal : Irwansyah

Saturday, December 06, 2008

"SANG" BADAI PHK SUDAH REGISTRASI BERTAMU DIANTARA KITA

EMPATHY & TIPS MENGATASI KRISIS EKONOMI-PHK
MENCEGAH KEPANIKAN VS PENDAPAT YANG RASIONAL
Membaca komentar para pejabat tentang kondisi perekonomian kita hari-hari ini rasanya, kok, sebel sekali. Betapa tidak, komentar yang muncul seolah-olah Indonesia ini bukan bagian dari dunia yang tanpa batas. Seolah-olah kita begitu terisolasi dari ekonomi dunia yang gonjang-ganjing dan karenanya kita akan tetap kuat perkasa. Kemarin seorang pejabat Bappenas bilang: “melambatnya ekonomi Amerika tidak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia akhir tahun ini.” La? Kalau ada waktu, Pak Pejabat, tolong mampir ke Bursa Efek Jakarta. Mohon tengok papan nilai saham yang dipenuhi warna merah. Mampir juga, Pak, ke Bank Indonesia yang gedungnya gagah itu. Bapak bisa minta informasi tentang nilai rupiah yang menguat –maksudnya menguatirkan. Oh ya, kolega Bapak di Departemen Tenaga Kerja pasti juga sudah punya data tentang PHK mulai menderas. Nah, setelah berkeliling, saya jamin Pak Pejabat akan berubah pikiran. Kecuali, ya…, kalau Bapak memang sudah dihipnotis Rommy Rafael sampai hilang kewarasan.
Ada pula pernyataan tidak masuk akal dari seorang pejabat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, ”target pariwisata tahun ini, yakni mendatangkan 7 juta turis, tidak akan terpengaruh.” Padahal, sejauh ini baru 4 juta turis datang dan tinggal dua bulan lagi tahun 2008 berakhir. Entahlah jika Pak Pejabat bisa bermain sulap.Komentar sang pejabat belum khatam. Dia melanjutkan, “target tahun depan, ada 8 juta turis datang.”
Aduh…., Bapak Pejabat yang terhormat, turis yang Bapak angan-angankan itu sedang pada sakit perut, bahkan tak sedikit yang mau bunuh diri, kelimpungan dihantam krisis. Bagaimana bisa 8 juta orang datang ke negeri ini di tengah krisis global, apalagi tidak terdengar ada gebrakan membenahi infrastruktur, menggenjot pelayanan, dll. Mau melancong gimana, wong belanja ritel di Amerika saja turun dalam tingkat terburuk sejak 1980-an. Saya paham, para pejabat memang susah diharapkan jujur seratus persen. Meredam informasi mungkin memang jurus yang dibutuhkan agar masyarakat tidak panik dan membuat segalanya makin kacau. Tapi, come on, minimal buatlah pernyataan yang rasional. Komentar yang hiperbolik seperti “pertumbuhan ekonomi kita tidak terpengaruh” hanya akan membuat ketidakpercayaan semakin kuat. Ketidakpercayaan, dalam dunia ekonomi, seperti virus ganas. Dia menular cepat ke segala penjuru. Bahkan, seorang Alan Greenspan, mantan Direktur The Fed, yang kata-katanya dianggap mantra oleh para pelaku ekonomi, telah mengaku khilaf. Greenspan menyatakan, dia terlalu percaya bahwa pasar finansial bisa melakukan koreksi diri tanpa campur tangan regulasi berlebih. Ternyata, koreksi diri itu tidak ada. Pasar finansial tenggelam dalam siklus rakus, rakus, dan rakus. Akibatnya, krisis datang Amerika. Greenspan juga dikritik lantaran menjaga suku bunga di Amerika terlalu rendah dalam waktu lama. Ini membuat pasar properti berkembang tidak terkendali dan meledak dalam bentuk subprime –kata lain dari kredit kelas kambing–mortgage. ”Yes, I have found a flaw. I don’t know how significant or permanent it is. But I’ve been very distressed by it,” kata Tuan Greenspan di hadapan Kongres Amerika, akhir Oktober lalu. Saya berharap, ada pemimpin kita yang cukup berani dan kesatria berkata, “Maaf, kami keliru membaca tren ekonomi dan telah meremehkan potensi krisis.” Pengakuan semacam ini tentulah akan dihargai tinggi. Apalagi bila si pemimpin kemudian membeberkan antisipasi yang cukup serius dan terukur. Tidak sekadar mengumbar kata-kata manis tapi kosong. Seberapa kuat kita, atau seberapa rapuh kita, mesti dijabarkan dengan jelas. Lebih baik lagi bila rakyat juga dibekali tips-tips untuk survive di masa sulit, satu sampai dua tahun mendatang. Sialnya, membahas kondisi perekonomian dari A-Z tidaklah gampang di hari-hari ini. Topik ini amat mudah dijadikan bahan bakar memanaskan situasi politik. Sebagian besar pejabat sibuk mengamankan jalur politik menuju kekuasaan di pemilu mendatang. Para wakil rakyat di Senayan malah menghabiskan energi untuk membahas dan akhirnya mengesahkan UU Pornografi. Tinggalah rakyat celingukan, mencari kapal penyelamat masing-masing. ( Krisis, Seberapa Kuat Kita?http://blog.tempointeraktif.com/?p=280 )
TSUNAMI PHK
Tahun ini tampaknya menghadirkan tantangan yang luar biasa bagi kita. Baru saja dikejutkan dengan kenyataan bahwa Bumi dan seluruh penghuninya terancam oleh Pemanasan Global, kini hadir masalah global lainnya yaitu Krisis Ekonomi Global. Krisis Ekonomi ini menghasilkan "TSUNAMI" PHK besar-besaran dimana-mana. Sektor industri adalah yang paling nyata terkena dampaknya. Banyak industri atau perusahaan yang tak sanggup lagi mempertahankan tingkat produksinya karena alasan yang bermacam-macam. Misalnya kekurangan pasokan bahan baku, minim order dan harga yang tak mampu bersaing karena biaya produksi semakin tinggi, ketergantungan pada faktor luar baik untuk produksi maupun pemasaran. Apa yang disebut di atas, kesemuanya telah berakibat pada berkurangnya pendapatan perusahaan. Maka untuk mencegah dampak yang lebih buruk bagi perusahaan, mau tidak mau harus dilakukan rasionalisasi. Agar perusahaan tidak terkena dampak yang lebih jauh, tentu harus ada jalan keluarnya. Para pengelola perusahaan dipaksa untuk berpikir keras untuk menyelamatkan perusahaannya. Biasanya, setiap kali ada terpaan badai krisis keuangan perusahaan, pihak manajemen akan mengambil langkah praktis ; yaitu rasionalisasi perusahaan. Salah satu bentuk rasionalisasi adalah dengan melakukan pengurangan pengeluaran perusahaan termasuk dengan cara mengurangi jumlah tenaga kerja (PHK). Dalam sepekan terakhir ini, bahwa banyak perusahaan telah melakukan PHK. Seperti kita lihat, saat ini saja sejumlah perusahaan telah melakukan PHK dan merumahkan karyawannya. Sebut saja perusahaan pengelola bubur kertas RAPP di Riau. Bahkan di Medan, 5 perusahaan besar berpotensi akan mem-PHK 1000 pekerjanya. Di Plered Purwakarta, kawasan industri keramik di Jawa Barat, 9 dari 15 perusahaan yang memasarkan produknya ke luar negeri telah menghentikan aktivitasnya. Sementara itu dari pusat pertekstilan di Jawa Barat tersiar kabar bahwa 70 ribu tenaga kerja di sektor ini terancam kehilangan pekerjaan akibat turunnya ekspor ke Amerika, belum lagi puluhan hingga ratusan perusahaan lain yang sedang dan akan mengambil kebijakan PHK di penghujung tahun ini hingga ke tahun depan-termasuk juga industri rumah tangga yang bisa akan gulung tikar.
Dikutip dari situs http://www.inilah.com/ Krisis ekonomi yang melanda negara-negara maju, terutama Amerika dan Uni Eropa, membuat ekspor dari 10 negara di kawasan Asia Tenggara turun tajam. Dampaknya jelas, pertumbuhan ekonomi akan melambat, dan terjadi PHK besar-besaran. Pekan lalu, Organisasi Buruh Internasional (ILO) meramalkan sekitar 20 juta orang akan kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi. Terkait dengan negara-negara di Asia Tenggara, ILO memperkirakan tahun depan akan terjadi peningkatan pengangguran dari 5,7% saat ini menjadi 6,2%. “Ekonomi negara-negara di Asia Tenggara menghadapi perlambatan akibat buruknya ekspor,” demikian keterangan ILO. (http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2008/10/24/57018/menanti-badai-pemecatan/)
PHK BERPOTENSI KEPADA LEDAKAN PENYAKIT SOSIAL
Jika PHK besar-besaran terjadi, jelas hal itu akan mendongkrak angka pengangguran. Tahun lalu, tingkat penganguran absolut diperkirakan sudah mencapai 8,3% dari jumlah angkatan kerja. Di luar itu ada pengangguran terselubung yakni memiliki pekerjaan namun dengan pendapatan di bawah standar. Nah, jika penganggur absolut dan terselubung itu digabung, syahdan, angkanya bisa mencapai 30% dari jumlah angkatan kerja.Kalau perkiraan tadi benar, maka ini alamat gawat. Sebab, ILO pernah menetapkan batas aman tingkat pengangguran pada satu negara tak boleh lebih dari 20% dari total angkatan kerjanya. Nah, kalau angka itu sampai terlewati, maka bukan saja pemulihan ekonomi yang akan tersendat, tapi negara ini juga berpotensi mengalami ledakan sosial.
KAPAN BADAI KRISIS EKONOMI INI AKAN BERLALU?
Bank Indonesia memperkirakan dampak krisis finansial ke sektor keuangan mungkin bisa selesai dalam 6 bulan ke depan. Namun untuk sektor riil, dampaknya mungkin masih akan terasa hingga 2-3 tahun ke depan. Gubernur BI Boediono mengemukakannya dalam seminar "Krisis Ekonomi Global dan Dampaknya Terhadap Perekonomian RI" yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Gedung BI, Jakarta, kemarin. Hadir dalam kesempatan tersebut para ekonom dari berbagai universitas. "Kita saat ini di tengah badai, tapi kita tidak sendiri. Tapi kita dengan negara-negara lain di seluruh dunia saat ini menghadapi badai global," jelas Boediono. Dia menjelaskan, setidaknya ada 2 unsur dalam badai ini. Pertama, unsur keuangan dengan kredit yang mengetat dan juga arus likuiditas yang ketat. Kedua, dampak ke sektor riil.Untuk unsur keuangan, Boediono menjelaskan bahwa pemerintahan di berbagai negara mengambil kebijakan untuk melonggarkan likuiditas di negaranya masing-masing. "Tapi mudah-mudahan kondisi ini dalam 6 bulan bisa normal lagi. Oleh karena itu, gangguan likuiditas ini diharapkan bisa melonggar dengan kebijakan-kebijakan yang diambil," ujarnya. Menurut Boediono, saat ini kecenderungan likuiditas devisa adalah ingin 'pulang kandang' ke negara masing-masing dan hal itu sama sekali tidak bisa dikendalikan oleh BI. Kita harus menunggu sampai selesainya gejolak yang terjadi. Tapi kalau likuiditas rupiah bisa kita ciptakan. Tapi kita berharap mudah-mudahan tidak sampai 6 bulan lebih kondisi ini terjadi.Sementara untuk dampak ke sektor riil, Boediono menilai akan lebih lama. "Ini lebih lama karena diperkirakan 2-3 tahun ke depan perekonomian global akan melonggar. Bahkan ada yang minus, sehingga terjadi resesi. Dan mudah-mudahan kita bisa melewati ini dengan baik," imbuhnya lagi.Pemerintah sendiri menjanjikan untuk memberi insentif kepada dunia usaha dalam situasi krisis finansial saat ini melalui SKB 4 menteri guna menjaga momentum perekonomian supaya tetap stabil, selain untuk mencegah pengusaha mem PHK para pekerja secara sembarangan. http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=15293.0
TIPS MENGATASI KRISIS EKONOMI DAN TSUNAMI PHK
LET’ S SAVE OUR NATION, START FROM YOUR SELF
Wajar jika mendengar hadirnya Badai PHK, banyak orang ketakutan menghadapi masa PHK. Tapi jika kita renungkan, setiap yang bekerja sudah tentu akan menghadapi resiko PHK ataw pensiun. Layaknya satu hal yang pasti adalah jika pernah mengalami hidup pasti akan mengalami mati. Begitu juga jika bekerja pasti akan mengalami masa PHK/Pensiun. Lalu apa muasal rasa takut menghadapi PHK (dirumahkan-kebijakan rasionalisasi-perampingan, dll) atau Pensiun (baik pensiun inisiatif sendiri atau karena batasan usia mengacu ke aturan dinas/perusahaan)?. Muasal menjadi takut umumnya dikarenakan kita tidak mempersiapkan diri jauh-jauh hari sehingga saat PHK/pensiun tiba, kita menjadi linglung, bingung, kehilangan pegangan dan orientasi hidup. Indah rasanya jika masa pensiun/PHK juga dimanfaatkan sebagian orang untuk berkarya dan melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan ketika masa bekerja seperti memanfaatkan masa pensiun sebagai peluang baru untuk memulai usaha ataupun kegiatan yang berarti. Mereka mampu menemukan jalan lain menuju pintu kesuksesan yang baru disaat yang lain terhempas badai PHK. Momen PHK atau pensiun bisa di pakai sebagai " Zona Karya". Program Zona Karya adalah jalan tercepat menuju pintu kesuksesan dan kekayaan tanpa batas.
  • Kehilangan pekerjaan memang merupakan sebuah pukulan. Anda boleh mengasihani diri sendiri, meratapinya untuk sesaat. Tapi jangan biarkan hal itu berlangsung terus-menerus. Keluarkan rasa sakit Anda dan setelah itu segera membuat langkah baru. Saat kabar PHK itu Anda terima, tanyakan pada diri sendiri, apakah ini pekerjaan yang benar-benar Anda inginkan sepanjang hidup? Kebanyakan orang yang di PHK pada akhirnya menyadarai kalau sebenarnya mereka tak benar-benar menginginkan pekerjaan yang mereka jalani. Bayangkan jenis pekerjaan apa yang benar-benar ingin Anda lakukan. Mulai petakan bayangan Anda itu guna memulai langkah baru. Lalu buat rencana baru dengan mengacu pada lima atau tujuh tahun yag akan datang. Karir apa yang ingin Anda jalani? Pastikan Anda memulai langkah baru sesuai karir idaman Anda. Yang terpenting selalu tumbuhkan rasa percaya diri, kembangkan pandangan positif dan bersiap memulai hal baru. Jadi jika anda terkena PHK, mari mulailah mencari inovasi dengan memamfaatkan talenta anda yang tersimpan selama ini menjadi potensi keuangan baru. Anda akan menjadi orang yang paling cerdas mensiasati pensiun/PHK. Satu hal yang patut kita ingat, bahwa kita bisa keluar dari terpaan badai krisis asal kita mau kerja keras dan kerja cerdas.
  • Badai PHK bisa saja lama untuk berlalu, badai itu bisa bertambah dengan hujan, dan guntur. Kalau saja rupiah semakin tak berharga-sekarang sudah mencapai level 9,900- harga-harga membumbung, gelombang PHK membesar, bagaimana? Ingat bahwa keadaan sudah, dan tak mustahil akan bertambah, sulit diramalkan. Sementara persoalan-persoalan yang kita hadapi sudah sangat jelas. Dalam waktu dekat, bangsa ini akan menghadapi pesta besar, pesta demokrasi pemilihan calon legislative seluruh Indonesia, dan pemilihan presiden, yang jelas akan menguras uang negara, baca: rakyat yang sangat banyak. Dalam keadaan begini sesungguhnya hanyalah satu yang kita butuhkan: hadirnya seorang pemimpin sejati. Rakyat banyak bisa berbuat apa? Pemimpin adalah seseorang yang dapat menjadi andalan, pemberi arah yang benar, bagi rakyat yang tengah kebingungan ini. Pemimpin adalah seseorang yang dapat menunjukkan kepada kita untuk melakukan ”sesuatu yang benar” dan bukan sekadar menunjukkan kepada kita untuk melakukan ”sesuatu dengan benar”. Dalam tatanan masyarakat yang egaliter, yang hidup masing-masing individu anggota masyarakatnya relatif setara, pemimpin akan datang dan pergi secara biasa. Ada seleksi yang sistematis, alamiah maupun terstruktur dalam mekanisme rutin yang disepakati bersama. Oleh karena itu, masyarakat tak perlu khawatir, bahwa seorang pemimpin sejati akan datang. Mereka yang berprestasi, pantas, dan berkapasitas, akan lahir sebagai pemimpin-pemimpin baru. Karena itu mari kita pakai momentum Pemilu 2009 ini untuk memilih Legeslatif-Eksekutif yang benar-benar punya talenta dan hati nurani yang baik untuk memperbaiki keadaan. Masyarakat jangan mau larut dalam politik uang atau sekterian yang berpotensi menjerumuskan bangsa ini jatuh lebih dalam.
  • Yang mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito anda. Jangan ambil uang anda dari bank. Jika anda ikut ikutan mencairkan dana anda maka akan terjadi bank rush dan krisis keuangan akan semakin parah.
  • Yang memiliki saham dan turunannya, jangan menjual saham dan derivasinya. Jika anda ikut-ikutan menjual saham dan turunannya, maka harga saham akan semakin ambruk dan krisis yang terjadi akan menjadi semakin parah.
  • Jangan ikut-ikutan memborong dolar. Jika anda ikut-ikutan memborong dolar, maka harga dolar akan semakin tinggi dan rupiah semakin terpuruk. Harga barang impor akan semakin mahal dan inflasi dalam negeri akan semakin menggila.
  • Jangan panik. Jika anda tidak panik, maka krisis akan cepat berlalu. Perekonomian akan cepat pulih. Harga saham akan cepat rebound. Dolar akan cepat menyesuaikan diri pada kurs yang rasional.Cadangan devisa kita cukup kuat. Jika anda panik dan ikut-ikutan menarik deposito, menjual saham dan memborong dolar, maka anda ikut memberikan kontribusi pada semakin dalamnya krisis di Indonesia. Tetapi tentu ini merupakan pilihan bebas. Tidak ada yang dapat melarang anda. Hati nurani yang bicara. Pilihan yang sulit bagi yang berduit tetapi silahkan memilih.
  • Jika Anda masih mencintai bangsa ini maka ada banyak hal yang bisa Anda lakukan, paling tidak MULAILAH DARI DIRI ANDA SENDIRI..!! , Contoh, Gunakanlah PRODUKSI DALAM NEGERI dalam semua aktivitas hidupmu, dengan langkah ini akan menyelamatkan Sektor Riil, usaha-usaha kecil akan berkembang dan akhirnya kita bisa berdiri tegak dan mengatakan “KITA BISA HIDUP DARI NEGERI KITA SENDIRI”.
  • Langkah kecil lain jangan "demen" mengkonsumsi produk makanan luar negeri, jika anda senang makan Durian tidak perlu durian Bangkok Thailand, cukup durian lokal toh tidak kalah rasanya.Jika senang makan Jagung? Tidak perlulah Jagung Thailand, cukup jagung lokal, tidak perlu makan-makan di outlet2 dengan brand luar negeri, toh ayam kampung kita tidak kalah nikmatnya. Hal kecil ini kadang tidak kita sadari tapi ketahuilah EFEK nya sangat luarbiasa, anda bisa bayangkan jika semua anak bangsa ini berfikiran sama, jika anda konversikan dengan modal yang beputar maka Anda akan kaget dan heran akan dampak yang sangat luar biasa. Yakin dan percayalah dengan cara ini. Krisis ini tidak akan terjadi di sini di BUMI INDONESIA.
  • Gunakan angkutan Massal jika itu anda bisa lakukan, itu akan membantu untuk mengurangi konsumsi energi yang luar biasa yang sebetulnya tidak perlu, disamping mengurangi polusi, jangan lupa disamping krisis keuangan yang berpotensi menjadi krisis Ekonomi kita juga dihadapkan dengan krisis Energy..!! Kenyamanan mungkin belum kita pikirkan sekarang, percayalah bahwa aroma sesaknya penumpang di Angkot dan bus-bus itu masih menimbulkan secercah harapan bahwa sektor riil kita masih bergerak.
  • Berbelanjalah di pasar-pasar tradisional, berdayakan warung-warung kaki lima, percaya atau tidak Ekonomi Kerakyatan terbukti mampu menyelamatkan perekonomian kita.
  • Jika Anda seorang pelaku bisnis maka tolong jangan hanya memikirkan untuk meraup keuntungan pribadi semata-mata hanya dengan memikirkan Import barang-barang murah yang hanya akan menghancurkan produk dalam negeri. Jangan lari dari tanggung jawab dengan membawa lari modal ke luar negeri, ingat menjaga, mengusahakan agar Capital Inflow akan lebih bijkasana dan akan sangat membantu Negeri ini, jangan biarkan capital outflow terjadi itu sama dengan menghancurkan perekonomian Rakyat. (http://asmutaqi.staff.uii.ac.id/2008/11/22/let-s-save-our-nation-start-from-your-self/)
  • Masyarakat untuk tidak segan-segan menggunakan fasilitas yang disediakan negara dewasa ini, seperti dari Badan-Badan Usaha Milik Negara, semisal bank-bank nasional.
  • Penghematan secara Pribadai dan di Keluarga. Mulai dan peliharalah budaya hidup Hemat. Jangan berperilaku konsuntif.
  • Penghematan di perusahaan. Di zaman krisis ini mungkin sebagian besar perusahaan sudah kurang mendapatkan order dari pembeli. Nah, pasti para Bos sedang sibuk menyuruh penghematan di semua aspek operasional kerja perusahaan. Sebab, tak ada Bos yang ingin perusahaannya bangkrut oleh menurunnya order. Bos yang cerdas tahu bahwa penghematan adalah cara terbaik untuk menjaminan kontinyuitas dari operasional perusahaan. Pertanyaannya, apakah Anda-Anda semua telah melakukan perintah si Bos? Kalau Anda semua lalai melakukan penghematan, maka jangan berharap Anda tidak kena PHK. Bila order menurun terus dan manajemen tidak mampu melakukan penghematan disemua aspek operasional perusahaan, maka tidaklah mungkin perusahaan mampu membayar gaji karyawannya. Dan, PHK akan menjadi kisah selanjutnya.Saat Bos menyuruh para karyawan melakukan penghematan total, maka seharusnya Bos terlebih dahulu melakukan penghematan total dalam gaya dan pola hidup pribadi yang lebih sederhana. Bos harus hidup hemat sambil memberi contoh kepada para karyawan. Sebab, Bos adalah panutan yang paling berpengaruh kepada sikap karyawan untuk melakukan penghematan di semua aspek operasional perusahaan.Karyawan akan selalu menunggu sikap Bos dalam memahami penurunan order, serta ingin memiliki gambaran yang jelas dan tegas tentang kebijakan dan rencana perusahaan ke depan. Bagi karyawan, Bos tetaplah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi penunjuk arah yang jelas, agar mereka bisa survive dalam krisis ini dan tidak divonis dengan PHK. Bos yang bijak tidak akan ngotot pada gaya hidup mentereng untuk memamerkan kekuasaan dan kewibawaannya. Bos yang cerdas tahu diri, bahwa di zaman krisis memperlihatkan kemewahan sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan hanyalah akan menjadi bahan olok-olokan orang lain.Bos yang bijak pasti mengurangi pengeluaran-pengeluaran pribadi yang tidak perlu, dan sebelum menyuruh karyawan melakukan penghematan, Bos sudah terlebih dahulu menyuruh keluarga di rumah untuk melakukan penghematan total dalam menghadapi krisis yang ada. Bos yang cerdas tidak sekedar berbicara penghematan sambil ke kantor dengan mobil pribadi yang super mewah, tapi ia akan memperlihatkan penghematan itu dari sikap, perilaku, pola dan gaya hidup sehari-harinya.Bos yang bijak tidak akan menjadikan benda-benda mewah sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan, tapi ia akan menggunakan kesederhanaan sebagai contoh dan keteladanan hidup.Menyuruh berhemat melalui keteladanan berarti mau menghilangkan hak privileges, seperti tidak tinggal di hotel super mewah, tidak menggunakan limo dan jet pribadi, bersedia mengurangi atau memotong gaji sendiri, bersedia menjadi pribadi sederhana yang siap melakukan perubahan untuk menjadikan perusahaan lebih kuat dan kokoh. (http://kecerdasanmotivasi.wordpress.com/)
  • Membangun Basis Pelanggan Setia. Untuk dunia usaha, basis pelanggan setia akan membangun fondasi perusahaan yang kuat dengan tingkat keuntungan yang lebih besar, dan mampu bertahan selama masa sulit seperti apa pun. Loyalitas pelanggan adalah puncak keunggulan kompetitif. Perusahaan yang mempromosikan dan menikmati loyalitas pelanggan pasti lebih stabil daripada perusahaan yang selamanya mencari pelanggan baru dalam berbagai segmen pasar yang tidak jelas.Oleh karena itu, strategi perusahaan untuk membangun basis pelanggan setia, adalah kunci untuk terus berhubungan dengan pelanggan lama sambil mengajak pelanggan baru bergabung ke dalam pelayanan sempurna Anda. Perusahaan wajib membangun fondasi pelayanan berkualitas prima di internal perusahaan, agar para pelanggan menjadi lebih loyal. Untuk itu, miliki fondasi pelayanan yang membuat para pelanggan memiliki rasa puas atas layanan Anda, miliki fondasi pelayanan yang membuat para pelanggan mendapatkan semua kebutuhan dan keinginan mereka secara sempurna, dan miliki fondasi pelayanan yang membuat para pelanggan mendapatkan loyalitas pelayanan dari Anda dalam respon pelayanan berkualitas tinggi. (http://www.ninecorporatetrainer.com/)
  • Untuk anda yang bekerja atau mengelola Perusahaan, tentu bijak jika tidak menyerah begitu saja dengan terpaan krisis global. Langkah bijak dan kreatif layak ditonjolkan. Pihak manajemen perusahaan dan karyawan perlu bersatu untuk melawan krisis. Jangan langsung takluk. Beragam upaya harus dikerjakan. Namun, jika beragam langkah itu sudah dilakukan namun tetap sulit untuk bertahan, maka melakukan PHK adalah pilihan terakhir. Perlu diingatkan bahwa melakukan PHK pun harus hati-hati. Pengusaha tidak boleh sewenang-wenang dalam melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau memamfaatkan isu krisis ekonomi global untuk mengambil kebijakan PHK yang iirasional. Perundingan bipartite yang transparan antara manajemen dan pengurus serikat buruh unit perusahaan harus lebih diutamakan. Kondisi yang sulit jangan ditambah runyam hanya karena keegoisan masing-masing pihak. Tidak ada yang lebih baik dari pada kesepakatan dan kebersamaan. Krisis yang dialami bersama, juga harus diatasi dan dihadapi secara bersama. Jika perusahaan melakukan PHK, jangan meninggalkan persoalan lanjutan. Berdasarkan Pasal 151 ayat 3 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, PHK baru sah setelah peradilan hubungan industrial menetapkan. Itu aturannya.Kebijakan manajemen perusahaan untuk mem-PHK karyawannya jangan sampai menabrak aturan dan mekanisme yang ada. Kiranya dengan hati yang bijak dan pikiran cerdas kebijakan pahit ini dilakukan. Hak-hak buruh yang semestinya, haruslah ia dapatkan.Sekali lagi, krisis global memang sudah mengancam kita. Mengancam kehidupan perekonomian kita. Mengancam keberlangsungan sektor industri. Dalam konteks ini, pihak perusahaan menjadi dilematis. Antara mempertahankan keberlangsungan perusahaannya termasuk dengan mempertahankan nasib para karyawannya, atau justru mengurangi faktor resiko dengan melakukan PHK. Krisis keuangan global yang terus melanda bisa menyebabkan Pemutusan. (http://hariansib.com/2008/11/25/phk-jangan-sampai-melanggar-aturan/)
  • Menopang TIPS no. 1-17 adalah perilaku BERDOA dan BEKERJA. Doa adalah bentuk penyerahan diri kita kepada Petunjuk TUHAN.
  • Lakukan hal yang sederhana ini maka Anda akan lihat akibat penyelamatan yang luar biasa. Mari Ikut PEDULI menyelamatkan Bangsa ini.Kita memang sedang mengalami masa sulit, tetapi badai pasti berlalu. Karena itu perlu usaha bersama untuk keluar dari krisis, sehingga pada saat persoalan telah lewat kita akan mendapatkan keadaan yang lebih solid. Jika ini terjadi, maka krisis ekonomi global dan Tsunami PHK di penghujung tahun ini akan mendatangkan makna bagi Bangsa ini. Hadirnya solidaritas sosial. Syalom. (hp)