Saturday, February 23, 2008

Iman Yang Berbuah Pengembangan Aksi Atas Keprihatinan Sosial

Tantangan Keberimanan Refleksi 2 Raja-Raja 4 : 42-44 - Oleh Pdt. Happy Pakpahan
Dikotomi Dalam Keberagamaan Dalam keagamaan, bisa saja dalam memandang dunia, manusia cenderung bersikap dikotomi. Suatu bentuk kecenderungan memisahkan arti & praktis sesungguhnya istilah spiritualitas dan aktifitas social duniawinya. Secara teologis “pembedaan” seperti ini dapat mendorong orang beriman memandang Allah sebagai “Yang Kudus” tetapi sekaligus berada jauh dari kehidupan konkret manusia sehari-hari. Beriman kepada Allah sekaligus akan dipahami sebagai pengambilan jarak terhadap dunia, karena dunia dianggap jahat. Ini berarti dapat mendorong manusia menjauhkan diri dari masalah-masalah sosial – politik yang ada disekitarnya. Suatu bentuk pemahaman iman yang timpang. Sehingga manusia yang demikian lantas dapat saja cenderung menginginkan gereja atau lembaga keumatan hanya berurusan dengan hal-hal rohani saja, sambil sedapat mungkin menjauhkan diri dari hal-hal duniawi seperti persoalan social dll. Hal ini tampak dalam pandangan bahwa : “ Gereja tidak usah mencampuri kebijakan social-politik-hukum Negara, sekalipun kebijakan tersebut notabene menghambat keadilan social ekonomi, yang mempengaruhi kehidupan beriman umat. Gereja hanya boleh memikirkan persoalan gerejawi yang bernama surga”, Tugas gereja hanya membantu orang lain masuk kekerajaan spiritualitas yang diberi nama surga. Dan dalam perkembangan teologi pembebasan, hal ini biasanya dikembangkan orang yg berkuasa mempertahankan status quonya, mengkondisikan dan menghindari aktifis Gereja mencampuri kebijakan social-ekonomi-politik Negara atau kekuasaan yang kemudian dapat menjadi “lawannya”. Akan tetapi persoalan keadilan sosial tidak bisa telepas dari pelayanan kerohanian. Pelayanan holistic-pelayanan konkret umat harus menjadi solusi pelayanan rohani Umat. Tidak ada dikotomi spiritualitas dan duniawi. Kerohanian juga harus menyentuh persoalan politik-sosial-ekonomi-budaya-hukum kehidupan umat. Allah adalah Allah yang mendirikan kemahnya ditengah-tengah umatNya. ( Im. 26 : 11 ). Ia memihak minoritas Yahudi dihadapan kemahakuasaan Firaun ( Kel 12 : 40-41). Mengutus nabiNya ( Amos, Yesaya, Yeremia dll) untuk mengecam pemerintahan yang meminggirkan rakyat kecil dan yang melakukan kekerasan. Dan menentang ketidak adilan dan penindasan ( Amos 7 : 14-15 ; Za 7 : 10). Oleh karena itu pertobatan juga menuntut solidaritas sosial.
Iman, Jalan Menuju Karya Muzizat Elisa adalah Nabi Allah setelah Nabi Elia. Pasal 3 – 7 adalah berisikan karya-karya mujizat kuasa Allah melalui nabiNya Elisa. Konteks zaman ketika itu sedang berada dalam keadaan kering dan kelaparan. Sehingga hadiah 20 buah roti dan satu kantong gandum baru dari seseorang yg bernama Baal Salisa kepada Elisa adalah sangat berharga. Dan sebagai pihak yg menerima, Elisa sebenarnya bisa saja secara bebas menyimpan untuk kepentingannya. Akan tetapi ia tidak memakai haknya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan menyuruh pembantunya membagikannnya kepada 100 orang yg sedang berkumpul. Elisa merasa memiliki tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan orang-orang yang ada disekitarnya. Dari sini bisa kita lihat bahwa figure Elisa adalah seseorang yg solider, tidak egois, Ia tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri atau mengejar keuntungan buat dirinya sendiri. Ia mau membagikan berkat untuk orang lain. Elisa memberi teladan pelayanan bersifat holistic, pelayanan rohani dan jasmani – suatu bentuk pelayanan yang menyentuh kebutuhan konkret umat. Ditengah kesulitan perekonomian di Ripublik Indonesia ini. Ditengah menipisnya ketidak pedulian social saat ini. Spirit berbagi seperti ini sangat dibutuhkan untuk dikembangkan. Perintah ini membuat para pembantu Elisa keheranan, “bagaimana mungkin 20 roti dapat mencukupi 100 orang”. Para pembantu masih terbatas pikirannya akan pikiran manusia. Akan tetapi Elisa melakukan hal ini atas dasar kehendak TUHAN. Kemampuan manusia memang terbatas akan tetapi kekuasaan Tuhan tidak bisa diukur oleh kemampuan dan logika manusia. Tidak ada hal yg mustahil bagi Allah. Dan hal ini kemudian terbukti bahwa orang banyak itu ternyata tercukupi makannya dengan logistic yg terbatas bahkan kemudian bersisa. TUHAN bekerja dengan kuasaNya atas roti-roti itu. Dari sini bisa kita lihat bahwa Elisa adalah orang yg beriman, dia sangat meyakini bahwa Firman Tuhan berkuasa. Tanpa iman dan keyakinan kepada Firman TUHAN, tidak mungkin Elisa memerintahkan pembantunya untuk membagikan roti itu. Iman bisa membuat adanya suatu muzizat. Iman jalan menuju suatu karya muzizat.
Mengembangkan Perhatian Sosial Di tengah dunia yang menakutkan ini -- penduduk dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi, sosial dan politik, serta makin merosotnya moral dan meningkatnya kejahatan. Karya pelayanan Elisa ini memberi kita teladan, karena mengetahui bahwa Tuhan meneladankan suatu hubungan pelayanan yang holistic menjawab pergumulan manusia. Dari sini kita peroleh pemahaman bahwa gereja yang sehat adalah adanya kesadaran social yang hidup diantara umatnya – adanya suatu solidaritas untuk saling berbagi. Di sekitar Gereja, sebagai kelembagaan yang berada ditengah masyarakat yang tidak mengasingkan diri dari dunia social, senantiasa dijumpai banyak orang yang miskin, sakit secara mental, sakit secara tubuh di rumah sakit atau rumah perawatan tertentu, mereka yang berada di dalam penjara, dan mereka yang menderita karena masalah-masalah keluarga. Gereja-gereja harus melatih anggota-angota jemaatnya untuk menjadi kelompok-kelompok dengan tugas pelayanan khusus secara lokal dan mengarahkan perhatian gereja untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang timbul di daerah di mana gereja berada. Pelayanan yang holistic. Pelayanan umat Allah bukan hanya pelayanan mimbar melainkan juga pelayanan meja (bnk. Kis. Kepekaan dalam melihat ini diperlukan oleh para hambaNya. Pelayanan Gereja juga harus memberikan solusi atas persoalan konkret umatNya. Jika persoalan adalah “perut” maka jangan janjikan hanya persoalan nanti di surga melainkan pelayanan solusi yang memberdayakan mereka mencari makan. Demikian juga pelayanan pendampingan hukum dan pendampingan ekonomi. Bisa saja pelayanan solidaritas social – pelayanan berbagi ini terhambat karena setiap orang merasa belum cukup, ada rasa pelayanan berbagi ini hanya bisa dilakukan oleh umat yang berkelebihan. Sehingga sama seperti para pembantu elisa, kita sering merasa pesimis terhadap pelayanan kita. Sehingga program pelayanan sering tertunda atau dibatalkan karena rasa under estimate. Karena itu, belajar dari kisah pelayanan Elisa ini, banyak hal yang dianggap tidak mungkin bagi manusia adalah hal yang mungkin dan biasa terjadi bagi Allah. Allah memampukan umatNya dalam pelayanan. Dan karya ini juga bisa melalui para hambaNya, lintas waktu dan tempat termasuk di pelayanan HKI di mana kita berada. Banyaknya agama / agama alternatif dan sekte yg sesat muncul pada saat ini, untuk menjawab hal yg dianggap tidak dijawab oleh Agama “konvensional”. Termasuk hal mencari solusi atas kegelisahan umat dibidang social-ekonomi-politik dan pergumulan batin. Kita memang dianjurkan agar jangan memberikan ikan kepada orang miskin tetapi pancing, yang membuat mereka mampu mencari sendiri ikan bagi kehidupan mereka. Akan tetapi system politik dan ekonomi tertentu sebetulnya sudah membendung sungai dan meracuni air bahkan hampir disemua sungai dimana ada ikannya. Monopoli sudah dikokohkan dan dimana-mana didirikan, rambu-rambu larangan memancing ditetapkan penuh dengan sanksi keras yang memustahilkan para rakyat kecil pembawa pancing untuk menangkap ikan sehari-hari mereka. Soalnya memang bukan hanya memberi alat pancing akan tetapi bagaimana system pengaturan lahan pancingan nafkah itu diatur. Amin.